
Setelah selesai dengan semua urusannya di tempat itu, Michelle langsung berpamitan karena harus segera menyelesaikan misinya!
"Michelle!"
"Ya, ada apa Kak?" ucap Michelle setelah menghentikan langkahnya dan berbalik arah menjadi menatap laki-laki itu.
"Hati-hati."
"Iya, Kak, terima kasih." Michelle mengulas senyuman lalu mulai melanjutkan langkahnya lagi.
Dengan langkah yang tak pernah mengenal takut, Michelle terus berjalan keluar dari tempat itu! Ia akan langsung menuju rumah salah satu buruannya yang identitasnya sudah ia ketahui.
"Aku akan mendapatkan mereka hari ini atau besok," batin Michelle sambil terus berjalan menghampiri motornya!
*******
Di kediaman Abymana.
"Aduh anak-anak Mama sudah cantik dan ganteng," ucap Mawar sembari menatap Baby Aditya dan Maira.
"Selamat pagi cucu nenek," ucap Marisa sembari berjalan menghampiri dua bayi mungil itu.
"Mawar, sarapan dulu sana biar Mama yang menjaga mereka," ucap Marisa.
"Sarapan? Tadi aku sudah sarapan," ucap Mawar.
"Kamu kan ibu menyusui harus banyak makan agar nutrisi bayi kamu terpenuhi," ucap Marisa.
"Tapi aku udah sarapan," ucap Mawar.
"Kalau gitu makan apa saja. Makan camilan yang ada, biar kamu gak kelaparan," ucap Marisa lagi.
"Mama, aku sudah memakan banyak makanan."
"Marisa benar, Mawar. Kamu harus banyak makan agar kebutuhan bayi kamu terpenuhi apa lagi kamu menyusui dua bayi sekaligus," ucap Bu Ratna.
"Gak Mama gak Ibu, kalian tuh nyuruh makan terus, emang kalian pikir perut aku ini karung apa yang isinya banyak?"
"Biasanya Ibu menyusui akan lebih cepat merasa lapar karena asi nya terus diminum oleh bayinya," ucap Marisa.
"Biasa aja. Eh iya, Ma dimana Jingga? Aku belum melihatnya sejak pagi," ucap Mawar.
"Jingga ke kantor pagi-pagi sekali katanya dia ada meeting pagi," jelas Marisa.
"Sampai gak sempat sarapan di rumah," ucap Mawar lagi.
"Itulah resiko sebagai asisten seorang pemilik perusahaan. Selalu sibuk sampai tak memperhatikan dirinya," ucap Marisa.
"Jingga itu sudah dewasa. Kenapa belum menikah juga?" ucap Bu Ratna.
"Belum ketemu jodohnya, Bude," ucap Marisa.
"Kapan ketemu jodohnya kalau dekat dengan laki-laki saja tidak pernah," ucap Bu Ratna lagi.
"Bu, akan ada saatnya Jingga menemukan pasangan hidupnya nanti," ucap Mawar.
"Permintaan semuanya," ucap Frans.
__ADS_1
"Ya, ada apa Frans?" tanya Marisa.
"Barusan Mbak Jingga menelpon saya dan meminta saya untuk mengambil berkas yang ketinggalan di kamarnya," ucap Frans.
"Ah ya! Kita jodohkan saja Jingga dengan Frans," ucap Bu Ratna.
"Ibu, apaan sih menjodohkan mereka. Biarkan mereka mencari jodoh sendiri," ucap Mawar.
Frans hanya diam dan tertunduk malu, dalam hatinya ia berkata-kata tentang perjodohan yang dibicarakan oleh Bu Ratna.
"Kalau menurut Bude cocok ya silahkan tapi kalau mereka nya mau," ucap Marisa.
"Bu, maaf berkasnya mana?" ucap Frans karena tak ingin mendengar percakapan mereka terlalu lama.
"Astaga, sampai lupa. Sebentar ya Frans." Marisa segera pergi untuk mengambil berkas yang dimaksud oleh Frans.
*******
Siang hari di kampus El.
Saat itu El dan Nasya baru selesai dengan tugasnya sebagai mahasiswa, kini mereka akan langsung pulang karena tak ada acara pergi bersama atau makan siang bersama.
"Cinta!" seru Reza dari depan gerbang.
Nasya dan El langsung menatap ke arah suara dan langsung melihat sosok Reza.
"Itu orang ngapain sih ke sini?" ucap Nasya.
"Jemput kamu lah, apa lagi?" ucap El.
"Tadi aku udah bilang kalau aku tidak perlu dijemput. Kenapa makhluk itu muncul di sini? Apa dia tidak bekerja?" ucap Nasya.
"Apa sih kamu. Dahlah aku samperin dia dulu," ucap Nasya lalu berjalan menuju gerbang kampusnya! Sementara El langsung masuk ke dalam mobilnya karena ia harus segera pulang.
"Sya! Aku duluan ya," ucap El sembari melambaikan tangannya pada Nasya dan Reza.
Nasya tak menyahut, ia hanya terdiam sembari menatap kepergian El.
"Ayo kita pulang," ucap Reza.
"Sudah kubilang jangan jemput aku," ucap Nasya menggerutu sambil berjalan memasuki mobil Reza.
"Aku selalu kangen sama kamu, aku bisa mati kalau gak bertemu sama kamu," ucap Reza setelah dirinya masuk ke dalam mobil.
"Gombal aja terus, padahal aku gak mempan dengan gombalan kamu itu."
"Terserah kamu. Aku serius, tidak pernah ada gombal dalam hidupku."
"Karena kamu sudah terlanjur dewasa," ketua Nasya.
"Makanya kamu harus mau cepat-cepat nikah sama aku," ucap Reza.
"Fokus tuh sama jalan kalau gak mau kecelakaan," ucap El.
********
Di kediaman Athalia.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!" ucap El dari luar.
"Waalaikumsalam," sahut Athalia yang sedang duduk di kursi ruangan tamu rumah mereka.
El berjalan memasuki rumahnya! "Tumben Mama nyanyi di sini?" ucap El sembari terus mendekati Athalia untuk mencium tangannya.
"Rupanya calon istriku sudah pulang."
Suara seorang laki-laki berhasil mengejutkan El yang baru mencium punggung tangan Athalia. Dia menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah suara! Alangkah terkejutnya ia saat melihat Fredy yang duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan Mamanya.
"Sayang, kamu kok gak bilang kalau kamu sudah punya laki-laki yang serius sama kamu?" ucap Athalia.
"Kamu, kamu ngapain di rumahku?" ucap El sambil terus menatap Fredy.
"Aku baru membicarakan pernikahan kita dengan Mamamu. Aku ingin kita menikah secepatnya dan untungnya Mama merestui niat baik kita untuk menikah dalam waktu dekat," ucap Fredy.
"A_apa, apa kamu bilang?" El terkejut mendengar pernyataan Fredy.
"Mama setuju dengan buat Nak Fredy untuk menikahi kamu lagipula sebentar lagi kuliah kamu selesai," ucap Athalia.
"Tapi, Ma ... aku dan dia tidak–"
"Eliandra, udahlah jangan sembunyikan hubungan kita lagi. Lagipula Mama udah setuju," ucap Fredy.
"Kita perlu bicara!" El menarik tangan Fredy dan membawanya keluar dari rumahnya sementara Athalia hanya diam dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Anak itu memang aneh, tidak pernah bercerita kalau dia punya pacar dan sekarang, tiba-tiba ada yang melamarnya," batin Athalia.
"Kamu tuh apa sih datang ke rumah dan membicarakan soal pernikahan. Kamu siapa hah? Berani-beraninya datang ke rumah aku," ucap El dengan nada kesal.
"Kita sudah kenalan kemarin dan apa salahnya aku berniat menikahimu?" ucap Fredy dengan santainya.
"Gila kamu ya, benar-benar gila. Kamu pasti kebanyakan minum obat terlarang sampai jadi linglung gini. Pulang sana! Pulang!" El mengusir Fredy dari rumahnya karena tak mau mendengar perkataan laki-laki itu yang menurutnya tidak penting.
Baru kemarin ia merasa direndahkan oleh Fredy dan hari ini dia datang untuk melamarnya, tentu saja hal itu membuat El terkejut dan kesal dengan apa yang dilakukan laki-laki yang tidak dikenalnya itu.
"Aku akan mendapatkan kamu. Harus kamu tahu bahwa aku tidak pernah menerima kegagalan atau pun penolakan, kamu akan menjadi milikku," ucap Fredy sembari masuk lagi ke dalam rumah!
"Dasar laki-laki gak waras," gumam El sembari menyusul Fredy!
"Mama mertua, saya izin pulang dulu kapan-kapan saya akan datang membawa orang tua saya ke sini," ucap Fredy pada Athalia.
"Oh ya, silahkan. Hati-hati ya, Nak," ucap Athalia.
Athalia yang tidak tahu apa-apa hanya bisa merestui hubungan mereka karena itulah tugas seorang ibu setelah anaknya tumbuh dewasa.
"El, aku pulang dulu ya dan nanti malam aku akan menjemput kamu untuk makan malam bersama. Aku sudah mendapatkan izin dari Mama untuk nanti malam jadi, kamu tidak boleh tidak mau," ucap Fredy lalu segera keluar dari rumah itu.
El terdiam sambil terus menatap kepergian Fredy, dalam hatinya ia masih merasa bingung dan aneh dengan apa yang terjadi hari ini.
"Ini mimpi atau bukan, Ma?" gumam El.
"Ini nyata, Sayang," ucap Athalia.
"Ganteng sih tapi apa dia orang baik-baik? Gimana kalau dia penjahat?" gumam El lagi.
"Ada-ada saja kamu ini. Dia terlihat baik dan dia juga sopan. Kamu sebagai pacarnya masa gak tahu dia baik atau tidak," ucap Athalia.
__ADS_1
El masih terdiam sambil berdiri di sana, ia merasa yang terjadi padanya bukan kenyataan dan ia berharap itu memang tidak nyata.
Bersambung