
Didalam mobil Aby.
Selama dalam perjalanan, Aby terus menggenggam tangan Mawar bahkan sesekali dia mengarahkan kepala Mawar agar menyandar di pundaknya.
Hal itu membuat Mawar, risih dan sedikit tak nyaman ditambah dengan adanya Dirga, semakin membuatnya merasa tak enak.
"Kamu kenapa sih, dari tadi gak mau diam banget?" ucap Mawar.
"Gak kenapa-kenapa, perjalanannya lama, jadi aku merasa bosan," sahut Aby.
"Bosan dan ingin berantem," celetuk Dirga.
"Kok kamu tahu, Ga? Kalau berantem sama Mawar, enaknya di tempat tidur ya," ucap Aby.
"Dih, otaknya," ketus Mawar.
"Sepertinya Tuan Muda sudah terkena virus cinta," ucap Dirga lagi.
"Tepatnya cinta gadis desa ini," sambung Aby.
"Ya ampun sepertinya aku sedang berada dalam situasi yang sulit. Aku mau pindah ke mobil Frans aja deh," ucap Mawar.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Aby.
"Banyak banget. Kalian tuh ngomongnya ke arah yang gak jelas terus, aku jadi gerah tahu gak."
"Oh berarti ngomongin yang jelas-jelas aja biar kamu gak kegerahan," ucap Dirga sembari menatap Mawar dari kaca spion dalam mobilnya.
"Eh jalanan ini cepat banget ya rusaknya. Terakhir kita ke sini perasaan masih bagus," ucap Aby.
"Jalanan di sini memang cepat rusak karena kontur jalan yang tak rata," ucap Mawar.
"Hati-hati, Ga." Aby berpegangan pada kursi di depannya sambil memperhatikan jalanan yang sedang mereka lewati.
Sementara itu, beberapa orang bersembunyi dibalik semak belukar yang tubuh menjulang di tepi jalan itu. Sudah dari beberapa jam yang lalu, mereka bersiap untuk menyambut kedatangan, Abymana da rombongannya.
Dari spion luar tanpa sengaja, Mawar melihat sekelebat orang berlari mentebrangi jalan itu, namun ia melihat sesuatu yang tak biasa di sana.
__ADS_1
"Kalian punya musuh atau tidak?" ucap Mawar pada kedua laki-laki yang bersamanya.
"Tidak," sahut Aby.
"Terkecuali musuh yang ada dalam diri sendiri," tambah Dirga.
"Aku serius," ucap Mawar.
"Tidak ada, kamu tenang saja. Kami tidak pernah punya masalah dengan siapa pun juga," ucap Dirga lagi.
"Perasaan aku gak enak," batin Mawar.
"Ada apa? Kamu terlihat khawatir gitu," ucap Aby.
"Tidak. Aku baik-baik saja, aku hanya gak sabar ingin bertemu dengan ibu dan Bapakku."
Tak lama beberapa orang menghalangi jalan yang akan mereka lewati, orang-orang itu berdiri didepan mobil yang Dirga kemudikan sambil menodongkan sebuah cerulit.
"Ada apa ini?" ucap Dirga sembari menghentikan laju mobilnya.
"Aku sudah bilang, kalian punya musuh gak? Siapa mereka?" ucap Mawar.
"Buar aku yang bicara pada mereka," ucap Dirga.
"Hati-hati, mereka bawa senjata tajam," ucap Mawar.
Mawar mengambil masker nya dari dalam tasnya lalu memakainya.
"Tidak ada perkelahian. Kita akan menyelesaikannya secara baik-baik," ucap Aby sembari menggenggam tangan Mawar.
"Aku hanya berjaga-jaga saja. Tenang saja," ucap Mawar.
Frans dan dua temannya sudah turun dari mobilnya dan berjalan hendak menghampiri tiga orang yang nenhadang mereka.
"Frans, Joe, Salman, biar saya yang bicara dengan mereka," ucap Dirga yang baru turun dari mobilnya.
"Ini bahaya, Pak," ucap Frans.
__ADS_1
"Saya tahu, tetap bersiaga. Lindungi saya dari belakang," ucap Dirga.
Dirga pun berjalan perlahan mendekat pada orang-orang itu.
"Kami ingin ke kampung xxx, tolong beri kami jalan," ucap Dirga yang berdiri sekitar lima meter dari mereka.
"Sebaiknya kalian kembali ke kota kalau kalian masih ingin hidup," ucap salah satu dari tiga orang itu.
"Saya akan memberikan uang sebagai uang jalan untuk kalian," ucap Dirga lagi.
Tanpa berucap lagi, satu dari tiga laki-laki itu melemparkan cerulit nya ke arah Dirga.
Untunglah, Dirga dapat menghindari cerulit yang hampir mengenai kepalanya.
Suasana di sana seketika berubah menjadi tegang karena tiga laki-laki itu mulai menyerang Dirga.
Frans dan dua rekannya pun segera membantu Dirga.
Tanpa mereka duga ternyata orang-orang yang mencoba menghentikannya itu berjumlah banyak. Beberapa keluar dari balik semak-semak untuk menyerang Dirga dan tiga bodyguard itu.
"Astaga, apa yang terjadi?" ucap Aby.
"Ini bahaya, jumlah mereka dua kali lipat dari kita," ucap Mawar.
"Aku harus membantu mereka. Kamu diam saja di sini dan perhatikan situasi, jika mereka terus bertambah, kamu boleh keluar tapi ingat, tetap berhati-hati aku gak mau kamu sampai terluka seprti waktu itu," ucap Aby.
Mawar mengangguk pelan dan membiarkan Aby turun untuk bertarung melawan orang-orang yang sebenarnya tidak mereka ketahui siapa dan apa maunya.
Sementara itu, di tempat persembunyiannya, Michelle hanya diam dan memperhatikan mereka. Sementara ini, dirinya merasa Aby dan kawanannya tidak memerlukan bantuan.
Perkelahian tak dapat terelakkan lagi, mereka saling menyerang satu sama lain untuk melumpuhkan lawannya masing-masing.
"Ya ampun, siapa mereka? Sepertinya mereka sudah mempersiapkan penyerangan ini, mereka terus bertambah banyak," gumam Mawar.
Mawar mengambil sebuah parfum dari dalam tasnya. Selama ini dirinya menggunakan parfum untuk senjata ringannya dan menggunakan lipstik yang sudah ia modifikasi menjadi sebuah pisau untuk senjata terakhirnya.
Mawar memegsng knop pintu mobilnya dan bersiap untuk membantu suaminya menyerang orang-orang tak dikenal itu.
__ADS_1
Bersambung