Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 49


__ADS_3

Yura dan teman-temannya tertawa terbahak melihat Mawar yang masih duduk di samping kaki Yura sedangkan Mawar hanya diam sembari berusaha bangkit.


Kakinya yang terasa sakit membuatnya sedikit kesulitan untuk berdiri, tangannya juga mengalami luka ringan yang mengeluarkan darah karena tergesek resleting tas milik Yura.


"Gimana Mawar? Udah tahu sekarang gimana berbahaya kita?" ucap Ghina.


"Anak-anak ini ngeselin banget, rasanya aku ingin memelintir kuping mereka sampai merah," batin Mawar.


Marisa dan Jingga yang sedari tadi memperhatikan mereka pun tertawa bahagia melihat ada orang yang berbuat jahat pada Mawar.


"Rasain lo Mawar. Lo pikir gampang bergaul sama anak kota," ucap Jingga.


"Si Mawar itu emang oon, ditindas gitu malah diam aja. Dasar lemah tapi kayaknya kita jadi lebih gampang ngatur-ngatur hidup anak itu," timpal Marisa.


"Apa kita samperin mereka sekarang Ma?"


"Gak usah kita tonton aja apa yang akan mereka lakukan selanjutnya pada Mawar."


Dari tempat yang lumayan jauh dari Mawar dan Yura, Sherin berlari menghampiri Mawar yang kala itu masih duduk di samping kaki Yura!


"Mawar!" seru Sherin.


Mawar dan tiga gadis itu pun menoleh ke arah Sherin.


"Anak sok baik itu pasti mau nolongin gadis malang ini," ucap Mia.


"Emang tuh orang sukanya gangguin kesenangan kita aja," timpal Ghina.


"Biarin aja, mangsa kita bertambah satu lagi," ucap Yura.


"Kalian tuh sebenarnya punya hati gak? Gak seharusnya kalian bersikap seperti ini. Jangan mentang-mentang kalian anak orang kaya, kalian bertindak semena-mena pada orang lain," ucap Mawar yang sudah berdiri.


"Kami para orang kaya yang berkuasa di kampus ini. Lo kalau mau tetap kuliah di sini berarti harus menuruti semua permintaan gue dan semua peraturan dari gue."


"Mawar, kamu tidak apa-apa?" tanya Sherin setelah dekat dengan Mawar.


"Tidak. Kita pergi saja dari sini," ucap Mawar.


Mawar pun melangkah ke arah Sherin berdiri saat ini!


"Eits!" Yura menarik rambut Mawar hingga Mawar melangkah mundur sebanyak dua langkah!


"Mau kemana? Urusan kita belum selesai. Lo belum mencium kaki gue, lo tahu gak dulu Sherin juga mencium kaki gue karena itulah dia masih bertahan di sini," sambung Yura.


Sherin melepaskan tangan Yura yang mencengkram rambut Mawar lalu sedikit membanting tangan lembut milik Yura!


"Sudah Yura. Jangan terus-terusan seperti ini. Galaxi tidak akan bisa suka sama kamu kalau kelakuan kamu terus seperti ini," ucap Sherin.

__ADS_1


"Berani sekarang kamu ya," ucap Yura sembari menatap Sherin tajam.


"Sherin, ayo kita pergi!" Mawar menarik tangan Sherin lalu membawanya pergi.


"Jangan pergi lo! Kalau berani sini hadapi kita-kita!" seru Mia.


Tiga gadis itu pun tertawa melihat Mawar dan Sherin berjalan bahkan sedikit berlari untuk menjauh dari mereka.


"Mawar, kamu gak apa-apa kan?" tanya Sherin saat mereka sudah menjauh dari iblis kampus itu.


"Nggak apa-apa, aku baik-baik aja kok," sahut Mawar yang tak menyadari kalau tangannya terluka.


"Kamu berdarah, kita ke UKS dulu yuk buat ngobatin luka kamu."


"Hah mana?" Mawar menatap kakinya namun tak melihat adanya bercak darah.


"Ini!" Sherin meraih tangan Mawar lalu memperlihatkannya pada Mawar.


"Masa gak kerasa?"


"Oh astaga, aku benar-benar tidak tahu, pantas rasanya sakit. Aku pikir tidak sampai berdarah."


"Udah, kita obati dulu ya habis itu kita pulang bareng."


**********


"Sebentar lagi saya akan membangun pabrik di perkampungan. Saya butuh kamu untuk mencari tahu orang-orang yang selalu mengganggu orang-orang saya yang hendak melakukan peninjauan tempat itu."


"Maksudnya?"


"Jadi gini, setiap ada orang saya yang melihat lahan itu pasti ada saja yang menyerang mereka tapi mereka tak mengatakan alasannya apa. Saya ingin kamu mencari tahu siapa orang itu dan apa maksud mereka menyerang orang-orang saya."


"Kapan pembangunannya akan dimulai?"


"Saya akan mengabari kamu lagi setelah saya bicara dengan Abymana, anak saya."


"Oh jadi Tuan Muda anaknya Pak Randy, pantas tadi mereka terlihat sangat dekat," batin Michelle.


"Gimana, kamu sanggup menerima pekerjaan dari saya? Saya akan membayar kamu betapapun yang kamu minta kalau kamu berhasil."


"Seperti biasa Pak, saya tidak pernah memasang tarif pembayaran yang harus Anda bayar. Saya yakin Anda orang yang mengerti dengan jeri payah orang lain dan saya yakin Anda pasti akan menghargai setiap tenaga yang keluar untuk Anda."


"Berarti kamu sanggup ya. Ini ada uang untuk keperluan kamu selama di kampung. Uang ini tidak termasuk uang bayaran kamu." Randy memberikan uang dalam amplop berwarna coklat pada Michelle.


"Maksudnya gimana?"


"Ini uang untuk kamu membayar penginapan dan makan kamu selama di kampung. Setelah kamu selesai dengan tugas kamu, saya akan membayar kamu sebagaimana semestinya."

__ADS_1


"Terimakasih Pak. Kalau gitu saya permisi."


Michelle menjabat tangan Randy lalu mulai pergi dari ruangan itu!


"Michelle! Michelle!" seru Dirga saat Michelle berjalan di lobby kantor.


Michelle menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Iya Pak," ucapnya dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Kamu kok di sini?" tanya Dirga.


"Saya sedang melamar kerja di kantor ini tapi sayang gak ada lowongan."


"Kamu kalau mau kerja kenapa gak tanya aku. Aku pasti memberikan kamu pekerjaan kalau gak ada di sini ya di tempat lain."


"Terimakasih Pak, tapi saya sudah dapat lowongan di kantor temannya Pak Randy."


"Oh gitu, syukurlah. Mau istirahat dulu? ngopi dulu? Kebetulan didepan sana ada kafe."


"Gak usah makasih. Saya harus pulang." Dengan senyuman manisnya, Michelle menolak ajakan Dirga untuk sekedar ngopi bareng.


"Oke, kalau gitu hati-hati ya."


"Saya permisi." Michelle langsung pergi meninggalkan Dirga yang terlihat sedikit kecewa karena mendapatkan penolakan darinya!


"Udah, jangan dilihatin terus orang gak bakal balik juga," ucap Aby yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Kalau dia menatap saya sekali saja berarti dia adalah jodoh saya," gumam Dirga.


"Jangan berharap kayak difilm-film atau di sinetron deh, ini dunia nyata bukan dunia halu."


Beberapa detik kemudian, Michelle menoleh kebelakang dan menatap Dirga. Dia tersenyum lalu melambaikan tangannya!


Merasa tak percaya, Aby menatap Michelle dengan tatapan mata yang tak berkedip sekalipun.


Tak kalah terkejutnya dari Aby, Dirga menatap Michelle sembari membalas lambaian tangan gadis cantik itu.


Dirga terus menatap ke arah Michelle meski kini gadis itu sudah pergi dari pandangannya.


"Jodoh kamu tuh, kejar sana," ucap Aby sembari menjentikkan jarinya didepan wajah Dirga.


"Astaghfirullah, Tuan Muda ngagetin aja." Dirga terhenyak dari lamunannya dan mulai kembali ke kehidupan nyata.


"Pasti lagi mengkhayal yang nggak-nggak."


"Tidak. Saya gak percaya aja tiba-tiba Michelle menoleh ke arah sini dan melambaikan tangannya," sahut Dirga sembari terus menatap ke arah jalan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2