
"Aby, duduk di sini." Marisa menarik kursi dan mengarahkan Aby untuk duduk di kursi itu.
"Oh ya, Mawar ini Mama masakin khusus untuk kamu. Kamu lagi hamil jadi harus banyak makan makanan yang bergizi," ucap Marisa setelah Mawar tiba di meja makan.
"Terima kasih sudah menyiapkan ini semua untuk kami," ucap Aby.
"Tidak apa-apa. Jangan berterima kasih," ucap Marisa.
"Mawar, kamu makan yang mana? Biar aku ambilkan," ucap Jingga.
"Nggak, gak usah aku bisa sendiri kok," ucap Mawar.
"Gak apa, Mawar. Tolong izinkan aku melakukan ini untuk kamu," ucap Jingga lagi sambil mengambil piring kosong dari depan Mawar.
"Aku akan makan apa aja yang kamu ambilkan," ucap Mawar.
Jingga pun langsung mengisi piring itu dengan berbagai lauk dan sayur yang ada di atas meja itu.
"Oh ya, Aby kamu mau makan apa? Biar Mama ambilkan," ucap Marisa.
"Gak usah, saya bisa sendiri," ucap Abimana.
"Ya udah kalau gitu kita langsung ke belakang aja," ucap Mahendra.
"Iya, ayo Jingga kita ke belakang," ucap Marisa.
"Ya udah. Mawar kamu makan yang banyak ya dan kalau ada apa-apa panggil aku atau Mama ya," ucap Jingga.
"Mau kemana? Makan aja di sini," ucap Abymana.
"Gak usah, Nak kami makan di belakang saja," ucap Mahendra.
"Kenapa? Kalian tidak mau menemani aku?" tanya Mawar.
"Tidak. Bukan begitu, Mawar kami merasa bahwa kami tidak pantas untuk makan satu meja makan dengan kamu dan Aby. Kami terlalu jahat sama kamu," ucap Marisa dengan penuh penyesalan.
"Makanlah bersama kami. Mawar akan sangat bahagia jika kalian semua makan bersama kami di sini," ucap Abymana pada keluarga Mawar.
**********
Di sebuah tempat.
"Mi, lama kita gak ketemu terakhir aku dengar kalian tinggal di luar negeri. Gimana ceritanya kok bisa di sini lagi?" tanya Athalia pada Mitha.
"Ceritanya panjang sekali, Tha tapi aku gak tahu jelas ceritanya seperti apa. Aku mengalami depresi berat hingga aku harus dirawat di rumah sakit jiwa, sekitar seumuran Michelle, aku di rumah sakit jiwa itu," jelas Mitha.
Athalia menatap sahabat lamanya itu, ia tak percaya sahabatnya mengalami cobaan seberat itu.
"Saat usia Michelle baru beberapa bulan, aku mengalami depresi tepatnya saat beberapa minggu suamiku tiada, aku mulai mengalami gangguan jiwa itu, aku membuang Michelle yang aku sendiri tidak tahu dimana aku meninggalkan Michelle. Roger selalu menanyakan adiknya itu padaku tapi aku tidak tahu meski aku berusaha mengingatnya tetap saja aku tidak dapat mengingat dimana aku meninggalkan bayi malang itu. Untung saja ada orang baik yang mau menjaga dan merawat anakku itu hingga atas izin Allah kami bertemu lagi beberapa bulan yang lalu," ucap Mitha panjang lebar.
__ADS_1
"Ya Allah, Mi kalau saja aku tahu kejadiannya seperti itu mungkin aku akan datang untuk mengurus Roger dan mencari Michelle," ucap Athalia.
Mitha tersenyum kecil sembari menatap Athalia. "Semua sudah berlalu, sekarang tinggal kita jalani kehidupan sekarang. Aku bahagia ternyata Dirga adalah anak kamu."
"Aku juga bahagia ternyata Michelle adalah anak kamu. Cita-cita kita untuk mr jodohkan mereka akhirnya terwujud tanpa adanya drama pemaksaan terlebih dahulu," ucap Athalia dengan dipenuhi rasa bahagia.
"Sekarang kita mulai siapkan kebutuhan pernikahan anak-anak kita. Mulai dari mana dulu?" tanya Mitha.
"Tentu saja yang penting-penting dulu. Aku sebagai orang tua anak laki-laki, aku akan mencari mas kawinnya dulu," ucap Athalia.
"Ya terserah kamu tapi ingat ya mas kawinnya harus yang waaah." Mitha tertawa kecil setelah mengucapkan perkataannya.
"Kamu mau memeras anakku? Dasar mertua matre belum apa-apa udah banyak permintaan." Athalia membalas perkataan sahabatnya itu dengan candaan.
Mereka berdua tertawa terbahak seakan lupa akan masa-masa menyakitkan dahulu.
*******
Di kantor Abymana.
"Pak, saya mau izin. Kemungkinan nanti setelah makan siang saya akan kembali sedikit telat," ucap Dirga pada Randy.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Randy.
"Tidak ada. Saya baru tahu kalau ternyata Mawar mengalami musibah jadi, saya ingin melihat keadaannya," ucap Dirga.
"Terima kasih."
"Dirga tunggu," ucap Randy.
Baru Dirga melangkah beberapa langkah, Randy menghentikan langkahnya.
"Ya, Pak ada apa?" ucap Dirga setelah menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Randy.
"Kamu pergi sama Michelle?"
"Iya," sahut Dirga jujur.
"Eumm nanti ajak Michelle ke sini ya, saya mau bicara sama dia," ucap Randy.
"Oh, tentu. Ada yang mau dibicarakan lagi?"
"Tidak ada. Kamu gak penasaran apa yang mau saya bicarakan dengan Michelle."
Dirga tersenyum kecil lalu menundukkan kepalanya beberapa detik setelah itu kembali menatap Randy.
"Saya tidak ingin ikut campur urusan Anda kalau Anda merasa saya harus tahu kapanpun Anda akan memberitahu saya," ucap Dirga.
"Pergilah," ucap Randy.
__ADS_1
Dirga pun kembali melanjutkan langkahnya!
Di depan kantor. Michelle sudah menunggu Dirga, mereka memang sudah berkomunikasi lewat telpon dan janjian akan bertemu di kantor tempat Dirga bekerja.
"Sudah lama ya?" tanya Dirga.
"Lumayan, sekitar lima menit lah," ucap Michelle.
"Cuma lima menit."
"Lima menit terasa seperti lima jam kalau menunggu pujaan hati," ucap Michelle dengan senyumannya.
"Udah bisa gombal ya sekarang," ucap Dirga.
"Nggak gombal. Emang gitu kan?"
"Ayo pujaan hati, kita pergi sekarang," ucap Dirga sembari meraih tangan Michelle dan menggenggamnya.
"Yakin ini cuma pegangan tangan?" tanya Michelle yang masih berdiri di tempat semula.
"Memang kamu maunya apa?" ucap Dirga sembari menatap Michelle.
"Nggak aku cuma bercanda. Ya udah ayo pergi," ucap Michelle sembari melingkarkan tangannya di pinggang Dirga.
"Ternyata pengen lebih dekat lagi," ucap Dirga dengan suara pelan.
"Tunggu satu bulan lagi," sambung Dirga dengan berbisik.
"Ah kamu apa sih. Udah ah ayo kita pergi."
Mereka pun langsung pergi dengan menggunakan mobil milik Dirga!
*******
Di restoran Roger.
"Kamu sudah dibohongi oleh Randy dan Mamamu, Roger," ucap Samuel.
"Om, Mamaku tidak mungkin selingkuh. Mama adalah wanita baik-baik lagipula sudah ada bukti-bukti yang menguatkan kalau Om Randy tidak bersalah," ucap Roger.
"Itu karena Mama kamu terus saja menutup-nutupi kebusukan Randy. Om adalah teman mereka, Om tahu kelakuan mereka," ucap Sam.
"Aku tidak percaya. Sekarang Om pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi, aku tidak mau Om menemui aku lagi."
"Baik Roger, Om akan pergi tapi suatu saat semua kejahatan Mamamu dan Randy pasti akan terbongkar, aku akan menyesal karena tidak mempercayai Om." Samuel langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakangnya lagi!
Sementara itu Roger hanya diam sambil menatap kepergian laki-laki yang selama ini sudah dianggapnya sebagai ayahnya.
Bersambung
__ADS_1