Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 179


__ADS_3

"Orang ini," gumam Michelle setelah melihat wajah si penjahat itu.


"Kamu kenal dengan orang ini?" tanya Dirga.


"Dia yang sering datang ke rumah Mama," sahut Michelle.


"Apa maunya? Kenapa dia ingin melukai Mawar, apa hubungannya Mawar dengan Mama kamu?" ucap Dirga.


"Kita akan tahu nanti. Cepat ikat mereka sebelum mereka tersadar, obat biusnya hanya akan bekerja tujuh sampai sepuluh menit saja," ucap Michelle.


Dengan sesegera mungkin Dirga membuka ikat pinggang laki-laki yang ada di sampingnya!


"Kamu mau ngapain?" tanya Michelle pada Dirga.


Michelle tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh Dirga, dirinya meminta Dirga untuk mengikat laki-laki itu tapi kenapa Dirga malah membuka ikat pinggang laki-laki itu.


"Mau mengikat tangannyalah. Kamu pikir mau ngapain?" ucap Dirga sembari terus menarik ikat pinggang itu dari pinggang sang pemiliknya.


"Kenapa harus ikat pinggang padahal tali sepatunya sudah terlepas," ucap Michelle.


Michelle membuka tali dress nya lalu mulai mengikat tangan dan kaki si penjahat itu.


********


Di rumah sakit.


Marisa sedang ditangani oleh dokter sementara itu semua keluarganya menunggu di luar ruangan itu.


"Ya Allah, sudah lama aku tidak mengingatmu. Hari ini aku memohon padamu, tolong selamatkan mamaku," batin Jingga.


Saat itu Jingga duduk di kursi paling ujung, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi itu dengan air mata yang terus mengalir deras.


Ya, sudah lama dia meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim. Sejak ia tumbuh dewasa ia tak pernah lagi mengerjakan kewajibannya, ia lebih suka mengikuti gaya hidup Marisa dibandingkan dengan mengikuti ajaran Papanya.


Mahendra memang sudah membuat kesalahan besar dengan memberikan Mawar pada orang lain tapi untuk urusan agamanya. Dia selalu menjalankan kewajibannya dengan sebagai mana mestinya, disetiap doa-doanya ia selalu memohon ampun atas semua perbuatannya terhadap anak kandungnya sendiri.


"Gimana keadaan Mama?" tanya Mawar saat tiba di rumah sakit.


"Mawar. Mawar di luaran sangat berbahaya untuk kamu. Kenapa kamu ke sini?" ucap Randy.


"Pa, aku khawatir pada Mama. Gimana keadaannya?" ucap Mawar dengan penuh kekhawatiran.


"Mama masih ditangani oleh dokter. Kita tunggu saja, semoga saja Mama tidak apa-apa," ucap Mahendra.


Aby merangkul bahu Mawar lalu mengusap lengannya beberapa kali.


"Sabar ya. Dokter akan melakukan yang terbaik untuk Mama kamu," ucap Aby.


"Aku baru saja merasakan sedikit kebahagiaan dari kasih sayang Mamaku dan sekarang ...." Mawar menghentikan ucapannya karena tak kuasa menahan tangisnya.


"Sekarang Mama terluka gara-gara menolong aku. Aku Mama akan membenciku lagi, aku takut Mama akan berubah menjadi seperti dulu lagi. Aku harus harus apa, Mas? Katakan aku harus bagaimana?" ucap Mawar sambil terus menangis.


Jingga berjalan menghampiri Mawar lalu memeluk Mawar!

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, Mawar. Mama melakukan ini karena mama sudah menyayangi kamu. Percayalah, kamu jangan menangis, kamu jangan stress kasihan bayi kamu," ucap Jingga pada Mawar.


Aby hanya diam sembari menatap Dua perempuan yang sedang berpelukan di sampingnya itu.


"Mungkinkah Jingga sudah berubah? Dia sudah bisa mengucapkan kata-kata bijak seperti itu," batin Aby.


Tak lama seorang dokter yang menangani Marisa keluar dari ruangan itu!


"Dokter! Dokter bagaimana keadaan istri saya," ucap Mahendra.


"Pasien selamat. Luka yang dideritanya tidak terlalu parah dan tidak mengancam nyawanya," jelas dokter itu.


Semua orang yang berada di sana menarik napas lega setelah mendengar pernyataan dokter.


********


"Udah mulai sore. Kita akan membawa mereka kemana?" ucap Dirga sembari terus mengemudikan mobilnya.


"Kantor Pak Randy," sahut Michelle.


"Kantor? Kamu gak salah?"


"Tidak. Turuti saja apa kataku," ucap Michelle.


Dirga menatap dua orang yang duduk di bangku belakang lalu kembali fokus pada jalanan yang sedang ia lalui.


Dua orang itu sudah sadarkan diri tapi mereka tak dapat melakukan apa-apa karena tangan dan kakinya terikat oleh tali dan mulut mereka juga ditutup dengan menggunakan lakban.


Ya, Samuel lah yang berada di balik semua kekacauan yang ada. Samuel pula yang sering mengintai Mitha di rumahnya dan Samuel juga yang sudah melakukan teror pada Randy.


Setibanya di kantor Randy. Dirga memasuki area parkir kantor itu untuk menghentikan laju mobilnya.


"Jangan ke tempat parkir. Ke belakang gedung saja, di sana ada satu bangunan yang digunakan sebagai gudang," ucap Michelle.


Dirga menatap Michelle lalu menurut saja apa kata Michelle.


Setelah tiba di depan gudang itu, mereka segera turun dari mobilnya lalu menyeret dua penjahat itu dan membawanya ke dalam gudang itu!


Dirga tak hentinya menatap Michelle, ia begitu kagum pada perempuan yang sebentar lagi akan dinikahinya itu.


"Lepaskan saya. Saya hanya dibayar untuk melakukan ini," ucap salah satu laki-laki itu.


Setelah menutup pintu itu Michelle berjalan mendekati laki-laki yang baru berucap padanya barusan!


"Siapa yang membayar kamu?" tanya Michelle.


Laki-laki itu menatap Samuel yang duduk di sampingnya namun, mulutnya tak mengatakan apa pun.


"Sekarang kalian adalah tawanan ku. Aku tidak perduli kalian sudah lebih tua dariku. Katakan! Apa tujuanmu melukai Mawar?" ucap Michelle pada Samuel.


"Kamu tidak perlu tahu, anak kecil," ucap Samuel.


"Oke kita ganti pertanyaan berikutnya. Kenapa kamu selalu datang ke rumah ibu Mitha? Apa semua yang kamu lakukan ada hubungannya dengan keluarga Pak Randy?" tanya Michelle.

__ADS_1


"Kamu terlalu ikut campur urusan orang lain," ucap Samuel lagi.


"Sudah aku bilang kalau sekarang kamu adalah tahanan ku. Sekarang jawab pertanyaan aku!"


Michelle menggebrak meja yang ada di sana hingga hancur. Dirga hanya diam dan memilih tak ikut campur urusan kekasihnya itu.


Samuel masih bertahan. Dia tak juga menjawab pertanyaan Michelle meski Michelle sudah terlihat marah dan tak sabar.


"Argh! Hahhh!" Michelle berteriak sambil mendorong Samuel sampai laki-laki yang kira-kira seusia dengan Mahendra itu terkapar di lantai.


Michelle meninggalkan ruangan itu dengan diikuti Dirga di belakangnya!


Michelle langsung mengunci pintu ruangan itu lalu meraih ponselnya yang diletakkan di dalam tasnya.


"Are you oke? Michelle?" ucap Dirga yang berdiri di belakang Michelle.


Michelle menoleh ke belakang lalu tersenyum ke arah Dirga. "Ya, tentu saja. Tenang, sayang aku tidak akan memakan mu."


Dirga terdiam mematung, dirinya begitu heran pada Michelle yang tiba-tiba bisa berubah menjadi ganas tapi sedetik kemudian menjadi begitu manis.


"Kamu pasti capek. Istirahat sana, terima kasih sudah membantu aku," ucap Michelle dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.


"Kamu?" ucap Dirga.


"Aku mau menelpon Pak Randy dulu. Orang-orang itu adalah buruannya Pak Randy," jelas Michelle.


"Ya baiklah." Dirga duduk di kepala mobilnya dan membiarkan Michelle melanjutkan pekerjaannya.


[Halo, Michelle. Ada kabar baik?] ucap Randy dari sebrang telpon.


[Dua orang penjahat sudah diamankan di tempat yang sudah kita persiapkan, Pak.]


[Saya akan ke sana sekarang.]


[Baiklah, saya masih di sini.]


Michelle mematikan telponnya lalu berjalan mendekati Dirga!


"Aku lihat ada luka lebam di pipi kamu. Mau aku obati?" ucap Michelle pada Dirga.


"Tidak apa, hanya lebam saja. Michelle ... aku takut melihat kamu marah," ucap Dirga.


"Kenapa harus takut? Aku tidak marah padamu," ucap Michelle sambil tertawa kecil.


"Kamu lebih seram dari serigala saat marah. Memangnya seorang agen rahasia itu harus seperti itu ya kalau sedang marah?"


"Tentu saja. Kami para detektif harus bersikap seperti itu agar mereka takut dan akhirnya membuka suaranya."


"Tapi tadi mereka belum mengatakan apapun, kamu sudah pergi."


"Sayang, calon suamiku tercinta, mereka itu tawanan Pak Randy jadi mereka akan bicara pada Pak Randy terlebih dahulu," ucap Michelle.


Bergabung

__ADS_1


__ADS_2