
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Mawar mulai pergi dari kantor dan membuatku Mahendra mengurus kantor untuk hari itu.
"Ayo, Joe kita pulang," ucap Mawar sembari berjalan menghampiri mobilnya!
Joe berjalan cepat lalu membuka pintu mobil untuk Mawar!
Setelah itu Joe langsung mengemudikan mobilnya menuju arah jalan pulang!
Mawar duduk di kursi belakang dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya.
"Entah yang aku lakukan ini benar atau salah, aku tidak perduli aku hanya ingin mereka tahu kalau anak perempuan pun layak diakui," batin Mawar.
Kelompok mata indah Mawar mulai berkaca-kaca, sebenarnya ia tak pernah ingin menjahati mereka tapi ini jalan satu-satunya agar mereka sadar bahwa dirinya layak untuk diakui.
Dari kaca spion dalam mobilnya, Joe melihat kegelisahan yang Mawar alami, dia melihat raut wajah Mawar yang tak seperti biasanya.
"Maaf, Mbak kalau saya lancang bicara. Kalau boleh tahu, Mbak kenapa seperti ada yang sedang dipikirkan?" ucap Joe.
"Tidak. Itu cuma perasaan kamu aja kali," ucap Mawar.
Joe tersenyum hambar. "Iya, mungkin."
Joe terus fokus berkendara dan tak membuka percakapan mereka lagi.
*******
Di sebuah pemakaman.
Mitha dan Michelle berjalan melewati beberapa makam di sana!
"Masih jauh ya, Ma?" tanya Michelle.
"Bentar lagi," sahut Mitha.
Mereka terus berjalan melewati deretan makam di samping kiri dan kanan mereka hingga tibalah di samping sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama Arman.
"Ini makam Papa kamu," ucap Mitha sembari menurunkan tubuhnya dan berjongkok di sana.
Michelle menatap makam itu tanpa kata, perlahan ia merunduk hingga ia duduk dengan posisi memeluk nisan itu!
"Assalamu'alaikum, Mas ... setelah lama aku tidak datang ke sini sekarang aku datang membawa putri kita yang dulu tak sengaja aku tinggalkan," ucap Mitha dengan air matanya yang mulai berurai.
Dalam diamnya Michelle menangis sembari terus memeluk nisan itu.
Sekian lama ia mencari sosok orang tuanya dan ternyata setelah ia menemukan keluarganya baru ia ketahui bahwa ia sudah menjadi yatim saat ia masih bayi.
"Michelle, sudah, Nak jangan seperti ini. Papa kamu akan sedih kalau melihat kamu seperti ini," ucap Mitha sembari berusaha menenangkan Michelle.
"Lama aku mencari orang tuaku tapi ternyata aku sudah tidak bisa melihat Papaku," ucap Michelle.
"Nak, masih ada Mama yang akan selalu menyayangi kamu," ucap Mitha.
__ADS_1
Michelle melepas pelukannya dari nisan sang ayah lalu duduk tenang di samping Mitha.
"Mas, lihatlah putri kita sudah tumbuh dewasa, dia cantik bukan? Matanya mirip sekali dengan kamu," ucap Mitha.
Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memperhatikan mereka dengan menggunakan pakaian serba hitam dan wajah yang tertutup rapi. Orang itu terus memperhatikan Mitha dan Michelle.
*********
Setibanya di rumahnya Mawar langsung masuk ke dalam rumah!
"Joe, kamu apain Mbak Mawar? Dia nampak tergesa-gesa seprti itu?" tanya Salman.
"Sejak keluar dari kantor, Mbak Mawar terlihat gelisah. Jangan tanya aku kenapa Mbak Mawar seperti itu karena aku tidak tahu," ucap Joe.
Frans tersenyum lalu meletakkan koran yang sedang ia baca di atas meja.
"Jangan-jangan wajah kamu yang kurang tampan itu yang membuat Mbak Mawar bete," ucap Frans.
Saat dua rekannya sedang serius Frans malah melontarkan kata candaan.
"Enak aja," ucap Joe sembari menyeruput kopi hitam milik Salman.
Di dalam rumah.
Di ruangan kerja Abymana yang serba lengkap Mawar mulai mengerjakan tugasnya demi mendapatkan apa yang ia mau.
Ia mengeluarkan berkas kosong yang sudah ditandatangani oleh Mahendra lalu mulai membuat perjanjian perpindahan nama kepemilikan semua aset yang dimiliki oleh Papanya itu.
*******
Dengan menaiki motornya, Michelle mulai pergi meninggalkan area pemakaman itu!
"Sepertinya Mitha udah sembuh dari sakit jiwanya dan gadis itu ... apa mungkin dia adalah anaknya Arman dan Mitha yang dulu hilang?" batin orang misterius yang sedari tadi terus saja memperhatikan Mitha dan Michelle.
Dengan kecepatan sedang Michelle terus melajukan motornya melewatkan jalanan perkotaan yang selalu ramai.
"Kita mau kemana lagi, Ma?" tanya Michelle.
"Pulang saja," sahut Mitha.
"Gak mau makan siang dulu?" ucap Michelle.
"Kita makan di rumah saja."
Michelle mengangguk pelan tanda ia paham dengan perkataan sang Ibu.
Tiba di jalanan yang sepi dari pengendara yang lewat, segerombolan orang-orang bersenjata tajam memepet motor Michelle dan berusaha menghentikan laju motor Michelle.
"Ada apa ini? Kenapa mereka mengejar kita?" ucap Mitha yang mulai ketakutan.
"Sepertinya mereka komplotan begal yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini," ucap Michelle sembari terus melajukan motornya.
__ADS_1
"Pegangan, Ma aku akan menambah kecepatan," ucap Michelle lagi.
Michelle mulai menambah kecepatannya tapi tak berselang lama mereka berhasil menghentikan laju motornya.
"Siapa kalian, mau apa kalian?" ucap Mitha dengan suara bergetar karena ketakutan.
Michelle berusaha melindungi Mitha dengan membiarkan Mitha tetap dibelakangnya.
"Serahkan dompet kalian," ucap salah satu perampok itu.
Dengan cepat Mitha memberikan tasnya pada mereka!
"Perhiasan kalian," sambungnya lagi.
Mitha pun langsung membuka perhiasan yang ia pakai terkecuali cincin kawin yang selalu tersemat dijari manisnya.
"Cincinnya juga!" seru laki-laki itu.
"Jangan, ini peninggalan suami saya," ucap Mitha.
"Kami sudah memberikan semuanya, biarkan Mama saya memiliki cincin itu," ucap Michelle.
Melihat cincin berlian yang pastinya harganya mahal, perampok yang berjumlah empat orang itu terus memaksa agar Mitha memberikan cincin itu.
Salah satu dari mereka mulai menyentuh tangan Mitha, namun Michelle tak membiarkan Mamanya tersentuh oleh mereka. Dengan sigap ia menepis tangan laki-laki itu dan sedikit mendorongnya agar menjauh dari Mamanya.
"Oh berani kamu rupanya," ucap laki-laki itu.
"Saya sudah cukup bersabar dan memberikan kalian kesempatan untuk pergi membawa barang milik kami tapi kalian tidak membiarkan kami pergi dengan hanya membawa cincin itu," ucap Michelle.
Tanpa berlama-lama ke-empat perampok itu mulai memaksa Mitha untuk melepaskan cincin yang dipakainya.
Tanpa ampun Michelle menyerang mereka, dengan tanpa takut gadis berusia dua puluh tiga tahun itu terus menyerang mereka meski mereka menggunakan senjata tajam!
"Aaa! Michelle awas, Nak," ucap Mitha yang kini terduduk di tepi jalanan karena terhempas oleh dorongan salah satu perampok itu.
Tak butuh waktu lama akhirnya Michelle berhasil mengalahkan mereka semua.
"Dasar orang-orang malas, ingin uang tapi tak mau bekerja," ucap Michelle sembari memungut tas milik Mitha yang tergeletak di pinggir jalan!
Michelle menghampiri seorang perampok yang mengantongi perhiasan milik Mamanya lalu mengambilnya dengan paksa!
"Awas ya kalau kalian brani macam-macam lagi. Habis kalian," ucap Michelle mengancam mereka.
"Mama gak apa-apa?" tanya Michelle sembari merangkul Mitha dan membantunya berdiri.
"Mama takut," ucap Mitha.
"Tak apa, mereka cuma orang-orang nganggur yang tak mau berusaha. Ayo kita pulang, Mama masih bisa berpegangan kan?" ucap Michelle.
Mitha mengangguk pelan, meski tubuhnya terasa lemas tapi tak ada pilihan selain pergi dengan menggunakan motor Michelle karena memang dari awal mereka pergi dengan menggunakan motor.
__ADS_1
Bersambung