
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali sekitar pukul enam pagi Michelle sudah siap untuk pergi. Dia akan memulai misinya hari ini.
"Mas, aku akan memulai misi ku hari ini," ucap Michelle pada Dirga.
"Lakukan saja. Aku mengizinkan mu melakukan ini," ucap Dirga.
"Aku mau pergi sekarang karena aku mau membuntuti Bu Marisa ke pasar," jelas Dirga.
"Kalau gitu mari aku antar kamu ke rumah Tuan Muda," ucap Dirga.
"Aku gak akan ke rumah Aby nanti kalau aku ke sana Mawar bisa curiga," ucap Michelle.
"Lalu, kamu mau kemana?"
"Aku akan pergi naik motor dan aku akan mengintai Bu Marisa lewat jalan belakang."
"Ya sudah. Kamu yang mengerti tentang semua ini, aku ikut saja apa kata kamu. Katakan ... apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?"
"Tidak ada, Mas. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, ini bahaya."
"Kamu pikir aku mau kamu kenapa-kenapa?"
Michelle mendekati Dirga lalu meraih kedua belah pipi Dirga!
"Bukan itu maksudku, Sayang. Kamu tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, kalau ada musuh menyerang dari depan aku yakin kamu pasti bisa mengatasinya karena aku tahu kamu adalah laki-laki jagoan laki-laki tangguh yang pasti tidak akan membiarkan orang di sekitarmu celaka. Masalahnya, sekarang yang ingin aku kejar ini belum tahu seberapa berbahayanya dia, kalau tiba-tiba dia menyerang mu dari belalang maka apa yang akan kamu lakukan? Kamu pasti tidak akan menyadari bahwa ada orang yang sedang mencintaimu dan seketika kamu bisa tumbang sebelum melakukan perlawanan. Percayalah, aku akan baik-baik saja dan aku ingin kamu baik-baik saja demi aku," ucap Michelle panjang lebar.
Dirga tersenyum tipis lalu meraih tangan Michelle yang kini masih menempel di pipinya!
"Aku tahu pekerjaan kamu ini berbahaya. Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini saat kamu melakukan misi meski di tempat berbahaya sekalipun tapi kali ini berbeda, aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Jujur dari semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan kamu."
"Tenanglah. Kamu merasa ketakutan karena ini misi pertama yang aku lakukan setelah kita menikah. Aku akan baik-baik saja," ucap Michelle dengan senyumannya yang tak pernah pudar dari bibirnya.
Dirga langsung memeluk Michelle dengan erat! Ia mencium Michelle sebanyak beberapa kali tanpa mengatakan sesuatu apa pun.
"Mas, ada apa denganmu? Nanti sore aku pulang jangan menyetok ciuman sampai sebanyak itu," ucap Michelle.
"Kamu ini, aku lagi serius malah bercanda. Pergilah, hati-hati dan kembalilah demi aku dan satu lagi pulang bawa cinta jangan tinggalkan cinta kamu di tempat kerja," ucap Dirga.
"Kalau gitu aku titip cinta ini padamu biar gak ketinggalan," ucap Michelle sembari tertawa kecil.
Dirga menghentikan tawa Michelle dengan mel***t bibir Michelle. Setelah beberapa detik Dirga baru melepaskannya.
__ADS_1
"Nakal kamu ya," ucap Michelle sembari memukul dada Dirga pelan.
"Biar cintanya gak ketinggalan jadi, aku mengambil cintanya sampai habis," ucap Dirga.
Michelle mengulum bibirnya lalu kembali melakukan ciuman panas itu, kali ini dia yang memulainya.
Dari luar tak sengaja Mitha melihat aksi mereka dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Wanita yang sudah mulai menua itu menggelengkan kepalanya melihat mereka yang begitu ceroboh saat akan melakukan hal seperti itu.
"Astaga mereka, rumah tangganya kaku tapi ternyata mereka begitu ...." Mitha menggantung ucapannya lalu segera pergi sebelum mereka melihatnya.
**********
Di kediaman Aby.
Di belakang rumah Aby tepatnya di tempat Mahendra dan Marisa tinggal.
Di rumah kayu itu Marisa sudah bersiap untuk pergi ke pasar. Sebenarnya udah lumayan lama ia tidak pergi ke pasar tapi untuk memancing Darko keluar dari persembunyiannya ia harus pergi ke pasar.
"Hati-hati ya, Ma," ucap Mahendra.
"Jangan khawatir, Pa selama ini dia tidak pernah menyakiti Mama apalagi ada uang yang Mama berikan padanya. Mama akan aman lagipula ada Michelle yang akan mengikuti Mama dari belakang," ucap Marisa.
"Ini uang dari Aby, nilainya sepuluh juta. Seperti yang Mama ceritakan bahwa dia selalu meminta uang dengan nominal segitu jadi, Aby memberikan uang dengan nominal segini," jelas Mahendra.
"Ini uang dari Aby?" tanya Marisa sembari memegang uang itu.
"Uang Papa habis untuk mengganti uang Aby dan keluarganya yang sudah kita pakai dulu hanya ada sedikit dan itu sudah Papa masukkan ke rekening Jingga," jelas Mahendra.
"Kalau gitu, Mama pergi dulu deh. Doakan semoga hari ini Darko bisa langsung ditangkap," ucap Marisa.
"Pasti, Ma. Papa selalu berdoa untuk kita semua," ucap Mahendra.
Di dalam rumah Aby.
Dua bayi itu menangis kencang hingga suaranya menggema di semua ruangan rumah itu.
"Ya ampun, Sayang kalian kenapa? Kenapa nangisnya bareng-bareng? Mama jadi bingung mau gendong yang mana," ucap Mawar.
Aby tersenyum melihat Mawar yang kewalahan menghadapi dua bayinya itu.
"Sini siapa yang mau Papa gendong?" ucap Aby sembari menghampiri Mawar dan bayi mereka yang sedang berada di ruang keluarga.
"Mas, kamu udah dandan rapi nanti ngompol. Mereka belum aku pakaikan popok," ucap Mawar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa hanya ngompol saja masih bisa ganti pakaian," ucap Aby sembari meraih Maira dari tempatnya.
"Jagoan Mama kenapa nangis? Pengen cucu atau pengen apa hmm?" ucap Mawar sembari menimang baby Aditya.
"Jelas dia mau asi orang dari semalam gak kamu kasih asi," ucap Aby.
"Siapa bilang? Kamu nya aja yang tidur melulu orang semalam beberapa kali mereka minum asi," ucap Mawar sembari memberi asi untuk Aditya.
"Berapa lama aku harus libur?" tanya Aby.
"Libur apa?" tanya Mawar.
"Itu."
"Itu apa, Mas? Bicara yang jelas," ucap Mawar.
"Masa gak ngerti sih? Sejak mereka lahir aku gak pernah kamu kasih kesempatan untuk mendatanginya padahal aku juga ingin memainkannya meski tidak meminum asi nya," ucap Aby dengan suara pelan karena tidak ingin terdengar oleh orang-orang rumahnya.
Mawar menatap Aby lalu tersenyum lebar. Dia mencubit pinggang Aby dengan perlahan.
"Dasar ya kamu. Sekarang giliran mereka, kamu nanti saja emang gak puas apa dulu hampir setiap hari bermain dengan benda ini," ucap Mawar.
"Ya gak akan ada puasnya lah. Jangan bertanya seperti itu padahal kamu sendiri tahu aku gak pernah puas dan gak pernah bosan dengan itu."
"Ssst! Diam ah jangan aneh-aneh nanti didengar ibu. Malu tahu," ucap Mawar.
"Yah! Yah! Benar saja si cantik ini ngompol dipangkuan Papa," ucap Aby.
"Tuh kan, apa aku bilang," ucap Mawar sembari meletakkan Aditya di tempat tidurnya lalu meraih Maira dari Aby.
"Ngompolin papa, Nak? Uluh uluh, Cayangku pagi-pagi udah ngerjain Papa masa Papanya disuruh mandi lagi padahal udah ganteng tuh Papa," ucap Mawar terus mengajak bayi itu berbicara.
Aby hanya tersenyum melihat Mawar yang begitu sayang pada anak-anaknya dan terus mengoceh seolah bayi-bayi itu sudah mengerti dengan semua perkataannya.
"Jangan hanya berdiri di situ, cepat ganti baju kamu kan harus kerja," ucap Mawar pada Aby dengan tangannya yang cekatan membuka celana baby Maira dan menggantinya.
"Iya, Mama sayang. Sekarang kamu jadi bawel ya," ucap Aby sembari berjalan menuju kamarnya.
"Kapan?" ucap Mawar.
"Sejak kamu jadi ibu," sahut Aby sambil terus berjalan.
Mawar menatap kepergian Aby lalu tersenyum.
__ADS_1
Bersambung