Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 116


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, kini jam sudah menunjukkan pukul dia puluh satu lewat sepuluh menit.


Marisa duduk di kursi makan sambil terus melihat jam di dinding ruangan itu.


"Sudah malam, kenapa Papa belum pulang juga," batin Marisa.


Marisa khawatir terhadap Mahendra yang sudah malam seperti ini belum pulang juga, tak biasanya suaminya itu pulang se_malam ini.


"Kenapa Papa gak mau mengangkat telpon dariku? Kamu dimana Pa?" gumam Marisa.


"Ma, kenapa Mama belum tidur? Tumben biasanya Mama udah rebahan di tempat tidur," ucap Jingga.


"Papa belum pulang. Mama khawatir terjadi sesuatu pada Papa, gak biasanya dia Papa pulang malam seperti ini."


"Belum pulang? Papa kemana, coba telpon," ucapan Jingga.


"Udah Mama telpon berkali-kali tapi gak diangkat juga. Mama khawatir banget," ucap Marisa.


"Assalamu'alaikum," ucap Mahendra yang baru tiba di rumahnya.


Dia berjalan menghampiri Marisa dan Jingga yang sedang duduk di kursi makan!


Marisa bangkit dari duduknya lalu segera menghampiri Mahendra! Diraihnya tas kerja sang suami dan langsung mengarahkannya suaminya ke kursi makan!


Marisa menuang air putih lalu memberikannya pada Mahendra!


"Minum dulu Pa, Papa terlibat sangat lelah," ucap Marisa.


"Papa dari mana? Gak biasanya Papa pulang malam," ucap Jingga.


"Papa lembur, mulai hari ini Mawar sudah menjadi CEO di kantor dan sekarang Papa ada dibawah kekuasaannya," jelas Mahendra.


"Apa! Anak itu berani mengambil alih kekuasaan Papa dari kantor Papa sendiri?" ucap Marisa.


"Bagaimana lagi. Itu memang hak Mawar karena Aby melimpahkan semua asetnya dalam perusahaan kita pada Mawar," ucap Mahendra.


"Makin lama makin kurangajar anak itu. Berarti hari ini Papa lembur karena disuruh oleh Mawar?" ucap Jingga.


"Iya tapi gak apa, ini cuma permulaan saja. Mawar belum tahu cara kerja di kantor jadi dia meminta Papa untuk membimbingnya," ucap Marisa.


"Kenapa Papa mau disuruh-suruh sama anak itu? Udah biarkan saja dia mau ngapain lagian udah tahu gak bisa apa-apa sok-sokan mau memimpin perusahaan," ucap Marisa.


"Ma kalau Papa membiarkan dia nanti yang ada perusahaan jadi bangkrut dan kita tidak akan punya penghasilan lagi. Lagipula Mawar juga anak kita gak ada salahnya Papa mengajarkan dan memberitahu dia semuanya," ucap Mahendra.

__ADS_1


"Ya kalau dia gak bisa bilang aja untuk sementara Papa dulu yang memimpin perusahaan sampai nanti dia selesai kuliah," ucap Marisa.


"Kayaknya anak itu harus dikasih pelajaran," ucap Jingga.


"Udah-udah, Jingga dia itu kan adik kamu jadi biarkan dia melakukan apa maunya lagian delapan puluh persen perusahaan kita sudah menjadi hak Mawar karena Aby memberikannya pada Mawar," jelas Mahendra.


"Udahlah, kita terima kenyataan ini. Papa minta kalian jangan boros-boros, mulai sekarang kalian harus bisa hidup hemat." Mahendra meninggalkan Marisa dan Jingga di sana karena ia sudah kegerahan dan ingin segera membersihkan dirinya.


*******


Di rumah Aby.


"Baru hari pertama bekerja sudah pulang malam seperti ini," ucap Abymana.


"Maaf, Mas ini tidak akan terulang lagi," ucap Mawar yang baru keluar dari kamar mandi setelah mempersiapkan dirinya.


"Tidak masalah, aku hanya takut kamu kelelahan dan berdampak pada kesehatanmu," ucap Aby lagi.


"Terima kasih sudah mengertikan aku."


"Hey, jangan berterimakasih padaku."


"Lalu pada siapa? Apa harus berterimakasih pada Papamu?" ucap Mawar.


"Besok aku mulai kerja lagi, boleh lembur lagi?" tanya Mawar.


"Jangan setiap hari lembur, aku gak bisa lama-lama tanpa kamu," ucap Abymana.


"Baiklah, besok gak lembur tapi besoknya boleh ya." Mawar menatap Aby dengan tatapan penuh permohonan.


"Boleh, asal kamu bahagia dan tetap menjaga kesehatan. Kamu harus tahu bekerja itu rasanya capek jadi kamu harus menjaga kondisi tubuh kamu biar vit terus."


Mawar tersenyum lalu mencium pipi Aby sekilas.


"Cuma ini imbalannya?" ucap Aby.


Mawar mengerutkan dahinya karena tak mengerti dengan perkataan sang suami.


"Aku sudah mengizinkan kamu lembur di kantor tapi cuma ini balasan kamu?" ucap Aby lagi karena ia tahu Mawar tak mengerti dengan perkataannya.


"Mas Aby," ucap Mawar dengan gaya manjanya.


Aby tersenyum lalu menarik tali jubah mandi yang dipakai oleh Mawar hingga jubah itu terbuka sepenuhnya dan menampakkan tubuh bagian depannya.

__ADS_1


"Mas Aby apa-apaan kamu?" Mawar segera menutup tubuhnya lagi dengan jubah mandinya.


"Liat sedikit, masa gak boleh."


"Ini bukan sedikit tapi banyak. Udah ah aku mau pakai baju dulu," ucap Mawar sembari melepaskan sebelah tangan Aby yang melingkar di pinggangnya.


"Ngapain pakai baju? Gitu aja dulu, enak dipandang mata."


"Katanya aku harus jaga kesehatan, kalau aku gak pakai baju nanti yang ada aku masuk angin," ucap Mawar.


"Pakai gaun tidur yang dari Dirga aja," ucap Aby.


"Itu sih sama aja gak pakai baju," ucap Mawar sembari mencari pakaiannya dari dalam lemari.


Aby hanya tersenyum melihat Mawar yang sampai saat ini masih malu memperlihatkan tubuhnya padahal mereka sudah dia kali melakukan hubungan suami istri.


**********


Di panti asuhan.


"Kapan kamu mulai pindah ke rumah kakak kamu?" tanya Bu Jena pada Michelle yang saat itu tengah temenung di kamarnya.


Mendengar suara Bu Jena membuat lamunan Michelle musnah seketika. Ia menoleh menatap Bu Jena yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Bu, belum tidur?" ucap Michelle.


"Ibu terbangun karena lupa melihat keadaan anak-anak," ucap Bu Jena.


"Mereka sudah tidur bersama Ussy. Ibu tidur lagi aja, istirahat ya."


"Gimana ibu bisa tidur kalau kamu saja terus seperti ini. Ada apa, Nak?" Bu Jena duduk di samping Michelle lalu mengusap punggung gadis itu.


Sebelum bertemu mereka, kamu sering seprti ini dan setelah menemukan mereka pun kamu masih seperti ini. Ada apa, apa yang kamu pikirkan?"


"Banyak ... aku tidak tahu sebenarnya apa yang membuat perasaanku seprti ini." Michelle menatap Bu Jena lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Kamu takut? Jangan takut dan jangan khawatirkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu khawatirkan. Pergilah Nak, Ibu tahu kamu sangat ingin bersama mereka."


"Bu, aku berat meninggalkan Ibu dan adik-adik aku di sini."


"Kita masih bisa bertemu, kamu sudah besar sudah bisa bawa kendaraan sendiri. Setiap hari kamu bisa menemui kami di sini," ucap Bu Jena.


Lama tinggal bersama Bu Jena dan anak-anak di sana membuat Michelle merasa berat jika harus pergi meninggalkan mereka, baginya mereka adalah keluarganya yang tak pernah bisa ia lupakan dan kasih sayang mereka begitu berarti baginya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2