Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 159


__ADS_3

"Papa capek ya," ucap Marisa yang melihat sang suami sudah letih dan bermandikan keringat.


"Tidak. Papa masih bisa mengangkut semua belanjaan ini," ucap Mahendra.


Dari pagi sampai hari sudah mulai terik, Mahendra terus mengangkat barang milik pemilik toko sembako di pasar tersebut.


Toko itu baru mendapatkan kiriman barang jadi membutuhkan tenaga tambahan.


Karena tak terbiasa bekerja terlalu keras, Mahendra terjatuh hingga barang yang dibawanya jatuh berceceran di sana.


"Papa," ucap Marisa lalu segera membantu Mahendra untuk bangkit.


"Kamu gimana sih! Niat kerja gak? Jadi rusak semua barang saya," ucap pemilik toko dengan suara keras hingga perhatian orang-orang di sana tertuju pada mereka.


"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap Mahendra.


"Gak sengaja, gak sengaja. Pergi sana! Kamu cuma membuat saya rugi saja," ucap si pemilik toko itu.


"Maaf, Pak upah saya mana?" tanya Mahendra.


"Upah! Kamu nanyain upah? Tidak ada, upah kamu saya tahan untuk mengganti kerugian yang saya alami. Kamu gak lihat barang saya pada rusak," seru pemilik toko itu.


"Tapi Pak."


"Udah, Pa udahlah mending kita pergi," ucap Marisa.


"Tapi Papa sudah bekerja, bagaimana bisa dia tidak membayar tenaga Papa."


"Udahlah, Pa. Kita pergi saja takutnya kita menambah masalah," ucap Jingga.


"Tapi kalian belum makan. Dari pagi kalian belum sarapan," ucap Mahendra.


Marisa hanya bisa menangis sambil menahan lapar yang ia, rasakan sejak dari pagi.


*********


"Siapa yang mau nganterin saya hari ini?" tanya Mawar pada tiga bodyguardnya.


"Mau kemana, Mbak? Mari sama saya saja," ucap Frans.


"Ya udah, kalian berdua jaga rumah ya oh ya tolong bilang sama tukang yang dibelakang segera selesaikan pintu penghubung antara rumah ini dengan lahan di belakang ya," titah Mawar pada Sam dan Joe.


"Oke, Mbak pekerjaan beres," ucap Salman.


"Pastikan beres karena Pak Mahendra dan keluarganya akan tinggal di lahan belakang mulai hari ini," ucap Mawar.


"A_apa! Mbak, mending jangan deh. Nenek lampir dan kuntilanak itu pasti menyakiti, Mbak Mawar lagi," ucap Joe.


"Maksud kamu Nenek Lampir dan kuntilanak itu siapa?" tanya Mawar.


"Bu Marisa dan Jingga lah, siapa lagi," sahut Salman seolah tahu siapa yang dimaksud oleh Joe.


Frans tertawa kecil mendengar perkataan Salman.


"Gak sekalian aja nenek sihir?" ucap Frans.


"Eeh kalian ini. Ingat ya, mereka itu Ibu dan kakak saya," ucap Mawar.

__ADS_1


Tiga bodyguard yang bertubuh kekar itu langsung menghentikan tawanya dan menundukkan kepalanya.


"Maaf, Mbak," ucap mereka.


"Ayo, Frans," ucap Mawar sembari berjalan menuju mobilnya.


Setelah Mawar hamil, Aby tak mengizinkan Mawar untuk mengemudi sendirian karena itulah kemana-mana ia harus diantar oleh bodyguardnya.


**********


Di restoran milik Roger.


Michelle berjalan memasuki restoran itu dengan diikuti oleh Dirga dibelakangnya.


Siang ini Michelle akan mempertemukan Dirga dengan Roger di sana.


"Mana kakak kamu? Belum sampai ya?" tanya Dirga.


"Udah. Dia ada di tempatnya," ucap Michelle sembari terus berjalan memasuki restoran itu.


Tiba di depan sebuah ruangan Michelle mengetuk pintu itu dan langsung membukanya tanpa menunggu disuruh oleh orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Masuk," ucap Michelle dengan tangannya yang menarik tangan Dirga agar cepat masuk ke dalam ruangan itu.


"Ini kakak aku," ucap Michelle pada Dirga.


"Kakak, ini pacar aku yang selama ini ingin kakak kenal," ucap Michelle pada Roger.


Dua laki-laki itu saling bertatapan dalam waktu yang lama dengan mulut yang tertutup rapat.


Michelle menatap Roger lalu menatap Dirga, dalam hatinya ia merasa takut. Takut akan terjadi keributan di sana pasalnya orang yang ia pertemukan adalah orang-orang yang memiliki masalah pribadi.


Meski Roger tak pernah berniat menyingkirkan Dirga tapi sebagai orang terdekat Aby, pastinya Dirga merasa benci pada Roger.


"Tolong jangan ribut di sini," ucap Michelle karena sedari tadi dua laki-laki itu hanya bertatapan saja.


"Kamu ...." ucap Dirga.


"Kamu sudah tahu siapa kakakku. Sekarang apapun keputusan kamu, aku akan terima," ucap Michelle pada Dirga.


"Jadi selama ini kalian berpacaran?" ucap Roger.


"Gak nyangka ya, ternyata dunia ini hanya selebar daun kelor. Kita dipertemukan kembali di tempat yang berbeda dalam situasi yang berbeda," ucap Dirga.


"Aku memang jahat tapi Michelle tidak. Tidak ada alasan untuk kamu meninggalkan Michelle," ucap Roger.


Dirga menatap Michelle yang kala itu terlihat dengan jelas ada kegelisahan dalam diri gadis itu.


"Aku akan menerima semua keputusan kamu meski keputusan terburuk sekalipun," ucap Michelle.


"Apa yang kamu katakan hah? Kakak kamu tidak akan menjadi alasan untuk aku meninggalkan kamu. Aku tulus mencintai kamu lagipula, aku cinta sama kamu dan akan menikah dengan kamu bukan dengan kakak kamu," ucap Dirga.


Michelle tersenyum lebar dengan air matanya yang mulai menetes. Ternyata prasangka nya terhadap Dirga salah besar, ternyata laki-laki yang dicintainya itu benar-benar laki-laki yang begitu sempurna baginya.


Dirga mendekati Michelle lalu menghapus air matanya dengan ibu jarinya!


"Tidak ada satupun yang bisa mengubah rasa cintaku padamu sekalipun kakak kamu pernah membunuh orang," ucap Dirga dengan suara lembut.

__ADS_1


Michelle tersenyum lagi namun, air matanya semakin deras keluar dari pelupuk nya.


Ia memeluk erat Dirga! "Terima kasih," ucap Michelle.


"Jangan berterima kasih. Aku tidak butuh restu dari kakakmu, secepatnya aku akan membawa orang tuaku ke rumah kamu," ucap Dirga sembari terus memeluk Michelle.


Roger hanya bisa diam menyaksikan Michelle dan Dirga saat itu. Ia sendiri merasa ragu apakah hubungan Dirga dengan Aby dan keluarganya akan baik-baik saja setelah tahu ternyata dirinya adalah kakaknya Michelle.


*********


Setelah berkendara selama hampir setengah jam akhirnya Mawar tiba di pasar tempat terakhir ia melihat keluarganya.


"Mbak, lihat itu." Frans mengarahkan tangannya pada sudut tembok tinggi pembatas antara pasar dan wilayah lain.


"Saya rasa mereka sadang dalam kesulitan," ucap Frans lagi.


"Papa," gumam Mawar dengan suara halus.


Mawar merasa tak tega melihat Mahendra dan Marisa duduk di sana tanpa alas apapun sebagai pelindung tubuh dari kuman dan kotoran di sana.


"Mbak yakin mau menjemput mereka?" ucap Frans.


"Kenapa tidak. Kamu tunggu di sini saja," ucap Mawar.


"Tapi, Mbak saya khawatir mereka melakukan sesuatu yang tidak diinginkan pada Mbak," ucap Frans.


"Tidak akan. Di sana ada Pak Mahendra, mereka tidak akan menyakiti saya didepan Pak Mahendra," ucap Mawar.


"Kalau gitu hati-hati. Saya akan mengawasi dari sini."


"Kamu ini, kayak lagi ngapain aja sampai harus diawasi," ucap Mawar dengan tawa kecil.


Mawar pun langsung berjalan mendekati Mahendra dan keluarganya!


"Mawar," gumam Jingga saat melihat Mawar di sana.


Jingga langsung bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Mawar!


"Mawar, tolong jangan lakukan ini pada kami. Tolong kembalikan apa yang sudah kamu ambil dari kami," ucap Jingga pada Mawar.


Mawar menatap Jingga namun, tak menghentikan langkahnya!


"Apa kabar, Bu Marisa, Pak Mahendra?" ucap Mawar pada kedua orang tuanya.


"Mau apa kamu ke sini anak sial? Puas kamu melihat kami begini? Puas kamu melihat kami menjadi gelandangan seperti ini?" ucap Marisa.


"Tentu saja tidak, Bu Marisa. Saya belum puas melihat kalian kesusahannya. Kalau diingat-ingat yang kalian rasakan ini belum sebanding dengan apa yang saya rasakan tapi saya sedang berbahagia sekarang ini jadi, saya ingin mengajak kalian tinggal di rumah yang sudah saya sekian untuk kedua orang tuaku ini," ucap Mawar.


Mahendra bangkit dari duduknya! "Apa kamu serius, Nak?" tanya Mahendra.


"Saya bukan orang munafik yang akan mendustai ucapan saya sendiri. Ikutlah dengan saya," ucap Mawar.


"Terima kasih Mawar, terima kasih," ucap Mahendra dengan senyuman penuh kegembiraan.


Tanpa menjawab perkataan Mahendra, Mawar langsung kembali ke mobilnya sedangkan Mahendra dan keluarganya membuntuti Mawar dari belakang!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2