
Kini Michelle sudah berada di depan sebuah rumah yang dijaga ketat oleh orang-orang bertubuh besar dan kekar.
Michelle turun dari motornya dan memperhatikan rumah itu dari sana.
"Mungkin gak sih ini rumah si bajingan bernama Haris itu? Kenapa banyak sekali penjaga yang mengelilingi rumahnya?" batin Michelle.
Mendengar pengakuan Mahendra yang mengatakan bahwa Haris adalah mantan karyawannya dua puluh tiga tahun lalu rasanya Michelle tak percaya bahwa rumah mewah dan luas itu milik Haris Sitompul, rasanya tidak mungkin orang biasa mampu membayar bodyguard yang jumlahnya tidak sedikit itu.
"Aku akan sedikit kesulitan untuk masuk ke dalam sana. Apa yang harus aku lakukan untuk mengetahui si brengsek itu tinggal di sini atau tidak?" batin Michelle lagi sambil tetap memperhatikan rumah itu.
Saat Michelle sedang fokus menatap rumah itu tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya, Michelle pun menoleh menatap ke arah mobil itu.
"Maaf, Mbak sepertinya Anda sedang mencari sesuatu. Ada yang bisa saya bantu?" ucap seseorang pengemudi mobil itu.
"Ini, Mas, saya sedang mencari alamat rumah teman tapi kayaknya saya salah deh," sahut Michelle.
"Ini rumah orang tua saya," ucap laki-laki itu.
"Oh, mungkin benar saya sudah nyasar ke sini," ucap Michelle.
"Ada apa, Fredy?" tanya Haris yang menyembulkan kepalanya dari jendela mobilnya.
Mendengar suara seorang laki-laki, Michelle langsung mengalihkan pandangannya pada sang pemilik suara.
"Haris," batin Michelle sembari terus menatap laki-laki paruh baya itu.
"Katanya dia nyasar, Pah," ucap Fredy.
"Jadi, pemuda ini anaknya Haris. Mungkin satu atau dua tahun lebih tua dari Mawar," batin Michelle lagi.
"Maaf, Om mungkin saya tidak terlalu memperhatikan alamat detailnya makanya sampai nyasar ke sini," ucap Michelle.
"Kalau gitu, saya permisi," ucap Michelle lagi sembari meraih helmnya yang ia letakkan di spion motornya.
"Ini sudah mau maghrib, apa kamu yakin mau pergi? Dari sini menuju jalan raya jaraknya jauh lho," ucap istrinya Haris.
"Mamaku benar, lebih baik kamu melewati maghrib di rumah kami dan setelah itu aku atau orang-orang Papaku akan mengantar mu sampai ke jalan raya," ucap Fredy.
"Tidak. Terima kasih," ucap Michelle lalu memarkirkan motornya!
"E_eh!" Saat Michelle memutar arah motornya tiba-tiba motornya terguling menimpa tubuhnya.
Dengan cepat Fredy dan dua bodyguard yang berada di dalam mobil Haris membantu memindahkan motor yang menindih kaki Michelle.
"Hati-hati," ucap mamanya Fredy.
"Maaf, saya baru belajar mengendarai motor," ucap Michelle sembari berusaha berdiri.
"Terima kasih sudah membantu saya," sambung Michelle Fredy.
__ADS_1
"Siapa nama kamu?" tanya Haris sambil berjalan menghampiri Michelle.
"Michelle, Om. Kalau gitu saya permisi," ucap Michelle sambil berjalan mendekati motornya dengan kakinya yang terlihat kesakitan.
"Kembali setelah maghrib saja. Nanti anak saya yang akan mengantar kamu pulang," ucap Haris.
"Tapi, Om–"
"Ayolah, Michelle. Jangan takut, kami adalah keluarga baik-baik," ucap mamanya Fredy.
"Kalau kami gak baik, kamu boleh melaporkan kami ke polisi," ucap Fredy.
"Kalau gitu sebelumnya saya ucapkan terima kasih," ucap Michelle.
********
Di kediaman Mitha.
"Dimana Michelle ini? Jam segini belum pulang," gumam Dirga.
"Ada apa, Ga?" tanya Roger.
"Michelle belum pulang, ditelpon juga gak diangkat," sahut Dirga.
"Kemana Michelle, kenapa belum pulang?" tanya Michaela.
"Mama jangan khawatir. Tidak ada yang dapat melukai anak perempuan Mama itu, Michelle bukan perempuan biasa," ucap Roger.
"Kakak benar, Mama jangan khawatir," ucap Dirga.
"Kamu bisa bilang gini sama Mama padahal kamu juga khawatir sama Michelle," ucap Mitha.
"Aku tidak khawatir, aku hanya kangen sama anak Mama itu," ucap Dirga.
Saat mereka sedang berbincang tiba-tiba ponsel Mitha berdering bersamaan dengan suara azan maghrib yang berkumandang dari masjid terdekat dari rumah mereka.
Mitha meraih ponselnya dari atas meja lalu melihat siapa yang meneleponnya maghrib-maghrib seperti itu.
"Michelle," ucap Mitha sambil menatap Dirga sekilas lalu segera menerima telpon dari Michelle.
[Mama, aku akan pulang sehabis maghrib. Tadi aku tersesat saat mencari rumah teman untungnya ada orang-orang baik yang mengizinkan aku istirahat sebentar di rumah mereka.] jelas Michelle dari sebrang telpon.
"Di daerah mana kamu? Biar Dirga dan kakakmu menjemput kamu ke sana?" ucap Mitha.
[Tidak perlu, Ma. Aku akan pulang sebentar lagi, udah dulu ya, Ma.]
"Hati-hati, Sayang," ucap Mitha lalu mematikan sambungan telponnya.
"Semoga dia baik-baik saja, katanya Michelle tersesat saat mencari slamat rumah temannya," ucap Mitha.
__ADS_1
"Dia tidak mungkin tersesat. Seorang detektif tidak pernah tersesat," ucap Roger.
"Dia sedang menjalankan misinya. Mama jangan khawatir, perempuan tangguh itu akan pulang dengan selamat," ucap Dirga.
"Kenapa perempuan berprofesi sebagai detektif? Padahal bisa saja menjadi artis, model dan banyak lagi," ucap Michaela yang tak percaya bahwa adik iparnya ternyata begitu tangguh sedangkan dirinya sendiri, jangankan menjadi kuat demi menolong orang untuk mempertahankan kehidupannya pun ia harus bergantung pada suaminya.
"Tidak ada alasan untuk seorang wanita mengejar keinginannya. Pada dasarnya wanita memiliki hak yang sama dengan para laki-laki karena sebenarnya wanita juga dapat memiliki kekuatan yang sama dengan para laki-laki, buktinya Michelle. Dia bisa menjalankan pekerjaannya tanpa mengalami kegagalan sekali pun," ucap Dirga.
*********
Di kediaman Aby.
Saat Mawar sedang sibuk bersama anak-anaknya, Aby segera menemui Marisa dan Mahendra di belakang rumahnya. Dengan berjalan pelan sambil terus memastikan bahwa Mawar tidak mengikutinya.
Setibanya di rumah kayu tempat Mahendra dan Marisa tinggal, Aby langsung masuk ke dalam dan berbicara pada Marisa.
"Ada apa, Aby? Kamu terlihat terburu-buru sekali," ucap Bu Marisa.
"Ma, tadi siang Michelle memberitahu kalau dia sudah menangkap satu orang karena besok Michelle harus mencari dua orang lagi dan aku juga sibuk terpaksa Mama dan Papa yang harus membawa rambut atau apa pun yang dibutuhkan dari laki-laki itu untuk dilakukan tes DNA," ucap Aby.
"Mama gak mau ketemu orang itu," ucap Marisa.
"Biar Papa yang melakukannya," ucap Pak Mahendra.
Di luar rumah itu.
Mawar mendengarkan semua perbincangan mereka, belakangan ini dirinya merasa ada yang disembunyikan oleh keluarganya darinya hingga akhirnya ia memilih untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tidak ia ketahui dari suami dan juga semua keluarganya.
"Siapa orang itu, kenapa mama terdengar sangat menakuti orang itu, kenapa mereka mau melakukan tes DNA pada orang itu? Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan dariku?" batin Mawar.
Di dalam rumah.
"Kalau begitu, aku akan menyuruh Michelle untuk membuat pengamanan ketat terhadap orang itu agar Papa baik-baik saja. Aku tidak mungkin menyuruh Frans atau yang lainnya menemani Papa jadi, sebisa mungkin Papa harus menjaga diri sendiri karena Papa hanya akan datang sendiri ke tempat itu," jelas Aby.
"Papa pasti bisa, demi Mama, demi Mawar apa pun akan Papa lakukan," ucap Pak Mahendra.
"Aku percaya Papa. Aku harus segera kembali sebelum Mawar mencariku," ucap Aby.
Mendengar Aby akan segera pergi dari rumah orang tuanya, dengan sesegera mungkin Mawar pergi dari sana!
Di kamar Mawar.
Mawar berdiri di balik pintu dan menyandarkan tubuhnya di pintu itu.
"Apa yang Papa maksud? Demi Mama, demi aku. Tes DNA itu. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dari aku? Kenapa Papa melakukan itu demi aku, kenapa?" Mawar terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Begitu besar rasa penasaran yang ada dalam dirinya dan begitu banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya sama sekali.
Bersambung
__ADS_1