
Plak!
Nasya menampar pipi Jingga sesaat setelah dirinya menarik tubuh gadis itu dari pelukan Aby.
Susah sudah lima belas menit setelah kepergian Mawar, bukannya pergi ke kantor, Aby malah asyik peluk-pelukan dengan Jingga. Hal itu membuat Nasya yang awalnya sedang gembira karena ingin bertemu dengan kakaknya menjadi murka dengan kelakuan sang kakak yang begitu menjijikkan baginya.
"Gak tahu malu ya kalian berdua! Heh ular liar, pergi gak lo dari sini! Pergi!" Nasya mendorong-dorong tubuh Jingga hingga keluar dari pintu rumah Aby!
"Nasya, Nasya tunggu dulu," ucap Aby mencoba menghentikan Nasya yang memaksa Jingga untuk pergi.
"Hei kalian, keluarkan ular ini dari rumah ini," ucap Nasya pada tiga orang bodyguard Aby.
Frans berjalan menghampiri mereka lalu memegangi tangan Jingga.
"Ayo Mbak," ucapnya.
"Lepaskan saya!" Jingga menarik tangannya yang dipegang oleh Frans! "Saya bisa sendiri," sambungnya.
"By, kamu diam aja liat aku diginiin sama adik kamu," ucap Jingga dengan gaya manja.
Aby hanya diam dan tak mengatakan sesuatu apapun.
"Seret dia," titah Nasya yang sudah muak pada Jingga.
Tanpa menunggu dipaksa keluar dari rumah itu, Jingga sudah langsung berjalan keluar dari rumah Aby.
"Nasya seharusnya kamu tidak seperti tadi pada Jingga," ucap Aby setelah Jingga pergi.
"Apa! Gak suka? Mau marah? Silahkan, aku gak takut. Kurang apa sih, kak Mawar itu hah? Dia cantik, dia baik, dia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Aku kecewa sama kakak, aku gak nyangka ternyata orang yang selama ini aku sayangnya tidak punya hati."
"Bukan begitu Nasya, kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lagipula tadi kami tidak melakukan apapun dan lagi Mawar juga tidak tahu, dia tidak akan kenapa-kenapa toh dia juga tidak mencintai kakak."
Plak!
Nasya menampar Aby dengan sekuat tenaganya, karena marah yang terlalu besar nafasnya berderu kencang hingga dadanya terlihat naik turun.
"Sakit? Itu tidak sebanding dengan apa yang kak Mawar rasakan saat tahu kelakuan suaminya seperti ini. Kalau memang kakak tidak ingin melanjutkan pernikahan dengan kak Mawar, lebih baik ceraikan dia, biarkan kak Mawar bahagia dengan laki-laki lain. Aku akan bilang ini ke Papa agar Papa yang mengurus perceraian kalian." Dengan air mata yang mengalir, Nasya pergi meninggalkan rumah sang kakak dalam hati yang merasakan kekecewaan yang besar!
"Nasya! Nasya tunggu dulu!"
**********
Di kampus.
"Kelas berapa kamu?" tanya Mawar pada anak pemulung itu.
"Kelas empat kak," sahutnya.
Setelah selesai sarapan, Mawar tak langsung masuk kampusnya, ia lebih memilih berbincang sebentar dengan anak itu.
__ADS_1
"Belajar yang rajin, biar pintar, biar jadi orang pintar."
"Iya kak, aku selalu semangat belajar."
"Kakek sudah tua dengan pekerjaan yang hanya menjadi seorang pemulung, rasanya kakek tidak akan bisa membiayai sekolah cucu kakek ini."
"Memangnya orang tuanya kemana?"
"Entahlah, kakek tidak tahu. Tiga tahun lalu mereka pamit untuk mencari kerja di perantauan tapi sampai saat ini kakek belum mendapatkan kabar lagi dari mereka."
Tanpa sadar, Mawar meneteskan air matanya, ternyata dirinya lebih beruntung dari anak yang kini ada di sampingnya.
Mereka memiliki nasib yang sama tapi untungnya dirinya tinggal di kampung, dirinya masih bisa menjual hasil kebun untuk biaya sekolahnya sementara anak itu tidak.
"Maaf, Kek, saya gak tahu kalau kejadiannya seperti itu."
"Tidak apa kak, lagipula aku bahagia hidup sama kakek."
"Udah siang nih, kakak masuk dulu ya." Mawar mengambil uang dari dalam tasnya.
"Ini, kakak kasih kamu seratus ribu. Lima puluh ribu tabungin dan lima puluh ribu lagi buat kamu jajan atau makan."
"Beneran kak? Ini untuk aku?"
Mawar tersenyum sambil mengangguk.
"Terimakasih." Anak itu terlihat begitu bahagia mendapatkan uang dari Mawar.
Mawar tersenyum ke arah kakek itu lalu memeluknya!
"Semoga cucu kakek dapat bersekolah sampai mendapat gelar sarjana."
"Setiap hari, temui kakak di sini ya. Jam tujuh tiga puluh kita ketemu di sini kalau gak ada tukang bubur di dalam kampus ini ada kantin. Kita makan bareng."
"Terimakasih kak."
"Tidak ada kata terimakasih dari seorang adik pada kakaknya. Mulai sekarang kamu adalah adikku."
Mawar mengusap kepala anak itu lalu pergi memasuki kampusnya!
"Jarang sekali ada orang baik seperti Mbak Mawar. Semoga dia selalu bahagia dan sehat," gumam Pak Satpam yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.
**********
Di kantor.
"Tuan Muda, tumben datang terlambat," ucap Dirga.
"Ada sedikit kendala. Kamu lihat Nasya ke sini gak?" ucap Aby.
__ADS_1
"Gak ada. Nasya kan sekolah, gak mungkin dia ke sini saat jam sekolah."
Dengan tanpa berucap sesuatu lagi, Aby berjalan memasuki ruangan pribadinya!
"Kenapa tuh orang? Tumben banget lusuh gitu, kayak baju belum disetrika."
"Pak Dirga dengan Tuan Muda diminta menghadap Pak Randy," ucap seorang karyawan pada Dirga.
"Oh, iya. Terimakasih ya." Dirga langsung berjalan menuju ruangan Pak Randy!
Saat masuk ke dalam ruangan Pak Randy ternyata Aby sudah ada di sana dan sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu bersama Pak Randy.
"Duduk Ga."
Dirga pun duduk di samping Aby!
"Apa kalian sudah siap untuk memantau pembangunan pabrik kita di kampung?"
"Kami akan pergi besok. Pembangunannya belum dimulai, besok kami baru akan melakukan peninjauan terlebih dahulu," sahut Aby.
"Kapan dimulai?"
"Dua atau tiga hari kedepan."
"Lakukan pekerjaan kalian dengan baik. Saya tidak mau ada penghalang yang terus saja mengganggu kita untuk melakukan pembangunan di sana."
"Papa tenang aja lagian mungkin mereka bukan ingin menghalangi kita untuk melakukan pembangunan di sana, bisa aja mereka itu preman yang ingin merampok kita," ucap Aby.
"Tapi kenapa setiap kalian datang ke sana selalu ada yang menghadang seolah kalian tidak diizinkan masuk ke wilayah itu."
"Eem, itu bisa kita urus nanti Pak. Kita akan cari tahu siapa mereka, bisa jadi mereka adalah orang-orang yang menginginkan lahan milik Bapaknya Mawar itu." ucap Dirga.
"Siapkan keberangkatan kalian dengan sebaik mungkin. Saya tidak ingin kalian pergi tanpa persiapan yang matang, di sana daerah rawan jangan sampai terjadi sesuatu pada kalian dan ajak beberapa orang untuk melindungi kalian di sana."
"Ada Mawar. Dia pasti bisa diandalkan," ucap Dirga.
"Kamu pikir aku ini apa hah, enak aja dilindungi sama peremuan dan lagi, emang kamu gak yakin dengan kemampuan kamu? Bukannya pernah berlatih bela diri beberapa tahun lalu," ucap Aby yang merasa diremehkan oleh Dirga.
Dirga tertawa kecil, "maaf, saya lupa kalau Tuan Muda juga jagoan."
**********
Di sebuah kafe.
Jingga tersenyum saat membayangkan kejadian tadi pagi.
"Sepertinya, Aby masih mencintai aku. Baguslah, aku tidak terlalu sulit untuk mendapatkan dia lagi. Semoga saja Aby madih bisa aku miliki," gumam Jingga.
Gadis itu akan terus berusaha untuk mendapatkan Aby karena dirinya sudah menyadari bahwa Aby lah laki-laki yang seharusnya dicintainya.
__ADS_1
Bersambung