
"Mam, aku dengar hari ini hari pertama Kak Mawar kuliah," ucap Nasya.
"Iya, emang kenapa?" ucap Ratu.
"Nggak cuma pengen tahu aja. Gimana kabar kak Aby nanti kalau tahu banyak pemuda yang suka sama istrinya?"
"Kamu kok jadi mikirin kakak kamu?"
"Iya lah Ma, sekarang kak Aby sok jual mahal sama kak Mawar nanti aja, kalau istrinya ditaksir orang baru kelabakan karena cemburu."
"Heh jangan sok tahu kamu. Mungkin aja sekarang mereka udah saling jatuh cinta."
"Mana ada, orang aku lihat mereka kayak orang gak kenal padahal ya Ma, aku lebih suka sama kak Mawar dibandingkan dengan Jingga yang hanya anak manja yang sukanya ngabisin duit keluarga."
"Emang kamu gak suka ngabisin duit keluarga? Jangan bicara gitu ah, gak baik tahu."
"Ih Mama, gak asik. Gak kayak Mas ganteng yang suka ngebelain aku terus."
"Mas ganteng-Mas ganteng. Ingat Sya, kalau di tempat umum jangan panggil Dirga dengan sebutan Mas ganteng, nanti cewek yang dekat sama dia bisa cemburu karena mengira kamu adalah pacarnya."
"Udah kebiasaan mana bisa dirubah meski sebenarnya perkataan Mama benar. Waktu itu aku pernah ketemu sama Mas ganteng yang lagi makan sama cewek eh tiba-tiba ceweknya kayak gak enak gitu sama aku dan dia langsung mengakui kalau dia bukan pacarnya Mas ganteng."
"Nah itu dia, makanya kamu rubah tuh panggilan kamu sama Dirga."
**********
"Jingga, kamu ini kenapa sih akhir-akhir ini ngebet banget pengen balikan sama Aby? Kamu tahu gak Mama berbohong sampai hampir mati demi menggagalkan pernikahan kamu sama Aby, sekarang kamu malah ngejar-ngejar dia."
Marisa yang tak mengerti dengan apa mau anaknya itu dengan tanpa basa basi langsung menanyakan apa yang ingin ia ketahui.
"Roger pergi ninggalin aku demi cewek lain Ma, dan aku gak mau Aby dimiliki oleh Mawar. Aku mau Aby menjadi milikku lagi."
"Apa! Roger meninggalkan kamu demi wanita lain? Kurang ajar sekali dia."
"Ma tolong bantuin aku untuk mendapatkan Aby lagi. Pokoknya bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan Aby."
"Ya ampun Jingga sayang. Kamu ini cantik, di luar sana pasti banyak sekali pemuda yang mau sama kamu. Kenapa tidak mencari laki-laki lain lagi toh di dunia ini laki-laki bukan cuma Roger dan Aby saja."
"Masalahnya aku sudah berbuat kebodohan Ma. Aku takut aku hamil." Jingga mulai memasang raut wajah menyesal dan perlahan air matanya mulai menetes.
"Hamil? Kamu sudah gila Jingga. Sama siapa kamu melakukan hal bodoh itu hah?" Marisa terkejut, ia menatap Jingga dengan matanya yang terbuka lebar selebar mungkin. Untunglah bola matanya tak sampai keluar dari tempatnya.
"Maafkan aku Ma, aku terlalu cinta sama Roger sehingga aku tidak melihat kalau ternyata dia hanya memanfaatkan aku dan hanya mencari keuntungan dari aku. Aby mencintai aku dengan sangat tulus, aku yakin dia mau menerima aku meski aku sudah tidak gadis lagi."
"Keterlaluan kamu. Kenapa begini Jingga."
__ADS_1
"Tolong jangan kasih tahu Papa, aku takut Papa akan marah dan mengusir aku dari rumah." Gadis itu terus menangis sambil menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap wajah Marisa yang rendah marah padanya itu.
********
"Selamat sore Mawar. Bagaimana kuliah mu di hari pertama ini?" Aby duduk di samping Mawar yang saat itu tengah asyik memainkan ponselnya.
"Hari pertama lumayan menyenangkan. Sepertinya aku akan mendapatkan beberapa kesulitan dalam mencari teman."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah tapi aku merasa begitu."
"Kamu cuma sedang cemas, tenang aja lama-lama juga kamu pasti bisa bergaul dengan mereka."
"Semoga saja. Oh ya bagaimana dengan pacar kamu itu?"
"Pacar yang mana? Sekarang pacar aku kan kamu."
"Ngaku-ngaku, emang kapan kita jadian? Jingga mau dikemanain?"
"Jangan pikirkan Jingga. Mawar ...."
"Apa."
"Eh emang gitu cara kamu nembak cewek?"
"Nggak juga, aku maunya ngajak kamu pacaran dengan cara seperti ini. Yang aku tahu kamu orangnya gak suka bertele-tele."
"Ya ampun pantas saja Jingga kabur dari pernikahan kalian, ternyata kamu tuh kayak gini ya. Gak ada romantis-romantisnya."
"Kamu jawab dulu mau jadi pacar aku nggak?"
"Iya aku mau."
"Gitu banget jawabannya, kayak kepaksa tahu gak."
Mawar tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas meja!
"Tuan Muda yang ganteng, yang baik, yang perhatian, yang gak romantis. Iya, aku mau jadi pacar kamu," ucap Mawar sembari menatap Abymana.
"Jadi mulai sekarang kita pacaran nih?"
"Iya."
"Mana ada orang udah nikah tapi masih pacaran?" ucap Dirga yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
__ADS_1
"Dirga, sejak kapan kamu di sini?" tanya Aby.
"Udah dari beberapa menit yang lalu. Kalian nya aja yang terlalu fokus berdiskusi mana obrolan kalian aneh lagi."
"Apanya yang aneh. Duduk Ga, kamu mau teh atau kopi?" ucap Mawar.
"Giliran Dirga aja ditawari teh atau kopi lah aku dari tadi di sini gak ditawari."
"Iya nanti aku buatkan sekalian untuk kamu juga. Kamu mau apa teh, kopi atau susu atau jus mungkin?"
"Tuh, Tuan Muda malah ditawari yang lengkap."
"Terserah kamu aja yang penting gak ada racunnya."
"Orang tiap hari minuman kamu, aku kasih racun," ucap Mawar sembari melangkah pergi!
"Ngapain kamu ke sini gak bilang-bilang dulu?" tanya Aby pada asistennya itu.
"Maaf Tuan Muda lagipula saya datang bukan untuk membicarakan pekerjaan, saya datang untuk bersilaturahmi saja."
"Hah bilang aja kamu mau menasihati saya tentang saya dan Jingga."
"Kok tahu?"
"Ya tahu lah kan tadi kamu gak suka banget ngeliat Jingga datang ke kantor."
"Oh jadi tadi pacar kamu datang ke kantor, terus gimana kelanjutan kisah kalian yang sempat terhenti itu?"
"Udahlah Mawar lagipula mereka gak ngobrolin apa-apa di kantor," ucap Dirga.
"Ngobrolin apa-apa juga gak masalah. Orang itu hak nya mereka." Mawar menata gelas minum itu di atas meja lalu ikut bergabung bersama Aby dan Dirga.
"Oh ya, gimana kabar kamu Mawar?" tanya Dirga mengalihkan pembicaraan.
"Baik-baik saja, aku gak sakit kok."
"Luka kamu udah sembuh total."
"Astaga Dirga, itu luka udah dari kapan tahu, kamu baru tanya sekarang," ucap Aby.
"Kan baru ingat sekarang."
"Pada aneh kalian berdua enang. Gak bosnya gak asistennya, sama-sama aneh."
Bersambung
__ADS_1