Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 274


__ADS_3

Setelah melewati proses demi proses, kini keluarga Fredy dan keluarga Mawar sedang berada di pemakaman Pak Haris. Mereka semua turut mengantarkan Pak Haris pada tempat peristirahatannya yang terakhir.


Setelah proses pemakaman selesai, orang-orang yang mengantarkan Pak Haris pada tempat peristirahatannya pun perlahan mulai meninggalkan tempat itu. Kini, hanya ada keluarga saja yang masih berada di sana.


Di samping makam Pak Haris, Mawar duduk sembari memeluk nisan yang bertuliskan nama Pak Haris. Tak ada yang dia ucapkan dari bibirnya, hanya terdengar suara seru sedan tangis seorang Mawar.


Di samping Mawar ada Fredy dan mamanya yang juga sangat bersedih dan terpukul atas kepergian Pak Haris. Fredy juga hanya diam dalam air mata yang sedari tadi terus saja keluar dari sudut matanya.


Sementara itu mamanya Fredy terus berusaha untuk tegar, dia menaburkan bunga di atas makam sang suami dan tak lupa dia terus mendoakan sang suami agar ditempatkan di tempatnya yang terindah. Perempuan paruh baya itu terlihat kuat tapi tak bisa dipungkiri bahwa dirinya merasa berat untuk melepaskan sang suami, terlihat dari air matanya yang sudah membanjiri pipinya bahkan sampai jilbab yang dikenakannya juga ikut basah.


"Sayang, sudahlah. Papamu sudah tenang di sana, jangan sedih nanti dia ikut sedih," ucap Pak Mahendra sembari berusaha membangunkan Mawar dari tempat itu.


"Tolong beri aku waktu sebentar saja untuk tetap di sini. Aku ingin menenangkan pikiranku sebentar," ucap Mawar tanpa menatap Pak Mahendra sedikit pun.


"Pa, biarkan Mawar di sini dulu. Kita pulang duluan saja," ucap Bu Marisa pada Pak Mahendra.


"Bu Haris, Fredy, kami permisi ya. Kalian yang tabah ya," ucap Bu Marisa pada istrinya Haris dan juga Fredy.


"Terima kasih, Bu Marisa," sahut istrinya Haris dengan suara parau.


Pak Mahendra dan Bu Marisa pun meninggalkan tempat itu karena harus mengurus kedua anak Mawar yang berada di rumahnya. Mereka tahu saat ini Mawar sedang berduka jadi, mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikan waktu untuk Mawar agar tidak terganggu oleh siapa pun termasuk baby Aditya dan baby Maira.


"Fredy, Mawar sudah, Nak. Ikhlaskan kepergian papa cepat atau lambat maut pasti memisahkan kita mungkin sekarang sudah saatnya kita hidup tanpanya lagi," ucap Bu Haris.


"Aku tidak menyangka papa pergi secepat ini. Aku belum membahagiakannya tapi papa susah pergi meninggalkan aku," ucap Fredy dengan suara tersekat-sekat.


"Ini takdir yang harus kita jalani," ucap Bu Haris lagi.


"Seharusnya aku tidak datang ke rumah sakit, seharusnya aku tidak menuruti keinginannya. Kalau saja waktu bisa diulang aku tidak akan datang ke rumah sakit dan pastinya sampai sekarang papa masih ada di dunia ini," ucap Mawar sembari mengelus nisan itu.


"Ini bukan salahmu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, selama ini kamu adalah wanita hebat, wanita yang kuat yang bisa melewati semua rintangan tanpa adanya kegagalan. Kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Aby yang saat itu berjongkok di samping Mawar dengan tangannya yang terus mengelus punggung Mawar agar istrinya itu mendapat sedikit ketenangan.


"Aku baru saja berdamai dengan hatiku dan juga dirinya, kenapa saat aku sudah membuka hati untuknya, dia malah pergi untuk selamanya?" ucap Mawar dengan suara halus.


"Papamu sudah tenang karena pergi dengan membawa maaf dari orang-orang yang pernah dia sakiti. Mawar, jangan sesali semua yang sudah terjadi sekarang kita mulai lagi kehidupan yang baru. Sebelum meninggal, papamu meminta agar mama menerima kamu sebagai anaknya, mama harap kamu dapat menjalankan amanahnya. Mama sayang sama kamu seperti papamu menyayangimu," ucap Bu Haris.

__ADS_1


Meski perkenalkan mereka cukup singkat dan itu pun terjadi karena adanya insiden mengerikan itu tapi Bu Haris akan tetap menyayangi Mawar karena biar bagaimana pun juga Mawar adalah anak suaminya. Bu Haris sudah mengikhlaskan semua yang sudah terjadi dan kini tinggal dirinya menjalankan hidupnya bersama anak-anaknya.


Mawar hanya diam dengan tangis yang semakin deras, dirinya baru sadar ternyata laki-laki bernama lengkap Haris Sitompul itu ternyata orang yang baik yang berhasil membangun keluarga yang baik. Dirinya baru sadar setelah tahu bahwa Bu Haris dan Fredy ternyata tidak pernah membencinya meski dirinya pernah menyakiti Pak Haris sampai laki-laki itu terluka dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.


"Mawar, sudah jangan menangis terus. Kita pulang sekarang ya, kasian anak-anak menunggumu sejak pagi," ucap Aby.


"Pulanglah, Mawar. Jangan biarkan anak-anak kamu menangis karena kehausan kalau kamu ingin bertemu atau ingin bicara pada papa, kamu bisa bicara lewat doa dan kamu bisa datang ke sini untuk melihat papa," ucap Fredy pada Mawar.


"Aku akan pulang," ucap Mawar dengan suara halus.


Mawar berusaha untuk bangkit dari duduknya dengan dibantu oleh Abymana. Mawar yang sedari tadi sudah merasa lemas pun tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri.


Karena Aby tidak sedang bersiaga tak dapat mencegah tubuh Mawar terjatuh, Aby tidak dapat menahan tubuh Mawar hingga akhirnya Mawar terjatuh ke tanah tepat di samping Fredy. Semua orang yang berada di sana pun terkejut melihat Mawar yang tiba-tiba terjatuh.


"Mawar!" seru Aby, Fredy dan Bu Haris secara bersamaan.


Aby dan Fredy pun langsung membantu Mawar. Aby duduk di tanah merah itu lalu menopang tubuh Mawar dengan tubuhnya.


"Mawar, Mawar sadarlah," ucap Aby.


"Ayo!" Fredy membantu Aby mengangkat tubuh Mawar dan membawanya ke dalam mobilnya.


"Cepat!" seru Bu Haris sembari masuk ke dalam mobil.


Fredy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tiba di rumah sakit sesegera mungkin. Akhirnya mereka meninggalkan makam Pak Haris karena dengan kepanikan karena Mawar yang tiba-tiba pingsan.


**********


Di tempat lain.


Michelle dan Dirga berjalan melewati tempat itu dengan langkah santai. Setelah menghadiri acara pemakaman Pak Haris, mereka tidak langsung pulang melainkan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


"Disaat kita bahagia, Mawar mengalami duka yang mendalam," ucap Michelle sembari terus berjalan.


"Inilah hidup. Tidak semua berjalan sesuai keinginan kita," ucap Dirga.

__ADS_1


"Aku gak menyangka Pak Haris akan pergi secepat ini. Sebenarnya dia orang baik hanya karena kesalahan masa lalu, kebaikannya hilang begitu saja," ucap Michelle. Michelle yang sering bertemu dan sering mengobrak-abrik dengan Pak Haris pasti tahu bahwa Pak Haris memang orang baik.


Dari awal Michelle sudah tahu bahwa Pak Haris sudah berubah dan sudah menjadi orang yang lebih baik lagi tapi karena tugasnya mengungkap kejahatan Pak Haris di masa lalu akhirnya semua orang tahu bahwa Pak Haris adalah orang yang jahat, orang yang pernah melecehkan seorang perempuan hingga perempuan itu hamil.


"Semua orang bisa pasti punya salah, Chell dan semua orang juga punya kesempatan untuk bertaubat. Mungkin Pak Haris sudah bertaubat sejak lama," timpal Dirga.


"Sekarang kita doakan saja agar Pak Haris ditempatkan di surga dan orang-orang yang ditinggalkannya diberi ketabahan yang luar biasa terutama Mawar," ucap Michelle.


"Lupakan mereka. Sekarang kamu mau makan atau tidak? Jangan biarkan bayi kita kelaparan," ucap Dirga sembari mengusap perut Michelle.


"Bayi kita pengen makan es goyang katanya," ucap Michelle.


"Es goyang? Di mana kita bisa menemukan es itu?" ucap Dirga.


"Aku tahu tempatnya. Ayo kita pergi dari sini," ucap Michelle.


Sebagai seorang detektif yang hidupnya di mana saja, tentunya Michelle sering jajan sembarangan dan dia tahu benar tempat-tempat orang jualan di pinggir jalan. Michelle memang tak mengharuskan dirinya jajan di tempat tertentu dan harus elit, Michelle selalu memakan apa saja yang dia temui di tempat dia bekerja.


*******


Di kediaman Mawar.


"Ma, Pa, aku mau ke rumah sakit. Mawar pingsan dan sekarang dia di rumah sakit," ucap Jingga sembari berjalan menuju pintu keluar.


Setelah diberi tahu oleh Aby bahwa Mawar pingsan. Jingga pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit tempat Aby membawa Mawar.


"Pingsan?" ucap Bu Marisa dan Pak Mahendra penuh tanya.


"Papa sama Mama di sini saja biar aku yang pergi."


"Kalau ada apa-apa kabari Papa," ucap Pak Mahendra.


Semua orang rumah mengkhawatirkan Mawar pasalnya baru kali ini Mawar pingsan. Sebelumnya, meski dalam kondisi apa pun Mawar tidak pernah sampai pingsan meski dirinya tidak makan dan tidak beristirahat seharian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2