Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 216


__ADS_3

Setibanya di pasar tradisional itu, Marisa langsung berkeliling pasar untuk mencari dimana keberadaan Darko! Agar tidak menimbulkan kecurigaan ia membeli berbagai sayuran dan kebutuhan lainnya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Michelle terus memantau pergerakan Marisa dan kondisi sekelilingnya memastikan keamanan Marisa dan memastikan apakah ada tanda-tanda Darko akan datang.


Setelah lelah berkeliling pasar akhirnya Marisa menyerah. Sudah hampir dua jam mereka di sana tapi belum ada tanda-tanda Darko akan datang.


Marisa pun meminta izin pada Michelle untuk segera pulang karena sudah pasti Darko sedang tidak ada di sekitar pasar itu.


Marisa pun segera pulang setelah mendapat izin dari Michelle.


Michelle pun akan terus mengikuti Marisa sampai ke depan rumahnya untuk memastikan Marisa aman dari segala memungkinkan terburuk.


******


"Sy! Ussy!" teriak seseorang pada Ussy.


Ussy yang sedang asyik berjalan santai pun menghentikan langkahnya dan menatap ke belakang untuk melihat orang yang memanggil dirinya.


"Mas Joe," ucap Ussy.


"Kamu kok ada di sini?" tanya Joe.


"Saya mau kuliah. Mas sendiri, sedang apa di sini?" tanya Ussy.


"Saya sedang mencari makanan untuk sarapan," sahut Joe.


"Oh." Ussy nampak kebingungan mengapa Joe harus sarapan di luar? Apa Joe tidak punya keluarga atau memang laki-laki itu tidak sempat sarapan di rumah karena tempat kerjanya terlalu jauh dari rumah?


"Kamu kuliah di mana?"


"Di Universitas xxx," sahut Ussy.


"Bukannya Universitas itu arahnya ke sana?" ucap Jo sembari menunjuk ke arah berlawanan.


"Iya, memang di sana sebenarnya saya juga sedang ingin sarapan."


"Oh kalau gitu kita sarapan bareng aja."


"Kalau, Mas gak keberatan. Saya biasa sarapan di pinggir jalan dan tempat favorit saya di sana," ucap Ussy sembari menunjuk ke arah tukang lontong sayur yang terdapat di sekitar sana.


*******


Di kediaman Randy.


"Pa, hari ini Mama pengen ketemu cucu. Boleh kan?" tanya Ratu pada Randy saat mereka selesai sarapan.


"Boleh dong, masa Papa melarang Mama untuk menemui cucu kita," ucap Randy.


"Terima kasih, Pa. Mama tahu Papa pasti tidak akan melarang tapi tetap saja Mama harus izin Papa dulu kan," ucap Ratu.

__ADS_1


"Nasya, gimana kuliah kamu?" tanya Randy.


"Baik. Aku tidak mengalami kendala sedikit pun," ucap Nasya.


"Syukurlah kalau gitu," ucap Randy lagi.


"Permisi, Pak, Bu ada yang ingin bertemu dengan Mbak Nasya," ucap seorang asisten rumah tangga di rumah mereka.


"Selamat pagi Om, Tante," ucap Reza yang baru tiba di rumah itu.


Nasya tak jadi memakan makanannya yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya saat mendengar suara Reza. Ia menatap laki-laki si pemilik suara itu dan benar saja laki-laki itu adalah Reza.


"K_kamu ngapain ke sini?" tanya Nasya yang terkejut melihat sosok Reza di sana.


"Siapa kamu?" tanya Ratu.


"Perkenalkan nama saya Reza," ucap Reza penuh percaya diri.


"Ada keperluan apa Anda mencari Nasya?" tanya Randy yang mulai khawatir karena Reza mengenakan seragam polisi.


Randy takut anaknya melakukan sesuatu yang melanggar hukum dan polisi itu datang untuk menangkap Nasya.


"Saya ingin meminta izin untuk membawa Nasya–"


"Jangan! Memangnya anak saya salah apa sehingga harus dibawa ke kantor polisi?" ucap Ratu memotong perkataan Reza.


"Mama apaan sih. Reza ini teman aku," ucap Nasya pada Ratu.


"Teman?" ucap Randy.


"Dia ini temannya kak Aby dan sekarang karena dia jadi teman aku juga," jelas Nasya.


"Tepatnya saya ingin menjadikan Nasya teman seumur hidup saya," ucap Reza.


"Nasya masih terlalu muda untuk itu. Dia masih harus kuliah," jelas Randy.


"Kami para pengabdi negara tidak pernah jenuh meski harus menunggu lama. Banyak diantara kami yang menjalani hubungan jarak jauh karena terhalang oleh tugas, baik itu hubungan dengan pacar, istri atau pun keluarga. Saya tidak keberatan untuk menunggu Nasya satu tahun lagi sampai dia cukup umur untuk melakukan pernikahan setelah itu dia bisa melanjutkan kuliah setelah menikah. Dengan restu, Om dan Tante insyaallah saya bisa menafkahi Nasya," ucap Reza.


Nasya terdiam mematung mendengar perkataan Reza. Dirinya tak menyangka Reza akan seberani itu dihadapan kedua orang tuanya.


"Ini obrolan serius ternyata. Dudulah calon menantu!" Ratu menyambut Reza dengan ramah dan mengajaknya duduk bersama mereka di sana.


"Kamu udah sarapan belum? Kalau belum sarapan saja bersama Nasya kebetulan Om dan Tante sudah selesai sarapan," ucap Ratu.


"Nasya," ucap Randy.


Nasya mendongak menatap Papanya. "Ya, Pa," sahutnya.


"Kamu serius sama pemuda ini?" tanya Randy.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak tahu dia mau datang ke sini secepat ini," sahut Nasya.


"Bukan itu jawaban yang ingin Papa dengar. Yang Papa tanya, kamu serius mau menikah dengan pemuda ini?" ucap Randy.


"Ya ... dia pacar aku pastinya aku mau sama dia tapi tidak secepat ini juga," ucap Nasya.


"Intinya kamu mau," ucap Ratu.


"Tidak sekarang," ucap Nasya.


"Tadi pemuda ini akan menunggu sampai kamu mau. Sebagai orang tua, Papa hanya bisa merestui karena Papa tidak mungkin memaksa kamu menikah dengan laki-laki pilihan Papa," ucap Randy.


"Jadi, Mama sama Papa gak marah aku pacaran?"


"Kamu sudah tahu kan bahayanya berpacaran. Mama tidak akan marah asalkan kamu bisa jaga diri," ucap Ratu.


"Saya tidak mungkin merusak sesuatu yang saya sayangi. Sebagai polisi, saya juga tidak ingin mengotori nama baik kepolisian," ucap Reza.


"Baiklah, Om pegang kata-kata kamu ini. Sekarang udah waktunya Om pergi ke kantor," ucap Randy.


"Aku juga mau kuliah," ucap Nasya.


*******


Setibanya di pintu masuk ke tempatnya tinggal. Marisa segera turun dari taksi yang ia tumpangi dan setelah taksi itu pergi ia menatap Michelle yang ada berada jauh dari dirinya.


Michelle menggerakkan tangannya menyuruh Marisa segera masuk ke dalam karena tidak ada yang perlu mereka bahas hari ini.


Setelah mendapat perintah dari Michelle, Marisa langsung masuk dan langsung mengerjakan aktivitasnya seperti biasa.


"Marisa, lama sekali kamu di pasar?" ucap Bu Ratna yang saat itu sedang menyiram tanaman.


"Iya, Bude tadi aku mencari sayuran yang segar-segar makanya lama," sahut Marisa.


"Selamat pagi Nenek," ucap Mawar pada Marisa.


Saat itu Mawar sedang menjemur kedua bayinya di sana sambil menemani Bu Ratna menyiram tanaman.


"Hai cucu-cucu nenek," ucap Marisa menyapa baby Aditya dan Maira.


"Maaf ya Nenek belum bisa menggendong kalian, nenek masih kotor karena baru pulang dari pasar. Nenek mandi dulu habis itu kita main bersama," ucap Marisa.


"Oke, ditunggu ya, Nenek cantik," ucap Mawar.


Bu Ratna tersenyum melihat kedekatan Mawar dan Marisa, setelah hubungan mereka membaik Mawar selalu terlihat gembira dan tak pernah terlihat lagi menangis saat sendirian.


"Mawar, maafkan Mama yang sudah bersikap tidak adil padamu. Sekarang Mama gak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu tahu sebenarnya kamu bukan anak Papa Mahendra," batin Marisa.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2