
Tiga hari setelah terjadinya tragedi balas dendam Mawar.
Di kampus Eliandra.
Fredy yang kasih memiliki bekas luka di sekujur tubuhnya menguatkan diri untuk datang ke kampus El untuk menemui El dan meminta kejelasan tentang hubungan percintaannya dengan Eliandra.
Luka berdarah yang terdapat di tangannya belum kering sempurna bahkan luka memar yang terdapat di wajahnya pun masih terlihat jelas tapi semua luka itu tak dirasakannya demi menemui sang pujaan hati yang tiga hari ini tidak bisa dihubungi.
Dari celah besi gerbang yang tertutup itu Fredy terus melihat ke dalam area kampus itu berharap dirinya bisa bertemu dengan El hari itu juga.
Dari dalam kampus. El baru keluar dari ruang kelas dan langsung berjalan menuju pintu keluar dari area kampusnya!
Saat dirinya baru mau memasuki lapangan, dari sana ia melihat Fredy yang tengah berdiri di depan gerbang, ia pun segera berlari menjauh dari Fredy karena tak ingin menemui kekasihnya itu!
El memang mencintai Fredy tapi mendengar masa lalu Papanya Fredy yang buruk membuat dirinya merasa takut, takut dengan apa yang dilakukan papanya Fredy dahulu akan dilakukan oleh Fredy juga padanya.
Menurutnya, seorang anak pasti mewarisi tingkah laku orang tuanya. Kini El berdiri di balik tembak itu dengan menyandarkan punggungnya pada dinding sambil sesekali melihat ke arah Fredy yang masih setia berdiri di depan sana.
"El, kamu sedang apa di sini? Ayo kita pulang," ucap Nasya pada Eliandra.
"Ada Fredy di sana, aku tidak mau menemuinya," jelas El.
"Aku tahu kamu cinta sama dia dan dia pun sama mencintai kamu, kenapa tidak coba untuk berdamai dengan perasaan kamu sendiri?" ucap Nasya.
"Aku perlu menenangkan pikiran dulu. Tolong pergilah dan beritahukan bahwa hari ini aku tidak masuk kampus," pinta El.
"Baiklah kalau mau kamu begitu tapi sekuat apa pun kamu menghindar, suatu saat pasti ada waktunya bagi kamu menghadapi permasalahan ini. Takdir akan membawa kalian bertemu dan bersatu meski waktunya bukan sekarang," ucap Nasya lalu segera pergi dari sana!
El menatap Fredy yang terlihat gelisah, ia tahu kalau laki-laki itu sedang merindukannya dan pastinya Fredy begitu gelisah karena dirinya pun merasakan akan hal itu.
"Maafkan aku Fredy, aku takut akan semua kejadian yang menimpa mamamu atau bu Marisa akan terjadi padaku. Aku terlalu takut terluka, aku memang lemah karena sudah berani mencintai tapi aku takut tersakiti," batin El.
Di depan gerbang.
"Nasya! Nasya apa El ada di dalam?" tanya Fredy pada Nasya yang saat itu sudah mengendarai mobilnya hendak pulang.
"Dia di dalam tapi dia tidak mau menemui kamu tadi El melarang ku untuk memberitahu kamu tapi aku tidak bisa berbohong. Aku tahu kalian saling mencintai," ucap Nasya.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tolong bantu aku," pinta Fredy penuh permohonan.
"Aku tidak bisa membantu kamu, aku takut persahabatan kami hancur. Maaf," ucap Nasya lagi.
Fredy tak mengucapkan sesuatu apa pun lagi, ia menoleh melihat ke dalam berharap ia dapat melihat El meski tak sampai berbicara padanya.
"Kamu pasti kangen sama dia? Nanti sore El akan ke panti asuhan, setiap hari dia ke sana untuk mencari hiburan bersama anak-anak di sana," jelas Nasya.
"Benarkah? Terima kasih," ucapan Fredy yang kini sudah mulai punya harapan baru untuk dirinya bisa bertemu dengan Eliandra.
"Jangan bilang kalau aku yang memberitahumu," tambah Nasya lagi.
"Tidak akan. Terima kasih, aku tidak akan melupakan bantuan kamu ini."
Nasya tersenyum lalu langsung melajukan mobilnya lagi!
********
Di rumah sakit tempat Haris dirawat.
Istrinya Haris masih setia menemani Haris yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Meski hatinya hancur tapi dirinya tetap bertahan menemani sang suami yang membutuhkan dirinya di sampingnya.
__ADS_1
Istrinya Haris duduk di kursi yang ada di samping ranjang yang ditiduri oleh sang suami, dia terlihat tegar tak sedikit pun air mata menetes dari pelupuknya meski begitu wanita tetaplah wanita yang memiliki sisi rapuh di dalam dirinya tapi demi sebuah alasan, ia mencoba untuk tetap tegar.
"Mama, maafkan Papa," ucap Haris dengan suara lirih.
Perempuan paruh baya itu menatap wajah sang suami lalu tersenyum tipis.
"Tanpa Papa minta, Mama sudah memaafkan Papa," ucapnya dengan suara bergetar.
Haris meraih jemari sang istri lalu menggenggamnya, air mata penuh penyesalan berurai dari sudut mata Haris.
"Karena Papa, Mama menjadi menderita."
"Tidak, selama ini Mama bahagia sama Papa." Wanita yang bernama Mira Apriani itu berusaha menyembunyikan kekecewaan yang ia rasakan dari laki-laki yang sudah menemaninya selama hampir tiga puluh tahun itu.
"Mama bahagia sebelum Mama tahu masa lalu Papa, sekarang ...." Haris menghentikan ucapannya karena tahu istrinya pasti mengerti dengan apa yang ia maksud.
Bu Mira tak berucap lagi, dia memalingkan wajahnya ke sekarang arah karena tak ingin suaminya tahu bahwa dirinya memang kecewa.
*******
Di rumah sakit tempat Mawar dirawat.
"Aku pengen pulang," ucap Mawar merengek pada Aby.
"Gak boleh, kamu masih harus beristirahat di sini, kamu masih butuh pengawasan medis," ucap Aby yang saat itu duduk di kursi yang berada di samping ranjang rumah sakit tempat Mawar terbaring, tangannya terus menggenggam tangan Mawar sambil sesekali menciumnya.
"Aku kangen anak-anak," ucap Mawar lagi.
"Aku tahu. Fokus pada kesembuhan kamu dulu setelah kamu sembuh kamu boleh main sepuasnya sama anak-anak," jelas Aby.
Tok!
Tok!
"Boleh aku masuk?" tanya Michelle yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Masuk saja, kami sedang tidak berolahraga pribadi," ucap Abymana.
Michelle tersenyum lalu langsung masuk ke dalam ruangan itu!
"Gimana kabar kamu?" tanya Michelle pada Mawar.
"Seperti yang kamu lihat. Aku sudah sembuh tapi tidak diperbolehkan pulang, mereka memenjarakan aku di tempat menyebalkan ini," jelas Mawar.
"Kamu benar. Oh ya, maaf aku baru bisa jenguk," ucap Michelle.
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah datang," ucap Mawar lagi.
Michelle hanya tersenyum ke arah Mawar.
"Mau kamu apakan para penjahat itu?" tanya Mawar.
"Sayang, kamu belum sembuh sebaiknya jangan bicarakan itu dulu," ucap Aby.
"Hanya bicara, Mas bukan berduel," ucap Mawar.
"Mereka sudah masuk penjara, hanya Haris saja yang belum dipenjara karena masih harus dirawat di rumah sakit," jelas Michelle.
"Seharusnya kamu jangan laporkan mereka ke polisi," ucap Mawar.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah lebih bagus kalau mereka dipenjara?" ucap Aby.
"Aku takut mama merasa tertekan karena kasus ini. Pastinya mama malu karena pernah menjadi korban pelecehan yang dilakukan oleh tiga orang sekaligus belum lagi istri yang mereka tinggalkan, para istri itu pasti merasa hancur saat tahu bahwa suami mereka seperti itu," ucap Mawar.
"Istrinya Haris sudah tahu dan dia tahu dari mulut kamu langsung," ucap Aby.
"Aku tahu, aku salah karena tidak bisa menjaga rahasia ini, aku sudah menyakiti keluarga Haris," ucap Mawar.
"Inilah kamu. Disaat seperti ini pun kamu masih memikirkan mereka, padahal Bu Marisa pernah sangat kejam padamu tapi kamu masih saja memperdulikan dia," ucap Michelle.
"Dia ibuku, bagaimana pun aku sayang padanya," ucap Mawar.
"Aku heran sama kamu kenapa kamu begitu mudah memaafkan. Kamu pendendam tapi dibalik dendam itu kamu juga menyimpan rasa sayang, jujur aku tidak mengerti bagaimana cara kamu berpikir," ucap Michelle.
"Aku hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Siapa bilang aku mudah memaafkan? Aku tidak akan pernah memaafkan tiga orang itu meski salah satu diantara mereka adalah ayahku."
"Sudah-sudah, jangan lanjutan pembicaraan kalian," ucap Abymana sembari mengelus pucuk kepala Mawar.
"Aku melihat ada kemarahan saat kamu membicarakan tiga orang itu dan itu tidak baik bagi kamu," sambung Aby lagi.
"Michelle, berarti tugas kamu sudah selesai ya. Semua sudah terbongkar dan semua sudah mendapatkan balasan masing-masing," ucap Aby.
"Sudah tapi belum selesai sempurna karena kita belum tahu siapa ayahnya Mawar karena hasil tes DNA nya belum keluar," jelas Michelle.
"Itu bukan hal yang sulit, lupakan saja karena aku juga bisa menangani itu. Berapa yang harus aku bayar?" tanya Aby.
"Tidak ada. Aku ikhlas melakukan misi ini," sahut Michelle.
**********
Sore hari di panti asuhan.
El baru tiba di panti asuhan itu dengan membawa makanan untuk semua anak-anak di sana.
"Ayo, Sy turunin semua makanannya," ucap El.
"Siap, Mbak." Ussy pun membuka bagasi mobil El dan langsung menurunkan makanan yang mereka bawa itu!
Anak-anak yang tinggal di panti itu langsung berlarian menghampiri El dan Ussy!
"Hore! Kakak bawa makanan lagi," ucap anak-anak itu sambil terus berlari.
"E_e_eh, hati-hati. Semua pasti kebagian," ucap El.
Dari sebrang jalan di depan panti asuhan itu. Ferdy memperhatikan mereka dari dalam mobilnya, ia baru akan turun dari mobilnya setelah El selesai membagi-bagikan makanan itu.
Tak lama anak-anak itu pun sudah mengambil berlarian memasuki panti untuk segera menyantap makanan mereka!
Fredy pun langsung turun dari mobilnya dan langsung berlari memasuki area panti!
"El, aku mau bicara," ucap Fredy setelah berada di dekat El dan Ussy.
"Kamu ... ngapain kamu di sini? Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," ucap El sembari berjalan hendak menjauh dari Fredy.
"Tolong, El." Fredy menghentikan langkah El dengan menggenggam pergelangan tangan El dan menahannya.
"Lepaskan!" El menarik tangannya berharap dirinya bisa terlepas dari genggaman Fredy, namun bukannya terlepas, genggaman Fredy yang kuat justru membuat dirinya terjatuh ke dalam pelukan laki-laki itu!
Keduanya saling menatap, terlihat dari sorot mata satu sama lain masih menunjukkan adanya rasa cinta yang sama seperti sebelumnya. El yang kukuh ingin menghentikan hubungan mereka ternyata masih menyimpan cinta yang besar untuk Fredy.
__ADS_1
Bersambung