
"Jangan terlalu berpikir keras, aku tahu ini pasti berat untukmu tapi aku tahu kamu adalah perempuan tangguh yang kuat akan semua yang datang menghantam kehidupanmu, kamu pasti bisa menghadapi ini semua," ucap Aby sembari mengelus punggung Mawar.
"Kalau darah Papa dan Mama tidak cocok denganku, siapa yang mendonorkan darah padaku?" tanya Mawar.
"Roger yang menyelamatkan kamu. Aku sangat berterima kasih pada, laki-laki itu karena sudah menyelamatkan kamu," ucap Aby.
"Katakan pada, Papa Mahendra, jangan lakukan tes DNA pada orang-orang jahat itu aku tidak sudi punya ayah kandung penjahat seperti mereka," ucap Mawar. Terlihat jelas ada kemarahan dan kebencian yang begitu besar di wajah Mawar.
"Kita harus tetap melakukannya. Pernikahan kita tidak sah, mau tidak mau kita harus mengulangi ijab qobul dengan ayah kandung kamu sebagai walinya," ucap Aby.
"Minta wali hakim saja."
"Mawar, biar bagaimana pun kita harus tahu siapa ayah kandung kamu agar tidak ada penyesalan diakhiri waktu. Sekarang kamu berkata seperti ini karena sedang dalam kemarahan yang besar tapi nanti l, setelah kamu tenang mungkin kamu ingin mengetahui siapa ayah kandung kamu yang sebenarnya," jelas Aby.
"Apa aku salah karena tak ingin mengenalnya? Apa aku terlalu egois karena tak mau menerima kenyataan ini?" ucap Mawar.
"Sudahlah, pasti kamu belum makan. Kita makan di luar saja," ucap Aby yang tak ingin membahas masalah itu dulu.
"Aku tidak lapar," sahut Mawar.
"Kasian anak-anak kita kalau kamu tidak makan. Lihatlah wajah mereka," ucap Aby sembari menatap kedua anaknya yang terbaring di atas tempat tidur.
"Mas, tolong. Untuk kali ini saja," ucap Mawar.
"Baiklah tapi tiga puluh menit lagi kamu harus makan," ucap Aby sembari menatap jam ditangannya.
Mawar hanya diam menandakan ia setuju dengan perkataan Aby.
********
Saat ini Michelle sudah berada di lingkungan tempat Fian tinggal. Dia mengemudikan motornya dengan perlahan sambil mencari-cari rumah sesuai informasi yang ia dapatkan dari rekannya tempo hari.
"Fian," gumam Michelle saat melihat Fian sedang berbicara dengan beberapa orang di sana.
Michelle menghentikan motornya dan terus memperhatikan Fian dari tempatnya berdiam diri.
"Aku harus mendapatkan kamu hari ini juga," batin Michelle.
Michelle terus memperhatikan mereka sampai berjam-jam lamanya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan sampai memakan waktu hingga berjam-jam.
"Ahh." Michelle tersungkur ke asal karena ada yang memukul punggungnya.
Ia mencoba melihat ke belakang untuk mengetahui siapa yang memukulnya tapi orang itu langsung membekap mulut dan hidung Michelle menggunakan saputangan yang sudah dibubuhi obat bius.
Tak sampai lima detik, Michelle langsung pingsan.
"Bawa gadis ini ke markas!" titah Fian pada orang-orangnya.
**********
"Sy! Di sini," ucap El sembari melambaikan tangannya pada Ussy.
Ussy pun langsung menoleh ke arah suara dan langsung menghampiri El setelah melihat El duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari pintu masuk!
__ADS_1
"Mbak, serius jadian sama orang ini?" tanya Ussy seolah tidak ada Fredy.
"Iya. Kami sudah resmi berpacaran," ucap Fredy langsung menjawab pertanyaan Ussy.
"Baru pertama bertemu saja udah ngajak ke hotel, awas aja kalau kamu macam-macam," ucap Ussy dengan nada ketus.
"Tenang saja, aku gak akan ngajak ke hotel lagi palingan ngajak ke Villa atau kamar di rumah sendiri," ucap Fredy lagi.
Ussy menatap Fredy dengan tatapan tajam, terlihat gadis itu sangat marah pada Fredy.
"Udah-udah. Duduk Sy! Kamu udah makan belum?" tanya El.
"Belum," sahut Ussy singkat.
"Ya udah, pesan makanan sana," ucap El lagi.
"Ussy mau makan di panti aja, Mbak. Adik yang kemarin sakit minta makan nasi padang dan pengennya makan sama Ussy aja," jelas Ussy.
"Kamu tinggal di panti?" tanya Fredy yang hanya dibalas anggukan saja oleh Ussy.
"El, kita sudah selesai makan kan?" tanya Fredy pada El.
"Iya, terus apa?" tanya El.
"Kita cari rumah makan padang dan beli nasi secukupnya untuk adik-adiknya Ussy di panti," ucap Fredy lagi.
"Gak usah, Ussy ada kok buat beli nasi," ucap Ussy.
"Rezeki jangan ditolak, Sy. Ayo kita borong habis rumah makan padang itu mumpung ada yang mau bayarin," ucap El.
"Lah emang aku gak punya duit, Sy. Gimana sih, aku kan belum kerja," sarkas El.
"Haha! Iya juga ya."
"Kalau gitu, bisa kita pergi sekarang?" tanya Fredy.
********
Di kediaman Pak Randy.
"Tadi Reza dan orang tuanya datang ke sini," ucap Bu Ratu saat melihat Nasya yang baru keluar dari kamarnya.
Setelah tiba di rumah Nasya langsung masuk ke dalam kamar dan langsung mengerjakan tugas kuliahnya yang belum selesai dan baru keluar kamar setelah satu jam.
"Hah? Mama kok gak bilang dari tadi?" tanya Nasya.
"Kamu kan baru keluar kamar," ucap Bu Ratu lagi.
"Mau apa mereka ke sini? Kenapa gak bilang ke aku kalau mau datang?" ucap Nasya sembari menghempaskan bokongnya ke kursi!
"Mereka hanya bersilaturahim saja."
"Apalah Reza itu. Kak Aby begitu mesra dan romantis pada kak Mawar sedangkan aku ... ish laki-laki itu gak ada manis-manisnya sama sekali," ucap Nasya kesal.
__ADS_1
"Kok malah jadi ngedumel sendiri," ucap Bu Ratu.
"Mama tahu gak? Kalau melihat kak Aby lagi berdua sama kak Mawar hah rasanya aku ingin berada di posisi kak Mawar. Dirayu-rayu, dimanja-manja, disayang-sayang. Kak Mawar emang beruntung punya kak Aby," ucap Nasya sembari membayangkan apa yang Aby lakukan pada Mawar saat malam itu, malam dimana mereka menghabiskan waktu berdua di taman depan rumahnya sementara dirinya hanya diam dan memperhatikan mereka.
"Jangan suka ngintipin mereka. Mereka sudah menikah pastinya cara mereka berpacaran tidak boleh kamu tiru," jelas Bu Ratu.
"Perasaan mereka biasa saja, tidak pernah ada ciuman atau pun semacamnya yang aneh-aneh."
"Sebenarnya kita lagi ngomongin Reza atau kakak kamu sih?" tanya Bu Ratu.
"Ih gak jelas deh. Aku juga gak tahu kita lagi ngomongin apa," ucap Nasya sembari berhamburan memeluk Bu Ratu!
"Eh-eh ada apa ini?" tanya Bu Ratu.
"Sebentar lagi aku pasti dinikahkan dengan Reza, aku takut gak dipeluk mama lagi," ucap Nasya.
"Heh, apaan kamu ini? Mama pasti terus memeluk kamu," ucap Bu Ratu.
"Kak Aby aja setelah menikah udah gak pernah dipeluk lagi."
"Diamlah kamu. Mama pasti selalu ada untuk kamu," ucap Bu Ratu sembari memeluk Nasya dengan erat.
********
"Duh." Michelle baru tersadar dari pingsannya, ia merasakan sakit di punggungnya dan kepalanya terasa pusing.
"Mbak, kamu sudah sadar?" ucap seorang perempuan yang ada di samping Michelle.
Michelle membuka matanya dan langsung melihat ada lima orang perempuan di dalam ruangan itu bersamanya. Ia langsung berusaha untuk duduk namun kesulitan karena ternyata tangan dan kakinya terikat dengan tali.
"Kenapa aku ada di sini? Siapa kalian?" tanya Michelle.
Lima perempuan itu duduk berjejer di samping Michelle, mereka hanya bisa melihat dan tak bisa membantu Michelle karena mereka juga diikat oleh para penculik itu.
"Kita sedang disekap oleh penculik, dari yang kami dengar kita semua akan dijual dan akan dipekerjakan di club malam," jelas salah satu dari mereka.
"Maksudnya, kita akan dijadikan pekerjaan ***?" tanya Michelle.
"Sepertinya."
Michelle tak bicara lagi, dia terdiam sembari menatap orang yang datang ke tempat itu.
"Wah, gadis yang kalian tangkap ini cantik sekali kita pasarkan dengan harga tinggi pasti banyak orang yang rela kehabisan uang demi gadis ini," ucap Fian sembari menatap Michelle.
"Fian?" batin Michelle.
Fian mendekati Michelle lalu berusaha meraih dada Michelle!
"Jangan menyentuhnya!" seru Michelle sembari menjauh dari Fian.
"Sepertinya kamu galak, ini tantangan buat saya. Nanti malam kita akan bersenang-senang," ucap Fian sembari mencolok dagu Michelle.
Michelle menatap Fian dengan tatapan tajam, ada kemarahan yang sangat besar dalam dirinya tapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Bersambung