Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 157


__ADS_3

"Lihat bintang itu." Dirga mengarahkan jari telunjuknya pada bintang yang bersinar paling terang di antara bintang-bintang yang lainnya.


"Ada apa dengan bintang itu?" tanya Michelle.


"Cantik, seperti kamu," ucap Dirga.


"Gombal." Michelle mencubit lengan Dirga.


"Aku pikir laki-laki kalem kayak kamu gak se_gombal ini," sambung Michelle.


"Gak gombal. Bintang itu lebih terang dibanding bintang lainnya sama seperti kamu. Kamu lebih istimewa dibanding perempuan lain yang mencoba mendekati aku," ucap Dirga lagi.


"Emang ada ya perempuan yang berusaha mendekati kamu?" ucap Michelle.


"Eh meremehkan ketampanan aku rupanya kamu ya," ucap Dirga dengan senyum menggoda.


"Aku pikir gak bakal ada perempuan yang berani mendekati kamu. Aku pikir belum juga merek bicara dengan kamu mereka udah kedinginan duluan, secara kamu kan kayak kulkas berjalan," ucap Michelle panjang lebar.


"Maksud kamu apa hah bicara seperti itu?"


"Dih gak ngerasa ya dirinya jutek sama perempuan. Gak ingat waktu kita bertemu pertama kali pas kamu minta tolong aku untuk mencari tahu tentang Jingga. Gaya bicara kamu itu dingin, kaku dan ngebosenin," ucap Michelle lagi.


"Aku normal ya, aku bisa romantis bahkan aku bisa ...." Dirga menghentikan perkataannya.


"Bisa apa?" tanya Michelle.


"Bisa bikin kamu lemah tak berdaya," sahut Dirga.


"Percaya diri banget, aku gak mungkin kalah ya," ucap Michelle.


"Ayo kita buktikan," ucap Dirga sembari membuka kancing kemejanya yang paling atas.


"Kamu mau ngapain?" ucap Michelle sembari terus menatap Dirga.


"Kamu pikir mau ngapain?" Bukannya menjawab. Dirga malah bertanya balik.


Saat Dirga hendak membuka kancing keduanya, dengan cepat Michelle menepis tangan Dirga agar menghentikan pergerakan tangannya! Dia memperhatikan sekelilingnya memastikan tidak ada yang melihat mereka.


"Kenapa? Aku udah siap melepas perjaka ku untuk kamu," ucap Dirga.


"Lama-lama kamu mesum juga ya," ucap Michelle, kesal.


"Obrolan antara dua orang yang berpacaran, apa lagi kalau bukan tentang ini?" ucapan Dirga lagi.


"Kamu pulang sana. Malam ini aku menginap di sini," ucap Michelle.

__ADS_1


"Kenapa di sini? Bagaimana kalau menginap di rumah aku saja," ucap Dirga.


"Gak mau. Yang ada aku gak bisa tidur nanti."


"Kenapa? Jangan takut, aku akan menjaga kamu."


"Justru kamu pengganggunya."


********


Di tempat lain.


"Untuk malam ini, kita tidur di sini saja ya Ma," ucap Mahendra pada Marisa.


"Jingga, kamu gak apa kan kalau tidur di sini?" ucap Mahendra lagi pada Jingga.


Jingga menggeleng pelan. Ia tak bisa menolak karena tahu saat ini tak mungkin ia menyusahkan kedua orang tuanya.


"Maafkan Papa ya sayang. Ini salah Papa," ucap Mahendra lagi.


"Ini bukan salah Papa tapi salah Mama. Tanpa sepengetahuan Papa, Mama sering datang ke rumah Aby dan menyakiti Mawar, maafkan Mama, Pa. Maafkan Mama," ucap Marisa penuh penyesalan.


"Apa! Jadi, selama ini Mama sering menyakiti Mawar?" ucap Mahendra tak percaya.


"Mungkin Mawar marah pada Mama sehingga dia melakukan ini pada kita. Maafkan Mama karena perbuatan Mama, Papa jadi ikut kesusahan," ucap Marisa dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


"Sudahlah, Ma semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya Mama menyesal mungkin tidak ada lagi maaf di hati Mawar untuk kita," ucap Mahendra.


"Maafkan aku, Pa, Ma seharusnya saat kalian seperti ini akulah orang yang pertama membantu kalian tapi aku sendiri tidak bisa membantu kalian untuk keluar dari keadaan ini. Aku memang anak yang tak berguna," ucap Jingga.


"Jangan bicara seperti itu, Nak. Ini bukan salah kamu, kita semua bersalah pada Mawar mungkin ini hukuman dari Tuhan untuk kita," ucap Mahendra.


Marisa menggelar kardus yang ada di pinggiran pertokoan itu untuk alas tidur mereka!


Kamar mewah dan kasur empuk yang biasa menemani tidur mereka kini harus berganti dengan lantai kotor yang hanya beralaskan kardus bekas ditambah lagi dengan tidak adanya dinding sebagai pelindung mereka dari dinginnya malam, semakin menambah kesedihan mereka.


Kini mereka tak lagi berpegangan pada harta miliknya, mereka hanya bisa pasrah untuk menyambut datangnya pagi dan memulai perjalanan yang tanpa arah dan tujuan itu. Saat ini menyesal pun tak akan ada gunanya karena tak akan ada seorangpun yang akan mendengar dan memperdulikan kepedihan mereka.


Hidup diperkotaan memang sangatlah keras, dimana mereka tak akan pernah perduli pada orang-orang yang kelaparan dan pada orang yang sedang kesulitan berbeda dengan di kampung yang saat ada orang kesulitan selalu saja ada warga yang perduli pada orang-orang itu, meski tak semua setidaknya di kampung masih banyak orang yang perduli terhadap sesamanya.


"Papa istirahat di sini, pakai ini untuk bantalnya," ucap Marisa sembari meletakkan tas berisi pakaiannya di sampingnya.


"Mama saja Papa biar di sini," ucap Mahendra.


Lelah karena seharian berjalan kaki. Marisa tak ingin memperpanjang percakapan mereka, ia segera merebahkan tubuhnya dan perlahan mulai menutup mata.

__ADS_1


**********


Di kediaman Roger.


"Kenapa, Mas? Kamu terlihat gelisah," ucap Michaela pada Roger.


Roger menatap istrinya yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Aku sedang banyak pikiran," ucap Roger jujur.


"Apa yang mengganggu hati dan pikiranmu, Mas? Cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa membantu mencari jalan keluarnya," ucap Michaela.


"Aku tidak tahu harus mempercayai siapa. Aku kenal dengan teman lama Papaku, dia bilang kalau seseorang sudah sengaja membunuh Papaku tapi menurut bukti yang Mama berikan orang yang dimaksudkan teman lama Papa itu sama sekali tidak bersalah bahkan polisi saja tidak dapat menahannya karena orang itu terbukti tidak bersalah," ucap Roger.


"Mas, menurutku bukti yang diberikan Mama yang benar. Aku juga tidak begitu yakin tapi apa salahnya kamu minta bukti pada teman lama Papa kalau misalnya dia tidak dapat membuktikan itu berarti dia berbohong," jelas Michaela.


"Itu dia masalahnya, setelah Mama sembuh teman lama Papa itu sangat sulit untuk ditemui bahkan ditelpon saja sulit."


"Aku tidak mengerti apa-apa tentang ini. Coba. Minta tolong pada Michelle, dia seorang agen rahasia, bukan?"


"Aku tidak ingin membahayakan Michelle. Aku takut kehilangan dia untuk yang kedua kalinya," ucap Roger.


*******


Di kediri Aby.


Mawar sudah tertidur pulas dipelukan Aby.


Aby menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan matanya yang tak berkedip sekalipun.


Diusapnya perut sang istri yang mulai membuncit itu!


"Sudah hampir satu tahun kita menjalani pernikahan ini bahkan sekarang kamu sudah hamil anakku tapi sampai saat ini aku belum tahu pasti sifat kamu yang asli. Kadang kamu lembut, perhatian dan begitu penyayang tapi disisi lain kamu juga punya sifat kejam seolah tak kenal dengan kata kasihan apalagi maaf untuk orang-orang yang sudah menyakitkan kamu tapi meski begitu aku tetap sayang sama kamu karena kamu telah mengenalkan aku pada arti kehidupan yang sebenarnya, karena kamu, aku tahu bagaimana cara menjadi orang yang lebih baik lagi," ucap Aby didalam hatinya.


Saat Aby hendak beranjak dari tempat tidurnya tiba-tiba Mawar menarik tangannya lalu langsung menekuknya!


"Mama, jangan pergi tetaplah peluk aku seperti ini," ucap Mawar sembari terus memeluk Aby.


Untuk sesaat, Aby terdiam mematung mencoba mencerna perkataan Mawar barusan tapi setelah beberapa menit, tak ada lagi suara dan pergerakan dari Mawar.


"Kamu mengigau," ucap Aby sembari melepaskan diri dari pelukan Mawar dengan perlahan agar Mawar tak terbangun.


"Kasian kamu. Kamu pasti sangat menginginkan kasih sayang dari Bu Marisa," batin Aby.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2