
Hari ini hari minggu, Michaela dan Roger sedang bersiap untuk pergi ke rumah Abymana, untuk melamar Jingga.
"Michaela, apa kamu yakin untuk ini?" ucap Roger yang saat itu masih merasa ragu tentang keinginan sang istri.
"Aku yakin, Mas lagipula kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu. Semua ini salah kamu, dulu kamu malah menikahi aku dan bukannya Jingga yang sudah kamu nodai sebelum menikah," ucap Michaela sembari terus merias wajahnya.
"Aku tidak mencintai Jingga, jujur aku melakukan itu hanya karena sebuah dendam pada keluarga Abymana," jelas Roger.
"Apa pun alasan kamu, aku tetap ingin kamu menikahi Jingga. Aku tidak terlalu mengerti agama yang aku tahu yang kamu lakukan dengan Jingga itu adalah perbuatan dosa," ucap Michaela.
"Aku tahu aku salah," ucap Roger.
"Kita berangkat sekarang," ucap Michaela sembari beranjak dari duduknya.
Mereka pun berjalan keluar dari kamarnya!
"Udah pada rapi, mau ke mana?" tanya Michelle.
"Aku mau ke rumah orang tuanya Jingga," ucap Michaela.
"Mau ngapain?" tanya Dirga yang saat itu sedang merangkul pinggang Michelle.
"Mau melamar Jingga. Kalian mau ikut?" tanya Michaela.
"Apa!" seketika Dirga dan Michelle langsung terkejut mendengar perkataan Michaela
"Kamu serius, Nak? Lebih baik pikirkan lagi," ucap Mitha.
"Mas Roger sudah setuju, Ma jadi, tidak ada yang harus dipikirkan lagi," ucap Michaela.
"Aku setuju karena kamu yang memaksa aku," ucap Roger.
"Karena semua salah kamu," timpal Michaela.
"Kalau, Mama mau ikut juga, kami akan menunggu di depan," ucap Michaela lagi.
"Mama tidak mau ikut, sebenarnya Mama juga tidak mengizinkan pernikahan ini terjadi," ucap Mitha sembari berjalan meninggalkan mereka.
"Mama marah," ucap Dirga.
"Aku juga marah," ucap Michelle.
"Kenapa kakak menyakiti diri sendiri dengan menikahkan suaminya dengan perempuan lain," sambung Michelle.
"Mereka sudah melakukan hal diluar batas. Memangnya kamu pikir akan ada laki-laki yang mau menerima gadis yang sudah tidak suci lagi?" ucap Michaela.
"Itu salahnya, kenapa memberikan sesuatu yang seharusnya tidak diberikan pada laki-laki yang bukan suaminya," ucap Michelle lalu pergi.
"Semua orang marah. Kamu berhasil membuat mereka khawatir padamu termasuk aku," ucap Roger.
"Biarkan mereka marah lagipula mereka tidak akan bertahan lama-lama marah sama aku." Michaela menarik tangan Roger dan membawanya keluar dari rumahnya!
*******
Di kediaman Pak Randy.
"Nasya, kamu mau kemana, pagi-pagi udah rapi?" tanya Bu Ratu.
"Aku mau pergi," sahut Nasya.
"Pergi sama siapa?" tanya Pak Randy yang saat itu sedang bersantai di ruang keluarga.
"Pergi sama El dan juga Ussy dan dua anak tuyul," jelas Nasya.
"Anak tuyul?" Pak Randy dan Bu Ratu saling menatap karena tidak mengerti dengan siapa yang dimaksud dengan anak tuyul itu.
"Reza dan pacarnya El. Mereka lah anak tuyulnya," jelas Nasya seolah tahu apa yang orang tuanya pikirkan.
__ADS_1
"Kenapa anak tuyul? Reza ganteng lho," ucap Bu Ratu.
"Pacarnya El juga ganteng, mirip orang korea," ucap Nasya.
"Asisten rumah nya Mas ganteng tuh yang mengganti nama mereka jadi anak tuyul," sambung Nasya lagi.
"Ada-ada aja," ucap Pak Randy.
"Pa, Ma, aku pergi dulu ya mungkin aku akan pulang sore atau juga malam soalnya aku mau main ke panti dulu," jelas Nasya.
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan dan papa titip sesuatu buat anak-anak panti ya," ucap Pak Randy sembari bangkit dari duduknya.
"Titip apa?" tanya Nasya.
"Papa ambil dulu," sahut Pak Randy.
Nasya pun duduk di samping sang ibu yang sedang asyik membaca majalah kecantikan.
"Ma, udah lama aku gak ketemu kak Aby dan dua keponakan aku yang lucu-lucu. Hari ini kalau ada waktu, aku mau ke rumah mereka," ucap Nasya.
"Ke sana aja, Mama sama Papa juga mau ke sana tapi nunggu waktunya dulu," jelas Bu Ratu.
"Hari ini minggu, Ma kenapa gak hari ini saja?"
"Hari ini Mama ada acara sama teman arisan," jelas Bu Ratu.
Tak lama Pak Randy kembali dengan membawa amplop yang sudah terisi tebal.
"Ini, tolong berikan pada kepala panti ya," ucap Pak Randy sembari memberikan amplop tebal itu.
"Wah, tebal sekali amplopnya," ucap Nasya sembari membolak-balikan amplop coklat itu.
"Lebih banyak uang bulanan kamu, jangan iri dan jangan dikorupsi," ucap Pak Randy.
"Ngga lah, Pa ngapain juga korupsi uang yatim." Nasya tersenyum lalu mulai pergi.
Di kediaman Abymana.
"Permisi, kami ingin bertemu dengan Jingga dan orang tuanya," ucap Roger pada trio pinky boy itu.
"Oh, silahkan masuk." Frans membuka gerbang itu dan membiarkan Roger dan isterinya masuk.
"Kalian?" ucap Jingga yang baru akan keluar untuk mencari hiburan.
"Jingga, untung kamu belum pergi. Kami datang untuk melanjutkan pembicaraan kita tempo hari," ucap Michaela.
"Siapa yang datang?" tanya Pak Mahendra yang mendengar ada suara asing di luar rumah.
"Papa, ini ada seseorang yang ingin bicara dengan Papa dan Mama," ucap Jingga.
"Maaf, siapa ya?" tanya Pak Mahendra.
"Kamu?" sambung Pak Mahendra setelah melihat wajah Roger.
Ya, Pak Mahendra kenal dengan Roger karena dulu saat Roger berpacaran dengan Jingga, Roger pernah beberapa kali ke rumah Pak Mahendra.
"Iya, Pak. Saya Roger," ucap Roger.
"Mau bicara apa? Masuklah," ucap Pak Mahendra mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka semua pun berjalan memasuki rumah itu dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu sedangkan Jingga langsung pergi ke dapur untuk membuat minuman untuk mereka semua.
"Pak, bisa sekalian kami bicara dengan Ibunya Jingga?" tanya Michaela setelah mereka duduk.
"Mama, ada tamu!" seru Pak Mahendra pada Bu Marisa yang saat itu sedang berada di kamar kedua anak Aby dan Mawar.
Bu Marisa pun keluar dari kamar itu dan langsung berjalan menghampiri mereka!
__ADS_1
"Roger, kamu ngapain di sini?" tanya Bu Marisa setelah duduk di samping Pak Mahendra.
Jingga kembali dengan membawa minuman dalam gelas dan menatanya di atas meja.
"Silahkan diminum," ucap Jingga lalu duduk di samping Bu Marisa.
"Pak, Bu maksud kedatangan kami ke sini, saya ingin melamar Jingga untuk suami saya," ucap Michaela mantap.
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
Frans yang sedang meminum kopi di depan pintu itu pun langsung terbatuk setelah tidak sengaja mendengar perkataan Michaela.
"Melamar Jingga?" ucap Pak Mahendra dan Bu Marisa sembari menatap Michael.
"Iya, Pak, Bu. Saya mohon restu dari Bapak dan Ibu atas lamaran ini," ucap Michaela lagi sedangkan Roger hanya diam dalam seribu bahasa.
"Apa tidak salah? Kamu melamar Jingga untuk menjadi madu kamu?" ucap Bu Marisa.
"Iya, Bu saya serius," sahut Michaela.
"Jingga, apa yang kamu lakukan? Kenapa berhubungan dengan orang yang sudah menikah?" ucap Pak Mahendra.
Jingga hanya diam sembari menundukkan kepalanya.
Di luar rumah.
"Heh kenapa kamu? Tiba-tiba batuk-batuk," ucap Joe.
"Makanya kalau minum jangan sambil berdiri apa lagi sambil berjalan," tambah Salman.
"Tadi kesandung makanya jadi tersedak," ucap Frans yang tak ingin temannya tahu kalau dirinya terkejut mendengar ada orang yang ingin melamar Jingga.
"Duduk sini, lagian kamu ngopi kok sambil jalan," ucap Salman.
"Teman-teman, aku pergi ya. Ussy udah nunggu aku dari pagi," ucap Joe sembari berjalan pergi meninggalkan rumah.
Sebelumnya Joe sudah meminta izin untuk pergi selama beberapa jam untuk menemui sang kekasih untungnya Aby dan Mawar mengizinkannya untuk pergi.
"Punya pacar emang gitu, sering keluyuran pas hari minggu," ucap Frans.
"Aku juga mau keluar nanti pas makan siang. Si doi minta makan siang bareng," ucap Salman.
"Setelah Joe pulang kan? Aku gak mau ya jaga rumah sendirian sedangkan kalian asyik pacaran," ucap Frans.
"Makanya cari pacar, jangan jomblo aja dari zaman baheula," ucap Salman.
"Pacar kamu aja belum jelas keberadaannya, jangan-jangan cuma halu," ucap Frans yang tak mau dikatain jomblo padahal memang dirinya belum punya pacar lagi setelah putus dari pacar lamanya.
"Pacarku asli, nanti aku kenalin kalau gak percaya," ucap Salman.
Di dalam rumah.
"Kalian datang untuk melamar Jingga?" tanya Aby yang saat ini sudah berada di ruang tamu bersama mereka.
"Apa kalian yakin?" tanya Mawar.
"Saya yakin, saya harap kalian semua setuju dengan lamaran saya ini," ucap Michaela.
"Saya pasti akan bertindak adil pada kedua istri saya. Saya tidak akan men_sia-siakan mereka." Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Roger sedangkan Jingga belum mengucapkan satu patah kata pun.
"Sebagai orang tua, kami hanya bisa memberikan restu pada anak kami tapi izinkan kami bicara terlebih dahulu dengan Jingga dan tolong beri kami waktu untuk berbicara," ucap Pak Mahendra.
"Kami akan menunggu," ucap Michaela.
__ADS_1
Bersambung