
Di tempat makan pinggir jalan itu, Ussy dan Joe sarapan bersama-sama.
"Mas, makan jangan ngeliatin aku terus," ucap Ussy.
"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Joe.
"Tanya saja," sahut Ussy.
"Kamu sudah punya pacar?"
Uhuk!
Uhuk!
Ussy tersedak air yang sedang diminumnya saat mendengar pertanyaan Joe.
"Sy, ya ampun. Pertanyaan aku membuat kamu kaget ya maaf ya bukan maksud aku untuk–"
"Gak apa-apa, Mas. Aku gak apa-apa kok," ucap Ussy.
"Kamu sudah punya pacar ya?" tanya Joe lagi.
Ussy berdehem beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Joe.
"Aku gak ada pacar. Kenapa? Takut ada yang marah karena kita sarapan berdua?" ucap Ussy.
"Selain karena itu, sebenarnya aku suka sama kamu."
Ussy menatap Joe dengan tatapan matanya yang terbuka lebar dan tak sekali pun berkedip.
"A_apa?"
"Kamu mau gak jadi pacar aku? Aku tahu kita baru bertemu dua kali saja itu pun secara tidak sengaja tapi tidak membutuhkan waktu lama untuk aku jatuh cinta sama kamu. Jujur aku sudah suka sama kamu sejak pertama kita bertemu," ucap Joe.
"Eum, gimana ya, Mas?"
"Kamu gak mau ya?" Joe terus menatap Ussy.
"B_bukan gitu, Mas. Aku juga suka sama kamu," ucap Ussy.
Joe tersenyum lebar kala tahu bahwa ternyata Ussy juga mencintainya.
"Mas, aku masih kuliah dan waktunya masih lama karena aku telat masuk kuliah," ucap Ussy.
"Aku tidak akan mengganggu kuliah kamu dan aku juga tidak akan berniat menikah dalam waktu dekat. Kita jalani aja dulu hubungan kita," ucap Joe.
"Tidak semudah itu kalau pacaran pasti kuliahku akan terganggu."
"Itu karena kamu yang mikirnya kejauhan. Aku gak bakal ganggu kamu, serius lagipula aku ini kerja aku gak mungkin bisa menemui kamu setiap saat."
"Aku perlu berpikir. Masalahnya aku ...."
"Kenapa?" ucap Joe karena Ussy menggantung ucapannya.
"Aku menyukai dirimu tapi sekarang kita belum pacaran, aku akan menjawab pertanyaan, Mas setelah aku bertanya pada seseorang," ucap Ussy.
"Seseorang siapa? Apa perlu izin hanya untuk berpacaran saja? Kita tidak akan langsung menikah jadi tidak perlu restu orang tuamu."
Ussy tersenyum tipis lalu meletakkan sendok yang ia pegang itu di atas piring.
"Bukan orang tuaku tapi seseorang yang sudah menyayangiku. Aku permisi, waktu kita sudah habis, aku harus kuliah," ucap Ussy sembari bangkit dari duduknya.
"Tapi. Ussy! Nomor handphone mu?" seru Joe sembari terus menatap kepergian Ussy.
"Lihat di tissue itu!" seru Ussy dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Joe menatap tissue yang terdapat di atas meja dan tertulis di sana sebuah nomor yang mungkin Ussy yang menulisnya.
Joe tersenyum lalu segera meraih tissue itu!
"Kapan dia menulis nomor telponnya di sini?" batin Joe.
*******
Di kantor Aby.
"Selamat siang, Pak," ucap Michelle pada satpam yang berjaga di depan kantor itu.
"Siang, Mbak Michelle," ucap satpam itu.
"Pak Dirga ada di tempat tidak?" tanya Michelle.
"Ada, Mbak. Silahkan masuk," ucap satpam itu.
"Terima kasih ya, Pak." Michelle langsung berjalan memasuki kantor itu dan langsung menuju ruangan pribadi Dirga!
"Michelle!" ucap Aby saat Michelle tengah berjalan.
"Aby. Ada apa?" tanya Michelle.
"Harusnya aku yang tanya ada apa? Mau ketemu aku ya?" ucap Aby.
"Bukan. Tingkat kepedean kamu itu tinggi sekali, aku datang untuk menemui suami aku," ucap Michelle.
"Aku pikir mau ketemu aku untuk membicarakan tentang misi kamu," ucap Aby.
"Hey, Sayang. Kamu kok di sini? Bukannya kamu sedang–"
"Aku sudah melakukan pekerjaanku. Aku rindu sama kamu, Mas," ucap Michelle.
"Dasar bos aneh siapa juga yang mau berciuman?" ucap Michelle.
"Itu kalian mau apa?"
"Aku hanya memeluknya sedikit. Wajar kalau kami berpelukan, aku rindu pada suamiku," ucap Michelle.
"Hah kalian ini," ucap Aby sembari menggaruk kepalanya.
"Kenapa?" ucap Dirga.
"Mawar baru melahirkan, dia gak mau didekati aku," ucap Aby.
"Itu derita Anda Tuan Muda," ucap Dirga sambil tertawa kecil.
"Aku mau bicara sama kalian berdua," ucap Michelle.
"Kita bicara di dalam." Dirga menarik tangan Michelle dan membawanya ke dalam ruangannya!
"Mau bicara apa?" tanya Dirga setelah mereka berada di dalam ruangan itu.
"Darko tidak muncul di pasar."
"Mungkin laki-laki itu sedang tidak ada di pasar. Coba lagi besok," ucap Aby.
"Pasti akan aku coba lagi," ucap Michelle.
"Menurutmu apa laki-laki itu masih membutuhkan Bu Marisa?" ucap Dirga.
"Pasti. Laki-laki itu hanyalah seorang kuli bangunan dan baru-baru ini dia baru keluar dari penjara setelah sepuluh tahun dipenjara pastinya dia belum memiliki pekerjaan," ucap Michelle.
"Semoga besok laki-laki itu bisa ditemukan. Aku tidak berani menyentuh Mawar setelah tahu pernikahan aku tidak sah," ucap Aby.
__ADS_1
"Hah rupanya itu yang sedang Anda kejar," ucap Dirga.
"Aku akan berusaha secepatnya untuk menemukan dia agar kita bisa menemukan Ayah kandung Mawar. Kamu sudah cukup tersiksa beberapa hari ini," ucap Michelle pada Aby.
"Ya ampun, kenapa kamu mengkhawatirkan masalah pribadinya?" ucap Dirga.
"Maksud kamu apa? Aby akan ikut sedih kalau Mawar sedih dan sekarang ini dia sedang berusaha menutupi kenyataan menyakitkan bahwa Mawar bukan anaknya Pak Mahendra," ucap Michelle.
"Aku pikir, kamu?"
"Dasar mesum. Tidak pandai merayu pikiranmu hanya itu-itu saja," ucap Michelle.
"Eum, Michelle. Maaf ya sudah berkali-kali aku terus merepotkan kamu," ucap Aby.
"Sudah tugas aku membantu orang yang membutuhkan lagipula aku dan Mawar pernah senasib. Pernah sama-sama berjuang untuk menemukan sosok seorang Ibu dan juga Ayah. Aku tahu apa yang akan Mawar rasakan saat dia tahu kebenaran ini karena itulah secepatnya aku akan menemukan Papanya karena biar bagaimana pun juga suatu saat Mawar akan tahu ini dan dia pasti menanyakan siapa Papanya," ucap Michelle.
*******
"Iiiih! Kamu ngapain sih datang ke rumah? Aku tidak mau Mama, Papa aku tahu kalau kamu pacar aku," ucap Nasya kesal.
"Gimana lagi, sekarang mereka sudah tahu," ucap Reza.
"Aku benci sama kamu, aku benci! Benci! Benci!" Nasya memukuli Reza dengan tasnya.
"Nasya! Aduh, maafkan aku," ucap Reza.
"Gak ada gunanya minta maaf. Orang tuaku sudah tahu semuanya," ucap Nasya kesal.
"Kalau gitu kenapa kamu marah? Udahlah mending kita pacaran," ucap Reza.
"Ogah." Nasya pergi meninggalkan Reza dengan langkahnya yang panjang dan cepat.
"Gitu ya kalau cewek sedang marah. Padahal bagus kalau aku sudah bicara dengan orang tuanya," gumam Reza sembari menatap kepergian Nasya.
"Mau kemana?" tanya El pada Nasya.
"Pergi," sahut Nasya singkat.
"Lagi marahan ya. Kita nongkrong dulu yuk sebelum pulang," ucap El.
"Ide bagus. Nongkrong di mana?" tanya Nasya.
"Di tempat biasa tapi aku mau jemput Ussy dulu," ucap El.
"Baru jam segini, emang pekerjaan dia di rumah udah selesai?" tanya Nasya setelah melihat jam di tangannya menunjukkan pukul sebelas siang.
"Belum. Biasnya dia akan menyetrika dan aku yang mengepel lantai," ucap El.
"Kamu melakukan itu untuk membantu Ussy?"
"Tentu saja kadang kami juga berbagi makanan dan saling meminjam pakaian," ucap El.
"Enak ya jadi kamu. Kayak punya adik atau sahabat satu rumah," ucap Nasya.
"Hmmm, itulah yang membuat aku betah di sini ditambah dengan sifat Ussy yang random abis semakin membuat aku betah."
"Iya, tuh anak emang unik ya. Kadang dia somplak nya minta ampun kadang pemikirannya dewasa banget kayak orang bener," ucap Nasya.
"Kamu pikir dia gila?" ucap El.
"Nggak juga." Dua gadis itu pun tertawa kala mengingat tingkah Ussy yang selalu berhasil mengocok perutnya.
"Tadi marah-marah, sekarang ketawa-ketawa," ucap Reza sembari berjalan menghampiri dua gadis itu!
Bersambung
__ADS_1