
Di kediaman Randy.
Hari sudah memasuki tengah malam, namun Randy belum bisa menutup matanya, ia terus terpikirkan tentang Roger dan keluarganya.
Setahunya setelah Papanya Roger meninggal dunia, mereka pindah ke luar negeri untuk melanjutkan usaha kulinernya yang sudah berkembang pesat di sana, sejak saat itu dirinya tak pernah bertemu lagi dengan mereka karena terlalu sibuk untuk pergi ke luar negeri hanya untuk menemui mereka saja.
Randy tak pernah merasa ada masalah dengan keluarga sahabatnya itu, sampai saat ini ia belum percaya bahwa Roger lah yang selama ini ada dibalik semua kejadian yang bisa menyebabkan dirinya mengalami kerugian besar.
"Besok aku menemui Roger, aku harus bicara padanya dan menanyakan kenapa dia sejahat ini padaku," batin Randy.
Randy meraih ponselnya lalu mengirim sebuah pesan pada Michelle!
[Besok, temani saya untuk menemui Roger. Bawa saya ke tempat dimana dia berada.]>kirim
Setelah mengirim pesan pada Michelle, Randy membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk berdamai dengan semua pemikirannya yang mengganggu ketenangan jiwanya!
**********
Di kediaman Aby.
Malam ini Mawar tak dapat tidur nyenyak, rasa sakit di kepalanya terasa begitu menyiksanya.
Karena tak juga dapat tertidur Mawar duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang! Ia menatap Aby yang sedang tertidur pulas.
"Maaf Mas, aku belum bisa jujur padamu tentang luka ini, bukannya aku tidak mau mengatakannya padamu tapi aku tidak ingin ada orang lain yang menyentuh mereka selain aku. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa dan layak untuk diakui oleh mereka," batin Mawar.
Sudah sejak lama ia menunggu kesempatan yang bagus untuk mengingatkan kedua orang tuanya akan kehadiran dirinya di dunia ini, kini lewat Abymana, dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk sedikit memberi mereka peringatan.
Tak bisa dipungkiri, sakit hati yang dirasakannya sangatlah besar hingga dirinya menyimpan dendam pada Ayah dan Ibu kandungnya. Sebenarnya, Mawar sudah mulai membuang dendam itu karena orang tua angkatnya selalu menasihatinya tapi rasa ingin membalas dendam itu kembali muncul saat mereka memaksanya untuk menikah dengan Aby hingga setelah menikah dengan laki-laki yang tak dikenalnya itu, ia sering mendapatkan kata-kata tak pantas dari Ibu dan Kakak kandungnya.
"Mawar, kamu kenapa belum tidur?" tanya Aby yang kebetulan terbangun karena ingin buang air kecil.
"Mas, aku mimpi buruk jadinya aku gak bisa tidur lagi," sahut Mawar berbohong.
"Mimpi hanyalah bunga tidur, jangan terlalu dipikirkan," ucap Aby sembari berjalan memasuki kamar mandi!
Mawar menatap Aby yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Maafkan aku karena selalu berbohong padamu," batin Mawar.
Tak lama, Aby kembali dan langsung naik ke atas tempat tidur lagi!
__ADS_1
"Mawar, mimpi hanya bunga tidur. Tidurlah, ini sudah larut bukannya besok kamu harus kuliah," ucap Aby.
"Iya, sebentar lagi."
Aby merangkul tubuh Mawar lalu membawanya berbaring!
"Aku mau dipeluk sama kamu. Boleh kan?" ucap Aby.
Mawar tersenyum kecil lalu meraih pipi Aby dan mengelusnya.
"Ayo tidur biar aku nina bobokan kamu," ucap Mawar.
"Bukan aku yang sedang butuh dukungan tapi kamu yang sedang butuh seseorang untuk menguatkan. Ada aku, apa yang sedang kamu hadapi sekarang hmm sampai kamu gak bisa tidur?" ucap Aby.
Seolah tahu bahwa Mawar sedang ada masalah dan sedang berpikir keras dengan senyuman dan perlahan Aby bertanya pada istrinya itu.
Mawar tersenyum, "sok tahu, aku tidak kenapa-kenapa," ucapnya sembari mencubit hidung Abymana.
"Oke, aku tidak memaksamu untuk menjawab. Ayo tidur," ucap Aby.
Mawar segera menutup matanya untuk menyudahi pembicaraannya dengan sang suami.
Sementara itu, Abymana masih terjaga tatapan matanya masih tertuju pada wajah Mawar dengan sebelah tangannya yang terus mengelus kepala Mawar.
Setelah setengah jam dan setengah memastikan, Mawar sudah tertidur pulas. Abymana beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke ruang CCTV di rumahnya, ia merasa harus mencari tahu apa yang terjadi pada Mawar.
Ia, tahu bahwa Mawar tidak akan menceritakan apapun padanya karena wanita yang ia nikahi karena terpaksa itu bukanlah wanita lemah seperti wanita pada umumnya.
Tiba di ruangan CCTV ia segera melihat rekaman di jam setelah Mawar pulang kuliah yaitu sekitar jam sebelas tiga puluh.
"Aku harus tahu siapa yang melukai Mawar. Tidak mungkin Frans, Joe dan Salman yang melukai Mawar," batin Aby sembari terus menggerakkan jarinya mengotak-atik komputer yang ada di hadapannya.
"Benar dugaanku. Tega sekali Bu Marisa melakukan ini pada Mawar, apa ini ada hubungannya dengan permintaan Mawar?" gumam Aby setelah melihat kejadian yang Mawar alami.
**********
Di kamar Michelle.
Gadis itu mengusap air matanya lalu menarik nafasnya panjang lalu membuangnya kasar.
"Tidak ada gunanya menangis. Besok aku ada pekerjaannya dari Pak Randy, aku harus tidur untuk mendapatkan tenaga full besok," batin Michelle.
__ADS_1
Saat dirinya sedang bersedih, ia memang selalu menguatkan dirinya sendiri karena Bu Jena jarang mengetahui kesedihannya.
Michelle memang selalu berusaha tegar dihadapan orang luar tapi sebenarnya ia rapuh dari dalam. Menurutnya, Bu Jena sudah terlalu banyak mengurus anak-anak di sana yang masih kecil, sebisa mungkin dirinya melakukan sesuatu yang tak menguras pikiran Ibu asuhnya itu.
************
Waktu berjalan begitu cepat, kini pagi mulai tiba matahari mulai menampakkan sinarnya.
Di kamarnya, Abymana baru terbangun setelah semalam kesulitan untuk tidur karena sibuk mengkhawatirkan Mawar.
"Selamat pagi suamiku," ucap Mawar dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kamu sudah mandi dan sudah rapi, jam berapa sekarang?" tanya Aby.
"Sekarang, baru jam setengah tujuh," ucap Mawar.
"Kalau setengah tujuh namanya bukan baru tapi aku sudah kesiangan." Aby bangkit dari tempat tidurnya lalu menghampiri Mawar!
"Dasar istri nakal, suami kesiangan kok gak dibangunin," ucap Aby.
"Masih pagi, masih ada waktu untuk kamu siap. Mandi sana aku gak mau dicium kalau kamu belum mandi," ucap Mawar.
"Biasanya juga saat bangun tidur cium dulu," ucap Aby.
"Sekarang beda, aku udah mandi sedangkan kamu belum. Aku takut keturunan bau."
Aby tersenyum dan dengan sigap meluk Mawar dan mengangkatnya membawanya ke atas tempat tidurnya!
"Ah, Mas apa yang kamu lakukan? Hey turunkan aku," ucap Mawar sembari meronta.
"Iya, ini aku turunin di sini," ucap Aby yang saat itu sudah menindih tubuh Mawar.
"Mas, kamu nakal."
"Aku memang nakal. Kamu mau apa hemm?"
"Aku mau nyubit ginjal kamu."
"Waw ngeri sekali." Aby masih menindih tubuh Mawar dengan kedua tangannya yang menahan tangan Mawar agar tak memberontak.
Aby mencium kening, pipi, dagu dan hidung Mawar dengan gerakan cepat dan diakhiri dengan mencium bibir istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung