Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 259


__ADS_3

Sore hari setelah selesai dengan semua aktivitasnya di kantor. Kini Jingga sudah tiba di rumahnya, dia turun dari mobilnya dengan disambut oleh sang pujaan hati yang saat itu sudah berdiri di samping mobilnya.


"Hai," ucap Jingga dengan senyuman manisnya.


"Assalamualaikum," ucap Frans.


Jingga terhenti dengan mata yang menatap wajah Frans dengan tatapan aneh. "Waalaikumsalam," sahutnya pelan setelah itu mereka pun saling terdiam.


"Aku," ucap mereka secara berbarengan setelah beberapa detik saling diam.


"Kamu dulu aja," ucap Jingga serba salah.


"Kamu aja. Kamu dulu yang bicara," ucap Frans.


"Kamu aja, kamu 'kan laki-laki jadi, harus diduluin," ucap Jingga.


"Tapi perempuan harus diistimewakan. Mau bicara apa?" tanya Frans.


"Yaelah, mau ngomong aja pakai ribet. Pacaran gaya kalian terlalu jadul, masih malu-malu aja udah kenal lama juga," ucap Salman yang merasa geregetan melihat Frans dan Jingga.


"Orang baru jadian langsung sat-set, langsung menjelajah sana-sini lah kalian, mau bicara sesuatu aja kok saling lempar siapa yang duluan," sambung Joe.


"Hooh, padahal semua orang tahu kalau laki-laki itu pemberani dan selalu ada dalam barisan terdepan sedangkan perempuan mengharuskan diistimewakan oleh pasangannya tapi jangan lebai-lebai banget dong. Ingat umur," ucap Salman lagi.


"Memang ada apa dengan umur?" tanya Joe.


"Frans udah waktunya nikah. Oi! Udah tua," ucap Salman.


"Apaan sih kalian, kok jadi bawa-bawa umur?" ucap Frans dengan sedikit ketus.


Frans memang salah satu yang paling tua diantara dua teman-temannya, jika Salman dan Joe masih disekitar dua puluh enam dan dua puluh tujuh tahun, Frans sudah berusia tiga puluh tahun.


"Paling tua paling dulu menikah habis itu aku dan kita tinggalkan Joe sendirian," ucap Salman.


"Apa! Kalian, kok tega?" ucap Joe.


"Kamu paling muda diantara kita dan lagi pacar kamu juga masih kuliah, masih lama," ucap Salman.


"Memang pacar kamu udah kerja?" tanya Frans.


"Kerja dong. Udah siap juga buat dinikahi," ucap Salman dengan sedikit senyum penuh rasa bangga.


"Kembali ke awal. Kamu mau bicara apa?" tanya Jingga yang sedari tadi hanya diam sambil mendengarkan semua ocehan trio pinky boy itu.


"Aku mau melamar kamu pada orang tua kamu sekarang juga biar nanti malam kita aman pas jalan berdua," ucap Frans tanpa ragu.


"Apa! Secepat itu?" Salman dan Joe terkejut mendengar perkataan Frans.


"Serius. Sekarng juga?" ucap Jingga tak percaya. Meski begitu, Jingga tersenyum bahagia dengan apa yang dia dengar barusan.


"Biar aku tenang pergi malam bawa anak orang, kalau udah dikamar 'kan kalau ada apa-apa tinggal bilang kalau kita mau nikah," ucap Frans.


"Memang ada apa?" tanya Jingga.

__ADS_1


"Ada yang merayap, meraba atau mungkin mere**s atau juga saling serang," celeruk Joe.


Pak!


Salman memukul kepala Joe dengan koran yang terletak di atas meja yang terdapat di dekat mereka. Joe sedikit meringis sambil mengusap kepalanya.


"Sembarangan aja kalau bicara," ucap Salman.


"Orang cuma bercanda juga," ucap Joe dengan nada kesal.


"Gak bercanda juga gak apa. Memang nanti aku mau main panas-panasan sama calon istri, latihan dulu biar pas malam pertama gak tegang," ucap Frans.


Dengan sesegera mungkin Frans menarik tangan Jingga dan membawanya masuk ke dalam rumah! Dia tak mau mendengar perkataan selanjutnya dari kedua temannya itu.


"Kamu ngapain bicara gitu, sih?" tanya Jingga setelah mereka berada di dalam rumah.


"Cuma bercanda. Dimana orang tua kamu, kenapa mereka gak ada di sini?" ucap Frans.


"Pasti mereka di belakang," ucap Jingga sembari berjalan lebih dulu dari Frans.


Frans tak berucap lagi, dia terus melangkah mengikuti Jingga.


Setelah tiba di halaman belakang rumah Aby tepatnya di samping sawah yang kini digarap oleh kedua orang tua angkatnya Mawar. Keluarga Jingga berkumpul di sana untuk menghabiskan waktu sore bersama-sama.


Jingga dan Frans pun berjalan menghampiri keluarga yang sedang asyik berbincang!


"Pa, Ma ada yang mau bicara sama Papa dan Mama," ucap Jingga pada kedua orang tuanya.


"Siapa?" tanya Pak Mahendra yang baru tiba di rumah sekitar dua puluh menit lalu.


Jingga tersenyum tipis lalu menatap Frans, mengisyaratkan bahwa Frans lah yang ingin bicara pada mereka.


"Frans, mau bicara apa? Bicara saja," ucap Bu Marisa.


Mawar dan Aby saling menatap lalu saling melempar senyuman. Mereka berdua sudah tahu bahwa ini akan terjadi tapi mereka tak menyangka akan secepat ini pasalnya baru kemarin Frans menyatakan cinta dan hari ini dia sudah sangat serius dengan menemui kedua orang tua Jingga.


"Sini! Sini! Duduk di sini!" Aby menarik tangan Jingga dan Frans lalu membawa mereka duduk bersama-sama di kursi yang terbuat dari bambu itu.


Mawar menggeser duduknya dan memberi tempat untuk Jingga dan Frans sementara Aby, karena tidak kebagian kursi, dia memilih berdiri di belakang Mawar.


"Pak, Bu maaf kalau saya langsung. Maksud saya menemui Bapak dan Ibu, saya ingin melamar Jingga menjadi istri saya," ucap Frans tanpa basa-basi.


Seketika Pak Mahendra dan Bu Marisa tersenyum lebar. Mereka tidak menyangka bahwa Frans akan melamar Jingga.


"Kamu serius?" tanya Bu Marisa penuh bahagia.


"InsyaAllah, saya sedang tidak bermain-main. Saya mencintai Jingga dan saya ingin memperistri dirinya, itu pun kalau Bapak dan Ibu merestui kami," ucap Frans lagi. Frans memang mencintai Jingga tapi dia tidak akan menikahi gadis yang dia cintai tanpa restu orang tuanya.


"Tentu saja saya setuju. Saya sangat setuju jika kalian menikah," ucap Pak Mahendra.


"Alhamdulillah," ucap Frans dan Jingga.


"Selamat, Frans," ucap Mawar.

__ADS_1


"Selamat, Frans, Jingga," ucap Aby.


"Jadi, kapan kamu akan menikahi Jingga?" tanya Pak Mahendra.


"Papa. Papa apa-apan, sih buru-buru banget?" ucap Jingga yang merasa tidak enak hati pada Frans.


"Ngebet pengen punya mantu," ucap Aby.


"Padahal kamu juga mantunya," ucap Mawar dengan sedikit cemberut.


"Bukan itu maksudnya. Eh tapi bisa dibilang iya, sih kata Aby," ucap Pak Mahendra.


"Papa emang ingin secepatnya kalian menikah," sambung Pak Mahendra pada Jingga dan Frans.


"Secepatnya saya akan menikahi Jingga tapi sebelum itu, saya harus bicara dengan keluarga saya dulu," jelas Frans.


"Jangan terlalu cepat. Kita butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain," ucap Jingga.


"Sebenarnya saya tidak butuh waktu lama untuk mengenal kamu karena saya sudah tahu kamu dan keluarga kamu, lain waktu saya akan mengenalkan kamu pada kakak saya," ucap Frans.


"Kenapa kakak, kenapa gak langsung pada orang tua kamu?" tanya Mawar.


"Orang tua saya sudah tidak ada tapi saya akan membawa Jingga berziarah ke makam orang tua saya," jawab Frans.


Seketika wajah Mawar berubah melemas. "Oh, maaf. Saya tidak tahu," ucap Mawar dengan nada lesu karena merasa bersalah.


"Kami sekeluarga turut berduka cita atas berpulangnya kedua orang tua kamu. Kamu yang sabar ya, ada kami di sini," ucap Abymana.


"Terima kasih, Tuan Muda," ucap Frans.


"Kalau kalian sudah sama-sama suka dan sudah saling cocok, kami sebagai orang tua hanya bisa memberikan restu. Kami bahagia dengan hubungan kalian berdua," ucap Bu Marisa.


"Cari waktu baik untuk melangsungkan pernikahan kalian. Minggu depan, bulan depan, akhir tahun ini asal jangan tahun depan aja karena terlalu lama," ucap Mawar.


"Soal biaya, aku yang tanggung dan untuk berbulan madu aku juga yang biayain," ucap Aby.


"Serius, By?" tanya Jingga tak percaya.


"Serius, Kakak ipar. Frans udah kerja lama di sini, anggap saja ini bonus selama Frans kerja sama aku," ucap Aby.


"Terima kasih, Tuan Muda," ucap Frans.


"Sebentar lagi kamu jadi kakak ipar saya juga," ucap Aby.


"Terima kasih banyak, By tapi apa gak berlebihan biaya pernikahan kamu yang tanggung? Biaya pernikahan gak sedikit lho," ucap Bu Marisa.


"Ma, menantu mama yang satu ini banyak duit jadi, gak apa-apa dan gak akan jadi masalah. Mama tenang saja," ucap Mawar.


"Sombongnya baru keluar setelah usia kamu makin tua," ucap Jingga sambil tertawa kecil.


Mereka pun tertawa bersama. Kebahagiaan kini tengah menyelimuti keluarga itu terutama Jingga yang selama ini tersiksa karena perbuatan masa lalunya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2