
Pagi hari sekitar pukul setengah lima pagi. Mawar sudah berada di dekat pertokoan tempat keluarganya beristirahat.
Dari jarak yang lumayan jauh. Mawar duduk di dalam mobilnya sambil menatap Ayah dan Ibunya yang masih tertidur pulas.
Air mata perlahan mulai menggenangi peluknya, tak lama air mata itu mulai mengantri untuk terjun bebas dari sudut mata Mawar.
"Sebenarnya aku tidak tega melihat kalian seperti ini. Maafkan aku, aku hanya ingin kalian sadar dari semua kesalahan yang pernah kalian perbuat. Bukan hanya tentang perbuatan kalian padaku tapi juga tentang perbuatan kalian pada Aby dan keluarganya dan pada orang-orang yang sudah kalian sakit termasuk kedua orang tua angkat ku," batin Mawar.
"Gak tega?" tanya Abymana yang duduk di kursi kemudi.
Mawar menatap Aby lalu menatap keluarganya.
"Tidak juga, aku teringat hidup aku dulu waktu di kampung," ucap Mawar mencoba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Apa rencana kamu selanjutnya?"
"Bawa mereka ke tempat yang sudah disediakan selain untuk mengenalkan mereka pada kehidupan aku dulu, di tempat itu juga mereka akan mempelajari bagaimana cara bertahan hidup tanpa uang."
"Ya, terserah kamu tapi sekarang mereka masih tidur apa kamu mau membangunkan mereka?"
"Tidak. Kita pulang saja, aku akan menjemput mereka nanti siang saja lagipula kamu kan harus ke kantor," ucap Mawar.
"Untuk kamu, aku bisa libur ke kantor."
"Tidak. Sebentar lagi kamu akan menjadi Ayah jadi, harus rajin kerja demi masa depan anak kita."
"Oke deh sayang, kita pulang sekarang." Abymana langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang!
*******
Di panti asuhan.
"Mau diantar gak Sy?" tanya Michelle pada Ussy yang baru akan berangkat ke rumah Dirga.
"Gak usah Kak, aku naik angkot aja," ucap Ussy.
"Oke kalau memang tidak mau, hati-hati di jalan ya," ucap Michelle.
"Kak Michelle, aku mau mandi sama kakak," ucap seorang anak yang kira-kira baru berusia lima tahun.
"Boleh tapi sekarang masih pagi banget sayang. Kamu tidur lagi aja ya," ucap Michelle sembari mengusap kepala anak itu.
Anak kecil itu mengangguk lalu berjalan memasuki kamarnya lagi!
"Ussy pergi dulu ya kak," ucap Ussy sembari melangkah pergi.
"Michelle, jam segini kamu udah rapi. Mau kemana?" tanya Bu Jena.
__ADS_1
"Aku ada pekerjaannya, Bu," sahut Michelle.
"Pekerjaan apa yang mengharuskannya kamu pergi sebelum mata hari terbit?"
"Bu, aku sedang gundah," ucap Michelle sembari berjalan ke arah kursi yang ada di dekatnya lalu duduk di atas kursi itu!
"Kenapa, Nak? Cerita sama Ibu." Bu Jena berjalan dan duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan Michelle.
"Kakakku seorang penjahat," ucap Michelle.
"Tidak mungkin penjahat rela menghabiskan banyak uang untuk anak-anak di sini," ucap Bu Jena.
"Dan bosnya Dirga adalah korbannya. Aku takut setelah Dirga tahu bahwa orang jahat itu adalah kakakku, Dirga akan pergi meninggalkan aku." Michelle terlihat sedih seolah putus asa dalam menghadapi kondisi setelah Dirga tahu yang sebenarnya.
"Michelle, jika memang kakak kamu adalah seorang penjahat tapi yang jahat itu kakak kamu bukan kamu. Ibu rasa tidak ada alasan untuk Dirga meninggalkan kamu."
"Aku juga berpikir begitu, Bu tapi pemikiran setiap orang kan berbeda-beda," ucap Michelle lagi.
"Jangan takut, hadapi semua dengan hati yang tenang, toh sekarang belum terjadi apa-apa. Kamu juga belum mempertemukan mereka kan?"
"Baru hari ini aku akan mempertemukan mereka. Bu, maafkan aku kalau aku gagal memberikan seorang menantu untuk Ibu," ucap Michelle dengan tatapan sendu.
Meski Michelle hanyalah anak asuh Bu Jena tapi Michelle tidak menganggap Bu Jena sebagai ibu asuhnya. Baginya Bu Jena adalah sosok ibu kedua setelah Mamanya melahirkan dirinya.
"Untuk apa minta maaf? Kalau belum jodoh mau bagaimana lagi."
Di kediaman Dirga.
"Masak apa Sy? Wanginya beda," ucap Dirga pada Ussy yang sedari tadi asyik memasak.
"Gak tahu masakan apa ini. Yang jelas masakan ini Ussy bawa dari panti," sahut Ussy.
"Dari panti? Kenapa dibawa ke sini?" Dirga berjalan mendekati Ussy lalu melongok masakan yang masih berada dalam kuali itu.
"Ini masakan kak Michelle, sebenarnya baru tadi dimasak karena dingin jadinya Ussy panaskan deh," jelas Ussy.
"Masakan Michelle? Bangun jam berapa dia? Jam segini udah masak."
"Yang Ussy tahu sih dari jam tiga dini hari. Biasa lah kak Michelle suka curhat sama yang di sana," ucap Ussy sembari mengarahkan pandangannya ke atas.
"Ya udah, cepat panaskan sebentar lagi saya makan," ucap Dirga.
"Oke, Pak."
"Oh ya, bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Dirga.
"Lancar Pak, aman terkendali."
__ADS_1
"Bagus kalau gitu. Jadi dokter yang bener ya biar bisa ngobatin saya kalau saya sakit."
"Siap, Pak. Ussy selalu berusaha yang terbaik untuk tidak mengecewakan Bapak dan juga kak Michelle."
*********
"Mas, hari ini kamu kok belum siap?" ucap Michaela.
Melihat Roger yang masih berpakaian santai membuat Michaela penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya itu. Biasanya Roger sudah siap pergi ke restorannya namun, pagi ini laki-laki itu masih terlihat belum siap dan masih lusuh.
"Hari ini aku ke restoran siang aja sekalian Michelle ngajak ketemuan," ucap Roger.
"Oh, aku pikir kamu lagi kurang sehat." Michaela tersenyum dalam hatinya terasa lega saat tahu suaminya ternyata baik-baik saja.
"Nggak, sayang. Nanti Michelle mau mengenalkan seseorang padaku, kamu mau ikut?"
"Kayaknya enggak deh, Mas. Takutnya aku mengganggu."
"Kamu tuh pasti bilangnya gitu. Michelle gak mungkin terganggu dengan kehadiran kamu, kamu kan istri aku."
"Kamu aja dulu, Mas siapa tahu ada pembicaraan pribadi yang mau Michelle sampaikan. Aku cuma kakak ipar baginya dan aku tidak terlalu penting juga untuk Michelle."
"Terserah kamu deh tapi kamu harus tahu, Michelle tidak pernah menganggap kamu orang lain. Dia dan Mamaku sayang sama kamu."
"Aku tahu itu, Mas. Kamu gak usah memberitahu aku," ucap Michaela.
********
"Bangun! Bangun!"
Saat Mahendra dan keluarganya masih asyik tidur, tiba-tiba seorang pemilik toko membangunkan mereka karena ia akan membuka tokonya.
Mahendra dan Marisa langsung terbangun setelah mendengarkan suara si pemilik toko.
"Maaf, Pak kami hanya numpang istirahat semalam," ucap Mahendra.
"Beresin kardus bekas kalian tidur. Saya gak mau ada sedikit pun kotoran sampah yang tersisa di depan toko saya."
Dengan cepat, Marisa membereskan kembali kardus-kardus bekas alas tidur mereka!
Setelah itu mreka pun langsung pergi dari sana karena tahu mereka hanya akan menjadi pengganggu di toko itu!
"Mama sama Jingga diam aja dulu di sini, Papa mau ke pasar siapa tahu ada yang membutuhkan jasa kuli panggul," ucap Mahendra setelah melewati beberapa toko dan tiba di salah satu toko yang masih tutup.
"Mama ikut, Pa. Mama bisa kok bantuin Papa," ucap Marisa.
"Gak usah. Mama sama Jingga istirahat aja di sini sepertinya toko ini tidak akan buka," ucap Mahendra.
__ADS_1
Bersambung