Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 271


__ADS_3

Siang hari di kantor Abymana.


Michelle baru tiba di kantor itu, dia langsung memasuki kantor itu dan langsung menuju ke ruangan kerja suaminya. Michelle nampak cuek meski beberapa karyawan di sana menatapnya dengan tatapan aneh.


Sat itu memang sudah memasuki jam makan siang, semua karyawan mulai meninggalkan meja kerjanya untuk segera makan siang dan beristirahat sebelum jam kerja dimulai lagi. Beberapa karyawan yang tahu bahwa dia adalah Michelle, menatapnya dengan tatapan mata yang tak berkedip sekali pun, mereka pangling melihat penampilan Michelle yang begitu anggun.


"Selamat siang, Mbak Michelle," ucap salah satu karyawan perempuan yang juga terpesona melihat penampilan Michelle.


"Siang juga," sahut Michelle dengan mengembangkan senyum manis di bibirnya tapi dia tak menghentikan langkahnya.


"Bisa pingsan gue kalau melihat cewek secantik dia," gumam seorang karyawan laki-laki yang belum tahu siapa Michelle.


"Apa lagi kalau lu macam-macam sama dia. Lu bisa mati satu itu juga," timpal seorang karyawan lama yang sudah tahu dan sudah kenal dengan Michelle.


"Memangnya dia siapa?" tanyanya penasaran.


"Istrinya Pak Dirga, dan satu lagi yang harus kami tahu. Dia adalah bodyguardnya Tuan Muda Abymana," jelas karyawan lainnya.


"Serius? Bodyguard penampilannya anggun begitu, sungguh meragukan."


Sebenarnya Michelle tahu orang-orang pasti sedang membicarakan dirinya tapi dirinya tidak mau ambil pusing, dia terus saja berjalan menuju ruangan kerja suaminya. Setelah tiba di depan pintu ruangan suaminya, dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dia langsung masuk ke dalam ruangan itu tapi tak menemukan sosok suaminya di sana.


"Kemana dia?" tanya Michelle didalam hatinya.


Michelle pun menutup lagi pintu itu lalu dia berjalan menuju ruangan Abymana. Belum sempat dirinya tiba di ruang Aby, dia melihat suaminya keluar dari ruangan Aby dan berjalan ke arahnya.


"Sayang!" seru Michelle pada Dirga.


Dirga yang sedang mengobrol bersama Aby pun mengangkat kepalanya dan melihat orang yang berdiri tidak jauh dari ruang kerjanya.


"Michelle," ucap Dirga sembari menatap Michelle.


Michelle berlari ke arah Dirga dan langsung berhamburan memeluk sang suami hingga berkas yang dipegang oleh Dirga jatuh ke lantai. Dirga hanya diam tanpa membalas pelukan dari istrinya itu, dia mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling tempat itu.


Dirga merasa tidak enak hati karena mereka diperhatikan oleh orang banyak termasuk Aby dan Pak Randy. Dirga yang sedikit malu hanya tersenyum tipis pada Pak Randy yang menatapnya aneh.


"M_Michelle, udah peluknya. Dilihatin banyak orang tuh," ucap Dirga.


"Kita sudah menikah. Gak akan ada yang menggerebek kita," ucap Michelle lalu mencium leher Dirga bagian samping.


Aby segera memungut berkas itu dengan suka rela. Melihat Michelle dan Dirga membuatnya sedikit iri karena dirinya jauh dari istrinya.


Sementara itu Pak Randy berjalan melewati mereka begitu saja tanpa berkomentar sedikit pun. Baginya di usia mereka sekarang memang sedang mesra-mesranya apa lagi mereka belum mempunyai keturunan dalam rumah tangga mereka


"Aku kangen banget sama kamu. Kita makan siang bersama di restoran favorit aku," ucap Michelle setelah puas memeluk Dirga.


"Kalian ini, bikin aku iri saja," ucap Aby lalu pergi meninggalkan Dirga dan Michelle.


"Kamu kenapa, Chell? Tiba-tiba jadi kayak bidadari yang jatuh dari langit," ucap Dirga.


"Maksud kamu apa?" tanya Michelle sembari menggandeng tangan Dirga dengan kepala yang dia sandarkan di pundak Dirga.


"Kamu cantik," bisik Dirga.

__ADS_1


"Mujinya bisik-bisik. Yang keras juga gak masalah lagian orang-orang juga ngerti kalau kita sudah menikah," ucap Michelle.


*******


Di kediaman Aby.


Frans dikejutkan oleh Jingga yang tiba-tiba pulang padahal gak biasanya dia pulang di jam makan siang. Dengan sigap Salman langsung membukakan gerbang untuk Jingga dan Jingga pun langsung memasuki rumah itu.


Dari jendela mobilnya, Jingga melempar senyum pada Frans yang saat itu sedang menatapnya. Frans membalas senyuman Jingga tapi dia tidak beranjak dari duduknya, dia tetap diam di tempat dalam hati yang bahagia karena kekasihnya pulang lebih cepat dari biasanya.


"Selamat siang semuanya," ucap Jingga sambil berjalan menghampiri mereka dengan membawa tentengan besar.


"Tumben pulang jam segini?" tanya Frans.


"Sengaja, aku mau makan siang bareng kamu. Nih, aku udah bawa makanan untuk kita," ucap Jingga sembari memperlihatkan bawaannya.


"Kita? Sebanyak ini?" tanya Frans.


"Nggak, dong. Ada buat dua teman kamu dan keluarga kita yang lainnya," ucap Jingga.


Sebelum pulang Jingga memang susah menelpon Bu Marisa dan mengatakan bahwa dirinya akan makan siang di rumah bersama semua anggota keluarganya yang ada di rumah.


"Mawar! Ibu! Mama! Bapak! Aku sudah tiba!" teriak Jingga pada semua keluarganya.


Dengan cepat Frans menutup mulut Jingga agar tidak berteriak lagi. "Eh, kamu ini. Kayak di hutan aja teriak-teriak," ucap Frans.


Jingga terdiam dengan tatapan mata yang tertuju pada Frans. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik lalu kemudian Frans segera melepaskan tangannya dari mulut Jingga.


"Aduh yang lagi ehem-ehem. Bikin iri aja," ucap Salman.


"Jelasin aja sampai sejelas-jelasnya," ucap Joe.


"Ada apa teriak-teriak?" ucap Pak Ija yang baru nongol lewat pintu samping.


"Pak, kita makan siang bareng. Bapak belum makan 'kan?" ucap Jingga.


"Belum. Ya udah ayo kita makan!" ajak Pak Ija.


"Siang-siang teriak-teriak. Aduh kamu itu bikin kaget aja," ucap Bu Marisa yang keluar dari pintu utama.


"Frans, Joe, Salman, ayo kita makan sama-sama di dalam!" ajak Bu Marisa.


"Terima kasih, Bu silahkan makan duluan saja. Kami biar nyusul belakangan," ucap Frans yang merasa canggung jika harus makan bersama dengan majikannya.


"Aduh kamu ini, udah mau jadi menantu masih aja ada malu-malu. Udah ayo kita makan bareng di dalam." Bu Marisa berbicara dengan santai seolah tidak ada perbedaan diantara mereka.


"Kayaknya Frans aja, kita di sini saja," ucapan Joe.


"Ya udah kita makan di sini aja," ucap Mawar.


"Eh, jangan. Masa Mbak Mawar mau makan di sini?" ucap Salman.


"Kenapa nggak ... dulu di kampung, saya makan di kebun dengan ditemani hewan seperti ayam, bebek dan cacing biasa-biasa aja tuh malah ada buaya juga yang numpang makan," ucap Mawar.

__ADS_1


"Buayanya juragan Aang ya?" celetuk Bu Ratna.


"Nah, tuh ibu tahu. Buayanya namanya juragan Aang," timpal Pak Ija.


Mawar dan kedua orang tua angkatnya pun tertawa bersama kala mengingat masa itu, masa dimana Mawar pernah dikejar-kejar oleh juragan perkebunan teh di kampungnya. Masa itu memang masa-masa sulit untuk Mawar dan orang tua angkatnya meski begitu mereka pantang menyerah hingga akhirnya Mawar tidak jadi dipinang oleh juragan tersebut.


Saat menjalankan masa itu, mereka sangat kesulitan dan begitu menguras air mata tapi saat sekarang mengingat masa itu, mereka malah tertawa karena masa lalu Mawar begitu indah meski harus berurai air mata dan menguras tenaga.


"Wah pasti Juragan Aang itu tua, gendut dan kepalanya botak dan juga punya kumis besar," ucap Jingga.


"Siapa bilang? Juragan Aang itu tampan dan masih muda. Waktu itu usianya masih sekitar tiga puluh tahunan dan dia baru pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan pendidikannya di sana," jelas Bu Ratna.


"Mana ada juragan yang masih muda," ucap Jingga.


"Juragan Aang itu anaknya tuan tanah di kampung. Anak orang paling kaya di sana dan usianya lima tahun lebih tua dari aku dan satu hal yang harus kamu tahu kalau Juragan Aang itu memang tampan tapi sayang dia playboy, karena itulah dulu aku gak mau dinikahin sama dia," ucap Mawar.


"Untung sekarang Mbak Mawar nikah sama Tuan Muda jadi kenal sama kita 'kan," ucap Joe.


"Berterima kasihlah sama mama dan papaku yang menikahkan saya dan Mas Aby," ucap Mawar.


"Udah-udah. Ayo kita makan," ucap Bu Ratna sembari menyebar piring kosong yang dia, bawa dari belakang.


"Serius nih, kita makan di sini?" tanya Salman.


"Serius, dong," ucap Mawar.


"Kamu mau lauk yang mana? Biar kuambilkan, " tanya Jingga pada Frans.


"Gak usah, saya ambil sendiri saja," sahut Frans yang merasa canggung karena makan bersama dengan keluarga Jingga.


"Gak apa, aku mau latihan jadi istri yang baik," ucap Jingga.


**********


Di kediaman Mitha.


Di ruang keluarga. Michelle dan Roger sedang asyik bersama bayi mereka, terlihat mereka begitu bahagia dengan bayi yang mereka miliki saat ini.


Dari tempat yang tak jauh dari mereka, Mitha menatap mereka dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya. Perempuan paruh baya itu ikut merasakan kebahagiaan yang kini tengah menghiasi kehidupan pasangan suami istri yang lama merindukan seorang anak dalam rumah tangga mereka.


"Ya Allah, aku tahu engkau tidak akan membiarkan anak-anakku bersedih. Aku tahu engkau telah mempersiapkan kebahagiaan untuk mereka, terima kasih atas kebahagiaan yang engkau berikan pada keluargaku," ucap Mitha di dalam hatinya.


Sementara itu di depan televisi Michaela dan Roger duduk di samping bayi itu. Mereka terus menatap bayi mereka.


"Aku sudah menemukan nama yang cocok untuk anak kita," ucap Roger sembari mengusap pucuk kepala bayinya.


"Siapa namanya?" tanya Michaela.


"Namanya Samar yang artinya pesona dan karisma," sahut Roger.


"Kenapa harus Samar? Kenapa tidak yang lain?"


"Nama ibunya Sinta dan nama ayahnya Marwan. Samar adalah gabungan dari nama Sinta dan Marwan, kita tidak boleh melupakan orang tuanya yang sudah memberikan kita kebahagiaan sebesar ini," jelas Roger.

__ADS_1


Michaela tersenyum sembari menatap sang suami. Dia begitu kagum pada sosok laki-laki yang kini duduk di hadapannya itu.


Bersambung


__ADS_2