Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 97


__ADS_3

Di ruangan Dirga.


Dirga sudah membuka kemejanya dan kini sedang mengeringkan darah itu dengan menggunakan tissue.


Michelle masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu lalu membantu Dirga membersihkan luka itu dari darah yang terus keluar dari lukanya.


"Kenapa tidak pergi ke Dokter saja untuk mengobati luka ini?" ucap Michelle sembari terus mengelus luka itu dengan perlahan.


"Ini sudah diperiksa Dokter tapi entah kenapa lukanya gak mau kering," ucap Dirga.


"Duduklah, aku akan membantumu," ucap Michelle.


"Gak usah, aku bisa sendiri," ucap Dirga.


"Aku akan memeriksanya," ucap Michelle sambil terus fokus pada luka itu.


Dirga terdiam dan hanya menurut saja apa kata Michelle, pandangannya terus tertuju pada wajah Michelle yang terlihat begitu serius.


"Ini luka bekas sabetan senjata tajam dan sepertinya senjata itu mengandung racun karena itulah lukanya lama sembuhnya," ucap Michelle.


"Dari mana kamu tahu ini luka terkena senjata tajam? Aku tidak mengatakan apapun padamu," ucap Dirga.


"Kamu lupa apa pekerjaan aku? Aku tahu karena aku sering mengalami ini."


"Kenapa Dokter tidak mengetahui kalau ada racun yang menempel pada lukaku?"


"Butuh beberapa proses untuk mengetahui adanya sesuatu yang asing dan dapat merusak tubuh, pemeriksaan biasa tidak akan mendeteksi adanya racun mungkin kalau terus dibiarkan dan tidak diobati, lama-lama luka ini akan membesar dan membusuk."


"Lalu aku harus apa? Aku gak mau mati dalam usia muda."


Michelle menatap Dirga lalu menggelengkan kepalanya.


"Gak ada yang tahu usia kita sampai kapan. Kalau Tuhan menghendaki, tidak terluka pun kita bisa mati," ucap Michelle.


"Setidaknya kalau tidak terluka tidak menimbulkan kekhawatiran."


"Aku akan mengobati lukamu tapi tidak sekarang karena aku harus meracik obatnya dulu."


"Jangan lama-lama."


"Tentu saja, sementara ini biarkan lukanya terbuka seperti ini, jangan ditutup dengan apapun termasuk kain kasa," ucap Michelle.


"Terus gimana? Aku masih kerja ini."


"Pakai bajumu. Aku pergi, nanti malam aku akan menelponmu," ucap Michelle sembari beranjak pergi.


Saat Michelle keluar dari ruangan Dirga, ia bertemu dengan Randy.


"Michelle, kamu belum pergi?" tanya Randy.


"Ini baru mau pergi," ucap Michelle.


"Saya mau melihat Dirga katanya dia terluka."


"Iya, Pak. Luka yang dia dapat saat penyerangan di kampung ternyata masih belum sembuh juga," ucap Michelle.


"Penyerangan di kampung? Tapi mereka tidak mengatakan apa pun pada saya."


"Saat mereka dalam perjalanan ke kampung anak buahnya Roger menyerang mereka dan Dirga terluka."


"Kenapa kamu gak bilang sama saya?" tanya Randy.

__ADS_1


"Saya pikir, Dirga atau Aby sudah memberitahu Anda."


**********


Di rumah Aby.


Saat ini mereka sedang menonton video yang direkam oleh Yura saat mereka melakukan aksi kejahatannya pada Mawar.


"Tega sekali mereka melakukan ini padamu padahal orang tuanya Yura adalah orang terpandang dan Yura juga berpendidikan tapi kenapa kelakuannya tidak bermoral begini," ucap Aby.


"Aku tidak mengerti bagaimana cara berpikir mereka," ucap Mawar.


Dipertengahan video itu, Aby menatap layar ponsel itu dengan mata yang tak berkedip satu kali pun, ia terus memperhatikan gerakan tangan preman-preman itu yang sedang membuka kancing baju Mawar.


"Astaga, mereka bahkan tidak sampai menyentuh seluruhnya tapi Mawar begitu tersakiti oleh kelakuan mereka," batin Aby.


Melihat kejadian yang menimpa Mawar, membuat Aby tak habis pikir dengan apa yang Mawar rasakan dari dalam video itu ia melihat salah satu preman itu mengusap dadanya sedikit tapi Mawar begitu marah dan sangat bersedih. Awalnya ia berpikir preman-preman itu sampai memainkannya bahkan menjamah bagian lalin yang terdapat pada bagian bawah tapi nyatanya pikirannya itu salah bahkan sangat-sangat salah.


"Maafkan aku ya," ucap Mawar.


"Maaf kenapa?" tanya Aby.


"Kamu gak lihat tadi? Mereka sudah menyentuhku bahkan melihat tubuhku."


"Itu terjadi bukan karena keinginan kamu. Kamu gak bersalah jadi gak perlu minta maaf," ucap Aby.


Aby mengusap kepala Mawar lalu mencium keningnya!


"Aku gak tahu kenapa aku bisa se_sayang ini padamu," ucap Aby.


***********


"Nasya, dari tadi Mama lihat kayaknya kamu lagi kesal banget, kesal kenapa?" tanya Ratu.


"Tadi ada yang menculik kak Mawar untuk saja sekarang udah ketemu, yang bikin aku makin kesal kak Aby mau ketemuan sama cewek lain," ucap Nasya yang masih memasang raut wajah bete.


"Ada yang menculik Mawar?" Ratu menatap Nasya dengan penuh tanya.


"Iya tapi Mama tenang aja, kak Mawar udah selamat karena kan dia jagoan. Nanti Mama bilangin sama kak Aby kalau dia emang gak cinta sama kak Mawar lepasin aja kak Mawar biar aku suruh Mas ganteng yang bahagiain kak Mawar," cerocos Nasya.


"Maksud kamu apa Nak. Kakak kamu ada wanita lain? Siapa wanita itu?"


"Namanya Caroline, aku dengar sendiri dari mulut kak Aby. Rasanya aku tuh pengen menyumpal mulut kak Aby dengan kaus kaki bekas pakai," ucap Nasya.


"Keterlaluan kakak kamu tuh. Biar Mama yang mengingatkan dia, Mama mau ke rumah kakak kamu," ucap Ratu.


"Mau ngapain?" tanya Randy yang baru tiba di rumahnya.


Ratu menatap Nasya lalu tersenyum kecil pada suaminya.


"Ini lho, Pa katanya Mawar baru menjadi korban penculikan. Mama mau ke sana untuk menjenguknya," ucap Ratu.


"Papa juga mau ke sana, kita ke sana bareng aja ya. Papa mandi dulu," ucap Randy.


"Yakin, Papa mau ikut?" tanya Ratu memastikan.


"Iya," sahut Randy sembari terus berjalan menuju kamarnya.


"Jangan pernah membahas tentang perempuan itu didepan Papa kamu," ucap Ratu pada Nasya.


"Kenapa? Papa harus tahu kelakuan anak laki-lakinya sangat menyebalkan."

__ADS_1


"Kasihan kakakmu kalau Papa marah padanya. Kamu tahu kan kalau Papa marah seperti apa?" ucap Ratu.


Sebagai seorang Ibu, tentunya Ratu tak ingin anaknya dimaki oleh suaminya meski sebenarnya Randy berhak marah pada anak-anaknya tapi dirinya tak pernah rela anaknya dimarahi oleh Randy.


**********


Di kediaman Dirga.


"Aaaaaa!" Ussy berteriak saat melihat Dirga yang sedang membersihkan lukanya yang menganga.


"Ussy, kamu belum pulang?" Dirga yang terkejut langsung menutup lukanya dengan bajunya.


"I_itu kenapa Pak? Ussy takut," ucap Ussy.


"Ini bukan apa-apa. Pulanglah, jangan bicara pada siapapun tentang ini," ucap Dirga.


"T_tapi Pak, itu harus diobati. Ayo Ussy antar ke rumah sakit."


"Gak usah Sy, saya baik-baik saja."


"Pak, yakin ya gak apa-apa? Kalau kenapa-kenapa gimana?"


"Gak apa-apa, Ussy. Pulang sana daripada kamu teriak-teriak gitu nanti disangka orang saya menyakiti kamu lagi."


Ussy bergidik ngeri saat mengingat luka yang terdapat di dada Dirga. "Yaudah, Pak, Ussy pulang dulu deh."


Ussy pun segera berjalan menuju pintu rumah itu sambil sesekali menoleh ke belakang untuk melihat majikannya yang sedang membersihkan lukanya!


"Ussy, jangan ngintip nanti kamu pingsan," ucap Dirga.


"Nggak kok, Ussy cuma memastikan Bapak gak kenapa-kenapa, sayang juga kan orang ganteng mati muda matinya gak ketahuan lagi," celetuk Ussy.


"Ussy!" seru Dirga.


"M_maaf Pak, Ussy pulang dulu ya!" Ussy berlari karena takut kena marah.


Dirga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ussy yang begitu polos, bagaimana tidak, gadis itu tidak pernah berbohong, dia selalu berucap sesuai dengan yang ada dalam otaknya.


"Mati muda, amit-amit deh. Aku belum menikah masa udah mati, bukan menentang takdir tapi ... Ya Tuhan jangan sekejam ini padaku, berilah aku waktu beberapa tahun lagi agar aku dapat merasakan nikmatnya punya istri," gumam Dirga.


Sedetik kemudian pemuda itu memukul kepalanya sendiri! "Astaga, kenapa aku jadi konyol gini, masa curhat sama Tuhan gak sembahyang dulu. Jangan-jangan aku ketularan Ussy lagi dia kan kadang-kadang suka konyol," gumam Dirga lagi.


Dirga kembali membersihkan luka yang ia derita.


Tiba-tiba ponselnya yang ia letakkan di atas meja berdering tanda adanya telpon masuk.


Dirga melirik ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya. "Michelle, jam berapa ini?" gumam Dirga.


Ia pun langsung meraih ponselnya lalu menerima telpon dari Michelle.


[Halo.] ucapnya setelah menerima telponnya.


[Nanti malam aku yang datang ke rumah kamu atau ketemuan di luar?] ucap Michelle dari sebrang telpon.


[Terserah kamu. Gimana baiknya aja.]


[Kalau gitu aku yang ke rumah kamu.] Michelle langsung mematikan sambungan telponnya setelah meras pembicaraannya selesai.


Dirga menatap ponselnya, "asem banget. Niat nolongin gak sih dia?" gumam Dirga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2