
"Aku sudah menikah dengan Aby, wajar saja jika aku hamil," ucap Mawar menyahut perkataan Marisa.
"Gue gak akan biarin lo hamil," ucap Jingga.
Marisa membuka tasnya lalu melayangkan tas itu untuk menghantam perut Mawar!
Dengan sigap Mawar menarik tangan Jingga yang sedang menahan tubuhnya agar tidak bisa berpindah tempat tapi karena Mawar memiliki kemampuan lebih, Mawar menarik tangan Jingga dan menjadikan tubuh Jingga sebagai pelindung dirinya!
"Aaaa!" Jingga berteriak kesakitan sesaat setelah tas mahal milik Marisa mendarat mulus di bagian perutnya.
"Kurang ajar kamu ya Mawar. Berani kamu melawan saya," ucap Marisa sembari membantu Jingga untuk berpindah tempat!
Marisa kembali menggerakkan tangannya hendak memukul Mawar tapi saat ini Mawar sudah tak ingin mengalah lagi pada mereka karena sekarang ada bayi dalam perutnya yang harus ia lindungi.
Mawar menangkis tangan Marisa yang hendak menamparnya lalu sedikit membanting tangan Marisa.
"Jangan pernah sentuh saya lagi. Kalian gak malu apa, kalian yang memaksa saya untuk menikah dengan Aby tapi sekarang kalian juga yang memaksa aku untuk meninggalkan Aby. Sebagai seorang ibu, dimana rasa kasih sayang Anda pada saya? Dua puluh tahun saya tidak pernah mengenal Anda tapi tiba-tiba Anda menculik saya dari orang tua angkat saya lalu menikahkan saya dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya Jingga dan kamu Jingga ... dimana laki-laki yang kamu cintai? Kenapa kamu tidak hidup dengannya saja? Bukankah kamu lari dari pernikahan kamu dengan Aby karena kamu lebih memilih laki-laki itu?" ucap Mawar panjang lebar.
Tak terima dimaki oleh Mawar, Marisa dan Jingga menyerang Mawar secara bersamaan!
Jingga menarik rambut Mawar sementara itu Marisa meraih sebuah sapu yang terdapat di sudut ruangan itu lalu bersiap memukul Mawar!
Mawar pun tak tinggal diam. Dia memegang tangan Jingga lalu merosot hingga dirinya duduk di lantai, ia menarik tangan Jingga membawanya meluncur bebas di atas lantai itu hingga akhirnya berhenti setelah kakinya menghantam kaki Marisa!
Marisa pun terjatuh ke lantai setelah kakinya dihantam oleh kaki Mawar. Pergerakan Mawar yang cepat tidak memberikan kesempatan Marisa untuk melawan atau menyerang Mawar.
"Lepaskan tanganmu dari rambutku." Mawar melepaskan tangan Jingga yang masih memegang rambutnya lalu ia bangkit dari lantai itu.
"Kalian merusak gaun indah ku," ucap Mawar sembari berjalan pergi meninggalkan mereka.
Di pintu toilet khusus wanita itu, ternyata dari tadi Michelle melihat mereka. Dia berdiri di ambang pintu dengan mata yang terus menatap ke arah tiga wanita itu dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
"Michelle ... sejak kapan kamu di situ?" ucap Mawar.
"Belum lama," ucap Michelle lalu masuk ke toilet itu sementara Mawar tak mau ambil pusing, dia lebih memilih segera menemui keluarganya.
Marisa dan Jingga yang masih duduk di lantai dengan tubuh yang terasa sakit, perlahan berdiri dan mulai merapikan pakaian mereka yang sudah acak-acakan.
"Hey kamu! Awas ya kalau kamu membocorkan apa yang kamu lihat. Kamu akan tahu akibatnya kalau kamu berani banyak bicara," ucap Marisa mengancam Michigan.
"Lo akan habis kalau lo berani mengatakan apa yang terjadi di sini pada Dirga apalagi pada keluarga Abymana," tambah Jingga.
"Maaf, kalian mengancam orang yang salah. Jika kalian berani menyakiti Mawar lagi, jangan harap kalian bisa hidup tenang," ucap Michelle.
Michelle melanjutkan langkahnya dengan menabrak bahu Jingga!
"Sialan, anak gadis itu bisa merusak rencana kita," ucap Marisa.
Jingga tersenyum lalu berjalan ke arah pintu toilet yang tertutup yang didalamnya ada Michelle!
"Anak itu tidak akan bisa keluar, ayo kita pergi, Ma," ucap Jingga.
Jingga dan Marisa pun meninggalkan tempat itu dan membiarkan Michelle terkunci didalam toilet.
Di ruang pesta.
"Sayang, kamu lama banget di toilet, kamu baik-baik saja?" tanya Aby pada Mawar.
"Aku baik-baik saja, Mas tadi aku sedikit mual jadi sengaja berlama-lama karena takut muntah setelah keluar dari toilet," ucap Mawar.
"Mulai besok pokoknya Mawar gak boleh kuliah dulu dan gak boleh ke kantor dulu. Perempuan yang sedang hamil dan kehamilannya masih muda, gak boleh terlalu banyak gerak dulu karena diusia kehamilan yang masih muda sangat rentan keguguran. Mama gak mau itu terjadi pada Mawar," ucap Ratu.
"Mama benar, apalagi kamu sering pusing," ucap Aby.
__ADS_1
"Aku nurut aja sama Mama dan juga sama Mas Aby lagipula di kantor ada Papa Mahendra yang urus dan kuliah ... aku bisa kuliah di rumah," ucap Mawar.
Marisa tersenyum gembira, saat Mawar tidak ada di kantor, suaminya memiliki banyak peluang untuk mengambil keuntungan yang lebih besar dari yang Mawar berikan.
"Sebenarnya kalau pun Mawar tetap ke kantor, Mawar tidak akan kecapekan karena saya gak akan membiarkan dia kerja seharian penuh. Mawar bisa datang hanya untuk memantau kondisi kantor," ucap Mahendra.
Mahendra yang ingin sekali mengutarakan permintaan maafnya pada Mawar dan mencoba memberi penjelasan pada Ratu dan kelurganya bahwa dirinya tidak akan membiarkan Mawar bekerja terlalu keras.
Mahendra yang sudah menyesali.
perbuatannya pada Mawar merasa ingin selalu dekat dengan Mawar dan ingin menebus semua kesalahannya pada Mawar.
Jika Mawar tidak masuk kantor, dirinya tidak bisa menemui Mawar dan merawat Mawar saat Mawar merasa pusing ataupun mual. Sebagai seorang ayah, ia ingin merasakan bagaimana rasanya merawat Mawar dengan tangannya setelah dua puluh tahun ia menyia-nyiakan Mawar.
Di dalam kamar toilet.
Michelle mencoba membuat pintu toilet itu karena ia sudah selesai dengan semua urusannya di dalam sana.
"Sial sepertinya mereka mengunci pintunya," gumam Michelle.
Bukan Michelle namanya kalau dia tidak bisa keluar dari sana, Michelle mengambil jepit rambutnya lalu berusaha membuka pintu itu!
Sebagai agen terlatih, Michelle memiliki banyak cara dan selalu dapat menggunakan benda apapun di sekitarnya menjadi senjata dan sebagai penyelamatnya.
Tak butuh waktu lama, Michelle pun berhasil membuka pintu itu dan ia pun langsung berjalan menuju tempat pesta itu!
"Awas aja mereka, beraninya main-main sama aku," ucap Michelle didalam hatinya sembari terus berjalan!
"Mereka akan menerima akibatnya karena sudah berani mengunci aku didalam sana. Sebelum mereka menyesali perbuatannya dan sebelum mereka meminta maaf padaku, jangan harap aku akan berhenti meneror mereka," batin Michelle lagi.
Bersambung
__ADS_1