
Mawar berjalan menghampiri Yura yang kebetulan sedang mengobrol dengan temannya yang lain!
"Yura, aku mau bicara sama kamu," ucap Mawar.
"Eh Mawar, ada apa?" sahut Yura seolah tak melakukan apa-apa.
"Kenapa kamu menyebarkan berita bohong? Aku gak pernah ya menyetujui adu dance sama kamu."
"Yah, sayangnya beritanya sudah tersebar di kampus kita ini. Sebenarnya lo bisa aja gak datang dan gak usah melakukan pertandingan adu dance ini asal dengan senang hati lo keluar dari kampus ini."
"Aku tuh gak ngerti deh sama cara berpikir kamu. Kamu cantik dan sangat berkelas tapi aku heran aja melakukan kamu gak banget. Sama sekali gak mencerminkan kalau kamu anak orang terpandang."
"Diam kamu Mawar!" Yura melayangkan tamparan pada Mawar namun belum sempat tangannya mendarat di pipi Mawar, Galaxi sudah lebih dulu menangkis tangannya.
"Jangan pernah lo sentuh Mawar." Galaxi membanting tangan Yura dengan sedikit keras.
"Galaxi, kamu kenapa ada di sini?" ucap Yura dengan raut wajahnya yang kebingungan.
"Lo lupa ya kalau gue juga kuliah di sini? Gue peringatkan ya sama lo, sekali lagi lo menyentuh Mawar dengan tangan kamu itu, gue gak akan segan-segan untuk menampar balik muka lo."
Mawar yang sudah kesal pun langsung pergi meninggalkan mereka yang sedang memperdebatkan masalahnya!
"Mawar, hebat ya kamu berani menerima tantangan Yura."
"Semangat Mawar, buat Yura lengser dari kesombongannya."
"Aku dukung kamu sepenuhnya."
"Ayo Mawar, kamu pasti bisa. Buktikan kalau anak baru juga berhak mendapatkan haknya di kampus ini."
"Buktikan kalau gak semua anak baru bisa tunduk padanya."
Sepanjang perjalanan menuju ruang kelasnya, Mawar mendapat kata-kata dukungan dari teman-temannya, meski mereka tak sepenuhnya mengenal dirinya tapi mereka mendukungnya untuk bertanding dengan Yura.
Yura memang satu-satunya mahasiswa yang selalu berlaku semaunya pada mahasiswa di kampus itu, karena itulah banyak dari mereka yang tak menyukai Yura meski begitu banyak juga mahasiswa yang menyukai Yura apalagi kaum adam.
Kecantikannya yang luar biasa membuat para pemuda tergila-gila padanya meski sifatnya kurang baik tapi kecantikannya mampu menutupi sifat buruknya.
Mawar hanya tersenyum dan tak menjawab satu pun perkataan mereka. Dia terus melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas.
**********
"Hai Mas ganteng, lagi ngapain sendirian aja?" ucap Nasya.
__ADS_1
"Nasya, ngapain kamu ke sini? Gak sekolah kamu?"
"Ditanya malah balik nanya."
"Aku lagi gak ada kegiatan di sekolah, ya udah aku pulang aja daripada di rumah bete mending kesini nemuin Mas ganteng."
"Udah ketemu kakak kamu belum?"
"Belum. Aku baru tiba dan langsung ke sini."
"Seharusnya kamu temui kakak kamu dulu biar dia gak menyangka kalau kita ada apa-apa."
"Ah malas, kak Aby sekarang gak asyik."
"Kenapa?"
"Gak tahu aku juga. Mungkin karena udah punya istri kali. Oh ya Mas ganteng, Papa ada gak ya di ruangannya?"
"Gak ada, beliau lagi keluar."
"Mas ganteng, waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu punya pacar."
"Iya, terus?"
"Enak aja, orang aku masih ganteng gini."
"Ganteng sih tapi kalau udah berumur tetap aja kelihatan."
"Emang kalau aku nikah kamu mau ngapain? Mau ngasih hadiah istimewa?"
"Ya iya lah, Mas ganteng kan kakak kedua aku setelah kak Aby."
"Bilang dulu hadiahnya apa."
"Kejutan dong, nikah dulu baru tahu hadiahnya nanti."
**********
Di ruangan Aby.
Aby termenung, memikirkan siapa sebenarnya yang harus dia pilih.
Antara Mawar dan Jingga, keduanya sama-sama mempunyai kesan tersendiri baginya.
__ADS_1
Jingga adalah gadis yang ia sayangi meski sudah jelas Jingga mengkhianati dirinya namun tak bisa dipungkiri, dirinya masih mencintai Jingga.
Baginya tak mudah melupakan semua kenangan manis yang sudah dipakainya dengan Jingga. Ia tahu bahwa keluarganya tidak akan mengizinkan dirinya bersama lagi dengan Jingga karena sekarang ia sudah memiliki istri.
Namun, meski saat ini dirinya masih mencintai Jingga tapi ia juga merasa berat jika harus melepaskan Mawar.
Gadis yang telah ia nikahi secara terpaksa itu sudah banyak mewarnai hidupnya selama dirinya mengalami kekecewaan berat pada Jingga ditambah lagi dengan Mawar yang begitu misterius membuatnya tak ingin melepaskan gadis itu.
Ia yakin bahwa orang yang pernah menolongnya di kampung itu adalah Mawar, entah kenapa hatinya begitu yakin bahwa gadis itu adalah Mawar.
Karena seringnya bersama, dirinya pun sudah mulai nyaman bersama Mawar bahkan ia sendiri tak mendustakan bahwa dirinya merasa cemburu saat Mawar mengatakan bahwa dia sudah mempunyai teman laki-laki.
Saat Mawar memuji laki-laki lain, ia merasa ada yang aneh, ia merasa tak suka ada laki-laki lain yang dikagumi oleh Mawar.
Saat ini, Abymana sedang berada dalam dua pilihan yang sama-sama berat untuk dilepaskan.
"Jingga, aku cinta sama kamu. Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa dengan mudahnya kamu pergi bersama laki-laki lain dan dengan mudahnya kamu menyerahkan mahkota yang seharusnya hanya aku yang melepasnya dari kamu," batin Aby.
Saat dirinya sedang memikirkan Jingga, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk pada ponselnya.
Ia pun meraih ponselnya lalu segera melihat siapa yang mengiriminya pesan!
"Jingga ... ngapain dia ngirim foto gini?" gumam Aby setelah melihat isi pesan dari Jingga.
Jingga mengirim fotonya yang hanya menggunakan pakaian dalam saja, seolah sedang menggoda Aby dan memancingnya untuk datang ke tempat Jingga berada.
Aby segera menghapus foto itu karena takut ketahuan oleh Papanya. Dilayar utama, ia melihat foto Mawar yang sedang tersenyum manis seolah sedang tersenyum padanya.
Ya, Aby memang menjadikan foto Mawar sebagai wallpaper pada ponselnya. Bukan tanpa alasan ia lebih memilih foto Mawar yang ia gunakan selain untuk berusaha menerimanya, Mawar yang sedang tersenyum dalam foto itu terlihat sangat cantik dan membuatnya betah memandang foto itu.
Tak terasa ia mengukir senyum di bibirnya lalu berkata. "Mawar ... gadis cantik dengan penuh kemisteriusan."
Tiba-tiba Aby teringat kejadian tadi pagi saat dirinya kejar-kejaran sama Mawar, ia kembali mengulas senyuman di bibirnya.
"Bahkan aku gak pernah melihat Jingga tertawa lepas saat bersamaku tapi kamu ... senyummu, tawamu, semuanya terlihat begitu tulus bahkan kamu masih sabar meski diawal pernikahan kita, aku selalu berkata kasar padamu. Jika kita memang berjodoh, aku yakin kita tidak akan terpisahkan meski apa pun yang terjadi."
Aby meletakan telapak tangannya pas di dadanya, ia merasakan detak jantungnya yang terasa berpacu lebih cepat saat dirinya menatap foto Mawar dan saat dirinya mengingat Mawar.
"Astaga, aku kenapa? Aku sudah berjanji akan melupakan Jingga tapi aku sungguh tidak bisa. Aku merasa kesulitan untuk melupakan Jingga tapi aku juga gak mungkin melepaskan Mawar."
Menghapus cinta yang sudah ada memang sulit, apalagi kisah percintaan yang sudah masuk ke jenjang pernikahan. Wajar saja jika saat ini Aby masih merasakan cinta pada Jingga meski dirinya tahu, Jingga sudah mengkhianatinya habis-habisan.
Bersambung
__ADS_1