
Keesokan harinya.
Setelah tiga hari tidak masuk kampus dan tak menjalankan rutinitasnya seperti biasanya, kini Mawar sudah mulai melakukan kembali rutinitasnya sehari-hari.
"Yakin mau ke kampus?" tanya Aby sembari menarik kursi makan untuknya duduk.
"Yakin dong," sahut Mawar yang sedang menuang air ke dalam gelas.
"Udah sembuh?"
"Udah, tenang aja aku baik-baik saja," sahut Mawar.
"Ya udah, aku antar kamu ke kampus ya."
"Gak usah, aku bawa motor aja seperti biasa."
"Aku khawatir lho sama kamu."
"Aku tahu itu tapi aku gak apa-apa kok atau kamu mau mengumumkan pada semua orang kalau akulah istrimu?" ucap Mawar.
"Hah?" Aby menatap Mawar. "Memangnya boleh?" tanya Aby.
"Ya ... boleh tapi sebenarnya aku belum siap teman-teman kampusku tahu kalau aku ini istrinya Tuan Muda Abymana," ucap Mawar.
"Ya udah nanti aja umumin nya kalau gitu."
"Hari ini juga gak apa deh, aku siap jadi istri kamu didepan umum," ucap Mawar.
"Nanti aja deh tunggu waktu yang tepat."
"Terserah. Makanlah, aku cuma sempat masak nasi goreng ini," ucap Mawar.
"Nasi goreng juga enak kalau kamu yang masak oh ya, Mawar apa sebaiknya kita bayar jasa asisten rumah tangga untuk mengurus pekerjaan rumah?"
"Gak usah, aku masih bisa mengerjakan semuanya sendiri."
"Masa calon Dokter masih harus ngerjain pekerjaan rumah?"
"Ini memang sudah kodratnya seorang perempuan mau setinggi apa pendidikan seorang perempuan atau setinggi apapun jabatan seorang perempuan tetap saja dia seorang perempuan yang tugas utamanya adalah melayani suaminya sebaik mungkin dan memastikan rumah rapi seperti bagaimana mestinya," ucap Mawar panjang lebar.
Aby tersenyum sembari mencubit hidung Mawar.
__ADS_1
"Kamu tuh kayak nenek-nenek tahu gak. Gimana nanti kalau kamu udah jadi Dokter dan mempunyai kesibukan lain, gak mungkin juga kan kamu melakukan semua pekerjaan rumah sendiri," ucap Aby.
"Ish sakit hidungku ini. Aku tahu itu aku pikir sekarang kita belum memerlukan asisten rumah tangga karena aku sendiri belum ada kesibukannya, aku kan belum jadi Dokter."
"Jadi nanti kamu mau kan bayar jasa asisten rumah tangga?"
"Iya tapi nanti, setelah aku kerja," ucap Mawar.
"Padahal gak kerja juga aku masih sanggup membiayai hidup kamu."
"Ini bukan tentang biaya hidup aku. Dua puluh tahun aku hidup bersama orang tua angkatku dalam keadaan pas-pasan aku pikir setelah aku kerja nanti, aku dapat menaikan derajat ekonomi mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka bekerja di kebun atau di sawah lagi, aku mau masa tua mereka dihabiskan dengan berdiam diri di rumah dan hanya menemani cucu-cucu mereka saja," ucap Mawar.
"Kita nyetak cucu baru kemarin, masih lama untuk mereka dapat cucu."
Mawar menatap Aby lalu tersenyum kecil.
"Ya baru kemarin tapi lama-lama kan lagi, lagi dan lagi," ucap Mawar.
"Ngobrol sama kamu tuh bikin betah tahu gak. Udah siang nih, ayo berangkat," ucap Aby.
"Ya, baiklah suamiku. Kamu hati-hati ya, jaga hati kamu dengan baik jangan sampai kamu jatuh cinta lagi sama Jingga," ucap Mawar.
*********
Di panti asuhan.
Michelle sedang duduk di kursi yang ada di taman kecil yang ada di depan panti asuhan itu.
Dari belakangnya Bu Jena berjalan dan menghampiri dirinya! Wanita yang usianya sudah dua kali lipat dari Michelle itu duduk di samping Michelle dan menatap gadis itu.
"Michelle," ucapnya pada Michelle.
"Iya, Bu ada apa?" ucap Michelle.
"Kamu sudah dewasa apa kamu tidak mau menikah?" ucap Bu Jena.
Michelle tersenyum lalu meraih tangan Bu Jena.
"Bu, gimana aku mau nikah sedangkan laki-laki yang dekat denganku saja tidak ada," ucap Michelle sembari menggenggam tangan sang Ibu.
"Bukan tidak ada tapi kamu yang selalu menjauh dari mereka."
__ADS_1
"Lagian aku tidak mau menikah sebelum aku menemukan orang tuaku," sambung Michelle.
"Kalau mereka masih ada, kamu akan menemukan mereka saat sudah waktunya tidak harus menunda kelangsungan hidup kamu ada baiknya tidak terlalu fokus pada orang tua kamu dulu sekarang fokuslah pada kehidupan pribadimu. Michelle, Ibu sudah tua siapa nanti yang mau mengurus panti ini kalau Ibu sudah tak ada umur lagi sedangkan kamu satu-satunya anak Ibu, belum menikah dan hanya sibuk pada ambisinya," ucap Jena.
"Bu, maafkan aku tapi kalau pun aku tidak terlalu bekerja keras untuk mencari orang tuaku tetap saja aku tidak bisa menikah dalam waktu dekat, aku kan gak punya pacar apalagi calon suami. Lagian Ibu jangan bicara seperti itu, Ibu harus panjang umur ibu harus melihat aku dan anak-anak itu bahagia dengan keluarga masing-masing, aku sayang sama Ibu dan aku sudah menganggap Ibu seperti Ibu kandungku tapi aku juga ingin tahu dan ingin mengenal orang tuaku," ucap Michelle.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Bagaimana dengan pemuda yang kemarin datang? Bukankah dia begitu tampan?" ucap Bu Jena.
"Dirga maksud Ibu? Bu, dia itu siapa sedangkan aku siapa rasanya gak mungkin aku dapat bersamanya," ucap Michelle.
"Kamu suka padanya?"
"Tidak. Ibu jangan ngaco deh," ucap Michelle dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Ibu tahu kamu suka padanya."
"Ibu jangan sok tahu ah, aku gak suka padanya."
"Iya-iya terserah kamu. Mulut kamu bisa berbohong pada Ibu tapi sorot mata kamu tidak bisa membohongi Ibu." Jena tersenyum sembari menatap Michelle.
"Ibu." Michelle memeluk Ibu Jena!
Dengan tangan kiri yang memeluk Michelle, tangan kanannya meraih sesuatu dari dalam saku celananya lalu ia memberikan barang itu pada Michelle.
"Pakai kalung ini, siapa tahu orang tuamu melihatmu memakai kalung ini dan langsung mengingatmu," ucap Bu Jena setelah melerai pelukannya.
"Apa ini, Bu?" tanya Michelle.
"Saat Ibu menemukan kamu, kamu memakai kalung ini dan sekarang kamu pakailah kalung ini. Sebenarnya Ibu ingin memberikan ini sejak lama tapi Ibu berpikiran jahat padamu, Ibu tidak mau kehilangan kamu dan akhirnya Ibu menyembunyikan kalung ini," ucap Bu Jena. "Maafkan ibu," sambungnya.
"Lalu kenapa sekarang ibu memberikan kalung ini?"
"Ibu tidak bisa melihat kamu bersedih jika dengan bertemu dengan mereka dapat membuat kamu bahagia maka carilah mereka dan berbahagialah bersama mereka." Jena menangis karena takut Michelle akan marah padanya dan akan membenci dirinya.
Michelle menatap kalung dengan liontin berbentuk kupu-kupu berwarna biru itu lalu menggenggamnya dengan erat.
"Ibu mohon maafkan Ibu, Ibu hanya terlalu menyayangi dirimu," ucap Bu Jena.
Michelle kembali memeluk Bu Jena dengan erat! Kali ini dengan diiringi tangisannya, Michelle memeluk Ibu asuhnya dengan waktu yang lumayan lama.
Bersambung
__ADS_1