Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 142


__ADS_3

"Hey, kenapa menangis?" tanya Aby sembari mengangkat dagu Mawar agar dirinya dapat melihat wajah Mawar.


"Hanya sedikit sedih. Aku gak tahu kenapa aku menangis," ucap Mawar dengan air matanya yang masih membasahi pipinya.


Saat mereka asyik berbicara serius tiba-tiba Frans mengetuk pintu kamar mereka.


"Mbak Mawar, ada seorang perempuan ingin bertemu dengan Anda," ucap Frans dari luar.


"Siapa? Jangan-jangan Ibu kamu?" ucap Aby.


"Suruh dia menunggu," ucap Mawar pada Frans.


"Gak tahu juga tapi kalau Bu Marisa dan Jingga yang datang, Frans kan kenal sama mereka. Aku temui dia dulu deh," ucap Mawar.


"Aku ikut," ucap Aby.


Mereka segera beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan ke ruang tamu!


"Michelle, ngapain dia datang ke sini?" ucap Aby saat melihat Michelle sedang duduk di sebuah kursi yang ada di ruang tamu rumahnya.


"Dia ada urusan denganku," ucap Mawar sembari terus berjalan.


"Hai Michelle. Cepat sekali kamu menemui aku?" ucap Mawar.


"Aku sudah bilang kalau aku akan menyelesaikan tugasku hari ini," sahut Michelle.


"Sudah aku duga, kamu pasti berhasil."


"Kalian lagi membicarakan apa?" tanya Aby.


"Urusan perempuan, laki-laki diam saja," ucap Mawar.


"Oh ya Michelle, mau minum apa?" tanya Mawar pada Michelle.


"Gak usah repot-repot," ucap Michelle.


"Ya udah biar aku yang ambilkan minum untuk kamu," ucap Aby.


"Terima kasih, Mas," ucap Mawar dengan senyumnya yang manis.


Setelah itu Mawar langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Michelle!


"Ada Aby. Apa tidak masalah kita membicarakan ini di sini?" tanya Michelle.


"Tidak apa, Mas Aby tidak akan ikut campur urusan aku," ucap Mawar.


Michelle segera mengambil surat penting milik Mahendra yang ia simpan dibalik jaket yang ia kenakan lalu menaruhnya di atas meja!


"Ini yang kamu mau, silahkan diperiksa," ucap Michelle.


Mawar meraih berkas itu lalu memeriksanya.


"Ini yang aku mau. Terima kasih sudah membantu, berapa tarif yang kamu pasang untuk pekerjaan ini?" ucap Mawar.

__ADS_1


"Tidak ada," ucap Michelle.


Mawar menatap Michelle dengan penuh tanya, mengapa Michelle tak ingin dibayar olehnya?


"Khusus untuk kamu, jasaku gratis. Selamat berjuang Mawar, aku harap orang tuamu segera sadar dari semua kekhilafan mereka," ucap Michelle.


"Terima kasih Michelle kita tidak pernah kenal sebelumnya tapi kamu sangat baik padaku," ucap Mawar.


"Minuman sudah sampai," ucap Aby sembari berjalan ke arah dua perempuan itu!


"Terima kasih, Tuan Muda," ucap Michelle.


"Tidak masalah," ucap Aby lalu duduk di samping Mawar setelah ia selesai menata minuman yang ia buat di atas meja.


"Kita pernah senasib bedanya aku dibuang oleh Mamamu karena waktu itu Mamaku mengalami depresi berat sedangkan kamu ...." Michelle menghentikan perkataannya lalu tersenyum hambar.


"Aku rasa tidak perlu mengatakannya," sambung Michelle.


"Aku dibuang karena aku terlahir sebagai anak perempuan. Ya, mungkin akulah satu-satunya anak malang di dunia ini. Anak-anak lain tidak memiliki orang tua karena orang tuanya meninggal atau sengaja dititipkan di panti asuhan karena kondisi keuangan sedangkan aku ... orang tua macam apa mereka itu sehingga tega membuangku seperti sampai yang tak berguna," ucap Mawar.


Aby yang tak mengerti dan tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan hanya bisa diam sembari mengusap punggung Mawar agar istrinya itu tidak terlalu sedih.


"Aku permisi ya," ucap Michelle setelah menyeruput minuman miliknya.


"Selamat berjuang, semoga berhasil," sambung Michelle.


"Terima kasih," sahut Mawar.


"Oh ya Mawar, besok aku akan memulai dendam ku pada Ibu dan kakakmu, aku harap kamu jangan marah padaku ya aku hanya membalas sedikit saja."


"Ya, mereka tidak akan terluka apalagi sampai berdarah, aku hanya akan membuat mereka nangis darah," ucap Michelle.


"Perkataan kamu terdengar mengerikan," ucap Aby.


"Mau bagaimana lagi, mereka sudah mengunci aku didalam toilet restoran itu," ucap Michelle lalu mulai pergi!


Aby menatap Mawar dan membiarkan Michelle pergi begitu saja.


"Apa itu?" tanya Aby sembari mengarahkan matanya pada map yang ada di atas meja.


"Sertifikat rumah dan perusahaan milik Pak Mahendra," ucap Mawar jujur.


"Michelle melakukannya untukmu?" tanya Aby lagi.


"Ya. Permainan baru akan dimulai besok dan akan selesai sebelum aku melahirkan," ucap Mawar.


"Apa yang mau kamu lakukan dengan ini?" tanya Aby sembari meraih surat-surat penting milik Mahendra.


"Aku akan memilikinya."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada mereka?"


"Seperti yang mereka lakukan padaku. Tidak akan ada luka fisik hanya luka batin saja."

__ADS_1


"Permainanmu sulit ditebak."


"Aku sudah merancang ini semua sejak beberapa tahun lalu. Mungkin keberuntungan ada dipihak ku karena itulah untuk mempermudah jalanku. Tuhan telah mempersatukan kita," ucap Mawar.


"Lakukan apa yang kamu mau, selama kamu bahagia dan bayi kita aman aku tidak akan melarangmu, siapa tahu dengan kehamilan kamu ini kamu bisa menjadi ganas seperti singa misalnya," ucap Aby.


"Ih kamu ini masa aku disama-samain dengan singa," ucap Mawar.


"Ayo kita pergi," ucap Aby.


"Kemana?" tanya Mawar.


"Makan malam. Kita belum makan," ucap Aby.


"Oh iya lupa." Mawar nyengir kuda dan menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


*********


"Dari mana kamu?" tanya Roger pada Michelle saat Michelle tiba di rumahnya.


"Bekerja," sahut Michelle sembari terus berjalan menghampiri Mitha!


"Mulai sekarang kamu tidak usah kerja lagi, ada kakak yang membiayai semua kebutuhan kamu," ucap Roger.


"Aku tahu tapi kakak tidak menutupi kebutuhan adik-adik aku di panti," ucap Michelle.


"Michelle, kamu gak perlu memikirkan mereka lagi."


"Selama ini aku hidup dengan mereka, bagaimana bisa aku tidak memikirkan mereka? Kakak pikir dari aku bayi sampai saat ini aku cuma makan tanah? Dan saat aku masih kecil sebelum aku bisa makan, makanan yang aku makan akan masuk sendiri kedalam mulutku? Nggak kan, semua karena Bu Jena, ibu Jena yang merawat aku dan membesarkan aku. Tidak mungkin aku melupakan dia dan adik-adik aku hanya karena aku sudah bertemu dengan keluarga aku," ucap Michelle.


"Michelle, bukan seperti itu maksud kakakmu," ucap Michaela.


"Lalu apa?" tanya Michelle.


"Michelle, duduk sini, Nak dekat Mama," ucap Mitha.


Michelle pun menuruti perkataan sang Mama. Dia duduk di samping kiri Mitha!


"Maksudnya, kakak kamu akan memprioritaskan kebutuhan mereka dari penghasilan salah satu restoran miliknya sebagai tanda terima kasih karena mereka sudah merawat kamu sampai seperti ini," ucap Michaela.


Michelle menatap kayak iparnya itu lalu menatap Roger.


"Maksudnya gimana?"


"Maksudnya seluruh pendapatan bulanan di salah satu restoran kayak, sepenuhnya menjadi milik panti asuhan itu," ucap Roger.


Michelle tersenyum lebar lalu berhamburan memeluk Roger!


"Terima kasih Kak, terima kasih," ucap Michelle dengan suara lirih.


Air mata kebahagiaan tak dapat terbendung lagi hingga air mata itu membasahi baju Roger.


"Anak jagoan ternyata bisa nangis juga," ucap Roger sembari terus memeluk Michelle dengan erat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2