
Di kediaman Abimana.
"Saya mau ke kantor. CCTV sudah dipasang di semua sudut ruangan rumah ini dan seluruh tempat di belakang, kalian terus awasi mereka, saya tidak benar-benar yakin kalau keluarga Mawar sudah berubah buktinya kemarin istri saya tertimpa pohon tumbang," udah Aby pada tiga bodyguardnya.
"Baik, Tuan Muda kami akan melakukan penjagaan lebih ketat lagi," ucap Frans.
"Terus ikuti kemana Mawar pergi jangan lengah apalagi sampai kalian kecolongan."
"Baik Tuan Muda, mulai hari ini kami akan berusaha lebih keras lagi dalam mengawasi Mbak Mawar," ucap Joe.
Aby tak berucap lagi dia langsung melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh Salman!
"Sayang! Mas Aby!" seru Mawar sambil berusaha menggerakkan kursi rodanya menuju Abymana!
"Hmm, ada apa sayang?" ucap Aby sembari melangkah menghampiri Mawar.
"Kamu melupakan sesuatu," ucap Mawar.
"Apa?" tanya Aby kebingungan.
"Ini." Mawar memperlihatkan kunci mobil Aby yang ia temukan di atas meja makan.
Aby tersenyum lalu meraih kunci mobilnya dari tangan Mawar!
"Perasaan tadi udah aku masukin kantong," gumam Aby.
"Buktinya masih ada di meja makan."
"Terima kasih ya, sayang. Kamu memang selalu menjadi yang terbaik untuk aku," ucap Aby.
Aby mencium kening Mawar lalu mengusap perut buncit milik sang istri.
"Aku pergi ya, udah siang nih," ucap Aby.
"Hati-hati cintaku, belahan jiwaku," ucap Mawar.
"Iya rinduku, langit dan bumiku," ucap Aby sembari memasuki mobilnya.
Mawar tersenyum sambil menatap kepergian suaminya.
"Mari, Mbak saya antar masuk ke dalam," ucap Joe setelah Aby sudah tak terlihat lagi.
"Oh ya, terima kasih ya," ucap Mawar.
Joe pun langsung mendorong kursi roda yang diduduki oleh Mawar masuk ke dalam rumahnya!
__ADS_1
"Ya ampun lama-lama bucin mereka semakin menjadi," gumam Frans.
"Istrinya bilang cinta dan belahan jiwa sedangkan suaminya rindu, langit dan bumi sepertinya keindahan cinta sudah dimiliki mereka berdua makanya kita gak pernah dapat pacar," ucap Salman
"Ya makanya itu, mereka menghabiskan kata-kata indah dalam bercinta tanpa memikirkan kita yang masih sendiri," ucap Frans.
"Jadi iri sama Tuan Muda, padahal mereka menikah tanpa cinta tapi sekarang lihatlah ... seolah dunia milik mereka berdua."
"Gak nyangka mereka bisa seperti ini padahal diawal pernikahan mereka, semua ancur dan tidak terlihat sedikitpun adanya bibit cinta di hati mereka," ucap Frans.
"Bahkan sampai sekarang aku masih ingat waktu itu aku pernah kena bogem Mbak Mawar saat dia mencoba melarikan diri," ucap Joe yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan Frans dan Salman.
"Yah udahlah mungkin itu jalan cinta mereka. Ribet diawal dan bucin diakhir," ucap Frans.
Tiga bodyguard itu tertawa saat mengingat masa awal pernikahan Aby dan Mawar yang membuat mereka kewalahan dan kadang tak mengerti dengan jalan pikiran majikannya itu tapi apa pun itu mereka ikut bahagia saat Aby dan Mawar bahagia.
Di dapur.
"Mawar, Jingga! Mama mau ke pasar dulu ya mau membeli sayuran dan bumbu-bumbu juga sudah pada habis," ucap Marisa.
"Kenapa ke pasar di supermarket aja, Ma," ucap Mawar.
"Tidak, Mawar sekarang Mama bukan Mama yang dulu lagi sekarang Papa kamu seorang petani mana mampu kami membeli sayuran di sana," ucap Marisa.
"Uang aku masih ada, pakai saja," ucap Mawar lagi.
"Mawar, biarkan kami menjalani hukuman ini. Kami memang pantas mendapatkan semua ini," ucap Jingga.
"Tapi aku–"
"Udah Mawar, gak apa. Mama pergi dulu ya," ucap Marisa sembari berjalan meninggalkan mereka.
Seperti yang Mawar katakan di awal bahwa saat mereka ada kebutuhan yang harus dibeli dari luar maka mereka harus keluar lewat belakang dan hanya boleh menggunakan sepeda atau angkutan umum.
Marisa keluar dari pintu belakang yang sudah disiapkan oleh Mawar dan menggunakan sepeda yang memang sudah tersedia untuk mereka.
"Pa, Mama ke pasar dulu ya kalau mau makan. Makan duluan saja ya semua sudah Mama siapkan di dalam lemari makanan," ucap Marisa sembari terus berjalan.
"Iya, Ma hati-hati di jalan ya Ma," ucap Mahendra.
********
Di rumah Mitha.
"Selamat pagi tante," ucap Dirga pada Mitha.
__ADS_1
"Kamu? Ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Michelle.
"Mama yang minta Dirga datang. Hari ini kalian berdua ikut Mama," ucap Mitha.
"Kemana?" tanya Dirga dan Michelle berbarengan.
"Gaun pengantin sudah selesai dibuat jadi kalian berdua harus mencobanya," jelas Mitha.
"Hah sudah selesai? Kok cepat banget?" ucap Michelle.
"Ya, mereka tidak butuh waktu lama untuk membuat satu gaun dan lagi bukan hanya satu gaun yang kalian pakai nanti, ada pakaian lainnya juga untuk resepsi," ucap Mitha.
"Benar itu. Ada tiga gaun pengantin yang berbeda-beda warna dan motifnya jadi, kalian harus mencoba yang sudah selesai dulu," ucap Athalia.
"Aku ada pekerjaan," ucap Michelle.
"Aku udah izin sama Pak Randy seharusnya kamu juga gak usah kerja dulu," ucap Dirga pada Michelle.
"Ya baiklah, demi dewa cintaku hari ini aku gak akan melakukan apa pun, aku hanya akan melakukan apa yang kamu mau," ucap Michelle dengan sedikit nada kesal.
Mitha dan Athalia saling menatap lalu saling melempar senyuman.
"Sepertinya Dewi cintaku marah tapi tak apa, kamu semakin cantik saat marah," goda Dirga.
"Udah-udah, ayo kita pergi sekarang," ucap Athalia.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil Dirga dan Dirga mulai mengemudikan mobilnya setelah semua orang masuk ke dalam mobilnya!
********
Marisa berlari dengan secepat yang ia bisa. Di pasar itu dia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya dan dia sedang berusaha menghindar dari orang itu!
Setelah berlari lumayan jauh, dirinya tak bisa berlari lagi karena sudah terlalu lelah tiba-tiba dari belakang seseorang melingkarkan tangannya di leher Marisa dan menahan Marisa agar tak lari lagi!
"Mau kemana kamu hah?" ucap laki-laki itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Marisa berusaha melepaskan diri dari laki-laki itu tapi usahanya gagal karena tenaganya tidak dapat menandingi laki-laki itu.
"Berikan aku sepuluh juga. Sekarang."
"Tidak ada, aku tidak punya uang sebanyak itu," ucap Marisa lagi.
"Orang seperti kamu tidak punya uang? Kamu pikir aku percaya hah! Berikan uang sepuluh juta yang aku minta atau rahasia kamu akan aku bongkar di hadapan semua orang termasuk Jingga dan Mahendra."
"Jangan. Jangan lakukan itu," ucap Marisa yang sudah dipenuhi ketakutan.
__ADS_1
Bersambung