
Di rumah, kini hanya ada Mawar dan Joe yang sedang berjaga, di depan rumah.
"Joe, mau kopi?" tanya Mawar.
"Gak usah, terimakasih. Saya bisa bikin sendiri," sahut Joe.
Bukan tak mau tapi Joe merasa canggung pada istrinya bosnya itu.
"Yah padahal saya udah bawain ini untuk kamu."
"Kalau udah dibuatkan, saya gak bisa nolak."
Mawar tersenyum lalu duduk di kursi yang biasa Joe dan teman-temannya nongkrong.
"Duduk Joe," ucapnya lalu menyeruput kopi miliknya sedangkan milik Joe masih berada di atas meja dan belum tersentuh sedikitpun.
"Terimakasih tapi saya di sini saja."
"Kalau kamu di situ bagaimana dengan kopinya?"
Joe tersenyum lalu meraih kopinya!
"Nona muda ngapain ke sini? Nona masih sakit, jangan keluar rumah dulu."
"Di sini bukan termasuk luar, ini masih area rumah lagipula saya udah baik-baik saja. Saya ada yang ingin ditanyakan sama kamu, apa boleh saya bertanya?"
"Oh, boleh. Mau bertanya apa?"
"Sejak kapan kamu kerja sama Aby?"
"Baru-baru ini aja," sahut Joe dengan jujur.
"Sebelumnya?"
"Sebelumnya saya bekerja tapi bukan bekerja untuk Tuan Muda."
"Oh, jadi kamu bekerja setelah Tuan Muda nikah sama saya. Apa saja tugas kalian dari Tuan Muda?"
"Awalnya Tuan Muda menyuruh kami untuk menjaga Anda agar tidak bisa keluyuran dengan bebas di luar rumah dan memastikan Anda tidak bisa keluar dari rumah ini."
"Dan sekarang? Apa dia tidak memerintahkan untuk menyiksa saya juga?"
"Tidak. Justru Tuan Muda meminta kami agar Anda tidak terluka sedikitpun selama beliau tidak ada di rumah."
*******
"Ga, kamu masih ingat gak, dengan gadis yang waktu itu nolongin saya?"
"Gadis yang mana?" Dirga bertanya balik pada sang bos.
__ADS_1
"Yang di kampungnya Mawar itu."
"Oh gadis bermasker itu. Kenapa dan ada apa dengan dia?"
"Jangan-jangan gadis itu Mawar."
Dirga menatap Abymana dengan tatapan serius.
"Kenapa Tuan Muda bisa berpikir kalau dia adalah Mawar?"
"Tadi sebelum orang tuanya Mawar pulang, mereka mengingatkan Mawar untuk berhati-hati saat dia menunjukkan kemampuannya mereka menyuruh Mawar memakai maskernya atau apapun untuk menutupi wajahnya saat dia sedang beraksi, mereka tidak ingin wajah Mawar diketahui banyak orang karena mereka takut ada orang yang mencelakai Mawar."
"Kalau gitu bisa jadi Mawar adalah gadis itu tapi apa Tuan Muda gak tanya aja langsung pada Mawar tentang kejadian waktu itu?"
"Dia susah diajak bicara, kayaknya dia benci sama saya gara-gara saya mabuk kemarin."
Dirga tertawa kecil, "mungkin dia ilfil melihat Tuan Muda yang gila."
"Nah itu dia, saya tidak tahu apa yang saya lakukan sama dia tapi dia terus saja memanggil saya ini gila dan masih gila."
"Anda serius tidak tahu atau sebenarnya hanya pura-pura tidak tahu? Sebenarnya Anda menjadikan itu kesempatan untuk dekat-dekat dengan Mawar?"
"Apa sekarang kamu yang gila? Gak mungkin saya melakukan aneh-aneh untuk mendekati Mawar."
"Tuan Muda tahu, pas saya datang ke rumah Tuan Muda waktu itu, Tuan Muda sedang menindih tubuh Mawar dan berusaha untuk menciumnya dan melakukan hal yang lebih gila."
"Serius kamu? Saya gak percaya saya melakukan itu, yang saya ingat tidak seperti itu kejadiannya."
********
"Lepaskan aku. Aku kecewa sama kamu," ucap Michaela yang sudah berderai air mata.
"Aku gak kenal sama gadis itu. Dia itu cuma orang yang ngaku-ngaku jadi pacar aku, kamu tahu kan aku ini sudah termasuk dalam pengusaha yang berhasil? Wajahku terpampang di mana-mana, mungkin saja dia melihat wajahku di televisi atau sosial media dan akhirnya dia bermimpi menjadi pacar aku."
"Tapi dia bilang dia–"
"Udah ya, aku jelaskan sama kamu nanti pas sudah di rumah. Ayo kita pulang," ucapnya dengan lembut sembari mengelus kepala Michaela.
"Roger tunggu! Roger! Roger kamu jangan lari dari aku!" Jingga terus berteriak sembari mengetuk kaca depan mobil Roger.
Roger tak menghiraukan Jingga meski gadis itu sudah memohon dan sudah menangis deras, dirinya tetap menyalakan mesin mobilnya lalu segera pergi dari tempat itu!
********
Kring!
Notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Dirga.
Dia melihat nama Michelle yang mengiriminya pesan, ia pun langsung membuka pesan video yang dikirim oleh Michelle itu.
__ADS_1
"Tuan Muda, sepertinya Anda harus melihat ini." Dirga memperlihatkan ponselnya yang sedang memutar video itu pada Aby.
Mereka pun melihat video itu bersama-sama.
"Jadi Jingga meninggalkan Tuan Muda demi laki-laki ini? Laki-laki yang sebenarnya tidak mencintai dirinya," ucap Dirga.
"Sepertinya begitu," sahut Aby sembari terus fokus pada layar ponsel Dirga.
"Saya yakin Jingga akan kembali pada Tuan Muda dan meminta ingin dinikahi oleh Tuan Muda."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Mereka sudah melakukan hubungan badan, pastinya Jingga takut hamil dan akhirnya dia akan memanfaatkan cinta tulus Tuan Muda."
"Itu bagus dong, jadi dia yang berbalik ngejar-ngejar saya."
"Kok bagus, justru ini bahaya. Bagaimana dengan Mawar nanti? Tuan Muda sudah berjanji pada orang tua Mawar kalau Tuan Muda akan mencoba bertahan dalam pernikahan kalian."
"Kamu tenang saja. Saya tahu apa yang harus saya lakukan."
"Tuan Muda jangan balik lagi sama barang bekas itu."
**********
Di rumah orang tua Jingga.
"Pa, perusahaan kita sudah mulai jalan seperti biasanya ya. Kita gak jadi bangkrut," ucap Marisa pada Mahendra.
"Itu karena kita sudah mengorbankan Mawar. Sebaiknya mulai sekarang Mama bisa menyayangi Mawar seperti Mama menyayangi Jingga," sahut Mahendra yang sedari awal sudah merasa bersalah pada putri keduanya yang tak pernah diakuinya.
"Wajar dong Mawar berkorban demi kita, Mama tuh mempertaruhkan nyawa Mama demi melahirkan dia. Mama tidak pernah meminta dia lahir jadi anak perempuan, Mama mau dia jadi anak laki-laki."
"Ma, tapi kita tidak bisa menawar takdir yang sudah Tuan berikan pada kita."
Saat mereka tengah berdebat, Jingga datang dan berlari memasuki kamarnya sembari terus menangis!
Marisa dan Mahendra menatap Jingga dengan tatapan penuh tanya.
"Jingga kamu kenapa Nak?" tanya Marisa.
Jingga tak menanggapi perkataan Marisa, dia terus berlari memasuki kamarnya!
"Kenapa lagi anak itu?" ucap Mahendra.
"Gak tahu, biasanya dia happy."
"Kamu urus tuh anak kesayangan kamu, jangan sampai dia membuat ulah lagi." Mahendra melangkah pergi meninggalkan Marisa yang masih berdiri sembari menatap ke arah kamar Jingga!
"Iih Papa, bukannya urus bareng-bareng malah pergi. Emang Papa pikir aku gak capek apa," gumam Marisa.
__ADS_1
Marisa pun mulai melangkah menuju kamar sang putri yang berada di lantai dua rumahnya!
Bersambung