
Keesokan harinya.
Pagi itu di kediaman orang tuanya Mawar, semua orang sudah bersiap untuk pergi ke lahan tempat pembangunan pabrik milik keluarga Abymana.
"Kamu serius mau ikut?" tanya Any pada Dirga.
"Serius lah masa nggak. Satu kampung kita undang ke sana masa aku gak ikut. Kali aja aku nemu jodoh di sini," ucap Dirga.
"Jodoh aja yang dipikirin, kerjaan dulu," celetuk Mawar.
"Kerjaan aku udah oke, gaji besar, rumah punya, penampilan oke apa lagi coba yang harus aku perjuangkan selain jodoh," ucap Dirga.
"Udah-udah, kira pergi sekarang. Jalan menuju ke sana jelek, kita pasti perlu waktu untuk sampai ke sana," ucap Aby.
"Ayo bersiap diposisi masing-masing ya," ucap Dirga.
"Kali ini aku yang bawa mobil," ucap Mawar.
"Nggak-nggak, kamu bawa mobilnya gak bener, aku takut," ucap Aby.
Kemarin sore memang Mawar yang mengendarai mobil mereka saat pulang dari lahan itu, Aby yang sudah tahu bagaimana Mawar membawa mobilnya tak ingin lagi membiarkan istrinya itu mengendarai mobilnya lagi.
"Kalau Dirga yang bawa, nyampe sananya lama. Udah aku aja biar mobil Frans, Taufik yang bawa," ucap Mawar lagi.
"Emang dia bisa bawa mobil?" tanya Aby.
Melihat penampilan mereka dan keadaan mereka, Aby meragukan kemapuan orang kampung itu. Jangankan beli mobil, untuk keperluan sehari-hari saja terlihat tidak memungkinkan.
"Jangankan bawa mobil, bawa gini bawa hati aku aja dia lincah banget," ucap Mawar dengan tawa kecil.
"Orang serius malah diajak bercanda, awas nanti ada yang meledak," celetuk Dirga.
Mawar tertawa lalu mencolek perut Aby dengan jari telunjuknya!
"Kamu apaan, pagi-pagi gini udah bikin suami kesal," ucap Aby.
"Fik, kamu mau kan jadi sopir mereka?" ucap Mawar pada Taufik.
__ADS_1
"Untuk kamu apa sih yang enggak," sahut Taufik.
"Suamiku, boleh aku yang bawa mobilnya? Nanti kan kalau mobilnya goyang-goyang kamu bisa pegangan atau cari kesempatan dalam kesempitan gitu. Biasanya kamu suka gitu, mau meluk aku aja suka nyari kesempatan dulu," ucap Mawar.
"Betul itu, mana tahu ada kesempatan buat anu," ucap Dirga.
"Anu apa?" tanya Aby.
"Apa kek. Aku mau numpang di mobil mereka aja," ucap Dirga.
"Terserah. Ayo pergi," ucap Aby.
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil masing-masing sementara Kedua orang tua Mawar menaiki mobil Aby dengan Mawar sebagai sopir mereka!
**********
Di kota.
Dua orang preman sudah berdiri di tempat yang tidak jauh dari kampus tempat Mawar kuliah.
"Kayaknya cewek itu gak datang lagi ke kampus. Gue dengar dia lagi liburan ke luar kota," ucap Yura sembari berjalan ke arah mereka.
Dua preman itu menoleh ke arah Yura. "Terus, gimana rencana kita?" tanya salah satu dari preman itu.
"Jalankan nanti saja saat dia pulang. Uang yang sudah gue kasih ke kalian, pegang saja. Jangan coba kabur karena kalau kalian melakukan itu, jangan harap kalian bisa selamat," ucap Yura.
"Kamu tenang saja, Kita gak akan kabur."
**********
Di kediaman Mahendra.
"Papa gak ikut ke kampung untuk menghadiri peresmian pembangunan pabrik Pak Rendy?" tanya Marisa.
"Kalau gak diundang, ngapain harus ikut. Bikin malu diri sendiri aja," ucap Mahendra.
"Jadi, Papa gak diajak?" ucap Jingga.
__ADS_1
"Nggak. Mereka hanya mengundang orang-orang kampung di sana aja, gak ngundang orang terdekat yang ada di sini," jelas Mahendra.
"Setidaknya mereka mengajak Papa, Papa kan orang tuanya Mawar dan selain itu juga, Papa punya hubungan baik dengan keluarga mereka," protes Marisa.
"Sudahlah, Ma. Hal kecil gitu aja harus dipermasalahkan," ucap Mahendra.
"Iih, Papa. Papa tuh diginiin sama mereka, itu artinya mereka tak terlalu menganggap Papa ada," ucap Jingga.
"Kalian ini pikirannya terlalu negatif. Mereka ya mereka, cara berpikir mereka dan kita itu berbeda. Udahlah, gak usah berpikir buruk gitu." Mahendra bangkit dari duduknya dan langsung pergi!
**********
Di kampung.
Kini mereka semua sudah berkumpul di tempat pembangunan pabrik itu.
Kepala desa di sana sudah datang dan para warga di sana juga sudah berkumpul.
"Mas ganteng!" seru Nasya yang baru tiba di sana.
Merasa ada yang memanggilnya, Dirga menoleh ke arah jalanan berbatu itu dan dia langsung melihat Nasya di sana.
"Nasya," gumam Dirga.
Dirga langsung berjalan menghampiri mobil yang masih bergerak untuk parkir itu!
Setelah mobil itu berhenti Dirga membukakan pintu mobil itu dan Nasya dengan disusul oleh Randy dan Ratu keluar dari mobilnya.
"Udah mulai ya, acaranya?" ucap Randy.
"Belum, Pak. Bagaimana bisa dimulai tanpa Anda," ucap Dirga.
Dari tempat tersembunyi. Michelle mengintip mereka yang sedang berada dalam kerumunan warga, dirinya tak boleh lengah karena bisa saja para penyusup datang untuk menyerang mereka.
Bersambung
__ADS_1