Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 103


__ADS_3

Malam hari di panti asuhan.


"Kak Michelle sedang apa di sini sendirian?" tanya Ussy.


Gadis itu duduk di sebelah Michelle yang sedang duduk di di sebuah kursi!


"Eh, Sy. Belum tidur?" tanya Michelle.


"Masih sore, baru jam delapan," sahut Ussy.


"Kapan kamu mau mulai kuliah?" ucap Michelle.


"Belum tahu, menurut kakak kapan baiknya?"


"Kamu ditanya malah balik nanya. Jangan takut soal biaya, bosmu itu siap membiayai kuliah kamu."


"Bukan itu yang aku permasalahkan tapi–"


"Tapi apa? Tidak ada alasan untuk menolak."


"Kak, orang tuaku ...." Ussy menggantung ucapannya.


"Ussy, semua orang punya orang tua meski ada anak yang tidak tahu dan tidak mengenal orang tuanya, seperti kita ini tapi kamu harus semangat untuk hidup kamu. Kamu lihat aku, aku tidak punya orang tua, anak-anak lain yang tinggal di sini juga tidak punya orang tua tapi kami semua semangat berjuang demi kelangsungan hidup. Tentang orang tua, di manapun mereka berada semoga mereka bahagia dan kelak akan bangga pada diri kita kalau orang tua kita sudah gak ada di dunia ini, semoga mereka dapat melihat kita dari atas sana dan merasa bangga karena punya anak yang berhasil," jelas Michelle.


Ussy tertunduk dengan mulutnya yang tertutup rapat.


"Kenapa?" Michelle meraih punggung Ussy dan mengelusnya.


"Sebenarnya aku punya orang tua tapi mereka sudah tiada, sejak mereka tiada aku tinggal sama Paman dan Bibi ku," ucap Ussy.


"Kalau kamu tahu bahwa orang tua kamu sudah tiada, kenapa kamu menolak untuk melanjutkan kuliah?"

__ADS_1


"Kalau aku kuliah, aku tidak akan bisa bekerja sementara Paman dan Bibi ku di kampung hidup susah. Mereka sudah tua dan sudah tidak bisa bekerja di kebun atau di sawah lagi. Beberapa bulan belakangan ini, mereka hanya mengandalkan uang gaji ku saja."


"Siapa yang memintamu untuk berhenti bekerja? Ayolah Ussy, kamu masih muda perjalanan hidup kamu masih panjang lagian kamu kuliah gak lama paling cuma berapa jam, kamu bisa sambil kerja. Aku sudah bicara sama Dirga tentang ini dan dia setuju kalau kamu kuliah tapi tetap bekerja di tempatnya dan satu lagi dia juga yang akan membiayai kuliahmu. Paman dan Bibi kamu akan merasa bahagia jika kamu menyandang gelar sarjana dan mempunyai pekerjaan yang bagus yang gajinya besar."


Ussy menatap Michelle, ia tak percaya ternyata ada orang lain yang memperdulikannya.


**********


Di rumah Aby.


"Kenapa kamu terluka seperti ini?" tanya Aby pada Mawar.


Mawar yang sedang duduk di samping Aby dengan kepalanya yang ia sandarkan di bahu suaminya itu terpaksa harus mendongakkan kepalanya untuk menatap Aby.


"Tadi aku sudah bilang kalau aku terjatuh," ucap Mawar.


"Oh terjatuh ya. Bagaimana posisi kamu saat terjatuh? Kok bisa ya lukanya ada dibagian atas kepala kamu, bukannya kalau terjatuh posisi kamu terlentang harusnya yang terluka kepala bagian belakang dan kalau posisi kamu telungkup yang terluka harusnya kening kamu," ucap Aby lagi.


"Ini beneran terjatuh," ucap Mawar.


"Frans! Joe! Salman!" seru Aby.


Tak lama tiga bodyguard itu berdatangan dan berjalan menghampiri Aby dan Mawar yang sedang berada di ruang keluarganya.


"Ada apa Pak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Frans.


"Siapa yang tadi datang ke rumah?" tanya Aby.


Frans dan dua rekannya tak langsung bicara, mereka menatap Mawar lalu menunduk setelah mendapat kode dari Mawar.


Saat mereka menatap Mawar, Mawar menggeleng pelan meminta mereka untuk tidak memberitahu siapa yang datang ke rumahnya tadi siang.

__ADS_1


"Tidak ada siapapun yang datang," ucap Frans penuh rasa takut.


Dirinya takut Aby mengetahui yang sebenarnya dan akhirnya dirinya dipecat dari pekerjaannya.


"Luka yang Mawar derita seperti ada yang menghantamnya dari atas, luka ini bukan karena terjatuh atau terpeleset."


"Mas, udahlah lagian aku gak apa-apa," ucap Mawar.


"Kalian boleh pergi, saya mau bicara berdua dengan suami saya," ucap Mawar lagi pada ketiga bodyguardnya.


"Mas Aby, aku ada satu permintaan. Apa kamu mau memberikannya padaku?" ucap Mawar setelah Frans dan yang lainnya pergi.


"Apa? Apapun yang dapat membuat kamu bahagia, aku pasti akan memberikannya," sahut Aby.


"Aku ingin kamu mengambil semua aset milik kamu dari perusahaan Pak Mahendra dan membiarkan aku yang memegang saham itu," ucap Mawar.


"Maksud kamu, kamu ingin menjadi pemegang saham di sana? Itu artinya kamu yang akan memimpin perusahaan itu karena aset milikku lebih banyak dari punya Pak Mahendra, kamu jangan bercanda Mawar."


"Aku serius suamiku. Untuk menjadi Dokter prosesnya lama, aku mau ngurus perusahaan saja."


"Untuk menjadi pemimpin di sebuah perusahaan butuh pengalaman yang banyak sedangkan kamu, kerja di kantor saja tidak pernah," ucap Aby meragukan kemampuan Mawar.


"Suamiku seorang pengusaha, aku pasti dibimbing dengan baik dan di sana juga ada Pak Mahendra, dia pasti mengajariku. Apa kamu lupa kalau dia itu Papaku?" ucap Mawar meyakinkan Aby.


"Akan aku pikiran ini lagi nanti, sekarang kamu istirahat ya," ucap Aby.


Mawar tersenyum kecut lalu beranjak dari duduknya! Untuk mendapatkan kepercayaan dari Aby, langkah pertama adalah menuruti semua perkataannya lalu berusaha membuktikan bahwa ia bisa.


"Aku mau jadi istri yang baik, kamu nyuruh aku istirahat aku akan menurutinya tapi aku minta pikirkan lagi keinginanku. Aku pernah bilang sama kamu kalau masih ada yang ingin aku kejar dan untuk mengejar keinginanku itu pertama-tama aku harus menjadi orang nomor satu dulu di perusahaan kamu," ucap Mawar lalu pergi tanpa menunggu Aby berucap lagi padanya!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2