
Beberapa hari berlalu setelah acara makan bersama Frans dan keluarga Jingga dan perubahan Michelle yang begitu drastis.
Hari ini di kediaman mamanya Dirga.
Sore itu Dirga dan Michelle datang ke rumah Bu Athalia karena sudah terlalu lama mereka tidak mengunjunginya. Dirga pun mengajak Michelle untuk menginap di rumah mamanya karena dirinya sudah rindu ingin berkumpul bersama keluarganya.
"Selamat datang, Sayang," ucap Bu Athalia sembari mencium pipi kanan dan kiri Michelle.
"Anak orang dicium-cium, anak sendiri malah dianggurin," ucap Dirga yang merasa cemburu karena sang ibu langsung memeluk Michelle dan bukan memeluk dirinya.
"Masih aja cemburu," ucap Athalia sembari memeluk sang putra dengan penuh kehangatan.
"Kamu juga mau dicium?" tanya Athalia pada Dirga.
"Gak usah, biar aku saja yang mencium Mama," ucap Dirga lalu mencium pipi sang ibu.
"Kakak. Tumben kalian datang," ucap El yang baru keluar dari kamarnya.
"Ayo duduk, biar mama buatkan minuman untuk kalian," ucap Athalia.
"Gak usah, Ma. Aku bikin sendiri aja," ucap Michelle sembari berjalan menuju dapur rumah itu.
"Michelle kayaknya agak gemukan dikit. Kayaknya dia hamil," ucap Athalia sembari menatap Michelle yang sedang berjalan menuauhi mereka.
"Hamil?" ucap Dirga penuh tanya.
"Iya. Coba besok pagi ditespek," sahut Athalia.
"Michelle gak mau. Kemarin mama juga nyuruh Michelle untuk melakukan tes kehamilan tapi dia nolak karena udah beberapa kali dibuat kecewa karena hasilnya selalu negatif," jelas Dirga.
"Coba aja lagi. Mama yakin dia sedang hamil, dari bentuk tubuhnya berbeda kalau orang lagi hamil," ucap Athalia.
"Wah, asyik nih bentar lagi punya keponakan," ucap El.
"Siapa yang mau punya keponakan?" tanya Michelle yang kembali dengan membawa minum untuknya dan juga orang-orang yang ada di sana.
"Aku, siapa lagi?" sahut El.
"Memang siapa yang hamil?" tanya Michelle lagi, kini dia meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja lalu menata gelas berisi air minum itu di meja.
"Kata mama, kamu hamil," ucap Dirga.
"Dari kapan, hamil-hamil aja tapi nyatanya gak hamil. Udah ah aku gak mau kecewa dengan berharap aku hamil," ucap Michelle.
"Kamu udah telat datang bulan belum?" tanya Athalia.
Michelle tak langsung menjawab, dia menatap sang ibu mertua lalu menatap El dan Dirga secara bergantian. Dalam hati dirinya sedang mengingat-ingat kapan terakhir dirinya mendapat tamu bulanan itu.
"Jangan malu. Dirga suamimu dan El juga sudah dewasa, dia sudah mengerti dengan obrolan semacam ini," ucap Athalia lagi.
"Bukan begitu, Ma. Aku lupa kapan aku datang bulan," ucap Michelle.
"Haish, jadwal bulanan saja sampai lupa," ucap El.
"Gimana kalau tes ulang? Nanti aku beli tespack di apotek terdekat," ucap Dirga.
"Tapi aku–"
__ADS_1
"Jangan takut. Kalau beneran kamu hamil itu artinya rezeki besar untuk kita tapi kalau ternyata belum hamil, apa salahnya mencoba lagi, lagi dan lagi," ucap Athalia.
"Betul kata mama," ucap El.
"Betul apanya?" tanya Dirga.
"Ya coba lagi bikin anak sampai berhasil kalau perlu siang malam kalian berusaha," celetuk El.
"Hey, masih kecil udah bicara gitu. Gak baik," ucap Dirga.
"Udah dua puluh empat, Kak bentar lagi nikah dan lagi kakak tenang saja, aku tidak nakal, kok." El tersenyum sembari menatap Dirga dengan tatapan penuh misteri.
"Perempuan gak akan nakal seperti anak laki-laki. Kakak kamu dulu saat masih pacaran nakalnya kebangetan," ucap Michelle.
"Nakalnya gimana, kak?" tanya El.
"Masa selama pacaran gak pernah merayu atau ngasih kata-kata gombalan dan sampai sekarang juga masih gitu," sahut Michelle.
"Sejak kapan kamu mempermasalahkan itu? Selama ini kami gak pernah menuntut aku untuk seromantis itu," ucap Dirga.
"Tuh, gak peka 'kan jadi laki-laki. Udahlah aku mau istirahat dulu," ucap Michelle.
"Ma, dimana aku boleh istirahat?" tanya Michelle pada Athalia.
"Di kamar Dirga dong. Kamu masih ingat 'kan kamar Dirga yang dulu?" ucap Athalia.
"Iya, Ma." Michelle pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Dirga.
"Tuh lihat perubahan istri kamu. Bisa jadi itu karena dia sedang hamil," ucap Athalia pada Dirga.
"Merasa terwakilkan. Kenapa bisa begitu," sambung El.
"Perempuan hamil moodnya sering berubah kadang ada yang bikin kita tidak percaya dan bikin geleng-geleng kepala. Dulu, waktu mama mengandung kamu, El mama hobi banget makan makanan Jepang padahal sebelumnya mama gak pernah makan itu karena geli," ucap Athalia.
********
Di rumah sakit tempat Haris dirawat.
Istrinya Haris terus menangis karena melihat kondisi suaminya yang terus menurun. Minggu lalu Haris menunjukkan perkembangan kesehatannya begitu baik tapi sudah tiga hari ini kondisi kesehatannya terus menurun.
Fredy dan mamanya dibuat tidak tenang oleh kondisi Haris saat ini, mereka takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada orang yang mereka cintai sementara apa yang diinginkannya belum terkabulkan. Setiap hari Haris selalu meminta bertemu dengan Mawar sedangkan dirinya tidak diperbolehkan kekuar dari rumah sakit karena kondisinya yang semakin memburuk.
Fredy dan mamanya sudah beberapa kali menelpon Bu Marisa meminta agar Mawar datang untuk menemui Haris tapi sepertinya Mawar tidak bersedia karena sampai saat ini dia belum pernah datang ke rumah sakit tersebut.
"Mawar," ucap Haris dengan suara halus.
"Pa," ucap istrinya Haris karena mendengar suara sang suami meski suaranya tidak terdengar jelas.
"Maafkan papa, Mawar," ucap Haris lagi.
"Pa, Mawar sudah memaafkan papa. Papa cepat sembuh biar kita bisa datang ke rumah Mawar karena Mawar gak bisa datang ke sini. Dia punya anak kembar yang membuatnya tidak bisa datang ke sini," ucap Fredy.
"Maafkan papa," ucap Haris lagi.
Istrinya Haris tak tega melihat suaminya seperti itu, dia ikut merasakan sakit dan siksa yang kini tengah diterima oleh sang suami. Dirinya tahu bahwa Fredy hanya berusaha membuat suaminya senang saja padahal kenyataannya Mawar memang tidak ada niat untuk menemuinya.
Perempuan paruh baya itu beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi. "Fredy, mama titip papa sebentar ya. Mama mau pulang, mama ingin beristirahat sebentar saja di rumah," ucapnya pada sang putra.
__ADS_1
"Ma, dari kemarin aku sudah bilang agar Mama istirahat di rumah saja biar aku yang menjaga papa," ucap Fredy.
"Kalau gitu mama pulang dulu." Istrinya Haris itu pun langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju pintu keluar dari rumah sakit itu.
*******
Di kediaman Mitha.
"Hai, Sayang," ucap Roger yang baru tiba di rumah.
Roger langsung berjalan menghampiri anak dan istrinya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Karena rindu, Roger pun berniat untuk memangku sang anak dan hendak mengajaknya bermain.
Namun, dengan sigap Michaela menepis tangan Roger agar tak sampai menyentuh pura kecilnya. Michaela tak ingin kotoran dari tangan sang suami menempel pada tubuh Samar.
"Jangan. Bersih-bersih dulu baru pegang Samar," ucap Michaela.
"Kamu pelit banget, aku kangen sama anak kita," ucap Roger.
"Mas, kamu baru aja tiba setelah dari luar. Kamu bisa saja membawa kuman dan menyalurkan kuman pada Samar, kamu baru boleh gendong anak kita kalau udah mandi," ucap Michaela.
"Istri kamu benar. Anak kalian ini masih sangat kecil, kulitnya masih sensitif jadi siapa pun yang mau menggendong Samar, harus steril dari kuman dan kotoran," ucap Mitha.
"Iya-iya. Oke deh aku mandi dulu," ucap Roger sembari berjalan memasuki kamarnya.
********
Setelah keluar dari rumah sakit dan sudah berkendara selama hampir dua puluh menit. Bukannya pulang ke rumahnya, istrinya Haris itu malah mendatangi rumah Abymana.
Dirinya merasa bahwa dirinya harus berbicara empat mata dengan Mawar agar Mawar mau menemui suaminya. Meski sebenarnya dirinya sudah tahu bahwa Mawar tidak akan pernah mau menuruti permintaannya tapi dirinya akan tetap mencoba membujuk Mawar.
Saat ini perempuan paruh baya itu sudah berada di depan gerbang rumah mewah milik Abymana. Dia berdiri dan mulai menekan bel yang terdapat di dinding di samping pintu gerbang tinggi itu.
Tak lama Frans membuka pintu kecil itu dan langsung melihat sosok wanita yang waktu itu pernah datang ke rumah majikannya itu. Frans menatap istrinya Haris dengan tatapan heran karena penampilannya yang terlihat kacau.
"Saya ingin bertemu Mawar. Tolong izinkan saya masuk," ucap istrinya Haris pada Frans.
"Silahkan masuk, Bu kebetulan Mbak Mawar sedang tidak sibuk," ucap Frans.
Istrinya Haris pun langsung masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri Mawar yang kebetulan sedang berada di taman yang ada di depan rumahnya. Dia berjalan cepat agar bisa segera bicara pada Mawar.
"Mawar," ucapnya pada Mawar.
Mawar berbalik badan dan langsung melihat sosok ibunya Fredy di sana. "Anda?" ucap Mawar penuh tanya.
"Saya datang untuk memohon padamu. Tolong datanglah ke rumah sakit, tolong temui susmi saya. Saya mohon, Mawar jangan biarkan suami saya tersiksa karena belum bertemu denganmu," ucap perempuan paruh baya itu dengan air mata yang sudah mengalir membanjiri pipinya.
"Saya tidak bisa. Lagipula saya sudah memaafkannya," sahut Mawar.
"Saya mohon, Mawar. Saya tahu sakit yang kamu derita selama ini tapi seharusnya kamu juga tahu sakit yang saya dan anak saya derita. Kami juga menderita karena perbuatannya di masa lalu tapi apa salahnya menemuinya walaupun hanya sekali saja. Tolong, Mawar," ucap perempuan paruh baya itu lagi.
Mawar terdiam dan tak tahu harus berkata apa. Perkataan istrinya Haris memang benar, apa salahnya untuk menemuinya toh dirinya sudah memaafkan laki-laki itu.
"Saya juga terluka saat tahu suami saya sebejat itu, Fredy juga tersakiti setelah setelah semua tahu dengan masa lalu susmi saya. Kami juga tersiksa, Mawar dan sekarang kami semakin tersiksa karena melihat dia yang sudah bertaubat sedang berjuang diantara hidup dan matinya. Sebagai seorang anak, meski kamu bukan anak yang terlahir dari suatu hubungan yang diakui seharusnya kamu punya sedikit saja rasa iba pada laki-laki itu. Laki-laki yang sudah menghadirkan kamu di dunia ini dan sudah membuat kamu tersiksa." Tanpa mengucapkan kalimat perpisahan, mamanya Fredy langsung pergi meninggalkan Mawar setelah selesai dengan semua perkataannya.
Sementara itu Mawar masih berdiri mematung dengan mulutnya yang tertutup rapat, bungkam dari seribu bahasa. Mawar hanya menatap kepergian perempuan paruh baya itu dengan tatapan sendu. Tak bisa dipungkiri, ada rasa bersalah yang mendera hatinya.
Bersambung
__ADS_1