
Di tempat penyekapan itu para polisi sudah tiba di sana dan sudah meringkus kawanan penjahat itu.
Seorang kapten polisi berjalan menghampiri Dirga!
"Terima kasih karena sudah membantu kepolisian untuk meringkus komplotan penjahat ini. Mereka semua termasuk daftar pencarian orang kami," ucap polisi itu.
"Sama-sama, Pak saya hanya membantu sedikit saja," sahut Dirga.
Polisi itu tersenyum ramah pada Dirga. "Kalau begitu kami permisi," ucap polisi itu lalu menjabat tangan Dirga.
"Iya, Pak silahkan."
"Mereka akan kami antar pulang ke rumahnya," ucap polisi itu lagi.
"Pak, saya mengenal mereka biar saya saja yang mengantar mereka pulang," ucap Dirga. Sebenarnya Dirga tak masalah jika para perempuan itu ikut bersama polisi tapi ia sudah mendapatkan perintah dari istrinya untuk mengantarkan mereka sampai rumah masing-masing dan ia tidak berniat untuk membohongi istrinya itu.
"Baiklah kalau begitu," ucap polisi itu.
Dirga mengangguk lalu berterima kasih kepada polisi itu dan setelah itu ia langsung mengarahkan para perempuan itu masuk ke dalam mobilnya!
Dirga pun langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu!
"Mas, terima kasih ya sudah menyelamatkan kami," ucap salah satu dari lima perempuan itu.
"Sama-sama, seharusnya kalian berterima kasih pada Michelle," ucap Dirga.
"Istri, Mas sangat hebat. Dia bisa mengalahkan para penculik itu," ucap perempuan yang duduk di bangku depan.
"Dia memang hebat," sahut Dirga.
"Mas beruntung memiliki istri seperti dia," ucap perempuan lain yang duduk di bangku belakang.
Dirga hanya menanggapi perkataan perempuan itu dengan senyuman saja.
"Dia bukan perempuan biasa, dia terlihat seperti seorang agen rahasia yang bekerja untuk seseorang," ucap perempuan lainnya.
"Itu tidak benar, istri saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dia seperti itu karena dia menjadi korban penculikan, sama seperti kalian," ucap Dirga yang mencoba menyembunyikan identitas asli Michelle.
"Tapi dia punya senjata yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa dan tadi juga dia berkata bahwa dia ada urusan dengan bos penculik itu. Itu artinya istri, Mas memang sedang mencari laki-laki itu."
"Kamu wartawan ya?" tanya Dirga.
"Iya," sahutnya jujur.
"Pantas dari caramu berbicara, ingatanmu dan penglihatan mu begitu jeli."
"Pekerjaan yang menuntut ku untuk seperti itu. Berarti benar istri anda itu seorang agen rahasia?"
"Bukan," sahut Dirga.
*********
__ADS_1
Di tempat Michelle menyekap tawanannya.
Uhuk!
Uhuk!
Fian baru tersadar dari pingsannya, dia membuka matanya dan langsung melihat Michelle duduk di kursi tepat di depannya.
"Sudah cukup istirahatnya, Fian?" ucap Michelle santai.
"Siapa kamu, mau apa kamu?" tanya Fian.
Fian berusaha untuk berdiri namun tak bisa karena tubuhnya terikat disatukan dengan kursi yang didudukinya.
Michelle tak menjawab, ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat Fian dengan membawa jarum suntik!
"Mau apa kamu?" tanya Fian lagi.
"Hanya mengambil sedikit darahmu," sahut Michelle sembari menyedot darah Fian dengan jarum suntik itu.
"Untuk apa?" tanya Fian lagi.
"Untuk menjebloskan kamu ke dalam penjara," ucap Michelle.
Michelle langsung keluar dari tempat itu dan bersiap untuk pulau ke rumahnya!
"Tinggal! Tunggu dulu!" seru Fian namun, tak ditanggapi oleh Michelle.
Michelle tetap tak berbicara, ia mengunci pintu itu dan terus melanjutkan langkahnya!
"Fian! Fian!" seru Adi yang disetiap di ruangan sebelah.
"Siapa itu?" tanya Fian sambil mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.
"Adi! Kamu juga ditangkap oleh perempuan itu?" sahut Adi.
Fian berusaha menggeser tepatnya ke sisi dinding pembatas antara ruangannya dan ruangan di sebelahnya!
"Fian, tolong aku!" seru Adi dari ruangan sebelah.
"Bagaimana caranya? Wanita itu mengikatku! Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia menangkap kita?" ucap Fian.
"Sial! Dia orangnya Pak Mahendra. Mungkin Marisa sudah buka suara pada Pak Mahendra," ucap Adi.
Mereka berdua sama-sama berjuang untuk pergi dari sana, mereka sadar bahwa mereka mempunyai kesalahan pada Pak Mahendra dan Bu Marisa, mereka tahu bahwa Pak Mahendra akan membalas dendam padanya.
*********
Di rumah Mitha.
"Kalian dari mana? Tengah malam gini baru pulang," ucap Michaela yang melihat Dirga dan Michelle baru tiba di rumahnya.
__ADS_1
"Abis main petak umpet. Istirahatlah, Kak sedang apa kakak belum tidur?" ucap Michelle.
"Kakak haus. Udah kalian yang istirahat sana," ucap Michaela. Michaela melanjutkan langkahnya tapi baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya lagi dan menatap wajah Michelle.
"Ya ampun, kamu terluka," ucap Michaela.
Karena khawatir, Michaela menarik tangan Michelle lalu menyuruhnya duduk di kursi itu!
"Duduklah, kakak akan mengambil obat untuk kamu," ucap Michaela lagi lalu ia segera mengambil kotak p3k yang terdapat di dalam laci di dekat televisi!
"Aku gak apa-apa, Kak," ucap Michelle.
"Gak apa-apa gimana? Kamu terluka dan harus segera diobati biar gak infeksi," ucap Michaela.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya Mitha yang baru keluar dari kamarnya karena mendengar keributan.
"Mama, pasti Mama terganggu, maaf ya," ucap Dirga sementara itu Michaela terus fokus pada luka yang terdapat di sudut bibir Michelle.
"Ya ampun, Sayang." Mitha berjalan mendekati Michelle lalu segera meraih pipi Michelle dan memperhatikan seluruh wajah dan tubuh Michelle, mencari-cari luka lain yang mungkin terdapat di bagian tubuh yang lain.
"Aku gak apa-apa, Ma," ucap Michelle.
"Bohong, dia terluka dan ada banyak luka memar," ucap Michaela.
"Aduh, Nak. Mama sudah bilang tinggalkan pekerjaan itu," ucap Mitha sembari mengelus pipi Michelle.
"Mama jangan khawatir, aku bilang kalau aku tidak apa-apa," ucap Michelle.
"Mama tahu gak? Anak Mama ini baru menyelamatkan lima permpuan korban penculikan yang rencananya akan siperjual belikan," jelas Dirga.
"Apa?" Mitha menatap Dirga lalu menatap Michelle lagi.
"Tadi aku menjadi korban penculikan tapi sekarang aku udah aman karena penculinya sudah masuk penjara," jelas Michelle.
"Astaghfirullah, Nak."
"Dirga, kamu mau diobati juga?" tanya Michaela setelah selesai mengobati saleb luka memar pada semua luka yang diderita oleh Michelle.
"Gak usah, aku gak apa-apa kok," sahut Dirga.
"Kamu juga terluka memar tapi kalau kamu gak mau gak apa-apa, kakak tidak mungkin memaksa," ucap Michaela.
"Ya udah, istirahat sana. Besok kamu jangan keluar dari rumah," ucap Bu Mitha.
"Iya, Ma. Aku akan beristirahat tapi untuk larangan Mama, rasanya gak mungkin. Aku gak mungkin terdiam di rumah seharian penuh," ucap Michelle.
"Kalau gitu kami istirahat dulu ya, Ma, Kak," ucap Dirga sembari berjalan menggandeng tangan Michelle!
Setibanya di dalam kamar, Michelle dan Dirga pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah melewati hari yang menegangkan.
Bersambung
__ADS_1