Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 63


__ADS_3

Saat tengah malam, Aby terbangun dari tidurnya karena merasa ingin buang air kecil.


Dia membuka matanya lalu segera bangkit dari tidurnya! Ditatapnya Mawar yang sedang tertidur lelap di sampingnya.


"Cantik," batinnya lalu segera pergi memasuki kamar mandi!


Setelah beberapa menit, Aby kembali dan ia masih mendapati Mawar yang terlelap dengan wajah yang mengarah ke arahnya.


Perlahan dia berjalan lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Mawar! Matanya enggan sekali berkedip saat sedang menatap Mawar. Gadis itu masih terlihat cantik meski sedang tertidur pulas.


"Aku menemukan kamu yang begitu istimewa, kamu begitu berbeda dengan Jingga meski kamu dan Jingga adalah saudara kandang. Jika kita memang ditakdirkan berjodoh, aku pasti bisa melupakan Jingga secepatnya," batin Aby.


Laki-laki itu terus menatap Mawar hingga sampai Mawar membuka mata, Aby masih asyik memandangi wajah imut Mawar.


"Kamu sedang apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Mawar mengusap wajahnya dengan telapak tangannya!


"Apa aku belekan atau mungkin aku ileran?" sambungnya sembari berusaha membersihkan sudut matanya.


Aby tersenyum melihat tingkah Mawar yang menurutnya lucu.


"Kamu cantik."


"Gombal aja udah malam juga."


"Udah mau pergi sayang, udah jam tiga tuh." Aby melihat jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul tiga dinihari.


"Lanjut tidur, aku mau ke kamar mandi dulu."


Aby terdiam dengan tatapan mata yang mengikuti Mawar yang sedang berjalan menuju kamar mandi!


**********


Dikediaman Michelle.


"Nak, apa kamu yakin untuk melakukan pekerjaan ini?" tanya Jena pada Michelle.


"Bu, aku yakin. Aku harus melakukan ini demi kita, demi anak-anak itu," sahut Michelle sembari terus mengemas pakaiannya.


"Tapi untuk kebutuhan mereka setiap bulannya sudah ada donatur dari mereka yang perduli pada anak-anak yatim di sini."


"Kalau hanya mengandalkan dari mereka, Ibu sendiri tahu kan kalau tidak akan cukup untuk perbulannya."


"Michelle, Ibu takut kamu kenapa-kenapa. Kamu ini anak gadis, tidak seharusnya bekerja seperti ini. Mereka para laki-laki bukanlah tandingan para wanita."


"Ibu masih meragukan aku?"


"Bukan seperti itu, Ibu percaya kalau kamu bisa tapi untuk bekerja di luar kota seperti ini. Ibu takut."


"Ibu tidak usah khawatir, ini bukan kali pertama aku pergi jadi Ibu jangan khawatir."


Jena terdiam sembari menatap Michelle yang sedang memasukkan pakaiannya kedalam tas miliknya.


Ibu yang mana yang tak akan khawatir saat putrinya akan pergi dari rumah untuk melakukan pekerjaan yang sangat membahayakan.

__ADS_1


Jena bukanlah orang tua kandung Michelle tapi dirinya lah yang membesarkan Michelle sampai dia seperti sekarang ini, wajar saja jika Jena merasakan kekhawatiran yang teramat besar pada Michelle yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Saat itu masih pukul tiga, tiga puluh dinihari tapi Michelle dan Jena sudah terbangun dari tidurnya.


Michelle yang harus menyiapkan segala keperluannya sengaja bangun lebih awal dari biasanya karena tak ingin merepotkan ibunya.


Sedangkan Jena, dirinya tak bisa tidur nyenyak karena esok putrinya akan pergi, meski bukan pergi untuk selamanya tetap saja ada rasa gundah yang menghampiri hatinya.


"Besok Ussy akan datang, dia akan membantu Ibu untuk mengurus anak-anak."


"Ibu bisa sendiri, Nak."


"Ibu, Ibu sudah tua jadi harus ada orang yang membantu Ibu. Oh ya, Ussy juga kerja, biasanya dia pulang sekitar jam tiga sore dan selambatnya jam lima sore."


"Kamu membayarnya?"


"Tidak, dia relawan yang perduli dengan anak-anak yatim di sini. Dia gadis yang baik sayang nasibnya tidak sebaik hatinya. Nasibnya sama dengan nasibku." Michelle menundukkan kepalanya dan cairan berwarna bening pun berhasil meluncur dari pelupuk nya.


"Jangan berkata seperti itu, Nak. Nasib mu sangat baik."


"Sampai saat ini aku belum berhasil menemukan kedua orang tuaku. Aku selalu berhasil dalam melakukan pekerjaanku, aku selalu dapat menemukan apa yang ingin orang lain cari dan ketahuilah tapi aku ... aku tidak bisa menemukan mereka yang aku cari bahkan aku sendiri tidak tahu siapa mereka dan ada dimana."


"Sayang, jangan nangis. Semua orang memiliki kendala dalam hidupnya, Ibu yakin suatu saat kamu akan menemukan mereka."


"Kapan Bu? Sudah berapa tahun aku mendapat gelar terbaik sebagai seorang detektif yang pantang gagal dalam misinya tapi aku tidak pernah berhasil dalam menjalankan misi pribadiku. Aku menjadi seperti ini karena aku ingin menemukan mereka, aku ingin tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya."


Ya, sejak dari dirinya masih bayi. Michelle sudah dirawat oleh Jena di panti asuhan itu.


Dua puluh lima tahun lalu, Jena menemukan Michelle di tempat sampai yang ada didepan panti asuhan, sejak saat itulah Michelle menjadi penghuni panti itu.


**********


Pagi-pagi sekali setelah azan subuh. Ussy sudah pergi dari rumahnya menuju rumah Dirga.


Jaraknya yang tidak terlalu jauh membuat gadis itu tak pernah merasa takut meski berjalan sendiri menuju rumah majikannya itu!


"Selamat pagi Pak," ucap Ussy yang tiba-tiba muncul di dapur rumah Dirga.


Dirga terperanjat mendengar suara Ussy yang tiba-tiba.


"Ussy. Ngagetin aja. Kamu kok buka pintu gak kedengeran suaranya?" ucap Dirga.


Ussy nyengir kuda dan menampakkan deretan giginya yang rapi.


"Malah nyengir."


"Maaf Pak. Bapak lagi ngapain udah ada di dapur aja."


"Tadinya mau nyari makan tapi gak ada."


"Hah, masih pagi buta begini, Bapak udah kelaparan, tumben."


"Iya, semalam saya gak makan malam v jadi laiar deh."

__ADS_1


"Lah kalau gak makan malam, masakan yang Ussy masak pada kemana, kok bisa gak ada?"


"Saya kasih ke Pak Satpam yang ronda semalam."


"Makanya jangan sok baik kalau buat sendiri gak ada."


"Kamu nasehatin saya?"


"Iya lah, apa lagi? Lagian udah tua masa gak ngerti sih. Udah tahu belum makan malah makanannya dikasih orang."


"Semalam saya gak lapar, ya udah tolong buatkan makanan ya, apa aja deh. Saya mandi dulu." Dirga berjalan meninggalkan Ussy yang masih berdiri di tempat semula.


**********


Grep!


Aby memeluk Mawar dari belakang.


Kali ini tak ada centong ataupun sodet yang mendarat di kening laki-laki itu karena Mawar sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aby.


"Masak apa?" tanyanya dengan suara lembut.


"Ini, opor ayam. Lepasin aku, aku mau ngambil garam," ucap Mawar.


"Pacarku."


"Apa pacarku," sahut Mawar.


"Boleh minta cium?"


"Gak boleh, aku lagi sibuk lagian baru semalam kita sepakat untuk menjalani pernikahan beneran, sekarang udah minta jatah aja."


"Emang gak boleh? Kamu beruntung lho karena semalam aku gak minta jatah yang berlebihan."


"Oh iya lupa." Mawar memutar tubuhnya menjadi menghadap Aby.


Dia tersenyum lalu mencium pipi Aby sekilas dan setelah itu berjalan ke arah meja makan!


"Eh tunggu." Aby menegangi pipinya yang baru kena cium.


"Ciuman macam apa ini? Gak enak banget," sambungnya.


"Aku maunya gitu tapi kalau gak mau ya udah gak usah."


"Gimana bisa gak mau? Orang kamu udah mencium aku barusan."


"Anggap aja itu bonus buat kamu dari aku."


"Ini bonus, utamanya mana?"


"Gak tahu."


Aby merasa gemas pada Mawar yang seolah sedang memancingnya, ia pun berjalan menghampiri Mawar yang sedang sibuk merapikan meja makan! Ingin sekali dirinya nengigit bibir istrinya itu yang pintar mengeles saat dirinya meminta haknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2