
Mawar masih asyik beristirahat di kursi itu dan Aby juga nampaknya masih belum mau beranjak dari sana, mereka duduk bersebelahan sambil sesekali bercanda ria.
"Dua hari di kampung bikin lelah juga ya," ucap Aby pada Mawar.
"Biasa aja. Aku udah biasa hidup keras jadi saat mengalami kejadian-kejadian kemarin, aku tidak merasa terkejut dan juga lelah," ucap Mawar dengan tanpa menatap wajah sang suami.
Aby menatap Mawar dengan tatapan sendu, tiba-tiba dirinya teringat dengan semua cerita Mawar tentang hidupnya bersama orang tua angkatnya di kampung.
Aby meraih jemari Mawar lalu menarik tangannya membawanya ke atas pahanya dan menggenggam tangan Mawar dengan kedua belah tangannya!
"Kamu wanita terhebat yang pernah aku kenal, kamu satu-satunya wanita kuat yang hadir dalam hidupku dan kamu akan menjadi satu-satunya wanita terbaik yang akan aku pertahankan selama hidupmu. Kita mulai hubungan baik dari sekarang, aku tidak akan membiarkan kamu kesusahan lagi, jika Pak Mahendra dan istrinya mengusik hidupmu lagi, aku yang akan bertindak pada mereka," ucap Aby pada Mawar.
Mawar menatap Aby, sebuah senyuman kecil terukir di bibir Mawar yang berwarna pink itu dan sedetik kemudian air matanya luruh dari pelupuk nya.
"Kenapa menangis? Hentikan tangismu itu, Mawar. Aku gak bisa melihat kamu menangis." Aby mengusap pipi Mawar dengan lembut agar air mata yang membasahi pipi Mawar itu menyingkir dari sana.
"Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Dua puluh tahun hidup bersama orang tua angkat dengan keterbatasan ekonomi, aku ... aku ...." Mawar tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terlalu sedih.
"Sudah, Mawar. Jangan mengingat masa lalu kamu lagi, jika kamu mau, kamu bisa ajak orang tua kamu ke sini dan tinggal di sini bersama kita. Agar kamu bisa melupakan masa lalu kamu," ucap Aby.
"Terimakasih," ucap Mawar.
Aby tersenyum tipis lalu membawa Mawar kedalam pelukannya!
**********
Di rumah Dirga.
"Pak, maaf ya, Ussy boleh bertanya?" ucap Ussy.
"Iya, tanya saja," sahut Dirga.
"Di baju bekas, Bapak pakai ada darahnya. Ini darah apa?" tanya Ussy.
Saat akan mencuci pakaian kotor bekas pakai majikannya, Ussy melihat darah dan dia pun langsung penasaran dengan darah itu.
Sebagai asisten rumah tangga di rumah itu dan sudah memiliki hubungan baik dengan Dirga, Ussy merasa khawatir terhadap majikannya.
"Emm, itu ... itu darah hewan," ucap Dirga. "Ya, itu darah hewan yang kebetulan saya selamatkan karena hewan itu tertabrak mobil saya," sambung Dirga.
Dirga sengaja berbohong karena tak ingin membuat Ussy khawatir padanya dan lagi melihat luka sebesar itu pastinya Ussy akan ketakutan.
"Oh, Ussy pikir, Bapak kenapa-kenapa. Ya udah Ussy lanjut nyuci lagi ya Pak."
"Iya," sahut Dirga.
Dirga tersenyum kecil melihat Ussy yang begitu mudahnya mempercayakan perkataannya padahal jika dipikirkan bagaimana mungkin ada darah hewan di baju pas bagian dada kalau benar darah itu harusnya ada di bagian perut ataupun tangan.
__ADS_1
*********
Di rumah Aby.
Saat tiba di rumah Aby, Jingga langsung memeluk Aby yang sedang tertidur di atas kursi yang ada di ruang keluarga.
Setelah memeluk Mawar dalam waktu yang lumayan lama, Abu malah tertidur karena terlalu lelah sedangkan Mawar, setelah Aby tertidur dirinya langsung pergi untuk membersihkan diri dan membiarkan Aby beristirahat di sana.
"Sayang, aku kangen," ucap Jingga dengan nada bicaranya yang manja.
Aby terbangun dan terkejut saat tahu, Jingga yang sedang memeluknya.
"Jingga! Sejak kapan kamu di sini?" ucap Aby.
Seingatnya tadi dirinya tengah memeluk Mawar tapi kenapa saat dirinya membuka matanya, malam Jingga yang nampak dalam pandangannya.
"Aku sudah beberapa menit lalu di sini," ucap Jingga.
Aby bangkit dari duduknya lalu mengedarkan pandangannya ke semua tempat untuk mencari Mawar!
"Dimana Mawar?" ucap Aby.
"Mana aku tahu, saat aku tiba di sini gak ada siapa-siapa, cuma ada kamu di sini," ucap Jingga.
"Aku di sini, aku baru aja selesai mandi," ucap Mawar yang masih menggunakan jubah mandi dengan kepalanya yang dililit handuk kecil.
"Maaf tadi kamu tidur dan aku berpikir untuk membiarkan kamu beristirahat tapi rupanya ada yang menganggu kamu," ucap Mawar.
"By, akhir-akhir ini kamu tidak pernah menerima telpon dariku. Kenapa By?" ucap Jingga.
Aby berbalik badan dan menatap Jingga!
"Kamu mau tahu?" ucap Aby.
"Karena aku sudah tidak mau lagi padamu, aku ingin kamu pergi jauh dari hidup aku dan jangan pernah ganggu hidup aku dengan Mawar lagi," sambung Aby.
"Kamu kok gitu, By? Kamu lupa ya dengan janji kita?"
"Seharusnya kamu tahu kalau aku tidak suka barang-barang bekas, semua yang aku miliki harus baru dan masih tersegel rapat," ucap Aby.
Mawar tersenyum mendengar perkataan Aby.
"Maksud kamu apa? Jangan samakan aku dengan barang bekas," ucap Jingga.
"Jingga, seharusnya kamu sadar diri dong. Kamu itu cantik, kaya dan juga masih muda, jika laki-laki sudah tidak mau padamu jangan ngemis cinta kayak gini, kamu menghancurkan citra perempuan yang sukanya dikejar bukan mengejar," ucap Mawar.
"Diam kamu ya anak kampung! Gara-gara kamu, Aby jadi seperti ini," ucap Jingga.
__ADS_1
"Kamu yang diam, Jingga. Gara-gara kamu, Aby jadi seperti ini. Coba kalau dulu kamu gak pergi, mungkin sekarang kamu yang ada di posisi aku ini, kamu lihat aku. Aku baru aja mandi dan keramas, kamu pasti tahu dong seseorang yang sudah menikah habis melakukan apa kalau mandi basah seperti ini," ucap Mawar memanas-manasi Jingga.
Sengaja, Mawar berkata seperti itu karena masih ingin meyakinkan hatinya pada Aby, jika Aby membantah perkataannya itu tandanya Aby masih mencintai Jingga dan jika Aby membenarkan ucapannya mungkin suaminya itu memang sudah tak lagi mencintai Jingga.
"Gak, gak mungkin," ucap Jingga.
"By, kamu gak mungkin kan melakukan itu bersama dengan Mawar," ucap Jingga pada Aby.
"Kenapa tidak, kami sudah terikat dengan pernikahan jadi sah-sah saja untuk kami melakukannya sesuka hati," ucap Aby.
Aby berjalan mendekati Mawar lalu meraih pinggangnya dan merangkulnya dengan erat!
"Jingga, aku sudah bilang sama kamu, aku gak suka dengan barang bekas mending kamu pergi saja dari hidupku karena percuma juga kamu berusaha untuk kembali denganku. Kamu sendiri yang memaksa aku untuk menikahi Mawar, jadi jangan salahkan aku kalau aku terlanjur menikmati gadis ini." Aby mencium aroma wangi tubuh Mawar dengan mengekspresikan wajah yang dipenuhi kenikmatan.
Jingga mendengus kesal, dia membanting pot bunga yang ada di atas meja lalu keluar dari rumah itu dengan langkah kakinya yang dihentak-hentakkan ke lantai!
Melihat itu, Aby tersenyum sembari menatap ke arah Jingga.
"Iih, lepaskan aku." Mawar melepaskan tangan Aby yang masih melingkar di pinggulnya.
"Cari kesempatan aja," sambung Mawar.
"Kamu harus dihukum karena sudah meninggalkan aku dan membiarkan wanita itu memelukku." Aby memangku tubuh Mawar ala bridal style lalu membawanya ke dalam kamar!
"Eeh kamu mau ngapain? Turunin aku, turunin," ucap Mawar.
"Gak mau tadi kamu bilang sama Jingga kalau kita udah melakukannya, jadi aku mau melakukannya sekarang."
"Nggak ya, aku udah mandi masa mau mandi lagi," ucap Mawar.
"Aku gak perduli." Aby menarik sedikit jubah mandi yang dikenakan Mawar dan tanpa diduga ternyata Mawar tidak mengenakan pakaian dalam hingga langsung menampakkan dua gunung kembar miliknya.
Aby menelan ludahnya kasar, awalnya ia hanya ingin bercanda tapi melihat pemandangan itu membuat sesuatu terbangun di bawah sana.
Mawar hanya diam dengan posisi terlentang di atas tempat tidur dan Aby yang duduk di sampingnya dengan posisi siap untuk menindihnya.
"Kenapa diam saja? Lakukan kalau berani," ucap Mawar seolah menantang kejantanan sang suami.
"Serius? Kamu gak marah?" ucap Aby dengan tangan yang perlahan bergerak meraih tali jubah mandi itu.
Mawar hanya tersenyum menanggapi perkataan Aby, menandakan dirinya telah siap melepas mahkota yang selama ini dijaganya.
Tanpa ragu lagi, Aby menggerakkan tangannya membuka tali itu lalu setelah itu ia membuka bajunya!
"Yakin ya ini? Aku gak mau kena bogem ya, cukup kemarin aja dari para penjahat itu," ucap Aby.
Bersambung
__ADS_1