Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 167


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Di kediaman Dirga.


"Wah ganteng banget kakak kalau gini ya," ucap Eliandra sembari meneliti Dirga dari atas sampai bawah.


"Baru nyadar kalau punya kakak ganteng?" ucap Dirga sembari merapikan kerah kemejanya.


Athalia tersenyum saat melihat putranya terlihat begitu tampan bahkan menuju kata sempurna untuk ukuran seorang anak manusia.


"Sudah siap semua?" ucap Athalia.


"Aku sih udah, tahu deh nih anak gadis satu ini," ucap Dirga.


"Udah siap kok. Ya udah ayo kita berangkat," ucap Eliandra.


"Ya udah ayo." Athalia menggandeng tangan Dirga dan Eliandra dan membawanya keluar dari rumah itu!


Hari ini mereka akan mendatangi rumah orang tua Michelle untuk membicarakan tentang hubungan Dirga dan Michelle.


Mereka pergi menggunakan mobil milik Dirga dengan Dirga yang mengemudikan mobilnya.


*******


Di kediaman Mawar.


Siang ini Mawar merasa bosan berdiam diri di dalam rumah terus, akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui Mahendra dan membantu pekerjaan Ayah kandungan itu!


"Kalian sedang menanam apa?" tanya Mawar sembari terus berjalan menghampiri Mahendra dan Jingga yang sedang asyik di kebun mereka.


"Lagi nanam bibit cabai. Gini kan ya caranya?" ucap Mahendra.


"Bibitnya bagus, mulus banget ya. Kayaknya ini jaraknya terlalu berdekatan deh Pak, nanti mereka susah berkembang kalau jaraknya terlalu rapat begini," ucap Mawar.


"Berarti yang ini kita cabut aja lagi, Pa," ucap Jingga pada Mahendra.


"Sepertinya begitu," ucap Mahendra.


"Di mana Bu Marisa?" tanya Mawar pada mereka.


"Mama lagi bersihin rumput, itu fi bawah pohon itu tapi, Mawar ada baiknya kamu jangan ke sana. Kamu tahu kan Mama benci sama kamu?" ucap Jingga.


"Ya, aku tahu aku hanya ingin melihat keadaannya saja," ucap Mawar.


"Mawar, maafkan aku ya," ucap Jingga pada Mawar.


"Papa juga. Tolong maafkan kami berdua dan juga Mama kamu," tambah Mahendra.


Mawar terdiam lalu tersenyum namun, tak menjawab perkataan mereka berdua.


Mawar menatap ke arah pohon itu dan memang ada Marisa yang sedang berdiam diri, di sana tanpa melakukan apapun. Dia hanya berdiri dengan tatapan yang mengarah pada sawah yang baru selesai dicangkul okeh Mahendra, Sepertinya Marisa sedang melamun.


"Aku lihat Bu Marisa sering melamun," ucap Mawar.


"Tidak apa-apa, Mawar mungkin Mama sedang merenung, semoga saja dia bisa menyadari kesalahannya. Membenci kamu bukanlah hal yang benar," ucap Mahendra.


Tanpa berkata apa pun Mawar melangkahkan kakinya untuk sampai pada Marisa!


"Mawar! Kamu mau kemana?" tanya Jingga.

__ADS_1


"Aku ingin melihat sawah itu, Pak Mahendra baru pertama kali nyawah bisa saja ada kesalahan dalam mencangkul atau pun menyemai padi untuk dijadikan bibit," ucap Mawar.


"Oh begitu, kalau gitu silahkan tapi maaf Papa gak bisa antar karena masih harus menyelesaikan ini dulu," ucap Mahendra.


"Tidak apa-apa lagian masih bisa terlihat dari sini kalau aku kenapa-kenapa kalian bisa melihat aku dari sini," ucap Mawar lagi.


Mawar pun langsung melanjutkan langkahnya lagi!


*******


Di kediaman Michelle.


"Yang mau ada calon mertuanya udah cantik banget," ucap Michaela pada Michelle.


Michelle yang masih duduk di depan meja rias itu tersenyum lalu menatap Michaela.


"Perasaanku aneh gini. Kayak gimana ya? Aku sendiri sulit untuk menjelaskannya," ucap Michelle.


"Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini," ucap Michaela.


"Aku udah selesai, ayo kita tunggu Dirga di ruang keluarga saja. Barusan Dirga udah mengirimi aku pesan katanya dia sudah dalam perjalanan," jelas Michelle.


"Kayaknya udah gak sabar nih pengen dilamar," goda Michaela.


Michelle tertawa kecil sambil berjalan keluar dari kamarnya.


********


Siang itu tiba-tiba angin kencang menerpa di sekitaran kediaman Mawar.


Saat itu pula Mawar melihat ranting besar yang berada tepat di atas kepala Marisa hendak jatuh dan menimpa Marisa. Ranting pohon itu patah karena tak kuasa menahan kencangnya angin yang menerpa pohon tersebut.


Marisa menoleh ke arah Mawar dan dengan tiba-tiba Mawar mendorongnya hingga terjatuh ke sawah yang ada di depannya.


Bersamaan dengan itu, ranting pohon itu terjatuh dan menimpa kaki Mawar karena Mawar terlambat menyelamatkan diri.


"Aaah," lirih Mawar.


Saat itu ia masih melihat sedikit cahaya dan dia juga masih bisa melihat Marisa dan memastikan wanita yang sudah melahirkannya itu selamat beberapa detik kemudian pandangannya berubah menjadi buram.


"Mawar!" teriak Marisa sembari berusaha bangkit dari kumbangan lumpur itu.


"Mawar!" seru Mahendra dan Jingga sambil berlari kencang ke arah Mawar.


Dengan samar-samar Mawar masih mendengar teriakan keluarganya yang berteriak memanggil namanya.


Sedikit senyuman terukir di bibirnya saat mendengar Marisa berteriak memanggilnya dengan suara yang dipenuhi kekhawatiran setelah itu Mawar tak dapat mendengar atau melihat apa-apa lagi. Mawar tak sadarkan diri.


"Mawar! Mawar bangun." Marisa menepuk-nepuk pipi Mawar agar anaknya itu tersadar lagi.


Air mata sudah membanjiri pipi Marisa saat tahu bahwa Mawar sudah tak sadarkan diri. Wanita paruh baya itu sangat panik dengan kejadian itu bahkan dia sudah tak memperdulikan tubuhnya yang kotor terkena lumpur sawah.


Sambil menunggu Mahendra dan Jingga yiba di sana Marisa berusaha menyingkirkan ranting pohon yang menindih paha Mawar!


"Mawar!" Jingga langsung menopang kepala Mawar dengan pahanya sedangkan Mahendra langsung berusaha menyingkirkan ranting pohon itu!


"Cucuku," ucap Marisa sembari memegang perut Mawar dan memastikan perut buncit itu tidak kenapa-kenapa.


"Pa, cepat Pa singkirkan pohon ini," ucap Marisa.

__ADS_1


Marisa sangat membenci Mawar tapi hari ini terlihat dengan jelas dari wajahnya bahwa ada rasa kekhawatiran yang begitu besar terhadap Mawar dalam diri Marisa.


"Aaah! Papa lagi berusaha, Ma," ucap Mahendra sembari mengangkat pohon itu.


Melihat Mahendra yang tak kuat mengangkat pohon itu. Marisa langsung berlari untuk memanggil tiga bodyguard Mawar!


"Frans! Joe! Salman!" teriak Marisa.


"Frans! Tolong!" teriak Marisa sambil terus berlari.


"Ada apa lagi nenek lampir itu?" ucap Joe sembari berjalan menuju arah suara.


"Astaghfirullah, Bu Marisa! Anda waras gak sih masuk rumah dengan keadaan begini," ucap Salman yang melihat Marisa berjalan memasuki rumah dengan tubuh yang dipenuhi lumpur.


"Tolong, tolong Mawar. Dia tertimpa ranting pohon," ucap Marisa.


"Apa!" Frans, Salman dan Joe pun langsung berlarian menuju halaman belakang rumah itu!


********


"Assalamualaikum," ucap Athalia dan Dirga sembari mengetuk pintu rumah Michelle.


Tak lama Michelle langsung membuka pintu rumahnya dan segera mencium punggung tangan Athalia.


"Mari masuk," ucap Michelle dengan raut wajah gembira.


Mereka pun melangkah memasuki rumah itu!


"Mama! Keluarga Mas Dirga udah datang," ucap Michelle memanggil Mitha yang masih berada di dalam kamarnya.


"Iya sayang," sahut Mitha sembari berjalan menghampiri mereka!


"Athalia," ucap Mitha setelah melihat mereka.


"Mitha," ucap Athalia.


Dua perempuan paruh baya itu berpelukan.


"Ya ampun kamu kok tahu ini rumah aku padahal kemarin aku lupa memberikan alamat ini," ucap Mitha.


"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu ada di sini?" ucap Athalia.


Seolah lupa dengan rencana awal, dua sahabat itu malah asyik mengobrol.


Michelle dan Dirga saling menatap. Mereka berdua merasa aneh mengapa kedua orang tua mereka terlihat begitu akrab.


"Ini rumah aku," ucap Mitha.


"Aku datang untuk melamar Michelle," ucap Athalia.


"Jadi, Dirga? Ah, Dirgantara Syaputra. Kenapa aku gak tanya nama panjangnya," ucap Mitha tak percaya.


"Michelle anak kamu? Michelle bayi yang waktu itu masih ada dalam kandungan kamu? Astaga aku tidak menyangka," ucap Athalia.


"Sepertinya mereka lupa dengan tujuan utama kita, mending pacaran yuk di sana," ucap Dirga sembari menunjuk ke arah sebuah sofa.


"Ya udah, kita pacaran dulu aja," ucap Michelle.


Sementara itu Eliandra hanya terdiam karena semua orang sibuk sendiri, hanya dirinya saja yang tak punya teman bicara di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2