
"Lama-lama si Mawar emang minta dihajar, awas aja aku akan bikin dia menyesal karena sudah memotong pemasukan keuangan keluarga," batin Marisa.
Setelah mendengar pernyataan sangat suami, Marisa tak bisa istirahat dengan tenang sebelum benar-benar menyingkirkan Mawar dari kantornya.
"Ma, kenapa belum tidur?" tanya Mahendra yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mama belum mengantuk," sahut Marisa dengan nada ketus.
"Cepat tidur, biasanya jam segini Mama udah tidur," ucap Mahendra sembari mengelus punggung Marisa.
Marisa menggerakkan bahunya untuk menolak perilaku Mahendra.
"Papa tidur aja duluan, Mama gak bisa tidur," ucap Marisa.
"Ya udah Papa tidur duluan ya." Mahendra pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk selanjutnya langsung beristirahat setelah seharian bekerja.
"Papa kenapa sih kayak gak ada marah-marahnya sama si Mawar padahal anak itu udah menghinanya habis-habisan. Anak sial itu udah mengambil posisi Papa di kantor, udah menjadikan Papa asistennya sekarang malah tidak menggaji Papa," batin Marisa sembari menatap Mahendra yang sudah memejamkan matanya.
Marisa benar-benar tak bisa tidur karena terus teringat perkataan Mahendra, belum lagi mulai saat ini mereka hanya mendapatkan sedikit dari hasil pemasukan selama satu bulan ditambah dengan sang suami yang tak akan mendapat gaji selama belum menutupi hutangnya pada Aby semakin membuat Marisa gelisah.
Ia yang terbiasa hidup mewah tentunya takut akan kehidupan yang sulit yang serba kekurangan.
Di kamar Jingga.
"Gimana caranya biar gue bisa dapetin Aby lagi? Enak aja si Mawar bisa hidup senang dengan bergelimpangan harta milik Aby sedangkan gue hidup susah bersama orang tua gue. Semua ini gara-gara anak sial itu awas aja kamu Mawar, gue gak akan ngebiarinin lo terus giniin aku dan juga Papa," gumam Jingga.
Jingga berjalan bolak-balik di kamarnya sembari terus memikirkan cara untuk menyingkirkan Mawar! Beberapa kali ia dan Mamanya berusaha menyingkirkan Mawar tapi tak bosen berhasil karena selalu saja ada orang yang menolong Mawar saat orang suruhannya sedang berusaha menculik atau menyakiti Mawar.
Setelah beberapa menit berpikir keras akhirnya Jingga mendapatkan ide untuk menyingkirkannya Mawar dengan cara halus. Sebuah senyuman licik pun terukir di bibir Jingga yang berwarna merah jambu meski tak menggunakan pewarna bibir.
"Lihat saja Mawar, lo akan pergi dari Aby dengan sendirinya tanpa gue harus capek-capek," batin Jingga.
**********
"Selamat malam," ucap Dirga yang berdiri di samping Michelle.
Michelle menoleh ke arah suara dan langsung melihat sosok Dirga.
"Sejak kapan di situ?" tanya Michelle.
"Lumayan lama. Untuk wanita pengintai seperti kamu harusnya kamu tahu akan kehadiranku di sini," ucap Dirga.
__ADS_1
Michelle tersenyum lalu menutup buku yang sedang ia baca. "Aku tahu ada orang yang datang tapi di sini adalah lingkungan teraman untuk semua penghuni panti, aku pikir kamu Ussy karena biasanya dia yang suka mengganggu aku di malam seperti ini," ucap Michelle.
"Boleh duduk?" Dirga mengarahkan tangannya pada kursi yang diduduki oleh Michelle.
"Setiap mau duduk emang harus izin ya? Duduk aja aku gak akan memarahi dirimu," ucap Michelle.
"Terima kasih." Dirga tersenyum sembari menghempaskan bokongnya ke kursi itu!
"Katanya sudah menemui keluarga kamu, kenapa masih tinggal di sini?" tanya Dirga yang memang sudah tahu bahwa Michelle sudah menemukan keluarganya tapi Dirga tidak tahu bahwa salah satu anggota keluarga Michelle adalah laki-laki yang pernah menjadi selingkuhannya Jingga.
"Iya tapi aku lebih nyaman di sini, mungkin belum saatnya aku tinggal bersama mereka," ucap Michelle.
"Kenapa begitu?" Dirga menatap Michelle dengan tatapan serius.
Michelle tersenyum untuk menanggapi perkataan Dirga.
"Sudah biasa," ucap Dirga.
"Apa?" tanya Michelle yang tak mengerti dengan perkataan Dirga.
"Setiap aku bertanya dan kamu tidak bersedia menjawab, kamu pasti hanya tersenyum manis untuk menutup pembicaraan kita," ucap Dirga.
"Jangan bilang kamu ingin mengusir ku dari sini," ucap Dirga.
"Nggak, gak mungkin aku berani mengusir kamu dari sini sedangkan kamu adalah donatur panti asuhan ini," ucap Michelle.
"Mau jadi pacar aku?" tanya Dirga tanpa basa-basi.
"Mau," sahut Michelle dengan mantap.
"Aku gak lagi bercanda lho," ucap Dirga yang mengira Michelle sedang bercanda.
"Aku juga tidak berguna," ucap Michelle.
"Jadi, kamu mau menjadi pacar aku?"
"Tadi aku sudah bilang mau. Aku gak mau mengubah jawabanku," ucap Michelle sembari menatap Dirga.
Dirga menyentuhmu dadanya lalu menepuk-nepuk pipinya beberapa kali! "Aku gak lagi bermimpi kan?"
Michelle tertawa lalu mencubit lengan Dirga.
__ADS_1
"Sakit gak? Kalau sakit berati ini nyata," ucap Michelle.
"Aduh." Dirga meraih dan menggenggam tangan Michelle! Ditatapnya wajah Michelle yang terlihat lebih cantik dari biasanya.
*********
Di rumah Aby.
Aby berdiri di ambang pintu kamarnya sembari menatap Mawar yang sedang menangis.
Ia tak berani masuk ke dalam kamarnya saat Mawar sedang meluapkan semua emosi dan kekesalannya. Ya, pemandangan itu memang bukan hal baru bagi Aby awalnya ia sering merasa khawatir pada sang istri karena sering kedapatan menangis sendiri didalam kamar tapi setelah memperhatikan dan mencoba mengertikan apa yang sedang dialami oleh istrinya perlahan membuat Aby mengerti akan apa yang sedang dirasakan oleh Mawar.
"Jika aku yang berada di posisi kamu mungkin aku tidak akan mampu bertahan, mungkin aku sudah memilih mengakhir hidupku," batin Aby sembari terus menatap Mawar.
Semakin lama tangis Mawar mulai mereda, perempuan yang sedari tadi diperhatikannya itu mulai mengusap air mata yang menggenang di pipinya, Aby pun langsung masuk ke dalam kamarnya!
Seperti biasa, Aby akan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Mawar saat dirinya berada di luar kamar.
"Mawar, kamu belum tidur?" tanya Aby.
"Belum, Mas, aku belum mengantuk," sahut Mawar.
"Mata kamu kenapa? Jangan dikucek gitu nanti iritasi," ucap Aby karena Mawar terus mengucek matanya dengan tangannya.
"Mataku perih kayak ada sesuatu yang masuk," sahut Mawar berbohong.
Aby tersenyum, ia tahu Mawar tidak akan berkata jujur padanya.
"Sini aku tiupin," ucap Aby sembari meraih dagu Mawar lalu sedikit mengangkatnya agar dirinya mudah untuk meniup matanya.
Aby langsung meniup mata Mawar dengan perlahan dan tanpa diduga saat dirinya memanyunkan bibirnya Mawar malah mencium bibirnya.
Seketika Aby terdiam sembari menatap Mawar, sementara itu Mawar sudah menjauh dari Aby karena tahu akan mendapatkan serangan balik dari Aby.
"Nakal kamu ya," ucap Aby sembari tersenyum kegirangan karena mendapat ciuman dari sang istri.
Inilah yang Aby sukai dari Mawar, seberat apapun permasalahan hidupnya, Mawar tak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan hubungan pernikahannya. Mawar selalu bisa menyembunyikan kesedihannya meski sebenarnya ia sendiri siap untuk menjadi sabdaran bagi Mawar.
Aby tahu bahwa Mawar sedang dalam suatu misi tapi Mawar tak pernah meminta bantuan dirinya meski Mawar tahu dirinya bisa membantu untuk melancarkan misinya.
Bersambung
__ADS_1