
Kawar terus memantau pergerakan mobil Mahendra dan terus mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Papanya itu.
Semalam saat semua orang sudah tertidur lelap, diam-diam Mawar memasang alat pelacak di mobil Mahendra dan ia sambungkan pada ponselnya.
Demi mencari jawaban atas semua pertanyaannya Mawar harus bekerja keras karena tidak mungkin kekuatannya akan menjawab semua pertanyaannya.
Dari kejauhan, Mawar melihat mobil Mahendra berhenti di depan sebuah bangunan yang terlihat sepi seolah tidak ada penghuninya.
Ia membiarkan papanya itu memasuki bangunan itu dan setelah itu baru ia berjalan membuntuti Pak Mahendra!
"Maafkan aku, Papa bukannya aku tidak percaya tapi aku merasa kalian semua sedang menyembunyikan sesuatu dariku," batin Mawar sambil terus berjalan mengendap-endap memasuki bangunan itu!
"Adi," ucap Mahendra sambil berjalan memasuki ruangan itu.
"Jadi kamu yang menyuruh wanita ini menangkapku," ucap Adi.
Tanpa berkata-kata lagi Mahendra langsung memukul Adi berkali-kali!
"Pak! Pak hentikan, dia sudah tidak berdaya," ucap Michelle.
"Apa? ada Michelle juga di sini," batin Mawar yang sedang mengintip mereka dari celah pintu.
"Ini darahnya." ucap Michelle sembari memberikan darah Adi pada Pak Mahendra.
"Michelle, jangan lepaskan dia. Urusan saya belum selesai dengannya," ucap Pak Mahendra.
"Baik, Pak," sahut Michelle.
"Mau kamu apakan rambutku?" ucap Adi.
Dari luar, Mawar sangat menantikan jawaban dari Papanya atau pun Michelle tapi sepertinya mereka tidak berniat menjawab pertanyaan Adi.
"Pak, saya akan mencari dua tersangka lainnya. Anda lakukan saja tugas Anda," ucap Michelle.
"Terima kasih kamu sudah mau membantu," ucap Mahendra.
Mahendra dan Michelle berjalan keluar dari ruangan itu dan membiarkan Adi di sana sendirian!
Mawar segera menyelinap bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Michelle dan Mahendra.
"Siapa pun diantara mereka yang menjadi Ayah kandungnya Mawar, dia akan tetap saya hukum," ucap Mahendra sambil terus berjalan berdampingan dengan Michelle.
Mendengar perkataan Papanya, rasanya bagaikan disambar petir di siang bolong. Jantungnya terasa sakit dan napasnya terasa sesak seolah ia akan mati saat itu juga.
__ADS_1
"Itu artinya aku bukan anak kandung Papa Mahendra," batin Mawar.
"Pak, saya akan berusaha mencari Haris dan Fian," ucap Michelle.
"Cari sesegera mungkin. Salah satu diantara mereka adalah Ayah kandungnya Mawar," ucap Pak Mahendra.
"Jadi ini yang kalian sembunyikan dariku?" ucap Mawar yang sudah tak ingin bersembunyi lagi.
Mawar terlihat begitu sedih dan marah, terlihat dari gerakan dadanya yang naik turun dengan cepat menandakan bahwa Mawar tengah menahan emosi.
"Mawar, kenapa kamu ada di sini?" ucap Pak Mahendra.
"Kenapa Papa mengatakan padaku kalau aku ini bukan anak Papa? Siapa ayahku? Kenapa Papa ingin melakukan tes DNA pada orang itu?" ucap Mawar yang sudah berlinang air mata.
"Mawar, bukannya Papa tidak mau bicara tapi–"
"Tapi apa? Papa masih mau melindungi Mama yang ternyata sudah selingkuh? Apa ini alasan kalian membuang aku ke kampung? Kalau akhirnya akan seperti ini kenapa kalian tidak membunuh aku saja saat aku kecil," ucap Mawar.
"Mawar, tenang dulu. Semua bisa dijelaskan," ucap Michelle.
"Apa salahku? sehingga aku harus menjalani hidup yang terus-menerus bermasalah."
"Mawar, jangan menangis. Maafkan Papa, bukan maksud Papa membohongi kamu," ucap Mahendra.
"Mawar! Mawar dengar dulu penjelasan Papa," ucap Pak Mahendra sembari berlari mengejar Mawar!
"Mawar tunggu!" Michelle menggenggam pergelangan tangan Mawar dan menahannya agar tidak pergi.
Mawar berusaha melawan karena ingin lepas dari cengkraman Michelle! Mereka pun terlibat perkelahian.
"Mawar hentikan! Michelle sudah! Hentikan perkelahian kalian!" teriak Pak Mahendra yang tak bisa melakukan apa pun selain meneriaki mereka.
Karena Mawar dan Michelle sama-sama tangguh, tidak ada satu pun dari mereka yang mengalami luka atau pun terkena serangan satu sama lain.
"Sudah Mawar. Ikut aku! Michelle menarik tangan Mawar dan membawanya menaiki motornya.
"Pak Mahendra, pergi saja biar Mawar bersama saya," ucap Michelle sembari terus memegang tangan Mawar.
"Aku mau pergi. Aku mau bertemu dengan Mama, dia pasti sudah berseling. Untuk apa kamu melakukan ini tanyakan saja pada Bu Marisa siapa ayahku," ucap Mawar.
"Dengar, Mawar ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Bu Marisa tidak pernah berselingkuh," ucap Michelle.
"Lalu apa? Aku bukan anak kandung Papa Mahendra lalu aku apa?"
__ADS_1
"Ikut aku. Percayalah Mawar, kami semua ingin yang terbaik untuk kamu."
Michelle membawa Mawar pergi ke suatu tempat dimana dirinya selalu melakukan tugasnya di tempat itu!
*********
Di rumah sakit.
Mahendra sudah memberikan sampel untuk dilakukan tes DNA pada seorang dokter.
"Hasilnya minggu depan ya, Pak. Anda bisa kembali ke sini minggu depan," ucap dokter itu.
"Baik, Dokter," ucap Mahendra.
Setelah selesai dengan urusannya di rumah sakit itu Mahendra langsung pergi untuk menemui Aby dan memberitahunya bahwa Mawar sudah mengetahui semuanya!
*********
"Dengar Mawar, kamu sudah dewasa dan aku sudah dewasa sebenarnya aku tidak boleh memperlihatkan bukti ini pada siapa pun tapi karena kamu orang yang bersangkutan dalam masalah ini, aku rasa kamu harus melihatnya," ucap Michelle pada Mawar.
"Bukti apa? Aku sudah cukup jelas mendengar pembicaraan kalian tadi," ucap Mawar.
"Aku sudah cukup hancur karena terlahir dari sebuah hubungan perselingkuhan," sambung Mawar.
"Jangan berburuk sangka pada Mamamu. Lihatlah video ini," ucap Michelle sembari memutar video ini.
"Aaaaa! Pergi kalian," teriak Marisa dalam video itu.
Mawar yang semula tidak ingin melihat bukti itu langsung menatap layar laptop itu setelah mendengar suara teriakan Marisa.
"Video ini direkam dua puluh tiga tahun lalu. Si perekaman video ini sudah dihukum oleh pihak berwenang," jelas Michelle.
"Laki-laki ini bernama Haris, yang di tengah itu bernama Fian dan yang ada di bawah itu namanya Adi. Aku sudah menyimpan identitas mereka dan aku sudah tahu dimana saja mereka berada, aku akan menangkap mereka dan akan mengambil sampel darah mereka untuk dilakukan tes DNA. Sesakit apa pun hatimu, sehancur apa pun perasaanmu tapi inilah kenyataannya. Kamu harus kuat," ucap Michelle panjang lebar.
Sementara itu Mawar hanya diam dengan tatapan mata yang terus tertuju pada video itu. Air matanya mengalir deras melihat seorang perempuan yang melahirkan dirinya mendapatkan siksaan dari orang-orang tak bertanggungjawab itu.
"Kamu lihat kan, tidak ada penghianatan yang dilakukan oleh Bu Marisa. Semua ini murni karena kecelakaan, orang-orang itu adalah mantan karyawan Pak Mahendra yang membalas dendam karena mereka dipecat oleh Pak Mahendra," ucap Michelle.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Seharusnya Papa Mahendra memberitahu aku sejak awal."
"Ceritanya panjang yang pasti Pak Mahendra baru tahu kamu bukan anak kandungnya saat kamu melahirkan. Selama ini Bu Marisa memendam siksaan itu sendirian. Aku tahu ini berat bagimu, Mawar tapi cobalah untuk tenang tidak sepenuhnya Bu Marisa yang bersalah di sini. Jika ada yang harus disalahkan dia adalah tiga orang brengsek itu," jelas Michelle.
Mawar hanya diam saat Michelle terus berbicara padanya. Melihat mamanya yang tersiksa seperti itu membuat dirinya sulit untuk berkata-kata.
__ADS_1
Bersambung