
Malam hari sekitar pukul tujuh.
Di tempat penjagaan depan rumah Aby.
Frans dan dua temannya sudah bersiap untuk pergi, mereka mendapat izin ke luar secara bersamaan. Trio pinky boy itu kompak memakai kemeja berwarna pink pemberian dari Mawar, mereka sengaja memakai kemeja itu karena merasa warna pink adalah keberuntungan mereka.
"Eh, kalian ngapain pakai baju itu?" tanya Mawar penasaran.
"Kenapa memangnya, Mbak?" tanya Joe.
"Bukannya kemarin kalian dapat kemeja dari Mas Aby?" tanya Mawar lagi.
"Iya, Mbak tapi yang kemarin warnanya hitam sedangkan malam ini kami lebih ingin memakai warna ini," ucap Salman.
"Kita dapat pacar yang baik setelah punya baju ini. Terima kasih, Mbak," ucap Frans
"Ish, kalian ini. Bukan karena pakaian kalian punya pacar, emang udah waktunya aja kalian dapat pasangan," ucap Mawar.
"Tapi kita suka dengan baju ini," ucap Salman.
"Meski awalnya agak aneh, sih." Joe nyengir kuda setelah mengatakan kebenaran tentang perasaannya saat pertama dapat kemeja berwarna pink itu.
"Aku udah siap," ucap Jingga yang baru tiba di sana.
"Mau naik motor atau mobil?" tanya Frans.
"Naik motor juga boleh tapi kalau naik motor kayaknya aku harus ambil jaket dulu deh," ucap Jingga.
"Ambil jaket sana! Kalau gak pakai jaket nanti masuk angin," ucap Mawar.
"Mending masuk angin kalau masuk tangan Frans gimana. Kebuka tuh bagian atas," celetuk Joe yang melihat baju bagian dada Jingga yang sedikit terbuka dan menampakkan keindahannya.
Jingga menatap dadanya dan langsung pergi sembari menutup dadanya dengan tas miliknya!
"Ni, orang udah ketularan pacarnya kayaknya. Ngomong gak bisa disaring dulu apa?" ucap Salman.
"Kamu ini, Joe gak bisa apa liat aku bahagia. Jarang-jarang aku dapat pemandangan seperti itu," ucap Frans.
"Hey, hey, calon ustadz gak boleh nakal. Jaga pandangan dari hal-hal yang menggoda iman," ucap Joe.
"Haha, kalian ini ada-ada aja," ucap Mawar sambil terus tertawa.
"Udah pada mau pergi ya?" tanya Aby yang keluar dari rumahnya.
Aby berjalan menghampiri mereka dengan kedua tangannya yang dia masukan ke dalam saku celananya!
"Udah tuh. Kamu ngapain ke sini? Anak-anak gimana?" tanya Mawar.
__ADS_1
"Mereka aman. Udah pada tidur," sahut Aby yang kini sudah berdiri di samping Mawar.
"Lagi nunggu Jingga," ucap Mawar.
Aby mengeluarkan uang tunai dari dalam saku celananya lalu menghitungnya masing-masing sepuluh lembar.
"Ini ada tambahan buat kalian kencan," ucap Aby sembari memberikan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah pada salah satu bodyguardnya.
Frans, Salman dan Joe pun tersenyum bahagia mendapat bonus dari sang majikan.
"Wah, terima kasih, Tuan Muda," ucap Salman sembari meraih uang itu dari tangan Aby.
"Ini buat Joe dan ini buat Frans," ucap Aby sembari memberikan uang yang sudah dari tadi dia siapkan.
"Terima kasih, Tuan Muda," ucap Frans dan Joe secara bersamaan.
"Sama-sama. Kalian habiskan deh uang itu buat jajanin ayang masing-masing," ucap Aby.
"Aku gak dikasih jatah?" tanya Mawar.
Aby menatap Mawar lalu tersenyum penuh arti. "Tentu saja kamu dapat jatah. Ayo masuk kamar mumpung di rumah lagi sepi dan anak-anak udah pada tidur," ucap Aby.
"Jatah apaan ngajak masuk kamar?" ucap Mawar dengan nada ketus.
Tiga bodyguard itu hanya diam dan memilih untuk tidak ikut campur dalam pembicaraan dewasa itu. Mereka hanya berdiri sambil menunggu Jingga tiba.
"Hayo, pasti otaknya pada traveling, nih," ucap Aby sembari menatap tiga pemuda itu.
"Jangan menggoda merek. Ayo kita pergi," ucap Mawar.
"Emang, kamu pikir apa? Mesum aja kamu," ucap Aby.
"Lah, terus apa?" tanya Mawar sambil berjalan mengikuti Abymana.
"Jatah kamu lebih banyak dari jatah mereka bertiga jadi, kamu harus menghitungnya dengan tenang tanpa adanya gangguan," ucap Aby.
"Oh. Aku pikir mau ngajak main kuda-kudaan," celetuk Mawar.
"Itu jatah utama," ucap Aby.
"Ish, aku pikir beneran mau menghitung uang jatah belanja ku," ucap Mawar lagi.
Aby tersenyum lalu memangku Mawar ala brydal style tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aby semakin gemas karena ternyata istrinya belum peka terhadap apa yang dia inginkan meski dirinya sudah memberi kode kerasa.
Karena mendapat perlakuan seperti itu, reflek Mawar mencengkeram bahu Aby agar tubuhnya tidak sampai terjatuh, meski sebenarnya tidak mungkin suaminya sampai menjatuhkan dirinya.
"Kebiasaan banget, Sih," ucap Mawar dengan nada kesal.
__ADS_1
Sedangkan Abymana hanya tersenyum melihat wajah sang istri yang terkejut. Dia terus berjalan membawa Mawar ke dalam kamarnya!
Di depan rumah.
Trio pinky boy itu sudah siap pergi dengan menggunakan motornya masing-masing. Sebenarnya Aby dan Mawar tidak pernah melarang mereka untuk memakai mobilnya tapi mereka cukup tahu diri dalam hal itu. Mereka sudah bersyukur karena memiliki majikan seperti Aby dan Mawar, jadi, meski majikan mereka selalu menawarkan mobilnya, mereka tetap lebih suka memakai kendaraan pribadinya karena merasa tidak enak pada majikan mereka yang dianggap terlalu baik itu.
Frans mengambil helm yang sudah dia siapkan lalu memakaikannya pada Jingga.
Jingga terus menatap wajah Frans selama Frans memakaikan helm itu padanya. Sebuah senyuman terukir di bibir Jingga, betapa bahagianya dirinya malam ini karena akan pergi bersama sang kekasih.
"Ya ampun, yang lagi mabuk cinta ...." Salman berucap sembari menatap Frans dan Jingga dengan jari tangannya yang terus menekan klakson motornya.
"Pakai helm aja sampai berjam-jam," sambung Joe.
Salman dan Joe memang sudah menunggu Frans dan Jingga sejak beberapa menit lalu. Karena sudah terlalu lama, akhirnya mereka pun bosan menunggu pasangan yang baru resmi berpacaran itu.
"Kalian kenapa gak pergi duluan aja, sih? Kerjaan kalian tuh ganggu orang lagi seneng aja," ucap Frans.
"Udah ah, jangan berantem terus. Ayo kita pergi sekarang!" ajak Jingga.
"Ayo naik!" titah Frans.
Jingga pun menaiki motor Frans dan duduk manis di belakangnya.
"Pegangan. Biar gak jatuh," ucap Frans.
Jingga meraih jaket Frans lalu memeganya erat.
"Masa pegangan gitu?" Frans menarik tangan Jingga lalu melingkarkan di perutnya.
"Nah, gini," sambung Frans lalu mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
Mereka pun langsung melaju ke tempat mereka janji bertemu dengan pacarnya Salman dan Joe!
Selama perjalanan, Jingga terus memeluk Frans dari belakang. Jingga yang sebelumnya tidak pernah menumpangi motor merasa takut terjatuh saat motor yang dikemudikan Frans itu melaju dengan kecepatan lumayan tinggi.
"Kamu takut ya?" tanya Frans.
"Sedikit," sahut Jingga padahal dirinya sangat ketakutan.
Frans tersenyum lalu tangannya mengusap punggung tangan Jingga dengan lembut. Dari pegangan Jingga yang terasa begitu kencang, dia tahu bahwa saat itu Jingga sedang ketakutan.
"Jangan takut. Kamu tidak akan sampai terjatuh," ucap Frans.
"Yakin, ya? Jujur ini pertama kalinya aku naik motor," ucap Jingga.
"Iya. Tenang saja." Frans memelankan laju motornya agar Jingga tidak terlalu takut.
__ADS_1
"Wah menang banyak tuh Frans. Dipeluk dari belakang erat banget kayak dilem gitu sampai gak ada jarak satu centi pun," gumam Salman yang mengemudi di belakang Frans.
Bersambung