Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 255


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di kediaman Aby.


Pagi ini wajah Jingga terlihat lebih berbinar dari biasanya, dia nampak lebih bercahaya dibanding hari sebelum-sebelumnya.


"Pagi semuanya," ucap Jingga sembari duduk di kursi makannya.


"Pagi," sahut semua orang yang sudah berkumpul di ruang makan itu.


"Di mana kedua keponakan aku yang lucu-lucu?" tanya Jingga karena tak melihat baby Maira dan baby Aditya.


"Mereka masih tidur," jelas Mawar.


"What? Masih tidur? Tumben," ucap Jingga.


"Semalam bergadang. Kayaknya akhir-akhir ini mereka lebih suka melek dimalam hari," jelas Aby.


"Resiko kalian tuh karena gak mau pakai jasa babysitter," ucap Jingga.


"Untuk apa babysitter? Di rumah ini Mawar sudah punya dua ibu yang siap membantunya selama dua puluh empat jam," ucap Bu Marisa.


"Diberita aku sering melihat ada babysitter yang nakal, yang gak mau capek ngurus anak dan akhirnya dia berbuat sesuatu yang tidak baik. Ada yang anaknya dikasih obat tidur, ada yang anaknya gak dikasih makan, ada juga yang anaknya sering dicubit dan masih banyak lagi bentuk kejahatan mereka terhadap anak yang seharusnya mereka asuh. Meski gak semua babysitter seperti itu tapi rasnya aku takut untuk pakai jasa mereka lagipula aku juga gak kerja jadi, aku bisa seharian sama mereka, merawat dan mengurus mereka sendiri," jelas Mawar.


"Kamu benar lagipula ada Ibu dan mama yang bisa, membantu kamu merawat Aditya dan Maira," ucap Bu Ratna.


Dari kaca jendela besar yang menjadi pembatas antara taman kecil yang ada di belakang rumah dan ruangan itu, sedari tadi Frans terus menyehatkan Jingga yang terlihat lebih ceria. Sebuah senyuman terus terukir di bibirnya kala melihat orang yang dicintainya bahagia.


"Apa dari dulu kamu juga menyukai saya, Jingga? Setelah kita saling mengucapkan cinta, kamu terlihat begitu bahagia," batin Frans.


"Dulu kamu pernah sangat jahat pada Mbak Mawar tapi aku tetap jatuh cinta padamu setelah aku tahu bahwa sebenarnya kamu adalah gadis yang baik, bahkan setelah aku tahu bahwa kamu sudah tidak gadis lagi, aku tetap sayang sama kamu," batin Frans lagi.


Sebelum semua orang menyadari keberadaannya di sana. Frans segera pergi setelah melihat sang kekasih baik-baik saja. Sebenarnya dia tahu bahwa selama masih berada di dalam rumah dan area rumah semua orang akan baik-baik saja tapi entah mengapa pagi ini ingin sekali dirinya melihat sang kekasih meski tak sampai berbicara.


Frans berjalan menuju pos penjagaan depan rumah dengan melewati jalan samping dan tidak perlu masuk ke dalam rumah dulu untuk sampai di depan rumah mewah itu!


**********


Di kediaman Fredy.


"Ma, makanlah dulu. Aku suapi ya," ucap Fredy yang dengan sabar merayu sang ibu untuk makan.


"Kamu saja dulu. Mama bisa makan sendiri nanti," ucap sang ibu.


"Mama jangan terlalu memikirkan papa. Papa baik-baik saja di sana," ucap Fredy lagi.


"Tahu dari mana, kamu? Ke sana saja belum pernah," timpal sang ibu.


"Kalau papa kenapa-kenapa, pihak kepolisian pasti sudah menelpon kita."


"Pergilah ke sana, Nak! Biar bagaimana pun dia adalah papamu lagipula selama ini dia sangat menyayangi kamu, jangan karena sebuah kesalahan masa lalu, kamu membencinya dan kamu melupakan semua kasih sayangnya."


"Aku tidak pernah melupakan semua kasih sayangnya, Ma. Hanya saja aku masih belum bisa menemuinya, aku tidak sekuat yang Mama bayangkan. Maafkan aku," ucap Fredy.

__ADS_1


"Mama akan ke sana nanti siang. Kamu mau ikut?" tanya sang ibu.


"Kondisi, Mama belum sepenuhnya sehat. Perginya besok atau lusa saja karena aku tidak bisa mengantar, Mama ke sana," ucap Fredy sembari menatap sang ibu.


Perempuan paruh baya itu terdiam sembari menatap sang putra yang kini terlihat begitu lahap memakan makanan sarapannya. Perempuan paruh baya itu juga sebenarnya merasakan kekecewaan yang begitu dalam tapi dia berusaha untuk tidak tidak menampakkan kekecewaannya itu karena takut Fredy akan semakin membenci suami yang lama menemani hidupnya itu.


"Seandainya kamu tahu, Nak


Mama juga sangat kesakitan tapi kalau bukan kita yang peduli padanya saat ini, siapa lagi yang akan memperdulikan papamu itu? Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kita," batin istrinya Haris sambil terus menatap Fredy.


"Kalau gitu kamu yang jenguk papamu," ucap mamanya Fredy.


"Maaf, Ma. Aku sibuk," ucap Fredy lalu meninggalkan meja makan.


Fredy pergi tanpa menatap lagi ke belakang, dirinya tak memperdulikan sang ibu yang belum selesai dengan sarapannya itu.


"Sampai kapan kamu akan mengindari papamu, Nak? Mama tahu sebenarnya kamu kangen sama papa," gumam sang ibu sembari menatap kepergian Fredy.


**********


Di kediaman Mitha.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya," ucap Dirga sembari mengulurkan tangannya pada Michelle.


"Baru jam berapa? Biasnya juga gak sepagi ini," ucap Michelle tapi tetap mencium tangan sang suami.


"Hari ini aku ada kerjaan plus," jelas Dirga.


"Apa itu? Ada plus-plusnya segala," ucap Michelle lagi.


"Kebiasaan bos begitu," gerutu Michelle.


"Namanya bos ya emang gitu. Suka sesuka hatinya sendiri," ucap Michaela.


"Kamu juga istri suka sesuka hatimu sendiri," timpal Roger.


"Itu beda kasusnya," sergah Michaela.


"Tapi sama aja, sesuka hatimu melakukan dan mengatur kehidupan orang, untung aku suami yang baik jadi, gak pernah marah sama kamu," ucap Roger lagi.


"Debat lagi," gumam Michelle.


"Tenang, Kak pasti ada jalan terbaik untuk lepas dari masalah kalian kalau gak ada jalan lain terpaksa punya dua istri," ucap Dirga.


"Sama aja boong kalau ujung-ujungnya punya dua istri," ucap Roger.


"Urus masalah kalian masing-masing dengan sebaik mungkin dan sebijak mungkin. Michelle, apa udah telat datang bulan? Seharusnya kamu cepet hamil biar kakakmu gak dinikahin," ucap Mitha dengan santainya.


"Udah tiap malam usaha, Ma tapi belum ada tanda-tanda Michelle hamil," ucap Dirga.


Michelle mencubit pinggang Dirga hingga laki-laki itu meringis kesakitan.


"Apaan, sih, kamu?" ucap Dirga.

__ADS_1


"Jangan bilang-bilang dong," ucap Michelle.


"Udah terlanjur. Kita udah tahu kalau kalian tiap malam tembak-tembakan," ucap Roger.


"Ya, gimana gak perang terus secara istrinya tangguh dan suaminya juga gak mau kalah. Ingat gak, waktu itu pernah main borgol?" ucap Michaela.


Mitha yang tua sendiri hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan anak-anaknya yang selalu berhasil membuat dirinya bingung, heran dan tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran mereka.


"Ssst! Apaan sih kalian ini," ucap Michelle.


Mereka memang keluarga yang hangat yang tak pernah menganggap semua perkataan atau percakapan serius, suasana mencekam penuh keseriusan selalu cair dalam candaan. Mereka selalu saling mencairkan suasana saat salah satu dari mereka ada yang sedang bersedih dan sedang dalam masalah.


Seperti saat ini. Rumah tangga Roger dan Michaela sedang berada dalam masalah tapi Michelle dan Dirga tidak pernah membiarkan Michaela sedih dalam kesendirian, mereka selalu berusaha untuk tidak membiarkan Michaela sendirian.


"Pergi bekerja sana, sebelum dipecat bos," ucap Roger pada Dirga.


"Kalau mereka berani memecat aku. Aku yakin semua karyawan di sana bubar," ucap Dirga.


"Kayak yang dipentingkan aja," celetuk Michelle.


"Aku 'kan asisten terbaik. Dah lah aku pergi dulu, ada benarnya juga yang dikatakan kakak," ucap Dirga.


Dirga mencium kepala Michelle lalu mencium tangan sang ibu mertua! Setelah itu dia segera pergi meninggalkan rumah.


********


Di kediaman Abymana.


"Mau ke kantor ya?" tanya Frans pada Jingga.


"Ya, seperti biasa," sahut Jingga dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Hati-hati ya," ucap Frans.


"Aku sudah izin sama Aby dan Mawar kalau nanti siang kamu akan pergi bersamaku," jelas Jingga.


"Oh, sudah. Padahal saya baru mau izin."


"Nanti kamu datang aja ke kantor ya, aku tunggu di sana."


"Iya. Saya akan datang."


"Aku pergi," ucap Jingga sedang senyum lebar lalu mulai masuk ke dalam mobilnya!


Frans mengangguk pelan dan terus menatap kepergian Jingga.


"Kenapa gak dari dulu nyatain cinta kalau memang cinta. Untung Mbak Jingga dilamar orang kalau gak, sampai lebaran monyet pun cinta kamu akan tetap dipendam sendiri," ucap Salman yang berdiri di belakang Frans.


"Gak nyangka nenek lampir berhasil memikat hati seorang Frans Saliendra," ucap Joe.


"Apa, sih kamu? Nenek lampir itu dulu sekarang bidadarinya Frans," ucap Salman.


"Aaah, diam kalian. Sekarang Mbak Jingga udah berubah menjadi orang baik dan akan semakin baik saat setelah menjadi istriku," ucap Frans.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2