Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 239


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Michelle langsung pergi ke tempat penyekapan untuk melihat kondisi tawanannya sekaligus untuk memberi mereka makan agar mereka tetap hidup meski dalam keadaan tertekan.


Di tempat penyekapan.


"Selamat pagi Adi, eh siang ya karena sekarang udah jam sebelas," ucap Michelle yang masih berdiri di ambang pintu ruangan yang didalamnya ada Adi.


"Kamu dari mana? Kamu akan membiarkan saya mati kelaparan hah? Dari kemarin saya tidak makan," ucap Adi yang saat itu sudah lemah karena tidak makan dan tidak minum.


"Aku memang sengaja tidak memberi kamu makan tapi kamu tenang saja, aku tidak sejahat yang kamu pikirkan," ucap Michelle.


Michelle membuka tali yang mengikat tangan Adi tapi tidak membuka tali yang mengikat tubuh dan kaki Adi. Setelah itu ia memberikan sebotol air mineral dan satu bungkus nasi.


"Ayo makan! Makan dengan baik, aku akan menemui rekan kamu dulu," ucap Michelle sembari nelenggang pergi dari ruangan itu dan berpindah pada ruangan di sebelahnya!


"Heh perempuan sial! Lepaskan saya," ucap Fian yang baru melihat Michelle hendak masuk ke dalam ruangannya.


Michelle tersenyum lebar lalu melangkah mendekati Fian!


"Aku yang sial atau kamu yang sial hah? Berani sekali kamu berkata seperti itu padaku," ucap Michelle.


Michelle menampar wajah Fian dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi Fian.


"Ah." Fian meringis kesakitan.


"Itu imbalan karena kamu tidak menjaga ucapanmu," ucap Michelle.


Michelle segera membuka tali yang mengikat tubuh Fian dan kakinya! Setelah itu ia menyeret Fian membawanya masuk ke dalam ruangan sebelah, ruangan dimana ada Adi di dalamnya!


Tanpa berkata-kata Michelle langsung mengikat kembali tibuh Fian pada kursi kayu yang sudah ada di dalam ruangan itu dan setelah itu memberi laki-laki itu makan.


"Makanlah! Sebelum aku berubah pikiran," ucap Michelle setelah memberikan nasi bungkus itu dan satu botol air minum.


Michelle duduk di depan mereka dengan mata yang terus tertuju pada mereka.


*********


Di rumah Aby.


"Acara sudah selesai, semua tamu sudah pergi dari rumah dan rumah juga sudah rapi lagi," ucap Aby.


"Iya, terus kamu mau apa?" tanya Mawar.


"Aku mau ke kantor kalian semua kalau mau pergi, pergi saja tapi ingat hati-hati jangan sampai Aditya dan Maira kenapa-kenapa," ucap Aby.


"Iya, Mas," ucap Mawar.


"Mawar pergi sama Mama dan juga ibu, kamu gak usah khawatir, Aby," ucap Bu Marisa.


"Kalau gitu aku pergi ke kantor dulu." Aby membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah tapi baru beberapa langkah Aby membalikkan tubuhnya lagi dan menghampiri Mawar!


"Kenapa balik lagi?" tanya Mawar.


Aby terus mendekati Mawar dan mengarahkan Mawar ke tempat yang agak jauh dari keluarganya!


"Jangan terlalu capek ya, nanti malam kita tempur berdua," bisik Aby di telinga Mawar.


"Ih kamu ini, apa sih?" gumam Mawar sembari mencubit perut Aby.


"Aduh, sakit," ringis Aby.


"Pergi sana! Bicaramu suka ngawur nanti didengar orang lain," ucap Mawar.

__ADS_1


"Iya-iya aku pergi. Ingat pesan aku ya," ucap Aby sembari melangkah pergi.


"Iya, nanti aku pikirkan," ucap Mawar.


"Apa?" tanya Pak Ija yang kepo terhadap percakapan antara Mawar dan Aby.


"Bukan apa-apa, Pak. Mas Aby cuma minta tiro pinky boy itu ikut semua," ucap Mawar.


"Oh. Ya udah ajak aja," ucap Pak Ija.


"Pak, Bu, Mam, aku pergi duluan ya. Kalau mau pergi hati-hati dan aku titip Aditya dan Maira ya," ucap Aby.


"Iya, pergilah," ucap Bu Ratna.


Aby pun mulai pergi sedangkan Mawar dan yang lainnya bersiap-siap untuk pergi bersenang-senang di luar.


********


Di tempat penyekapan.


"Hai, Sayang," ucap Dirga pada Michelle.


Michelle menoleh menatap ke arah suara.


"Hey, Mas kamu ngapain ke sini?" tanya Michelle.


"Aku bawa makanan untuk kamu," ucap Dirga sembari memperlihatkan paper bag yang ia bawa.


"Kamu kok harus repot-repot bawain makanan padahal aku bisa cari makan sendiri," ucap Michelle.


"Gak apa-apa, Sayang. Gimana mereka?" tanya Dirga sembari menatap pintu sebuah ruangan yang tertutup.


"Mereka aman. Kamu mau lihat?" tanya Michelle sambil terus fokus mengutak-atik laptopnya.


"Astaga, Sayang apa yang kamu lakukan pada mereka?" ucap Dirga yang melihat wajah Adi dan Fian babak belur.


"Aku baru bermain-main dengan mereka," sahut Michelle santai.


"Sejak kapan kamu menyerang orang yang sudah tidak berdaya?" tanya Dirga sembari kembali berjalan menghampiri sang istri!


"Yang satu laki-laki buaya yang sudah berniat ingin meniduri aku sedangkan yang satu lagi, laki-laki brengsek yang sudah berani menyentuh dagu ku dan berusaha menyentuh area terlarangku. Mereka pantas mendapatkan itu," jelas Michelle.


Dirga menarik napas panjang lalu membuangnya pelan.


"Terserah kamu deh, yang penting kamu bahagia," ucap Dirga.


"Kalian pacaran bukan di tempat yang tepat," ucap Aby yang tiba-tiba muncul dari luar bangunan itu.


"Dari mana saja, Pak jam segini baru muncul?" tanya Dirga pada Aby.


Dirga memang tidak mengetahui mengapa hari itu Aby tidak masuk kantor tapi sedikit pun ia tidak ingin mencari tahu kenapa Aby tidak masuk kantor padahal bisa saja dirinya bertanya pada Pak Randy tentang Aby.


"Abis nikah," sahut Aby jujur.


"Nikah?" Dirga dan Michelle menatap Aby penuh tanya.


"Sama Mawar, jangan kaget gitu kenapa?" ucap Aby karena merasa tatapan Michelle dan Dirga begitu tajam.


"Tahu tapi kan Ayah kandung Mawar belum ditemukan," ucap Dirga.


"Gak apa-apa lagian gak penting juga orang itu ditemukan toh Mawar juga gak minat mengetahui siapa ayah kandungnya," ucap Aby.

__ADS_1


"Tersangka nomor dua sudah tertangkap dan aku sudah memberikan sample darahnya pada dokter," jelas Michelle.


"Untuk target ke tiga mungkin aku perlu waktu lama karena dia bukan orang sembarangan perlu persiapan matang untuk menangkap bajingan itu," sambung Michelle.


"Aku serahkan semuanya sama kamu. Bagaimana pun caramu, aku pasti ikut," ucap Aby.


"Mereka di dalam ruangan itu, mungkin kamu mau melihat mereka," ucap Michelle.


"Tentu saja." Aby berjalan mendekat pada pintu ruangan yang ditunjukan oleh Michelle lalu membuka pintu itu!


Ia menatap dua laki-laki yang terikat kencang tapi tak sedikit pun ia mengeluarkan kata-kata pada mereka, setelah melihat mereka, Aby pun kembali menutup pintu itu.


"Selanjutnya mau diapakan mereka?" tanya Aby.


"Sampai hasil tes DNA keluar, mereka akan menghuni tempat ini dulu setelah itu baru kita pikirkan mau diapakan orang-orang itu," sahut Michelle.


*******


Di panti asuhan.


Nasya, El dan dua pemuda itu sedang asyik memakan nasi padang bersama anak-anak di panti itu. Mereka akan bersenang-senang bersama anak-anak itu untuk beberapa jam kedepan.


"Gimana, makanannya enak?" tanya Fredy pada anak-anak itu.


"Enak, Om terima kasih ya sudah membawakan makanan untuk kami," ucap salah satu anak di sana.


"Tuh anak tuyul ternyata baik juga padahal sebelumnya dia berucap yang tidak baik pada, Mbak El," celetuk Ussy.


"Anak tuyul apa maksud kamu?" tanya Nasya.


"Tuh dua cowok itu, aku ganti namanya jadi anak tuyul," ucap Ussy.


"Ish apa sih kamu, masa anak tuyul?" protes El.


"Karena mereka sudah mencuri hati kalian berdua. Kalau dipikir-pikir, Mbak El dan Mbak Nasya ini senasib deh, awal terjadinya cinta karena ada pemaksaan. Mas Reza dan Mas Fredy kan sama-sama memaksa kalian untuk jadi pacarnya," ucap Ussy.


"Tapi jangan anak tuyul juga dong, Sy," protes Reza.


"Apa? Masa anak tokek," ucap Ussy.


El dan Nasya pun tertawa mendengar perkataan Ussy yang aneh bin ajaib, bisa-bisanya dia mengganti nama dua pemuda ganteng itu menjadi anak tuyul.


**********


Di sebuah Mall besar yang ada di kota itu.


Mawar dan keluarganya sedang menghabiskan waktu bersama dengan berkeliling mencari perlengkapan baby Aditya dan Maira.


"Ibu dan Bapak boleh beli baju atau apa pun yang kalian mau, Mama juga," ucap Mawar.


"Kita gimana, Mbak?" tanya Salman.


"Pilih aja yang kalian suka biar saya yang bayar," ucap Mawar.


Saat sedang asyik bercanda dengan keluarganya tiba-tiba tawa Marisa hilang dan dia pun berubah menjadi ketakutan saat melihat Haris ada di sana.


Haris berjalan bersama istrinya melewati keluarga Mawar, mereka sangat dekat tapi tak Haris tak menyadari adanya Marisa hanya Marisa saja yang melihat dan masih mengenal wajah Haris.


"Kenapa, Ma?" tanya Mawar karena melihat Marisa yang berubah menjadi lebih pendiam.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Kita ke tempat lain saja, di sini tidak ada baku yang Mama suka," ucap Marisa.

__ADS_1


"Oh, ya sudah kita ke sebelah sana," ucap Mawar sembari berjalan lebih dahulu sedangkan Marisa terus menatap kepergian Haris yang terlihat begitu bahagia bersama istrinya.


Bersambung


__ADS_2