Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 280


__ADS_3

Saat Fredy dan Bu Haris hendak pulang dari kediaman Abymana , kebetulan Aby dan Mawar tiba di rumahnya. Aby memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya sedangkan di dalam rumah, Bu Haris dan Ferdy sudah berpamitan pada Bu Marisa dan Bu Ratna.


"Tuan Muda sudah tiba. Di dalam ada tamu untuk, Mbak Mawar," jelas Frans saat Mawar dan Aby sudah keluar dari mobilnya.


"Siapa?" tanya Mawar.


"Anak tuyul sama mamanya," sahut Joe.


"Anak tuyul?" Mawar dan Aby menatap Joe dengan tatapan penuh tanya.


"Maksudnya Mas Fredy sama mamanya," sambung Joe.


"Kamu ini. Kakak saya tuh," ucap Mawar lalu berjalan memasuki rumahnya.


"Itu dia, Mawar," ucap Bu Marisa.


"Mama?" gumam Mawar lalu berjalan menghampiri mereka.


Bu Ratna langsung mengambil alih baby Maira dari pangkuan Mawar lalu membawanya ke dalam kamar. Bayi itu tertidur karena itulah Bu Ratna akan menidurkannya di kamar. Sementara itu Mawar langsung duduk di kursi ruang tamu rumahnya untuk mengobrol dan menanyakan ada maksud apakah mereka datang ke rumahnya.


"Ada apa, Mama datang ke sini?" tanya Mawar.


"Ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu," jelas Bu Haris.


"Aby! Sini, kamu," ucap Fredy saat melihat Aby yang baru mau masuk ke dalam rumah.


Aby pun langsung duduk di kursi yang diduduki oleh Mawar. Kini mereka duduk bersebelahan dengan posisi Bu Haris dan Fredy di depan mereka.


"Ada hal penting apa yang perlu kalian sampaikan padaku? Aku tidak mau mendengar kalian minta maaf lagi karena aku sudah bosan mendengarnya," ucap Mawar sementara Aby hanya diam.


"Siapa yang mau minta maaf? Kami ke sini ingin memberikan sesuatu padamu," ucap Fredy.


Fredy mengeluarkan map berwarna kuning dari dalam tasnya. "Kamu adikku 'kan?" tanya Fredy sembari terus menggerakkan tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Hmm. Terus apa masalahnya?" tanya Mawar.


"Tidak ada masalah. Ini ada sejumlah harta peninggalan papa untuk kamu," ucap Bu Haris sembari menggeser map itu ke dekat Mawar.


"Ma, Kak. Kalian tidak perlu memberikan ini padaku lagipula tanpa ini, aku sudah menganggap kalian sebagai keluarga," ucap Mawar tanpa melihat dulu isi dari map itu.


"Ini amanah dari papa. Sebelum beliau pergi beliau meninggalkan wasiat ini dan kami tidak mungkin tidak menjalankan wasiat papa," ucap Fredy.


"Aku rasa aku tidak berhak atas ini. Ma, Kak, aku tidak bisa menerima ini," ucap Mawar lagi.


"Terimalah, Mawar. Papa sayang sama kamu karena itulah papa memberikan ini untukmu meski dia tahu harta suamimu saja sudah banyak dan mungkin tidak akan habis meski dimakan oleh tujuh turunan. Ini memang tidak seberapa tapi papa kamu sangat ingin memberikan ini untuk kamu," ucap Bu Haris.


Mawar membuka map itu dan melihat isinya. Di dalamnya terdapat beberapa berkas penting atas nama pemilik Haris Sitompul jika dijumlahkan semuanya mencapai puluhan miliar rupiah.


"Apa ini? Banyak sekali," ucap Mawar saat melihat sertifikat perusahaan milik pak Haris, satu buah rumah mewah, perkebunan yang berada di luar kota dan beberapa unit mobil termasuk satu buah jet pribadi.

__ADS_1


"Itu semua untuk kamu," ucap Fredy.


"Ini sangat banyak. Untuk apa jet pribadi? Mas Aby juga punya tapi aku jarang menggunakannya karena sekarang aku jarang pergi-pergi," jelas Mawar.


"Papa yang ingin memberikan ini semua untuk kamu. Terimalah agar kakakmu ini tenang dan papa juga tenang di sana. Kamu harus tahu ditengah kesibukannya mengurus pernikahannya bulan depan, kakak kamu ini sibuk dengan semua ini. Dia tidak tenang sebelum menyerahkan semua ini padamu," ucap Bu Haris.


"Kalau memang ini mau papa kamu. Ada baiknya terima saja dan kalau kamu merasa ini terlalu banyak, kamu bisa memberikan kembali jet itu pada mama atau mungkin yang lain yang mungkin akan berguna untuk kakak dan mama kamu," jelas Aby.


"Baiklah, aku akan terima semua ini tapi sebelum itu aku mau tanya, apa semua harta papa dibagi rata? Antara aku, kakak dan mama, apa semua kebagian sama dengan yang aku dapatkan?" tanya Mawar yang memang tidak tahu seberapa yang dia dapat dan seberapa yang mama dan kakaknya dapatkan.


"Pembagiannya memang tidak sama, warisan papa lebih banyak diberikan padamu tapi itu semua sudah dihitung dengan seksama bahwasanya kamu berhak menerima lebih banyak," jelas Bu Haris.


"Tapi kenapa? Kita baru kenal beberapa bulan belakangan ini," tanya Mawar.


"Karena itulah kamu berhak menerima lebih banyak. Dua puluh tiga tahun kamu hidup tanpa uang papa dan semua ini milik kamu setelah ditambahkan uang jajan kamu selama dua puluh tiga tahun itu," jelas Fredy.


"Oh jadi, seperti itu. Aku terima ini semua." Mawar membuka kembali map itu dan memilih beberapa berkas.


"Aku ingin memberikan jet ini untuk kakak karena kakak suka bepergian ke luar kota dan perusahaan ini, karena aku gak bisa mengelolanya, aku serahkan perusahaan ini pada mama sedangkan perkebunan dan yang lainnya akan aku gunakan untuk keperluan pribadi," jelas Mawar.


"Tapi itu untuk kamu," ucap Fredy.


"Keputusan aku sudah sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi dan aku juga ingin meminta izin pada kakak dan mama, aku ingin menggunakan uang ini untuk menikahkan trio pinky boyku yang aku sayangi dan juga aku ingin memberikan mereka bonus bulan madu ke luar kota," jelas Mawar lagi.


Fredy tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Kamu ini baik banget. Kalau gitu aku dan mama akan menerima pemberian kamu ini dan kami juga mengizinkan kamu melakukan apa pun yang kamu mau karena memang semua ini sudah menjadi milik kamu," ucap Fredy.


"Jangan menangis. Semua sudah berlalu, aku ingin bahagia sekarang," ucap Mawar.


"Oke. Pembicaraannya selesai ya? Sekarang aku mau bicara sama kalian dan juga keluarga di sini kebetulan papa dan Jingga sudah pulang tuh," ucap Aby.


"Mereka sudah pulang?" tanya Mawar.


"Ada tamu ternyata," ucap Pak Mahendra.


Belum sempat Aby menjawab pertanyaan Mawar, Pak Mahendra dan Jingga masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri mereka. Pak Mahendra dan Jingga menjabat tangan Bu Haris dan Fredy secara bergantian lalu mereka duduk di sana.


"Sudah lama di sini, Bu?" tanya Pak Mahendra.


"Sudah dari tadi. Sebenarnya kami sudah mau pulang tapi Aby ingin bicara dengan kita," jelas Bu Haris.


"Apa, By?" Pak Mahendra menatap Aby.


"Frans! Sini kamu," seru Aby pada Frans.


"Tolong panggil mama," ucap Aby pada Mawar dan Mawar pun langsung memanggil Bu Marisa di kamar anaknya.


Tak butuh waktu lama. Frans dan Bu Marisa pun tiba di ruangan itu. Mereka langsung bergabung bersama keluarga besar mereka.


"Mengenai pernikahan kalian. Pernikahan Frans dan Jingga dan juga Fredy dan El," ucap Aby.

__ADS_1


"Kenapa dengan pernikahan kita?" tanya Jingga.


"Tadi aku ke rumah papa dan mama. Nasya dan Reza akan menikah bulan depan tepatnya tanggal sepuluh dan resepsinya katanya akan dilaksanakan bersamaan dengan resepsi pernikahan Fredy dan El," ucap Aby.


"Benar begitu, Ma?" tanya Aby pada Bu Haris.


"Iya. Kami sudah sepakat untuk itu," sahut Bu Haris sementara Fredy hanya mengangguk mengiyakan perkataan Aby.


"Nah, di sini aku juga ingin mengusulkan bagaimana kalau Jingga dan Frans juga melangsungkan resepsi dihari yang sama dan gedung yang sama jadi, tiga pengantin sekaligus," jelas Aby.


"Papa ikut kamu aja," ucap Pak Mahendra.


"Gimana kakak ipar?" tanya Aby pada Jingga dan Frans.


"Kita ikut aja yang penting sah jadi suami istri. Gak ada resepsi juga gak masalah," ucap Jingga.


"Yakin ya ini. Tiga pengantin sekaligus? Kalau semua sudah setuju kita akan rapat lagi untuk menentukan hari dan tanggal resepsinya," ucap Mawar.


"Jingga dan Frans akan menikah bulan depan tepatnya tanggal dua puluh delapan. Silahkan cari waktu setelah itu," ucap Bu Marisa.


"Berarti bulan depannya lagi aja," ucap Mawar.


"Kita semua ikut bagaimana yang terbaiknya saja. Nanti kalau sudah ada keputusan tinggal bilang saja ke aku atau mama," ucap Fredy.


"Maaf ya ini, jadi aku yang ngatur masalahnya jadwalku terlalu sibuk kalau harus beberapa kali melakukan pernikahan dan juga resepsinya. Keluargaku sangat banyak jadinya gini deh, sibuk," ucap Aby.


"Alhamdulillah. Banyak keluarga, banyak saudara, banyak rezeki juga," ucap Pak Mahendra.


"Semua sudah sepakat. Pembicaraan selesai sekarang yang ingin berpacaran silakan berpacaran, yang mau istirahat silakan istirahat sedangkan mama dan kak Fredy. Aku minta kalian tunggalah di sini sebentar lagi, aku ingin makan malam bersama kalian juga," ucap Mawar.


"Yang mau pacaran 'kan kita. Memang siapa yang mau pacaran?" tanya Aby.


"Ya, Jingga dan Frans lah atau bisa juga mama sama papa," sahut Mawar.


"Dasar kamu ini," ucap Jingga.


"Dahlah, aku mau mandi," ucap Jingga sembari melenggang pergi.


"Saya juga ingin kembali ke depan," ucap Frans lalu pergi.


Akhirnya semua orang pergi meninggalkan ruangan itu dan kini tinggal menyisakan Bu Haris, Fredy dan Mawar saja sedangkan Aby pergi untuk melihat kedua anaknya.


"Gini ya, punya banyak keluarga," ucap Fredy.


"Kakak akan terbiasa setelah ini. Aku hidup dengan dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayangi dan inilah keluargaku," ucap Mawar.


Mereka tersenyum bahagia hari itu. Ini kali pertama Fredy dan Bu Haris sangat dekat dengan Mawar dan keluarganya. Kini bertambah dua orang keluarga Mawar yang akan menghiasi keramaian di rumah itu dan sebentar lagi akan ada satu anggota baru lagi yaitu El. Hanya El saja yang akan menambah keramaian keluarga itu karena Frans sudah sejak lama menjadi bagian dari keluarga Aby dan Mawar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2