Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 267


__ADS_3

Setelah puas bermain di rumah Mawar. Sore itu El mengajak Fredy bertemu di salah satu kafe yang terdapat di tempat terdekat dari rumah sakit tempat Pak Haris dirawat.


El sudah menunggu Fredy di kafe itu. Dia duduk di kursi yang letaknya dekat dengan pintu masuk ke dalam kafe itu agar dirinya bisa melihat Fredy dan Fredy pun bisa langsung melihatnya karena posisinya berada sejajar dengan pintu masuk.


El sudah memesan dua minuman dan dua porsi makanan, sesekali El menyedot minumannya terkadang juga dia menatap ke arah pintu masuk untuk memastikan Fredy sudah tiba atau belum.


Setelah hampir sepuluh menit, Fredy tiba di sana. Dia berdiri di pintu masuk sembari menyegarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tak butuh waktu lama, dirinya sudah langsung melihat El yang sudah menunggunya.


Fredy berjalan memasuki kafe itu dan langsung menghampiri El! "El, maaf ya membuat kamu menunggu lama," ucap Fredy.


"Gak apa-apa," ucap El. "Duduk," sambungnya lagi mempersilahkan Fredy duduk.


Fredy pun langsung duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan El. Dia menatap El dengan senyum tipis di bibirnya, meski hatinya sedang sedih karena sang ayah sedang sakit keras tapi untuk El, dia mencoba untuk tetap tersenyum demi menyembunyikan kesedihannya.


Meskipun, dirinya tahu El pasti mengetahui perasaannya saat ini tapi sebisa mungkin dia tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya.


"Ada apa kamu mengajak aku bertemu?" tanya Fredy. "Kamu kangen ya?" tanyanya lagi.


"Kangen, pasti. Aku ini pacarmu, kalau aku gak kangen siapa yang mau merindukan kamu?" tanya El.


Fredy meraih tangan El lalu mengusapnya lembut. "Maaf ya, sekarang aku jarang menghubungi kamu," ucapnya.


"Gak apa-apa. Aku ngerti, kok," sahut El dengan sedikit mengulas senyuman.


"El, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Fredy.


"Tanya saja."


"Kamu dekat dengan keluarga Mawar kamu pasti tahu kelemahan Mawar. Bisa kamu katakan apa yang bisa kulakukan agar Mawar memaafkan papaku?" tanya Fredy.


"Aku gak tahu kelemahan kak Mawar itu apa tapi aku ngajak kamu ketemu karena aku mau ngasih tahu kamu kalau sebenarnya kak Mawar sudah memaafkan papa kamu dan kayaknya dia juga mengkhawatirkan papa kamu," jelas El.


"Serius kamu?" tanya Fredy.


"Ya. Tadi saat Pak Mahendra dan Bu Marisa tiba di rumahnya, Kak Mawar langsung menanyakan kondisi papamu bahkan sebelum mereka masuk ke dalam rumah," ucap El lagi.


"Kalau memang seperti itu, kenapa Mawar tidak mau menemui papa?"


"Kak Mawar orang baik, dia pasti akan datang untuk menjenguk papa kamu hanya saja dia butuh waktu untuk itu. Kamu saja butuh waktu lama untuk menerima semua kenyataan ini apa lagi kak Mawar yang lama tidak mendapat kasih sayang dari orang tuanya," jelas El.


"Maksud kamu?" Fredy menatap El dengan tatapan penuh tanya.


"Yang aku tahu, Kak Mawar dibuang oleh Bu Marisa dan Pak Mahendra sehari setelah dia lahir dan karena ada alasan tertentu, mereka menjemput kak Mawar dari rumah orang tua angkatnya setelah dua puluh tahun. Kalau aku yang ada di posisi kak Mawar, sih mungkin aku udah mati bunuh diri," jelas El.


"Serius, kamu?"


"Karena itulah butuh waktu sedikit lama untuk Kak Mawar menerima semuanya. Dia hidup tanpa kasih sayang orang tua dan sekarang kenyataannya seperti ini, wajar kalau kak Mawar tidak terima dan sulit menerima semua kenyataan hidupnya."


"Aku tidak bisa berkata apa pun tentang dia. Kalau benar ceritanya seperti itu, kasian sekali Mawar," ucap Fredy.


*******

__ADS_1


Di rumah sakit tempat Roger dan Michaela membawa perempuan itu.


"Mbak, anakmu lucu sekali," ucap Michaela pada perempuan itu.


"Mas, Mbak, terima kasih sudah membawa saya ke sini. Sekarang saya bingung harus bayar biaya rumah sakit dari mana," ucap perempuan bernama Sinta itu.


"Jangan khawatirkan tentang biaya rumah sakit. Saya sudah membayar semuanya," ucap Roger.


Sinta yang sedang memangku bayinya tiba-tiba merasa sakit yang amat sangat dikepalanya. Dia merintih lalu langsung meletakkan bayinya di sampingnya.


Michaela dan Roger saling menatap karena tak tahu apa yang dirasakan oleh Sinta. Mereka tidak tahu bagaimana orang yang baru melahirkan.


"Mbak, Mbak Sinta," ucap Michaela sembari memegangi tangan perempuan itu.


"Dokter!" seru Roger memanggil dokter.


Tak lama seorang dokter masuk ke dalam ruangan itu dan langsung memeriksa kondisi perempuan bernama Sinta.


Sementara itu Roger dan Michaela keluar dari ruangan itu karena dokter meminta mereka untuk keluar. Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar dan menunggu dokter di depan pintu ruangan itu.


"Mas, apa yang terjadi padanya?" tanya Michaela sembari berjalan nolak karena tak bisa tenang.


"Aku tidak tahu. Kita doakan semoga dia baik-baik saja," ucap Roger sembari berusaha menenangkan sang istri.


"Kita gak tahu keluarganya siapa dan di mana. Apa yang harus kita lakukan?" Michaela begitu khawatir pada Sinta, sebagai seorang perempuan yang memiliki hati yang lembut, Michaela tidak tega melihat Sinta berjuang sendiri melahirkan anaknya tanpa ada suami atau keluarga yang mendampinginya.


"Pak, Bu!" seru seorang dokter yang baru memeriksa Sinta.


"Iya, Dokter. Ada apa?" tanya Roger.


Roger dan Michaela pun langsung memasuki ruangan itu untuk menemui Sinta!


Di dalam ruangan. Sinta terlihat begitu pucat mungkin karena kelelahan setelah berjuang melahirkan anaknya.


"Mbak Sinta kenapa?" tanya Michaela.


"Mbak, Mas, saya hidup sebatang kara di sini. Orang tua saya sudah tidak ada dan suami saya juga sudah meninggal sejak beberapa bulan lalu. Saya ingin minta tolong pada kalian," ucap perempuan itu dengan berurai air mata.


"Mbak mau minta tolong apa?" tanya Michaela dengan suara pelan.


"Jika usia saya hanya sampai di sini, tolong rawat anak saya."


"Jangan bicara seperti itu, Mbak. Kenapa, Mbak bicara seperti itu?" tanya Roger.


"Sebenarnya saya menderita penyakit keras. Saya mohon jaga anak saya dan sayangi dia, jangan sampai dia kekurangan kasih sayang. Dia anak saya satu-satunya," ucap Sinta.


"Mbak, saya dan suami saya akan merawat bayi itu dengan kasih sayang tapi, Mbak harus sembuh. Kami akan membiayai pengobatan Mbak sampai, Mbak Sinta sembuh," ucap Michaela yang saat itu menggenggam tangan Sinta dan terus menatapnya.


"Terima kasih," ucap Sinta dengan suara halus. Perlahan perempuan itu menutup matanya dan melepaskan genggamannya dari Michaela.


"Mbak Sinta! Mbak, Mbak Sinta!" Michaela menggoyahkan tangan Sinta tetapi tidak ada respon dari perempuan itu.

__ADS_1


Michaela berdiri lalu meraih pipi Sinta dan berusaha membangunkan perempuan itu. Michaela terus menggoyangkan kepala hingga tubuh Sinta tapi perempuan itu sudah tidak bergerak lagi.


"Mas, kenapa ini, Mas?" ucap Michaela panik.


"Dokter! Dokter tolong!" Roger kembali berteriak memanggil dokter karena Sinta tak merespon perkataan istrinya.


"Mas, dia masih hidup 'kan?" tanya Michaela panik.


"Sayang, sabar. Kita tunggu dokter," ucap Roger.


Tak lama seorang dokter berlari memasuki ruangan itu dan langsung memeriksa denyut nadi perempuan bernama Sinta itu. Dokter itu menatap Roger lalu menatap Michaela, terlihat raut wajah kesedihan di wajahnya.


"Innalilahi wa ina ilaihi rojiun. Pasien sudah meninggal," ucap dokter itu.


"Apa! Tidak mungkin, Dokter. Kami baru saja bicara, kenapa dia meninggal?" tanya Michaela yang tak percaya bahwa Sinta benar-benar telah tiada dan perkataannya menitipkan anaknya adalah perkataan terakhirnya.


"Kenyataannya dia memang sudah meninggal. Saya turut berdukacita," ucap dokter itu.


"Ini serius, Mas? Aku rasa ini tidak nyata. Di hadapanku ada seorang yang baru saja meninggal," ucap Michael yang langsung melemas.


"Kamu harus kuat. Sekarang kewajiban kita adalah memakamkan dia secara layak, dia tidak punya keluarga jadi, kitalah yang harus mengurus pemakamannya," ucap Roger sembari memeluk Michaela.


********


Malam hari di kediaman Abymana.


Mawar sedang sibuk membuat susu untuk kedua anaknya, dia nampak menikmati kesibukannya sebagai seorang ibu muda yang langsung mempunyai dua anak sekaligus.


Dari belakang Mawar, Aby berjalan santai lalu langsung memeluk sang istri. Dia mencium rambut Mawar lalu menikmati aroma wangi tubuh istrinya itu.


"Kebiasaan deh. Aku lagi sibuk, kamu ganggu aja," ucap Mawar.


"Ganggu apa? Tangan kamu masih bisa bergerak meski aku nemplok di sini," jelas Aby.


"Iya, Mas tapi aku agak kagok buat menuangkan air panasnya," ucap Mawar yang hanya di balas ciuman oleh Aby.


"Udah pada tua juga, masih aja kayak orang pacaran," celetuk Jingga yang kebetulan lewat di dapur itu.


"Iri? Bilang dong," ucap Aby.


"Siapa yang iri. Aku juga mau nyamperin Frans, kok," ucap Jingga sembari terus berjalan melewati mereka.


Jingga terus berjalan dan tak menghiraukan perkataan Mawar selanjutnya. Dia menebar senyuman saat melihat Frans sedang berkumpul di depan rumah itu.


"Malam semuanya," ucap Jingga.


"Hmmm, kayaknya ada yang ngajak pacaran nih," ucap Joe.


"Kita pergi yuk. Sebentar lagi kita bakal kepanasan kalau tetap di sini," ucap Salman P Joe.


"Eh, kalian ini. Di sini aja lagian kami gak mau ngapa-ngapain," ucap Jingga.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Kita gak mau jadi lalat pengganggu," ucap Joe sambil berjalan menjauh dari Frans dan Jingga.


Bersambung


__ADS_2