
"Sama-sama," ucap Michaela sembari berjalan menghampiri Roger dan Jingga!
"Sesama manusia harus saling bantu kan? Selagi masih ada yang bisa suamiku dan aku lakukan, kami akan melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang memerlukan," sambung Michaela.
"Terima kasih. Terima kasih banyak, kalian memang orang baik," ucap Jingga.
"Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia. Kami permisi, semoga Mawar selamat dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga seperti sediakala," ucap Roger.
Jingga hanya mengangguk pelan untuk menanggapi perkataan Roger.
Saat Roger dan keluarganya hendak pergi, Randy dan Ratu tiba di rumah sakit itu.
"Jingga, dimana Mawar?" ucap Bu Ratu dengan penuh kekhawatiran.
"Mawar di dalam," ucap Jingga singkat.
"Roger, kalian di sini juga?" ucap Pak Randy.
"Saya sedang mengantar Mama memeriksa kesehatannya. Kebetulan saya melihat keluarga Aby dan ternyata Mawar sedang melahirkan di sini," ucap Roger.
"Roger yang mendonorkan darahnya untuk Mawar. Dia yang menyelamatkan Mawar," ucap Jingga.
"Terima kasih, Roger. Apa yang bisa kami lakukan untuk berterima kasih padamu?" ucap Pak Randy.
"Tidak usah, Mas. Saya yakin Roger melakukan ini dengan ikhlas," ucap Mitha.
"Mbak Mitha, sekali lagi terima kasih ya," ucap Bu Ratu.
Mitha tersenyum manis ke arah Ratu. "Selamat ya, Mbak Ratu, kamu sudah menjadi nenek. Semoga Mawar cepat pulih," ucap Mitha.
"Kalau gitu kami pamit ya Om, Tante," ucap Roger.
"Oh ya silahkan. Hati-hati di jalan ya," ucap Bu Ratu.
Roger dan keluarganya pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Randy dan Ratu langsung masuk ke dalam ruangan rawat Mawar untuk melihat kondisi menantu mereka itu!
"Ma, ini kah alasan sebenarnya Mama sangat membenci Mawar?" tanya Jingga pada Marisa.
Marisa tak menjawab, dia hanya menangis dan terus menangis.
"Jingga, biarkan saja Mamamu dulu. Jangan mencari keributan di rumah sakit," ucap Mahendra yang baru keluar dari ruangan rawat Mawar.
"Papa." Marisa bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Mahendra! "Papa, maafkan Mama," ucap Marisa sembari menggenggam tangan Mahendra.
"Sudahlah, Ma jangan membahas ini sekarang. Aku sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan ini." Mahendra menepis tangan Marisa lalu pergi menjauh dari Marisa.
"Papa," gumam Marisa sembari menatap kepergian Mahendra.
********
Di kampus.
Nasya sedang berjalan menuju gerbang kampusnya. Setelah selesai dengan tugasnya sebagai seorang mahasiswa, ia akan pulang karena sudah lelah dengan materi yang ia pelajari hari ini!
"Cinta!" seru seseorang dari belakang Nasya.
__ADS_1
Nasya terus berjalan dengan santai tanpa menghiraukan sekitarnya! Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba mencolek pinggangnya.
"Apa sih ngagetin aja," ucap Nasya.
"Dari tadi dipanggil-panggil gak nyahut," ucap Reza.
"Aku gak dengar ada yang memanggilku," ucap Nasya.
"Cinta. Sekarang aku panggil kamu dengan sebutan itu," ucap Reza.
"Ish lebai. Namaku Nasya bukan cinta, kamu ngapain sih masih di sini?" ucap Nasya dengan nada ketus.
"Karena aku cinta sama kamu. Kamu udah cinta belum sama aku?"
"Seharusnya gak aku jawab juga kamu udah tahu jawabanku apa," ucap Nasya.
"Udah berapa hari ya kita pacaran? Masa sedikitpun kamu belum mencintai aku."
"Hitung aja sendiri."
"Ayo ikut aku!" Reza menarik tangan Nasya dan membawanya ke motor miliknya.
"Aku bawa mobil sendiri," ucap Nasya.
"Mobilmu tinggal saja di sini nanti ada orang yang akan mengantarkannya ke rumah kamu," ucap Reza sembari memakaikan helm pada Nasya.
"Pemaksaan banget sih jadi orang."
"Kalau gak dipaksa kamu gak bakal mau. Perempuan emang sukanya yang dipaksa-paksa kan?" ucap Reza sembari tersenyum lebar.
Nasya hanya diam dan cemberut. Terlihat dengan jelas di wajahnya ada rasa kesal mungkin karena menahan marah.
"Hhhh! Pemaksaan banget jadi orang. Untung ganteng kalau gak udah aku karungin habis itu dilempar ke tengah laut," batin Nasya sembari menaiki motor itu.
"Pegangan nanti kalau jatuh aku yang dimarahi kakak kamu," ucap Reza.
Nasya memegang jaket jeans yang dipakai oleh Reza dengan malas. "Udah, cepat jalan," ucapnya.
"Pegangan yang benar, sayang." Reza menarik kedua tangan Nasya dan meletakkan di perutnya hingga kini terlihat Nasya sedang memeluk Reza dari belakang.
Reza pun langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Nasya sedikit meraba perut Reza yang terasa bergelombang tak terasa dirinya menaikkan tangannya sampai dada laki-laki itu!
Reza hanya tersenyum miring merasakan sentuhan yang diberikan oleh Nasya itu, dalam hatinya bertanya apakah Nasya melakukan itu dalam keadaan sadar atau tidak?
Saat mereka melewati sebuah jalan yang sepi yang kiri dan kanannya hanya ada pepohonan yang berdiri tegak tiba-tiba ada tiga pemotor yang mencoba menghentikan mereka.
Tiga orang yang masing-masing menggunakan motor trile itu menghalangi jalan mereka dan akhirnya Reza pun menghentikan laju motornya.
"Ada apa ini?" tanya Nasya.
"Mana aku tahu, aku tidak mengenal mereka," ucap Reza.
"Turun lo!" seru laki-laki yang kini tengah bediri di depan Reza dan Nasya.
"Kalian mau apa? Ada masalah apa dengan kami?" ucap Reza dengan tetap terdiam di atas motornya.
__ADS_1
"Lo selalu saja mengganggu kami. Hari ini lo gak akan bisa lolos dari kami."
"Siapa kalian?" ucap Reza.
"Jangan pura-pura lupa. Lo kan yang mengobrak-abrik tempat perjudian di kampung kami."
"Oh rupanya kalian ada dendam denganku," ucap Reza.
Reza turun dari motornya lalu meminta Nasya untuk menjauh dari mereka!
"Aku hanya menjalankan tugas," ucap Reza lagi.
Tiga laki-laki pemilik tempat perjudian itu langsung menyerang Reza secara bersamaan hingga Reza merasa kewalahan menghadapi mereka!
"Reza awas!" seru Nasya.
Tiba-tiba salah satu dari mereka menghampiri Nasya dan menodongkan senjata tajam pada Nasya!
"Polisi brengsek! Lihat, gadismu ada dalam genggamanku," ucap laki-laki itu hingga membuat fokus Reza teralihkan.
Saat Reza lengah dia laki-laki itu pun memukuli Reza tanpa henti.
"Jangan hiraukan aku! Lawan mereka dan penjarakan penjahat itu!" seru Nasya.
"Diam kamu!" Laki-laki itu mengeratkan tangannya yang saat itu membelit leher Nasya.
"Aah." Nasya meringis kesakitan.
Nasya nemegangi tangan laki-laki itu sambil menariknya agar terlepas dari lehernya. Ia merasa sesak karena tandan laki-laki itu menghimpit lehernya.
Dengan tenaga penuh Nasya menyikut perut laki-laki itu hingga tubuh laki-laki itu menjauh dari dirinya!
Nasya langsung mengambil pisau yang terjatuh di dekatnya lalu menodongkan pisau itu pada laki-laki itu.
"Jangan macam-macam kamu denganku. Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga," ucap Nasya.
Laki-laki itu tertawa meremehkan kemampuan Nasya lalu dia mulai menyerang Nasya.
Tak mau dirinya terluka. Nasya pun melakukan perlawanan terhadap laki-laki itu hingga setelah hampir sepuluh menit tiga laki-laki itu dapat dilumpuhkan karena satu penjahat mencoba melarikan diri Reza menembaknya di bagian kakinya.
Setelah itu Reza langsung meringkus mereka dan menelpon rekannya untuk menjemput para penjahat itu.
"Aku mau kita putus. Aku gak mau menjadi pacar apalagi istri seorang polisi," ucap Nasya pada Reza.
"Kenapa?" tanya Reza.
"Nyawaku terancam saat bersamamu. Bisa-bisa aku mati muda kalau gini caranya," ucap Nasya.
Reza tertawa melihat Nasya yang ketakutan. "Tidak akan, selama ada aku, kamu akan baik-baik saja."
"Bohong. Buktinya hari ini aku melawan sendiri penjahat itu."
"Aku tidak mau kita putus. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menikahi kamu," ucap Reza.
"Dasar tukang pemaksaan," ketus Nasya.
Bersambung
__ADS_1