Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 66


__ADS_3

"Mawar!" Galaxi berlari menghampiri Mawar yang sudah bersiap untuk pulang.


"Ya, ada apa?" sahut Mawar dengan singkat.


"Kamu ada acara gak hari ini?"


"Tidak ada, kenapa memangnya?"


"Kamu mau gak jalan sama aku, nanti sore."


"Maaf, aku tidak bisa keluar dari rumah lagi setelah aku pulang kuliah."


"Kenapa? Orang tua kamu kejam sekali."


"Jangan pernah mengatai orang tuaku. Permisi." Mawar langsung naik ke motornya lalu langsung tancap gas!


Galaxi terdiam sembari menatap kepergian Mawar.


"Makanya jangan pernah merendahkan cewek, seolah semua cewek mampu lo taklukkan. Kalau lo berhasil mendapatkan Mawar, ponsel mahal gue buat lo," ucap temannya Galaxi.


"Serius lo? Itu kan handphone mahal."


"Serius lah, gue yakin lo gak akan bisa mendapatkan Mawar."


"Gue belum mulai. Lo liat aja dalam waktu satu minggu, Mawar pasti klpek-klpek sama gue."


"Oke, satu minggu. Lewat dari itu berarti lo kalah dan gelar lo sebagai cowok yang pantang gagal dalam mendapatkan cewek akan hilang."


"Yaelah, gue gak takut kehilangan gelar itu. Yang gue takuti tuh kehilangan gelar gue sebagai cowok tertampan dan terkeren di kampus ini."


**********


"Dengar, lakukan pekerjaan kalian sesuai dengan yang udah gue jelasin tadi," ucap Yura pada dua orang preman.


"Siap, lo tenang aja yang penting bayarannya lancar."


"Soal uang lo berdua gal usah khawatir, lo tenang aja."


"Oke, tapi kita gak kerja hari ini karena hari ini kita ada urusan lain."


"Tidak maslah, yang penting kalian berdua melakukan pekerjaan kalian dengan benar."


**********


Dipinggir jalan, Mawar melihat Nasya yang duduk di bahu jalan sembari memegangi kakinya.

__ADS_1


"Nasya, kenapa dia?" gumam Mawar.


Mawar pun menghentikan laju motornya tepat di samping Nasya.


"Nasya, kamu kenapa?" tanya Mawar sembari turun dari mobilnya.


"Kak Mawar, kakak sendiri ngapain di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Mawar, Nasya malah bertanggung balik.


"Aku baru pulang kuliah dan ini rencananya mau ke kantor, mau nemuin kakak kamu."


"Wah kebetulan, aku nebeng dong. Aku juga mau ke kantor," ucap Nasya berbohong.


Sebenarnya Nasya ada janji dengan temannya tapi karena takut Mawar melihat Jingga bersamamu Aby, dirinya mengurungkan niatnya untuk pergi bersama teman-temannya dan memilih pergi bersama Mawar.


"Tapi aku cuma bawa helm satu. Bahaya kalau kamu gak pakai helm," ucap Mawar.


"Gak apa-apa kak lagian kan jarak dari sini ke kantor gak terlalu jauh-jauh amat."


"Gak boleh mengabaikan keselamatan diri sendiri. Nih kamu pakai helm kakak aja." Mawar memakaikan helmnya pada Nasya tanpa menunggu persetujuan dari Nasya terlebih dahulu.


"Kak tapi ini kan punya kakak."


"Gak apa-apa. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa karena nanti kalau kamu terluka ataupun lecet, aku yang akan kena marah."


Nasya tak berucap lagi, dia tersenyum gembira mendapatkan perhatian dari kakak iparnya itu.


**********


Di kantor.


Jingga datang dan berjalan memasuki ruangan Aby! Namun belum sampai didepan pintu ruangan sang kekasih, Aby muncul dihadapannya.


"By, kamu mau kemana?" tanya Jingga.


"Jingga, ngapain kamu ke sini?" tanya Aby.


"Aku mau nganterin makan untuk kamu makan siang." Jingga memperlihatkan rantang kecil berisi makanan yang ia beli dari salah satu restoran favoritnya.


"Tuan Muda, saya sudah memesan makanan via online untuk kita makan," ucap Dirga yang baru tiba di sana.


"Gak usah Ga, untuk Aby, aku sudah bawakan makanan spesial."


"Jingga, kamu pergi deh dari sini. Kamu gak malu apa nikung adik sendiri."


"Dirga, dengerin aku ya. Yang nikung siapa Mawar tuh siapa hah? Yang ada Mawar yang merebut posisi aku."

__ADS_1


Dirga tersenyum kecut, "gak salah kamu ngomong? Bukannya kamu yang sengaja pergi karena tak mau menikah dengan Tuan Muda."


"Aku diculik, bukan melarikan diri."


"Udah-udah, kalian jangan bikin aku pusing. Jingga tolong kamu pergi aja dari sini sebelum Papa aku tahu."


"By tapi aku mau makan bareng sama kamu sayang. Aku kangen suap-suapan sama kamu."


"Benar dugaan gue. Gak tahu malu banget lo ya jadi cewek," ucap Nasya yang baru tiba di kantor itu dan kini tengah berjalan menghampiri mereka.


"Nasya, kamu mau makan bareng kita juga?" ucap Jingga dengan tanpa rasa malu.


"Ngeliat muka lo aja udah bikin gue pengen muntah apalagi makan bareng lo! Dasar ular betina."


"Oh ternyata aku sudah keduluan sama kakak aku sendiri ya," ucap Mawar dengan nada bicara biasa saja tanpa adanya kemarahan apalagi kecemburuan yang tampak di wajahnya.


"Dasar wanita tidak tahu malu, muka tembok, ular betina. Cewek gatel lo, ulat bulu emang nih orang." Nasya terus saja mengutarakan kekesalannya pada Jingga.


"Dirga, aku udah terlanjur ke sini. Karena suami aku mau makan sama pacarnya, gimana kalau kita makan bareng?"


"Kak Mawar apaan sih, seharusnya kakak marah, kenapa malah pasrah kayak gini?" protes Nasya pada Mawar.


"Gak-gak, Mas ganteng jangan mau makan sama kak Mawar. Kak Aby yang seharusnya makan sama kak Mawar," sambung Nasya.


"Kamu kenapa Nasya? Kakak kamu aja mau makan sama aku, kenapa kamu sewot gitu?"


"Nasya, ayo kita pergi saja dari sini," ucap Mawar.


"Kak Aby kenapa diam saja? Kakak beneran mau udahan sama kak Mawar. Oke, aku akan bilang sama Papa dan aku akan memintanya untuk mengurus perceraian kalian." Nasya berjalan cepat menuju ruangan pribadi Papanya!


"Nasya! Nasya tunggu dulu!" Aby mengejar Nasya yang saat itu tengah menuju ruangan Papanya.


"Mending lo mundur aja Mawar, lo gak liat apa barusan, Aby sama sekali gak menggubris amarahnya Nasya. Itu artinya dia masih sayang sama gue," ucap Jingga setelah Aby pergi.


"Ternyata perkataan Nasya benar ya. Ternyata kamu memang muka tembok dan gak tahu malu banget. Kalau memang kamu bisa mendapatkan lagi hati Abymana, silahkan saja jangan mrmibtaku untuk mundur karena aku gak akan membiarkan kadang uangku hilang dari genggamanku. Kamu tahu kan, Abymana itu orang kaya, uangnya gak akan habis meski dimakan tujuh turunan mana mungkin aku rela melepasnya."


"Jadi kamu gak mau pergi karena Aby itu orang kaya. Dasar cewek kampung, gak mungkin Aby suka sama kamu."


Mawar tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan Jingga sementara Dirga masih terdiam dan tak percaya dengan perkataan Mawar pada Jingga.


"Kamu denger kan Dirga, cewek kampung itu cuma mau memanfaatkan Aby. Sebaiknya kamu cepetan deh bilang ini ke bos kamu itu."


"Maaf, saya sibuk. Permisi." Kini Dirga juga meninggalkan Jingga di tempat itu.


"Iiih, malah pergi. Kenapa sih ada yang mau mendengarkan gue, gak Nasya gak Dirga, semua sama aja. Aku gak bisa membiarkan ini, Aby dan semua hartanya cuma boleh jadi milik gue," gumam Jingga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2