Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 113


__ADS_3

Pagi hari setelah azan subuh.


Mawar sudah terbangun, ia membuka matanya perlahan dan langsung melihat tangan sang suami yang sedang memeluknya dari belakang.


Untuk sesaat dirinya tetap terdiam untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawanya, setelah beberapa menit perlahan dirinya mengangkat tangan Aby agar menyingkir dari atas tubuhnya!


Bukannya melepaskan pelukannya Aby malah semakin mengeratkan pelukannya.


Mawar kembali terdiam karena takut mengganggu tidur sang suami, setelah memastikan Aby sudah terlelap lagi baru ia mengangkat tangan Aby lagi!


"Biarkan seperti ini dulu, aku masih ingin memelukmu," gumam Aby.


"Ish ternyata dia juga udah bangun," batin Mawar.


Mawar menggenggam tangan Aby lalu berkata. "Mas, aku harus bangun, sekarang sudah subuh."


"Sebentar lagi saja, please," ucap Aby.


"Nanti kesiangan, aku harus memasak untuk sarapan."


"Kita sarapan di luar saja," ucap Aby yang tak pernah melepaskan Mawar.


Mawar menarik napasnya panjang lalu membuangnya perlahan.


"Aku pasrah kalau kamu sudah begini," ucap Mawar.


Aby menarik tangan Mawar dan mengarahkannya menjadi menghadap ke arahnya!


"Baru ham lima pagi," ucap Aby setelah melirik jam di dinding kamarnya.


"Aku tahu barusan baru selesai azan subuh," ucap Mawar.


"Peluk aku," ucap Aby.


Mawar terdiam lalu segera menuruti permintaan sang suami, ia memeluk Aby lalu membenamkan kepalanya di dada Aby.


Deburan napas Mawar terasa di dada Aby, sentuhan halus yang Mawar berikan membuat Aby merasakan desiran tak kasat mata dalam jiwanya.


"Kamu membangunkan sesuatu di bawah sana," ucap Aby dengan tatapan yang sudah berbeda dari biasanya.


Mawar mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami! Dirasakannya di bawah sana ada sesuatu yang menonjol mengenai perutnya.


"Mas, sepertinya aku harus segera pergi sebelum kamu ..." Mawar menghentikan ucapannya.


"Kenapa? Bukankah Dirga sudah mengingatkan kamu untuk mencetak keponakan untuk dia dan Nasya?" ucap Aby.


"Gak sekarang."


"Kenapa?"


"Bentar lagi pagi, kamu harus ke kantor dan aku harus ke kampus," ucap Mawar.


"Mmm, aku tahu." Bukannya melepaskan Mawar, Aby malah semakin mengeratkan pelukannya pada Mawar hingga sesuatu di bawah sana terasa semakin menekan perut Mawar.


Mawar mer***s bahu Aby, sesuatu yang tak biasa muncul dalam dirinya kala tongkat sakti itu menekan bagian bawah pusarnya.


Aby tersenyum melihat wajah Mawar yang terlihat seperti sudah terpancing dengan perbuatannya.


Perlahan tangan Aby mulai liat, tangan nakal itu mulai menelusuri setiap bagian sensitif Mawar hingga membuat Mawar hanya pasrah dengan keadaan saat itu.

__ADS_1


"Lima menit saja. Aku janji," ucap Aby yang kini tangannya sudah masuk ke dalam baju Mawar.


Mawar hanya diam dengan matanya yang tertutup, menandakan ia mengiyakan perkataan Abymana.


**********


Di rumah Dirga.


"Sy, kapan kamu mulai kuliah?" tanya Dirga pada Ussy yang sedang mencuci pakaian miliknya.


"Dalam waktu dekat ini, Pak," sahut Ussy.


"Kuliah di mana? Sudah mendaftar atau belum?"


"Kak Michelle sudah mendaftarkan Ussy di Universitas terdekat dari panti dan dari sini."


"Ambil jurusan apa?" tanya Dirga lagi.


"Kedokteran," sahut Ussy.


"Serius?" Dirga menatap Ussy.


"Kemahalan ya, Pak? Kak Michelle yang mengizinkan Ussy untuk kuliah kedokteran."


"Bukan masalah biasanya, masalahnya kamu siap gak? Butuh waktu lama untuk kamu menjadi seorang Dokter."


"Jadi Dokter adalah cita-cita Ussy dari kecil."


"Oke, baiklah kalau begitu tapi ingat jangan nakal, jangan pacaran, intinya jangan main cinta-cintaan agar kuliah kamu selesai dengan menyandang gelar mahasiswa lulusan terbaik," jelas Dirga.


"Iya Pak, Ussy gak akan nakal dan gak akan punya pacar tapi Bapak harus serius sama Ussy."


"Saya gak pernah bilang kalau saya akan menikahi kamu ya Sy, jangan salah paham sama saya," ucap Dirga.


"Ih Bapak, lagian siapa yang minta dinikahin? Kepedean banget, Bapak emang ganteng tapi Ussy gak tertarik sama Bapak."


"Lah itu tadi kamu bilang harus serius. Serius apa coba?" ucap Dirga.


"Maksud Ussy, serius buat membiayai kuliah Ussy."


"Oh itu. Kamu tenang aja, saya serius kok."


"Terima kasih Pak." Ussy tersenyum sumringah, ia hendak memeluk Dirga namun diurungkan nya karena merasa tak enak hati.


Ussy menurunkan lagi tangannya yang sudah terbentang hendak memeluk Dirga.


Dirga menatap Ussy lalu tersenyum tipis. "Mau meluk? Peluk aja gak apa-apa," ucap Dirga.


"Gak jadi, nanti aja meluk kak Michelle," ucap Ussy sembari meraih cucian itu dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.


**********


"Michelle, kakak datang untuk membawa kamu bertemu dengan kakak ipar mu," ucap Roger.


"Sepagi ini?" ucap Michelle sembari menatap jam di tangannya.


"Ya, kakak ingin Michaela tahu kalau kakak punya adik dan juga masih memiliki Mama," ucap Roger.


"Memangnya kakak iparku tidak mengetahui kalau kakak masih punya keluarga?" tanya Michelle.

__ADS_1


Roger menggelengkan kepalanya dengan tanpa mengucapkan apapun.


"Pantas saat aku cari bukti ke rumahnya aku tidak menemukan apapun ternyata istrinya tidak tahu tentang Roger yang sebenarnya," batin Michelle.


"Kamu sedang tidak ada pekerjaan 'kan hari ini?" ucap Roger.


Michelle menggerakkan kepalanya. "Tidak," ucapnya.


"Kalau gitu ayo kita pergi." Michelle pun mengikuti Roger berjalan ke arah mobilnya dan masuk ke dalam mobil milik Roger!


"Kenapa kakak ingin menghancurkannya perusahaan Pak Randy?" tanya Michelle saat Roger sudah mengoperasikan mobilnya.


Roger menatap Michelle sekilas lalu kembali fokus pada jalanan yang sedang mereka lalui.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab pertanyaan Michelle, Roger malah bertanya balik.


"Jawab saja dulu pertanyaanku nanti aku jawab pertanyaanmu," ucap Michelle.


"Jujur aku dendam padanya karena dia adalah orang yang menyebabkan Papa kita meninggal," ucap Roger.


"Yakin? Sudah ada buktinya atau belum?"


"Aku yakin meski bukti mengatakan bahwa Papa meninggal karena terkena serangan jantung."


"Aku rasa kakak sudah salah paham."


"Kenapa kamu membelanya?"


"Jujur aku sudah banyak mengetahui tentang dirimu. Aku tahu kejahatan apa saja yang kakak lakukan pada Pak Randy dan keluarganya."


"Jangan sok tahu kamu."


"Aku adalah orang yang selalu menggagalkan rencana kamu saat di kampung," ucap Michaela.


Seketika Roger menghentikan laju mobilnya dengan mengerem mendadak hingga membuat Michelle terbentur pada dashboard mobilnya.


Untungnya Michelle sudah terbiasa dengan kejutan tak terduga hingga saat dirinya terbentur pada dashboard mobil, dirinya dapat melindungi dirinya.


**********


Di kantor.


"Aby apa benar kamu ingin menyerahkan aset milik kamu pada Mawar?" tanya Randy.


"Aset yang mana?" tanya Dirga penasaran.


"Aset mana lagi kalau bukan yang di perusahaan Pak Mahendra," ucap Aby.


"Yakin? Mawar belum mempunyai pengalaman untuk itu," ucap Randy.


"Ada baiknya pikirkan lagi tentang keputusan ini. Jangan mengambil resiko besar demi menyenangkan hati istri," ucap Dirga.


"Aku sudah memikirkan ini baik-baik. Mawar pasti bisa membawa perusahaan itu go internasional," ucap Aby.


Randy menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan jalan pikiran Abymana. Bagaimana bisa Mawar memimpin perusahaan dengan baik sampai maju pesat sedangkan Mawar tidak memiliki pengalaman sedikitpun dalam bidang usaha dan perbisnisan.


"Pikirkan lagi By," ucap Randy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2