Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 208


__ADS_3

"Oh ya, perkenalkan nama saya Eliandra, panggil saja El," ucap El sembari mengulurkan tangannya pada Salman.


"Oh, nama saya Salman terserah mau manggil apa asal jangan 'Pak' aja," ucap Salman sambil meraih, menjabat tangan El.


"Halo, saya Ussy," ucap Ussy.


"Salman," ucap Salman pada Ussy.


"Terima kasih ya, Mas atas bantuannya kalau gak ada kalian mungkin kami gak bisa pulang sampai malam," ucap Ussy.


"Sama-sama. Karena mobilnya udah bisa nyala, kami langsung pamit aja ya," ucap Salman pada Ussy dan El.


"Ya, silahkan. Sekali lagi dan hati-hati," ucap El.


"Mbak Ussy, saya pergi dulu ya semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu," ucap Joe.


Ussy hanya tersenyum lalu segera berjalan masuk ke dalam mobilnya!


"Ayo, Joe!" Salman menarik Joe masuk ke dalam mobilnya.


"Mereka udah mau pergi," sambung Salman.


Joe pun menurut saja pada Salman, ia langsung masuk ke dalam mobil dan mereka pun langsung pergi dari tempat itu.


"E_e_eh! Tunggu dulu," ucap Joe setelah Salman sudah melajukan mobilnya.


"Apa lagi, Joe?" ucap Salman.


"Aku lupa gak minta nomor telponnya. Gimana bisa ketemuan kalau aku gak tahu nomor telponnya dan juga alamat rumahnya," ucap Joe.


"Kami terlambat. Mereka sudah pergi," ucap Salman.


Joe mendesah kesal karena tidak mendapatkan nomor telpon Ussy padahal dirinya menyukai Ussy saat pertama kali melihatnya.


"Astaga, baru mau punya gebetan, udah langsung hilang aja harapan," ucap Joe.


"Kamu suka sama gadis itu?" tanya Salman.


"Kamu sadar gak sih? Gadis tadi itu cantik banget, baru pertama aku melihat cewek secantik dia," ucap Joe sembari membayangkan senyuman Ussy.


"Yang mana yang kamu sukai?"


"Yang pakai baju warna putih dengan celana jeans hitam," sahut Joe.


"Tapi kamu tahu namanya kan?" tanya Salman lagi sambil terus mengemudi.


"Namanya Ussy. Gak tahan pengen nembak dia," ucap Joe.


"Kalau ditembak, mati dong tuh cewek," celetuk Salman.

__ADS_1


"Susah ya ngomong sama jomblo akut. Maksud aku bukan ditembak pakai senjata tapi pakai perasaan."


"Jangan berharap lebih pada orang yang belum kamu kenal bisa saja gadis itu sudah punya pacar atau mungkin sudah punya suami."


"Masa bodo yang penting sekarang aku sedang jatuh cinta," ucap Joe sambil terus membayangkan wajah Ussy yang menurutnya sangat cantik.


"Nanti kalau kecewa ... nangis sampai guling-guling."


"Yang terjadi terjadilah tentang bagaimana nantinya biarlah terjadi nanti," ucap Joe.


"Astaga, gini kali ya kalau orang baru ngalamin jatuh cinta."


********


Di rumah sakit.


Udah mulai sore nih, kita pulang dulu ya," ucap Michelle pada Aby dan Mawar.


Aby mengangguk pelan, "terima kasih ya sudah datang," ucap Aby.


"Mawar, cepat sembuh ya. Bayi kamu yang lucu-lucu itu menunggu kamu," ucap Michelle.


"Aku udah sembuh kok, terima kasih ya sudah datang menjenguk aku," ucap Mawar.


Michelle tersenyum lalu mengusap tangan Mawar. Mereka pun langsung pergi keluar dari ruangan itu!


"Eum, Dirga!" seru Aby saat Dirga sudah keluar dari ruangan itu.


"Aku lupa menanyakan berkas yang tadi aku tinggal di kantor," sahut Aby.


"Oh, aku pikir apa."


"Gak ada apa-apa, Sayang. Kamu di sini dulu ya, aku mau bicara sebentar sama Dirga," ucap Aby.


Mawar tersenyum lalu mengangguk pelan.


Aby langsung keluar dari ruangan itu sebelum Dirga dan Michelle pergi jauh.


"Dirga tunggu!" seru Aby pada Dirga.


Dirga dan Michelle menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menjadi menghadap Aby.


"Ada apa, Tuan Muda?" ucap Dirga.


"Aku mau bicara tapi gak di sini. Ikutlah denganku," ucap Aby sembari berjalan menuju tempat yang sepi!


Setelah tiba di tempat yang sepi. Aby duduk di kursi yang ada di sampingnya! Michelle dan Dirga pun ikut duduk di sana.


"Ada apa?" tanya Dirga.

__ADS_1


"Sebenarnya aku mau bicara sama Michelle tapi karena sekarang Michelle udah jadi istri kamu, aku bisa sama kalian berdua aja," ucap Aby.


"Ada apa denganku?" tanya Michelle.


"Kalian mau membantu aku gak?" tanya Aby.


"Apa yang bisa kami lakukan untuk kamu? Kalau memang bisa pasti kami bantu," ucap Michelle.


"Carikan Ayah kandung Mawar. Aku tahu Bu Marisa tidak akan memberitahukan siapa Ayah kandung Mawar," ucap Aby.


"Apa! Jadi, Pak Mahendra bukan Ayah kandung Mawar?" ucapan Dirga.


"Sebenarnya aku sendiri belum tahu tapi kalau darah Pak Mahendra tidak cocok dengan Mawar, bukankah itu artinya kalau Pak Mahendra bukanlah Papa kandung Mawar?" ucap Aby.


"Bisa jadi cocoknya dengan Bu Marisa," ucap Michelle.


"Tidak. Bu Marisa juga tidak bisa menolong Mawar saat Mawar butuh darah A."


"Pastikan dulu kejelasannya bagaimana kalau memang Bu Marisa mengakui perbuatannya dulu bisa jadi Mawar bukan anak kandung Pak Mahendra dan setelah semua jelas tapi Bu Marisa tidak memberi tahu siapa Papanya Mawar, barulah aku akan mencari tahu siapa sebenarnya Papa kandung Mawar," ucap Michelle.


Aby terdiam, saat ini dirinya sedang dalam kebingungan. Dihari bahagianya ini mengapa harus ada masalah berat yang pastinya membuat Mawar bersedih dan mungkin kesakitan.


"Tuan Muda, kami pasti akan membantu. Tugas Tuan Muda sekarang adalah mencari dan memastikan pengakuan Bu Marisa dulu setelah itu kalau tidak ada kejelasan baru Michelle yang akan melanjutkan masalah ini," ucap Dirga.


"Tapi kalian jangan bilang sama Mawar tentang ini ya. Saya tidak mau dia tahu tentang ini kalau bisa selamanya dia tidak boleh tahu," ucap Aby.


"Untuk saat ini semua akan aman bersama kami tapi serapi apa pun kita menyembunyikan ini, suatu saat Mawar akan tahu," ucap Michelle.


"Setidaknya tidak sekarang. Sekarang dia sedang dalam kondisi seperti ini," ucap Aby lagi.


********


Di kediaman Abymana.


"Aku benar-benar tidak tahu siapa Papa Mawar yang sebenarnya, Pa," ucap Marisa pada Mahendra.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau ada musibah besar yang menimpamu Marisa?" ucap Mahendra.


"Aku takut kamu pergi meninggalkan aku, Pa. Aku gak sanggup hidup tanpa kamu. Maafkan aku, Pa."


"Kenapa kamu bisa diper***a oleh orang-orang itu sedangkan setiap hari aku ada di rumah?"


"Waktu itu kamu tidak ada di rumah. Waktu itu kamu sedang mengurus pekerjaan di luar kota," ucap Marisa.


"Waktu itu, siang itu saat Jingga sedang tidur siang tiba-tiba ada tiga orang yang menerobos masuk ke dalam rumah. Aku pikir mereka adalah perampok, aku sudah memberikan semua barang berharga milik kita tapi mereka menolak, mereka malah memintaku untuk melayani mereka. Aku sudah berusaha melawan tapi mereka memasang peledak di kamar Jingga, mereka akan meledakkan Jingga kalau aku tidak melayani mereka," jelas Marisa.


"Lalu dengan mudahnya kamu memberikan apa yang seharusnya hanya menjadi milikku?" ucap Mahendra.


"Waktu itu ...."

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2