Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 224


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi hari di rumah Athalia.


"Pagi, Sayang," ucap Dirga pada Michelle yang sudah terbangun lebih awal darinya.


"Selamat pagi, Suamiku," ucap Michelle dengan senyuman manisnya.


"Semalam aku gak dipeluk. Apa yang terjadi padamu? Apa kamu terlalu memikirkan tentang Bu Marisa?" ucap Dirga sembari mendekati Michelle.


"Gimana mau meluk, kamu sudah tidur lebih dulu dari aku dan bangun paling belakangan," ucap Michelle.


"Aku kecapean kayaknya."


"Kecapean?" Michelle menatap Dirga dengan tatapan aneh, seingatnya kemarin suaminya itu tidak melakukan pekerjaan berat.


"Oh ya, Sayang, aku masih penasaran dengan apa yang kamu lakukan kemarin," ucap Dirga.


"Apa? Memangnya apa yang aku lakukan kemarin?"


"Kamu mau membuka celana si tua itu, kamu mau memotong burungnya dan itu artinya kamu akan melihatnya dan memegangnya, apa itu beneran?" tanya Dirga.


"Tentu saja beneran. Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku, kalau kemarin dia tidak bicara aku pasti melakukan apa yang aku katakan."


"Kamu pernah melakukan itu sebelumnya?"


"Tidak. Hanya saat tawanan yang tidak mau bicara dan aku sudah kehabisan akal untuk membuatnya bicara, kemarin adalah yang pertama," jelas Michelle.


"Aku pikir sebelumnya pernah."


"Pernah ... tapi tidak sampai memotongnya."


"Yang benar? Tadi kamu bilang tidak pernah lalu kenapa waktu itu kamu sangat takut dengan punyaku?"


"Karena aku hanya pernah menyentuh punyamu dan itu setelah kita menikah. Dahlah, mandi sana! Sekarang senin, kamu harus kerja."


"Baiklah, Istriku sayang tapi sebelum itu cium dulu di sini," ucap Dirga sembari menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Disuruh mandi malah minta cium."


"Kalau gak mau ngasih gak apa. Aku bisa mencurinya nanti," ucap Dirga sembari pergi ke kamar mandi!


********


Di kediaman Roger.


"Mas, aku kesepian di rumah sendirian, kita tinggal di rumah Mama aja sampai kita mendapatkan anak adopsi dari yayasan atau pantai asuhan," ucap Michaela.


"Terserah kamu. Selama itu membuat kamu bahagia aku ikut semua kemauan kamu," ucap Roger sembari menatap sang istri dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.


"Aku bahagia kalau kamu menikah lagi dan mempunyai anak kandung tapi kamu gak mau ngikutin apa kata aku," ucap Michaela.


Roger menatap Michaela dengan tatapan tajam tapi tak sedikit pun ia berucap sesuatu.


"Aku hanya bicara saja, tidak memaksa kamu untuk menikah dengan siapa pun juga," ucap Michaela lagi.


"Kemasi paiaianmu! Aku akan mengantarmu ke rumah Mama," ucap Roger.


"Aku bisa sendiri, aku akan bawa mobil."


"Di rumah Mama sudah ada tiga mobil, garasinya tidak akan muat kalau harus ditambah dua mobil lagi nanti kalau kamu mau kemana-mana bisa pakai mobil punya Mama atau Michelle," jelas Roger.


"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Michaela lalu bangkit dari duduknya.

__ADS_1


*********


Di kediaman Athalia.


"Ma, aku pergi dulu," ucap El pada Athalia.


"Iya, hati-hati ya Sayang," ucap Athalia.


"Pasti, Mamaku sayang. Aku pasti hati-hati," ucap El.


El mencium punggung tangan Athalia lalu mulai pergi meninggalkan rumah!


Sementara itu di sebrang jalan, Dua orang anak buahnya Fredy sudah mengintai rumah itu sejak beberapa jam lalu. Hari ini mereka akan mencari tahu apa saja aktivitas El setiap harinya.


Setelah El keluar dari rumahnya dan sudah melajukan mobilnya, mereka langsung mengikuti El dari jarak jauh.


Setelah sepuluh menit, El tiba di kampusnya dan langsung turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mobil.


"Rupanya dia masih seorang mahasiswa," ucap salah satu anak buahnya Fredy.


"Kita langsung pulang saja. Kita harus segera melaporkan ini pada bos," ucap anak buah Fredy yang satu lagi.


"Aku akan memotret universitas ini dulu biar jelas laporan kita nanti."


"Cepatlah, sebelum ada yang curiga pada kita."


Setelah mengambil foto di universitas itu, mereka berdua langsung pergi meninggalkan kampus itu.


"Belajarnya yang pintar ya, Calon istriku," ucap Reza setelah menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus itu.


"Iya, Calon suamiku. Pergilah dan jangan jemput aku karena aku akan pulang bersama El nanti siang," jelas Nasya sembari turun dari mobil milik Reza.


Reza hanya tersenyum dan tak menyahut sama sekali. Dia langsung melajukan mobilnya setelah Nasya berada di luar mobil!


*******


Di sebuah perkantoran.


"Bos, gadis itu seorang mahasiswa di universitas xxx," jelas salah satu anak buahnya Fredy.


"Kalian yakin?" tanya Fredy pada mereka.


"Yakin. Gadis itu memang mahasiswa di sana."


"Baiklah, tugas kalian selesai. Pergilah dan lanjutkan pekerjaan kalian," titah Fredy pada dua anak buahnya.


Dua laki-laki itu pun langsung keluar dari ruangan Fredy!


Sebuah senyuman penuh arti terukir di bibir Fredy saat sudah mengetahui dimana rumah El dan kegiatan apa saja yang dia lakukan setiap harinya.


********


Michelle berjalan menuju sebuah tempat yang biasa ia datangi saat dirinya membutuhkan informasi tentang seseorang!


"Hai, Michelle. Tumben ke sini?" tanya seorang laki-laki pada Michelle.


"Hai, Kak. Biasalah, aku butuh informasi seseorang," sahut Michelle.


"Informasi atau identitas?"


"Semuanya," ucap Michelle.

__ADS_1


"Apa ini kepentingan pekerjaan kamu?"


"Tentu saja, apa lagi? Klien ku menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh tiga orang sekaligus. Aku harus mendapatkan tiga orang itu," jeias Michelle.


"Aku tidak akan bertanya apa pun lagi. Siapa nama mereka?" ucap laki-laki yang dipanggil Kakak oleh Michelle.


"Namanya Adi, Haris dan Fian dan ini wajah mereka," ucap Michelle sebari memperlihatkan foto mereka yang ia screenshot dari video yang ia lihat.


"Duduklah! Aku akan langsung mencari tahu mereka siapa."


"Terima kasih," ucap Michelle sembari duduk di kursi yang berada di samping laki-laki itu.


"Tunggu sebentar, ini tidak akan lama." Laki-laki itu mulai mengutak-atik komputernya dan tak lama langsung muncul informasi salah satu dari tiga orang yang namanya disebutkan oleh Michelle.


"Adi Atmadja. Lihatlah, Michaela laki-laki ini bukan yang kamu cari?" ucap laki-laki itu sembari memperlihatkan layar komputernya pada Michelle.


Michelle langsung menatap layar komputer itu lalu menyamakan wajah orang yang terdapat di komputer dengan yang ada dalam foto yang ia dapatkan.


"Sepertinya ini benar," ucap Michelle.


"Oke. Lanjut yang kedua ya."


"Aku harap identitas mereka bisa aku dapatkan hari ini," ucap Michelle.


"Tenang saja. Semua akan beres kalau ada aku dan ada kamu."


"Terima kasih, Kak."


"Jangan berterima kasih. Kita keluarga dan tidak ada kata maaf dan terima kasih pada seseorang yang disebut keluarga."


Michelle hanya diam dengan sedikit senyuman di bibirnya, ia masih menunggu informasi tentang dua orang yang sedang menjadi buruannya sekarang.


"Oh, ya Michelle. Bagaimana kabar suamimu?" ucap laki-laki itu sambil terus fokus pada komputernya.


"Baik, alhamdulillah baik-baik saja," sahut Michelle.


"Syukurlah. Aku belum bisa menemuinya, aku masih sibuk."


"Tidak apa-apa. Meski dia suka cemburu tapi dia tidak pernah melarangku untuk menemui, Kakak."


"Katakan padanya, jangan cemburu karena kita ini adik dan kakak."


"Aku sudah mengatakannya."


"Ini bukan? Haris Sitompul," ucap laki-laki itu.


"Ada yang lain tidak? Wajahnya beda dengan yang di foto ini," ucap Michelle.


"Akan aku cari lagi." Laki-laki itu pun langsung menschrol ke bawah untuk mencari foto yang cocok dengan yang ada dalam foto yang Michelle bawa.


"Gak ada lagi, kayaknya yang atas tadi yang benar. Aku lihat bentuk wajahnya dan matanya sama."


"Kalau gitu print yang tadi saja. Lanjut orang yang bernama Fian," ucap Michelle.


Laki-laki itu pun langsung mencari orang yang bernama Fian itu dan langsung muncul foto Fian yang Michelle cari.


"Ini orangnya, Kak. Wajahnya sangat mirip," ucap Michelle.


"Oke. Selesai ya? Ada yang lain lagi?"


"Tidak ada. Untuk saat ini tidak ada," sahut Michelle.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2