Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 121


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Kini perusahaan milik Mahendra sudah berkembang dibawah pimpinan Mawar, perlahan tapi pasti Mawar akan membawa perusahaan itu go internasional.


Di kediaman Mahendra.


Setibanya di rumahnya, Mahendra melempar gelas bekas ia minum hingga gelas itu pecah berkeping-keping dan menimbulkan suara berisik.


Jingga dan Marisa berlarian menuju sumber suara berisik itu!


"Papa, ada apa Pa?" tanya Marisa yang melihat Mahendra tengah berdiri dengan mengepalkan tangannya di atas meja.


"Astaga, Papa." Jingga menghampiri Mahendra lalu meneliti tubuh Papanya itu takutnya Papanya itu terluka terkena pecahan gelas kaca itu.


"Mawar mengetahui kalau selama ini Papa tidak memberikan hak Aby sepenuhnya pada Aby," ucap Mahendra.


"Apa, maksud Papa apa?" tanya Marisa yang tak mengerti dengan perkataan Marisa.


"Selama ini Papa tidak pernah membagi hasil perusahaan dengan semestinya. Papa hanya memberikan tiga puluh persen dari total delapan puluh persen aset milik mereka," jelas Mahendra.


"Mama tahu itu terus apa yang terjadi sekarang," ucap Marisa.


"Mawar sudah tahu semuanya dan kini dia tidak membayar gaji Papa dan hanya memberikan dua puluh persen bagi hasil dari pendapatan satu bulan ini," ucap Mahendra lagi.


"Jadi sekarang kita cuma dapat pemasukan sebesar dua puluh persen dan Papa kerja sama Mawar gak digaji?" ucap Jingga.


"Ya. Mawar tidak akan menggaji Papa selama hutang kita belum terlunasi."


"Gila ya tuh anak, makin lama emang makin sok berkuasa. Awas aja ya tuh anak kampung," ucap Marisa.


"Dua puluh persen dari total pendapatan satu bulan. Pa aku gak mau hidup susah, uang segitu mana cukup untuk jajan aku selama satu bulan," ucap Jingga.


"Diam Jingga! Papa lagi pusing jangan bikin Papa tambah pusing lagian kamu kan sekolah tinggi, lulusan Amerika dan kamu sekolah di Universitas terbaik di sana apa salahnya sekarang kamu mencari pekerjaan untuk membantu keuangan keluarga kita," ucap Mahendra pada Marisa.


"Gak mau! Enak aja kerja," ucap Jingga menolak permintaan Mahendra.


"Pa, kayaknya kita harus cari cara untuk menyingkirkan si anak kampung itu," ucap Marisa.

__ADS_1


"Udahlah Marisa, jangan sakiti dia. Kamu juga seharusnya mikir bagaimana cara kita menghasilkan uang bukan malah mikirin cara menyakiti Mawar, kamu ingat gak sih Ma, Mawar juga anak kita," ucap Mahendra.


"Anak, Papa bilang?" Marisa menatap Mahendra dengan tatapan tajam.


"Kalau dia menganggap kita orang tuanya gak mungkin dia merebut jabatan Papa dan sekarang malah melakukan ini pada Papa, seharusnya anak itu diam saja meski tahu selama ini kita melakukan kecurangan pada keluarga suaminya," sambung Marisa lagi.


**********


Di rumah Aby.


"Sayang, kamu udah pulang?" tanya Aby yang baru tiba di rumahnya dan langsung berjalan menghampiri Mawar yang sedang bersantai di ruangan keluarga sembari menonton televisi.


"Mas, kamu baru pulang? Tumben pulang telat," ucap Mawar.


Aby duduk di sebelah Mawar lalu mencium pipi Mawar!


Mawar tersenyum lalu mengusap punggung sang suami.


"Capek ya, mau aku pijat?" tanya Mawar.


"Aku udah istirahat dari tadi. Hari ini aku pulang cepat," jelas Mawar.


"Selamat ya sayang," ucap Aby.


Mawar menatap Aby dengan tatapan penuh tanya, "selamat untuk apa?" tanyanya.


"Karena kamu sudah berhasil membawa perusahaan Papa kamu menuju lebih baik dan berkembang," udah Aby.


Mawar tersenyum tipis tapi tak mengucapkan sesuatu apapun.


"Dari dulu perusahaan itu memang sudah berkembang, Mas. Kamu gak tahu aja kalau ternyata mereka sudah berbuat tidak adil padamu. Orang yang selama ini kamu percaya nyatanya dia mengkhianati dirimu," batin Mawar.


"Sayang." Aby menjentikkan jarinya didepan mata Mawar karena Mawar tiba-tiba bengong.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" sambung Aby.


Mawar tersentak saat mendengar suara petikan jari Aby yang terdengar kerasa, seketika lamunannya buyar entah kemana.

__ADS_1


"Eh Mas, nggak ...." Mawar menggaruk lehernya yang tak gatal. "Aku cuma senang aja bisa sampai seperti ini," sambung Mawar.


Entah mengapa Mawar belum ingin memberitahu Aby tentang kebohongan Mahendra pada suaminya. Dirinya benci keluarga kandungnya tapi dirinya juga tak bisa melihat mereka mengalami kesulitan. Saat ini yang ia inginkan memang membuat mereka terjatuh sampai merasakan kesulitan seperti yang ia rasakan bersama orang tua angkatnya tapi ia ingin hanya dirinya lah yang membuat mereka merasakan semua itu.


Aby tersenyum tipis lalu memeluk Mawar.


"Kamu satu-satunya perempuan yang aku punya, yang sempurna, yang berhati malaikat dan yang tak akan pernah bisa aku temukan pada wanita mana pun," ucap Aby.


"Iih, lebay deh," ucap Mawar.


**********


Di rumah Dirga.


"Sy! Ussy!" seru Dirga.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Ussy.


"Ini kenapa makanan masih pada utuh, memangnya kamu gak makan?" ucap Dirga sembari memperlihatkan cake yang kemarin malam ia beli.


"Nggak Pak, Ussy takut gendut kalau makan makanan yang manis," sahut Ussy dengan jujur.


Dirga menatap Ussy sembari mengerutkan dahinya.


"Kata siapa? Dari dulu saya sering makan makanan manis tapi saya gak gendut dan gak penyakitan. Lihat, saya masih ganteng dan masih sangat-sangat sehat," ucap Dirga.


"Ya kata Ussy lah Pak. Pokoknya Ussy gak mau makan makanan manis karena takut gendut," ucap Ussy.


"Kamu bisa gendut kalau setiap hari kamu makan dua cake sebesar ini kalau kamu makannya cuma satu atau dua potong sehari ya gak bakal bikin kamu gendut," ucap Dirga.


Ussy menatap cake itu untuk beberapa saat kemudian ia menatap Dirga dan nyengir kuda.


"Nggak deh Ussy belum mau makan itu," ucap Ussy terkekeh.


Sementara itu Dirga hanya tersenyum melihat tingkah Ussy yang selalu berhasil membuatnya tersenyum bahkan sampai tertawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2